Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Gunjingan
"Sudah siang begini, tapi Daksa dan istrinya belum juga kelihatan." Ucap Rengganis, bulik Raden Daksa yang merupakan istri dari adik laki-laki Raden Soebroto.
"Daksa tadi sudah kasih kabar. Katanya ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan dulu." Sahut Mbah Harti yang duduk di kursi utama sembari mengusap jari keriputnya yang dilingkari cincin bermata zamrud.
"Urusan pekerjaan atau istrinya yang sengaja mengulur waktu? Semua orang di rumah ini tau, kalau Daksa kecintaan sekali sama istri barunya, anaknya Ratri itu." Kata Guranti, Bude Raden Daksa.
Marini hanya diam mendengarkan. Wajahnya datar, namun sorot matanya menunjukkan persetujuan atas ucapan para iparnya. Bagi keluarga besar Soeradiningrat, nama Kartawidjaja masih jadi topik yang hangat diperbincangkan.
"Kalau bicara soal Kartawidjaja itu tidak ada habisnya, mereka terlalu bebas dan tidak terkendali. Apa yang diharapkan dari anak Ratri? Kartawidjaja itu membesarkan perempuan-perempuan yang liar, padahal Buyut Riyani itu dari Trah Soeradiningrat, tapi bisa-bisanya dia tidak mendidik anak keturunannya seperti Trah Soeradiningrat." Sahut Guranti.
"Ya setidaknya bisa menghormati para orang tua di sini. Seharusnya sebagai perempuan yang masuk ke keluarga besar ini, Astri paham tata krama. Ini acara untuk menyambutnya, tetapi dia sendiri justru belum menampakkan batang hidungnya." Kata Rengganis.
"Benar kata Dek Rengganis. Menurutku, perempuan itu harus tau posisi dong. Tidak peduli dari keluarga mana dia dibesarkan, tetapi kalau memang aturan di keluarga suaminya seperti ini, ya seharusnya memang dipatuhi. Dek Marini, ini tidak bisa dibiarkan. Kita semua dari keluarga yang berbeda-beda tatanan, tapi begitu menikah tentu yang kita pakai adalah aturan yang ada di rumah suami kita, ya toh?" Guranti semakin mengompori.
Marini yang sejak tadi diam akhirnya meminum tehnya pelan. Ia melirik Serayu—sang menantu keduanya yang duduk anggun di samping dirinnya.
"Setidaknya, anak muda zaman sekarang harus bisa meniru Nduk Serayu." Puji Marini sambil mengelus bahu menantunya itu.
"Nduk Serayu ini tahu betul bagaimana cara menempatkan diri sebagai istri Dwipa. Sejak pagi dia sudah datang dan membantu mengawasi perlengkapan acara nanti. Setidaknya satu menantuku bisa melegakan kalau yang lainnya hanya bisa bikin pusing saja!" Sahut Marini.
Mendengar namanya dipuji di hadapan para tetua Soeradiningrat, Serayu memasang raut senyum malu-malu, jemarinya meremas kain jarik yang ia kenakan.
"Ah, Ibu jangan memujiku seperti itu." Ucap Serayu dengan suara yang teramat lembut, hampir berbisik namun cukup jelas didengar oleh semua orang di teras tersebut.
"Aku jadi malu sama Bude Ranti dan Bulik Rengganis." Imbuhnya.
"Lho, ini kenyataan kok, Nduk." Sahut Rengganis cepat.
"Kamu itu contoh ideal menantu keluarga Soeradiningrat. Lemah lembut, tau aturan, dan sadar betul apa tugas seorang istri, sama kayak kita-kita. Ya toh bu?" Timpal Rengganis seraya melempar bicaranya pada sang mertua. Sementara Harti hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
Serayu menghela napas pendek, lalu menatap para tetua dengan pandangan mata yang begitu polos.
"Aku cuma berusaha menjalankan kewajibanku sebagai istri Mas Dwipa, Bulik." Tutur Serayu.
"Bagiku, setinggi apa pun pendidikan atau latar belakang keluarga seorang perempuan, kalau sudah menikah, ya kodratnya melayani suami dan tunduk pada aturan keluarga suami. Aku tidak berani kalau harus menyusahkan Mas Dwipa atau membuatnya terlambat datang ke acara penting keluarga seperti ini."
Ia menjeda sejenak, memperbaiki posisi duduknya yang tegak namun dibuat dengan tujuan agar terkesan sangat patuh.
"Mungkin Mbak Astri punya pemikiran yang berbeda dariku." Lanjut Serayu, kata-katanya dibungkus begitu rapi untuk menyudutkan Astri.
