Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.
Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22
****
Deru mesin mobil sedan hitam bermuka gelap itu mendadak mati tepat di pelataran luar gerbang besi tempa berukir milik mansion keluarga Wiliam. Udara pagi yang tadinya tenang di kawasan elite itu seketika pecah oleh suara derit rem yang keras dan dentuman pintu mobil yang dibanting kasar.
Seorang wanita paruh baya berbusana gaun sutra bernuansa gelap melangkah keluar dengan anggun namun tergesa-gesa. Kacamata hitam bermerek internasional menutupi sebagian wajah mewahnya yang terukir dingin. Ia menatap pagar besi tinggi yang menjulang gagah membatasi akses masuk ke dalam kediaman sang mantan suami.
"Buka gerbangnya!" perintah wanita itu dengan suara tegas nan penuh tekanan, menatap lurus ke arah dua orang pengawal berseragam hitam yang bersiap di balik pos penjagaan.
"Maaf, Nyonya Siska," sahut salah seorang pengawal senior dengan sikap tubuh yang tetap kaku dan membenteng. "Tuan Wiliam telah memberi instruksi mutlak. Siapa pun tanpa izin resmi dari beliau tidak diperbolehkan melintasi area gerbang ini."
"Apa kamu bilang?!" bentak Siska, matanya berkilat dipenuhi murka dan keputusasaan yang tertahan. Ia melangkah maju, memukul pagar besi tempa itu hingga memunculkan dentang nyaring. "Aku ini ibu kandung dari Clara! Aku punya hak penuh untuk menemui putriku sendiri di rumah ini! Lepaskan tanganmu dan buka pintu ini sekarang juga sebelum aku hancurkan kariermu!"
"Mohon maaf, Nyonya. Perintah Tuan Wiliam adalah hukum di rumah ini," potong pengawal itu tanpa bergeming sedikit pun.
Keributan dan nada suara yang melengking tinggi di depan gerbang utama itu menggema lembut menembus kaca-kaca tebal mansion, sampai ke telinga Clara dan Lyn yang sedang berada di ruang tengah lantai dua.
Clara, yang sedang menyesap teh hangatnya bersama Lyn, seketika membeku. Cangkir porselen di tangannya bergetar pelan.
"Suara... suara keributan apa itu di luar?" gumam Clara dengan raut wajah berkerut heran.
Lyn mendongak, hatinya mendadak diliputi kecemasan yang asing. "Ayo kita periksa dari balkon, Clara."
Keduanya bergegas melangkah menuju balkon depan yang menghadap langsung ke arah gerbang utama. Begitu matanya menangkap sosok wanita yang sedang bersitegang dengan para pengawal di bawah sana, napas Clara seketika tersedak di tenggorokan. Air muka gadis itu berubah drastis dari cemas menjadi pucat pasi.
"M-Mami...?" bisik Clara terbata-bata, suaranya gemetar hebat.
Tanpa berpikir panjang, Clara memutar tubuhnya dan berlari cepat menyusuri tangga marmer menuju lantai bawah. Lyn yang panik mengikuti langkah sahabatnya dari belakang, meremas tali gaun kasualnya seraya mengatur napasnya yang memburu.
"Buka pintu gerbangnya! Buka!" teriak Clara dari lorong utama seraya menghampiri pos penjagaan.
Para pengawal yang terkejut melihat kehadiran putri tunggal Tuan Besar mereka akhirnya terpaksa menggeser gerbang besi tersebut sedikit terbuka.
Begitu pintu berderit terbuka, Siska langsung menerobos masuk. Langkah kakinya yang tergesa-gesa terhenti kaku ketika matanya bertabrakan langsung dengan sosok Clara yang berdiri berjarak tiga meter di hadapannya.
Keheningan yang amat pekat seketika mengurung area pelataran. Dua pasang mata yang terikat hubungan darah itu saling menatap dalam gulungan emosi yang amat kompleks—penyesalan, amarah, kekecewaan, dan kerinduan yang telah membeku selama bertahun-tahun.
"Clara... anakku..." bisik Siska serak. Air mata perlahan menetes membasahi pipinya yang terpoles riasan mahal. Ia melepaskan kacamata hitamnya dan mengulurkan kedua tangannya dengan gemetar. "Ini Mami, Sayang... Mami pulang..."
Clara berdiri mematung, dadanya naik turun mengandungi napas yang sesak. "Kenapa Mami harus nekat seperti ini...? Kenapa Mami muncul di saat aku baru saja mencoba menata hatiku?!"
"Maafkan Mami, Clara... Mami mohon maafkan Mami..." tangis Siska pecah. Tanpa menghiraukan jarak, wanita itu melangkah cepat dan langsung merengkuh tubuh Clara ke dalam pelukannya yang erat. "Mami sangat menyesal telah meninggalkanmu... Mami tidak bisa hidup tenang tanpa kamu dan Papamu..."
Clara sempat menegang kaku di dalam pelukan itu. Amarah yang membakar jiwanya seolah hendak mendorong wanita yang telah menelantarkannya ini jauh-jauh. Namun, kehangatan tubuh seorang ibu yang telah lama hilang dari hidupnya meluluhkan sebagian kerasnya dinding pertahanan Clara. Clara akhirnya menyembunyikan wajahnya di bahu sang ibu, melepaskan isak tangis yang tertahan dalam pelukan yang sarat akan rasa sakit dan keharuan.
