"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Penyelamat Bermuka Dua
Ujung tombak itu turun perlahan, sampai mata besinya menyentuh lantai gua.
Sosok bertopeng di ambang gua tidak berteriak memanggil yang lain. Ia melangkah masuk satu langkah, membiarkan cahaya fajar kembali menyusup melewati bahunya. Lalu ia berlutut di atas batu kapur yang basah, meletakkan tombaknya di samping lutut, dan mengangkat kedua tangan ke topengnya.
Topeng raksasa bertaring itu terlepas.
Wajah di baliknya bersih dari darah, meskipun zirahnya tidak. Rahang persegi, dengan bekas luka kecil di dagu. Rambut hitam diikat rapi di tengkuk. Mata cokelat gelap yang kini tidak lagi merah dan cekung seperti di Taman Larangan, melainkan jernih, tenang, dan tertunduk dengan hormat yang sempurna.
"Ampun beribu ampun, Sinuwun." Suaranya rendah dan teratur. "Hamba, Mahisa, Senopati Bhayangkara Sayap Utara. Hamba datang terlambat."
Dyah Ayu tidak bergerak dari dekapan Raja.
Ia hanya merasakan lengan yang melingkari punggungnya mengencang. Sedikit. Cukup untuk ia sadari.
***
"Senopati." Hayam Vira mengucapkan kata itu seperti mencicipi sesuatu yang belum ia putuskan enak atau tidak. "Kemarin pagi kau masih Lurah Bhayangkara di barisan belakang."
"Kemarin malam, Mahapatih Gajahwira mengangkat hamba di tepi parit, Sinuwun." Mahisa tetap menunduk. "Saat para pembunuh menyerbu perkemahan Sektor Selatan, Senopati Sayap Utara terbunuh di tempat. Hamba mengambil alih empat puluh orang dan memukul mundur mereka ke arah timur."
Ia mengatakannya tanpa nada bangga. Seperti membaca daftar perbekalan.
Dyah Ayu memperhatikan caranya berlutut. Punggung tegak. Satu tangan di atas paha, satu tangan lain di gagang keris dalam posisi menyembah. Cara berlutut putra seorang patih, yang diajarkan sejak sebelum ia bisa berlari. Di Watugaluh, ia berlutut seperti itu di depan ayah Dyah Ayu, saat melamarnya.
Di sini, tidak ada yang tahu itu.
Di luar gua, belasan prajurit lain kini berkerumun di jalan setapak. Mereka melihat ke dalam, lalu buru-buru menunduk dan berlutut di atas batu sempit. Bisik-bisik menjalar di antara mereka.
Senopati baru itu mengangkat wajahnya dan menyapu gua dengan satu pandangan. Pecahan zirah kulit kerbau. Kain bersimbah darah. Bekas ludah gelap di lantai batu. Gumpalan lumut dan tanah kapur di bahu Raja.
Matanya berhenti di atas tangan Dyah Ayu dan Hayam Vira yang masih bertaut. Darah kering menghitam di sela-sela jemari mereka.
Hanya sekejap. Lalu ia menunduk lagi.
"Racun Seta," ucap Mahisa. "Dari busur pemburu gajah. Hamba bersyukur Gusti Selir mengenali cara mencabutnya."
Dyah Ayu merasakan napas Hayam Vira tertahan di bawah pipinya.
Tidak ada seorang pun yang mengatakan apa-apa tentang racun. Mata panah itu tergeletak di sudut gua, di balik tonjolan batu. Hitam, berduri balik, setengah tertutup bayangan.
"Kau tahu jenis racunnya tanpa melihat lukanya, Senopati," ucap Hayam Vira. Datar.
Mahisa tidak berkedip.
"Penembak yang Sinuwun jatuhkan dari pohon jati semalam masih memegang tabung anak panahnya ketika kami menemukannya. Semuanya berujung hitam." Ia berhenti sejenak. "Dan bau getahnya tidak bisa disembunyikan, Sinuwun. Bau itu masih ada di udara gua ini."
Jawaban yang masuk akal. Jawaban yang terlalu cepat.
***
Delapan prajurit menurunkan tandu perang ke jalan setapak dengan tali-tali tambang.
Tandu itu dari kayu nangka yang dipelitur gelap, beralaskan kasur tipis berlapis kain sutra merah tua. Ada atap kain di atasnya, dengan rumbai-rumbai emas yang kini berdebu. Butuh dua belas orang untuk menaikkannya kembali ke bibir tebing setelah Raja dibaringkan di atasnya, dan selama itu Hayam Vira tidak mengeluarkan suara apa pun. Hanya rahangnya yang mengeras setiap kali tandu itu terguncang.