"Setauku, di keluarga Kartawidjaja perempuan lebih dibebaskan untuk mengatur suaminya. Jadi Mbak Astri belum terbiasa dengan tata krama di Trah Soeradiningrat yang sangat ketat ini, padahal bukannya masih kerabat ya tetapi kenapa belum hafal? Entahlah, menurutku kita tidak bisa menyalahkan Mbak Astri sepenuhnya, kasihan beliau kan perempuan ambisius jadi pasti sedikit sulit menyesuaikan diri di lingkungan yang banyak aturan seperti ini." Kata Serayu.
Tentu karena ia menganggap Astri adalah orang ketiga di rumah tangganya, hingga membuatnya menyudutkan Astri dengan tajam.
"Kamu ini terlalu baik, Serayu. Pakai membela perempuan itu segala. Tidak bisa menyesuaikan bagaimana? Dia itu bukan anak kecil lagi. Sudah jadi istri Daksa, ya harus bisa dong menyesuaikan diri. Jangan malah membuat Daksa ikut-ikutan tidak punya wibawa di depan keluarganya." Kata Guranti.
"Iya betul, Mbak." Timpal Rengganis.
"Serayu yang anak pejabat saja bisa begitu rendah hati dan patuh. Harusnya Astri sadar diri. Sudah bagus diterima di sini, malah menunjukkan tabiat dari Kartawidjaja yang suka seenaknya." Imbuh Rengganis.
Serayu hanya tersenyum tipis. Di dalam hatinya, ia sangat puas melihat bagaimana para tetua semakin membenci Astri hanya dengan beberapa kalimat rendah hati yang baru saja ia lontarkan.
Tak lama dari obrolan usai, suara langkah kaki terdengar mendekati area teras samping tempat para perempuan tersebut berkumpul dan bercengkrama.
Raden Daksa berjalan paling depan. Ia masih mengenakan jasnya. Di sampingnya, berjalan Astri yang mengenakan blouse sederhana namun elegan.
Wajah Astri tampak tenang, meski ia bisa merasakan atmosfer dingin yang menyambut kedatangan mereka.
"Assalamualaikum, Mbah Putri, Ibu, Bude, Bulik dan Serayu." Sapa Raden Daksa dengan suara beratnya yang terdengar berwibawa.
Astri membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda penghormatan. Ia kemudian mengucapkan salam seperti suaminya.
Suasana di teras itu mendadak kaku. Hanya jawaban salam yang terdengar sangat lirih. Selain Mbah Harti, tak ada yang menyunggingkan senyum disana.
"Akhirnya sampai juga kamu, Raden Daksa." Celetuk Guranti tanpa menyembunyikan nada sindirannya. Matanya juga langsung menatap Astri dari ujung kepala sampai ujung kaki seolah tengah meneliti penampilan Astri.
Raden Daksa melangkah mendekati meja dan berdiri di samping kursi ibunya.
"Tadi ada sedikit kendala di Perusahaan yang harus Aku selesaikan sebelum berangkat ke sini." Jawab Raden Daksa.
"Oalah, urusan pekerjaan, toh. Kirain tadi ada yang dandan menor dulu makanya lama sekali. Semua orang di sini sudah berkumpul dari pagi, Daksa. Cuma kamu dan istri barumu ini yang datang paling terakhir." Kata Rengganis.
"Maaf kalau kedatangan kami dianggap terlambat, Bulik." Ujar Astri lembut namun tegas, tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun.
"Mas Daksa tadi memang harus memeriksa beberapa dokumen penting. Aku juga turut mendampingi Mas menyelesaikan pekerjaannya." Kata Astri.
"Mendampingi atau emang sengaja tidak mau ke sini lebih awal?" Celetuk Guranti begitu saja.
"Seharusnya sebagai istri, kamu itu tidak perlu ikut campur urusan bisnis Suamimu. Lihat Serayu, dia dari pagi sudah di sini, bantu-bantu mengawasi." Imbuhnya.
Serayu yang mendengarkan hal itu segera menimpali dengan nada suara yang sangat santun, seolah-olah ingin mencairkan suasana padahal menambah minyak pada kobaran api.
"Bude Ranti... jangan membandingkan begitu," kata Serayu memotong pelan.
"Mbak Astri pasti punya kesibukan sendiri. Aku kan cuma perempuan biasa yang penurut, jadi kewajibanku ya cuma fokus melayani Mas Dwipa dan membantu keluarga di sini. Mbak Astri mungkin punya prioritas lain yang lebih penting daripada sekadar urusan sepele seperti ini, ya kan Mbak?" Serayu menatap Astri yang tidak menunjukkan sedikit pun raut terpojok.
Astri juga membalas menatap Serayu lurus-lurus. Ia memahami betul taktik Serayu yang berpura-pura santun untuk merendahkan dirinya di depan para tetua.
🤔🤔
othor kie...🤣😄