"Mami jahat... Mami jahat sekali..." rintih Clara sesenggukan di balik punggung ibunya.
"Iya, Mami tahu Mami jahat... Maafkan Mami, Sayang..." bisik Siska lembut seraya mencium puncak kepala putrinya bertubi-tubi.
Di balik pilar batu yang menaungi pelataran, Lyn berdiri dalam diam menyaksikan momen emosional antara ibu dan anak tersebut. Di dasar hatinya yang paling dalam, gumpalan rasa iri yang amat pekat menyusup halus. Lyn menundukkan pandangannya, meremas jemari tangannya sendiri.
Melihat bagaimana Clara memiliki seorang ibu yang—meskipun pernah bersalah—tetap sudi menempuh jalur nekat dan mempertaruhkan segalanya hanya demi memeluk dan kembali pada anaknya, membuat Lyn teringat akan kehidupannya sendiri. Rumah tangganya yang hancur, ibunya yang dingin dan tak pernah memeluknya dengan kasih sayang tulus, serta kehampaan hidup tanpa figur pelindung.
Siska yang sedang mengusap air mata Clara mendadak menghentikan pandangannya. Matanya yang tajam dan berpengalaman menangkap keberadaan Lyn yang berdiri canggung di dekat pilar.
Siska melepaskan pelukannya pelan, lalu tersenyum hangat ke arah Lyn. "Clara... siapa gadis cantik di sana itu?"
Clara mengusap pipinya yang basah, lalu berbalik merangkul lengan Lyn dan membawanya mendekat. "Mami... ini Evelyn. Sahabat terbaikku di kampus. Dialah yang merawatku seharian kemarin waktu aku demam tinggi."
Siska mengamati Lyn dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan binar mata yang penuh kelembutan seorang nyonya rumah elite. Ia melangkah mendekati Lyn, lalu tanpa ragu menggenggam kedua tangan halus Lyn dengan hangat.
"Jadi kamu yang bernama Evelyn?" ujar Siska dengan suara lembut yang anggun. "Terima kasih banyak ya, Nona Muda. Terima kasih sudah menjadi sahabat yang begitu baik dan merawat anakku di saat aku tidak ada di sisinya."
Lyn tersentak kaget oleh sambutan hangat dan gestur terpelajar dari ibu sahabatnya itu. Wajahnya memerah tipis oleh rasa canggung yang luar biasa. "S-sama-sama, Nyonya... Clara sudah seperti saudari saya sendiri."
"Jangan panggil Nyonya, panggil saja Mami Siska, ya?" kekeh Siska pelan seraya menepuk-nepuk punggung tangan Lyn penuh kasih sayang.
Sikap dan interaksi hangat antara Siska dan Clara membuat atmosfer di pelataran mansion mewah itu mendadak menjelma bagaikan keharmonisan nyonya dan nona muda di rumah megah mereka. Kehadiran Siska seolah mengisi kembali ruang-ruang dingin yang selama ini hampa di rumah besar ini.
Namun, di tengah kehangatan momen keluarga yang akhirnya terajut kembali itu, rasa bersalah dan kesadaran diri menghantam dada Lyn dengan sangat telak.
Ia menyadari posisinya. Di rumah ini, di antara keutuhan keluarga yang sedang diupayakan kembali oleh ibu dan anak ini, Lyn tidak lebih dari seorang penyusup—seorang wanita rahasia yang telah menyerahkan raga dan jiwanya kepada sang pemilik rumah, ayah dari sahabatnya sendiri.
Lyn mengulas senyum tipis yang dipaksakan, lalu perlahan menarik tangannya secara halus dari genggaman Siska.
"Clara... Tante Siska..." bisik Lyn pelan dengan nada suara yang penuh kesopanan. "Sepertinya ini saatnya aku pamit pulang. Kalian berdua tentu butuh waktu pribadi untuk berbicara banyak."
"Lho, Ev? Kamu tidak mau ikut makan siang dulu di dalam?" tanya Clara menatap Lyn dengan pandangan enggan berpisah.
"Tidak usah, Clara. Tubuhku juga terasa agak lelah, dan ada beberapa tugas kuliah yang harus kubereskan di apartemen," jawab Lyn lembut, mencoba mengenyahkan getaran di suaranya. Ia menatap Siska dan membungkuk hormat. "Saya pamit dulu ya, Tante Siska."
"Hati-hati di jalan ya, Evelyn cantik. Sekali lagi terima kasih banyak," sahut Siska dengan senyuman anggun yang menenangkan.
Dengan langkah yang diatur tenang meskipun dadanya bergemuruh hebat, Lyn melangkah meninggalkan pelataran mansion mewah itu. Di bawah terik matahari pagi yang mulai membakar, Lyn menyusuri jalanan kompleks elite seorang diri. Kilau gelang emas putih pemberian Wiliam di pergelangan tangannya memantulkan sinar dingin—menjadi pengingat abadi bahwa meskipun ia melangkah pergi dari rumah itu, ia telah terkunci rapat dalam sangkar emas sang tuan yang tak mungkin bisa ia lepaskan.
Bersambung...
itu kata william🙂
enak bacanya
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