Dyah Ayu memanjat jalan setapak di belakang mereka.
Kakinya yang teriris meninggalkan bekas darah di setiap pijakan. Ia tidak meminta tolong. Tidak ada yang menawarkan.
Kecuali satu orang.
Mahisa berjalan dua langkah di depannya, mundur, menghadap ke arahnya. Tangannya terulur rendah, siap menangkap jika ia tergelincir. Tidak menyentuh. Tidak sekali pun. Tetapi selalu di sana.
"Gusti Selir terluka," ucapnya pelan, cukup pelan agar hanya ia yang mendengar.
"Hamba bisa berjalan, Senopati."
"Hamba tahu." Mata cokelat itu menatapnya. Sesuatu di dalamnya bergerak, lalu dikunci rapat. "Gusti Selir selalu bisa."
Di bibir tebing, matahari sudah naik sepenggalah. Bekas tenda Dyah Ayu tinggal tumpukan arang hitam yang masih berasap tipis. Tanah kapur putih di sekitarnya dipenuhi jejak kaki, noda darah, dan bekas seretan.
Tiga tubuh bertopeng kain hitam dibaringkan berjajar di bawah pohon jati. Termasuk penembak yang jatuh dari dahan. Pedang Raja masih menancap di dadanya.
"Tidak ada yang tertangkap hidup?" tanya Hayam Vira dari atas tandunya.
"Empat orang menelan sesuatu dari kantong di leher mereka ketika terkepung, Sinuwun. Mereka mati sebelum bisa ditanyai." Mahisa membungkuk. "Sisanya melarikan diri ke jurang timur. Hamba sudah mengirim dua puluh orang mengejar."
Dyah Ayu memandang tiga mayat itu. Lalu ke tangan Mahisa.
Di balik sabuk kulit Senopati itu, terselip sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Ujungnya mencuat sedikit dari lipatan kain. Hitam. Berduri balik.
Mata panah dari gua. Yang ditinggalkannya di balik tonjolan batu.
Satu-satunya benda yang bisa membuktikan dari mana racun itu dibeli.
***
Kuda-kuda dibawa mendekat. Ratusan prajurit kini berbaris di tepi hutan, memenuhi tanah lapang. Bhayangkara bertopeng hitam, prajurit biasa bertombak, beberapa pengawal berkuda dengan panji matahari bersudut delapan.
Mahisa mendekati tandu Raja dan berlutut sekali lagi.
"Sinuwun, izinkan hamba menyampaikan satu kabar." Suaranya cukup keras untuk didengar para perwira di dekatnya. "Rakryan Wiradipa meninggalkan perkemahan sebelum subuh dan kembali ke ibu kota. Katanya ada urusan mendesak di Balai Wiyata."
Seluruh tubuh Dyah Ayu mendingin.
Balai Wiyata. Bilik tahanan Arya. Pentungan kedua semalam.
Ia memaksa wajahnya diam. Tetapi ketika ia mengangkat pandangan, mata Mahisa sudah menunggunya. Tenang. Mengerti.
"Dan satu permohonan lagi, Sinuwun," lanjut Mahisa, kali ini tanpa melepaskan pandangan dari Dyah Ayu. "Sudah dua kali dalam tujuh hari nyawa Gusti Selir Utama terancam. Racun di Srigading. Panah di Kancana. Keputren adalah wilayah Prajurit Estri, dan Prajurit Estri adalah pasukan Gusti Permaisuri."
Ia membungkuk lebih dalam.
"Jika Sinuwun berkenan, hamba mohon izin menempatkan dua puluh orang terbaik Sayap Utara di sekeliling paviliun Gusti Selir. Siang dan malam. Di bawah perintah hamba langsung."
Hening.
Para perwira di sekitar tandu saling melirik. Tidak ada Bhayangkara yang pernah berjaga di dalam tembok Keputren. Tidak dalam seratus tahun.
Hayam Vira berbaring diam di atas kasur sutra merah. Wajahnya pucat, bahunya terbalut kain jarik Dyah Ayu yang kini kaku oleh darah kering. Tetapi matanya terbuka. Tertuju lurus ke wajah Senopati muda yang berlutut di sampingnya.
Raja itu tidak menjawab permohonan itu. Ia hanya bertanya, sangat pelan:
"Dari kadipaten mana asalmu, Senopati?"
Jeda.
Hanya satu tarikan napas. Pendek sekali. Tetapi Dyah Ayu, yang berdiri cukup dekat untuk melihat leher Mahisa, melihat jakunnya bergerak.
"Dari Kahuripan, Sinuwun. Tanah yang sama dengan mendiang Gusti Ratu Kusumawardhani."
Mata Hayam Vira menyipit sedikit. Lalu ia memalingkan wajah ke langit-langit kain tandu.
"Berangkat."
***
Seorang pengawal menuntun kuda betina berwarna cokelat ke depan Dyah Ayu. Hewan yang tenang, dengan pelana kulit sederhana. Kuda kawalan, untuk ditunggangi di belakang barisan Bhayangkara.
Di belakang barisan Sayap Utara.
Mahisa sudah berada di sisi kuda itu sebelum pengawal sempat menawarkan bantuan. Ia mengulurkan tangan, telapak menghadap ke atas, persis seperti yang dilakukan seorang perwira yang membantu bangsawan perempuan naik kuda.
Persis seperti yang dilakukan seorang pemuda di tepi sawah Watugaluh, bertahun-tahun lalu, saat Dyah Ayu pertama kali belajar menunggang.
Ia tahu ratusan pasang mata sedang menonton. Menolak bantuan seorang Senopati di depan barisan akan terlihat aneh. Ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Mahisa.
Jemari Senopati itu menutup di sekeliling tangannya. Hangat. Kasar oleh gagang tombak. Ibu jarinya menyentuh garis luka segar di telapak tangan Dyah Ayu, luka sumpah darah yang belum kering, dan berhenti di sana.
Mahisa menatap luka itu. Lalu menatap Dyah Ayu. Rahangnya mengeras.
Ia mengangkat tangan Dyah Ayu, membantunya menapakkan satu kaki di pijakan pelana.
Dan tiba-tiba sebuah lengan melingkari pinggangnya dari belakang.
Lengan itu menyentak keras. Dyah Ayu tertarik mundur, terlepas dari genggaman Mahisa, terlepas dari pijakan pelana. Tubuhnya berputar setengah lingkaran dan jatuh ke atas kasur sutra merah, menimpa dada yang bidang, di bawah atap kain berumbai emas.
Hayam Vira mendudukkan dirinya dengan satu tangan. Bahunya yang terluka pasti menjerit karena gerakan itu. Kain balutannya mulai merembeskan darah segar. Tetapi lengan kanannya mengunci pinggang Dyah Ayu, menahannya di sampingnya, di dalam tandu perang Raja Kagendra.
Tempat yang tidak pernah diduduki siapa pun selain Raja. Bahkan tidak oleh Permaisuri.
Para pengusung tandu membeku. Kuda-kuda mendengus gelisah. Ratusan prajurit di tanah lapang itu berhenti bergerak, berhenti berbisik, berhenti bernapas.
Mahisa masih berdiri di samping kuda cokelat itu. Tangannya masih terulur di udara, telapak menghadap ke atas, kosong.
Hayam Vira menatapnya dari atas tandu. Wajahnya pucat seperti batu kapur. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Tetapi matanya menyala seperti bara di dasar anglo.
"Selir Utama naik tandu bersamaku, Senopati." Suaranya tidak keras, tetapi terdengar sampai ke ujung barisan. "Mulai hari ini, apa pun yang ingin kau lindungi di sekitarnya, mintalah izin langsung dariku."
Mahisa perlahan menurunkan tangannya.
Ia tidak menyembah. Tidak segera. Ia berdiri tegak di tengah debu tanah merah, membalas tatapan Raja itu tanpa berkedip. Satu tarikan napas. Dua. Tidak ada satu prajurit pun yang berani bergerak di antara mereka.
Lalu Senopati itu tersenyum tipis, dan membungkuk dengan hormat yang sempurna.
Tetapi sebelum ia membungkuk, Dyah Ayu melihat tangan kirinya. Tangan yang tadi terulur kosong kini turun ke sabuknya, tepat ke tempat mata panah hitam berduri balik itu terselip.
Jemarinya menggenggamnya. Erat. Sampai ujung duri itu menembus kulit telapak tangannya sendiri, dan setetes darah merah jatuh ke tanah kapur putih.
ARC 1 (Fase 1: Tarian di Atas Bara--Selesai)
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..