NovelToon NovelToon
Penguasa Para Dewa

Penguasa Para Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kelahiran kembali menjadi kuat / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Angin malam berhembus dingin, membawa aroma pinus yang tajam menyapu halaman belakang sekte pinggiran. Lin Chen duduk bersila di atas batu basal yang dingin, menarik napas panjang. Malam ini terasa berbeda. Setelah bertahun-tahun menderita dan dihina oleh sesama murid, ia akhirnya bangkit dan menyadari satu kebenaran mutlak yang selama ini tertidur di dalam darahnya: tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Meridian yang selama ini tersumbat perlahan mulai beresonansi, menandakan ia telah melangkah mantap di tahap awal kultivasi, yakni ranah Penempaan Tubuh.

Ia membuka mata perlahan. Tepat pada saat itu, dari kejauhan di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sedang berdiri di anjungan tebing.

Gadis itu adalah Su Qingyue. Untuk pertama kalinya, Lin Chen melihatnya dari jarak sejauh ini, tampak sangat dingin dan cantik tiada tara, seolah-olah ia bukanlah makhluk yang berasal dari dunia yang fana ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Dimensi Gravitasi Kuno

Gema Lonceng Sembilan Nada masih bergetar di udara, membawa gelombang kejut spiritual yang menyapu seluruh penjuru pelataran inti Akademi Bintang Tujuh. Pilar-pilar cahaya keemasan yang menembus langit malam dari arah belakang akademi seolah merobek batas antara dunia fana dan dimensi purba.

Lin Chen berdiri di ambang jendela asramanya. Di dalam Dantian-nya, roh kuno Tua Hitam terkekeh serak, menyadari bahwa panggilan darurat dari Balai Misi Tertinggi ini adalah gerbang menuju pembentukan fondasi baru bagi Lin Chen. Karena tubuh Lin Chen seberat dan sekeras gajah purba, ia tidak bisa menggunakan teknik pergerakan elemen angin seperti kultivator biasa; ia membutuhkan teknik yang memanfaatkan distorsi gravitasi.

"Waktunya bergerak, Bocah. Jika pilar cahaya itu berasal dari fenomena alam yang kuduga, maka tempat itu adalah kepingan surga bagimu," ucap Tua Hitam dengan nada penuh perhitungan.

Tanpa membuang waktu, Lin Chen melesat keluar dari asramanya, bergabung dengan ratusan murid inti lainnya yang berhamburan menuju pelataran Balai Misi Tertinggi.

Setibanya di pelataran raksasa yang diterangi oleh batu-batu kristal melayang, Lin Chen melihat ribuan murid telah berkumpul. Wajah mereka dipenuhi oleh campuran antara ketakutan dan ambisi yang menyala-nyala.

Di atas undakan tertinggi Balai Misi, berdiri Tetua Wu, Kepala Pelataran Inti yang memiliki rambut perak panjang dan aura sedalam kehampaan alam semesta. Di sampingnya, beberapa tetua puncak lainnya turut mendampingi.

"Dengarkan baik-baik, Murid Inti Akademi Bintang Tujuh!" Suara Tetua Wu bergema, menembus Lautan Kesadaran setiap murid tanpa perlu berteriak. "Pilar cahaya malam ini menandakan terbukanya gerbang menuju Alam Rahasia Jurang Bintang Runtuh. Dimensi ini adalah medan perang kuno yang terisolasi dari ruang dan waktu kita, dan hanya terbuka satu kali dalam tiga ratus tahun!"

Bisik-bisik riuh langsung meledak di antara para murid.

"Jurang Bintang Runtuh adalah tempat di mana sisa-sisa meteorit purba jatuh dan mengubah hukum alam di dalamnya," lanjut Tetua Wu, mengheningkan kembali suasana. "Gravitasi di dalam sana sangat kacau dan terfragmentasi. Di satu langkah kalian bisa melayang tanpa beban, dan di langkah berikutnya kalian bisa hancur menjadi genangan darah karena gravitasi seratus kali lipat!"

Mendengar kata "gravitasi kacau", mata Lin Chen menyipit tajam. Ini adalah tempat yang benar-benar dirancang untuk menyiksa manusia, namun sekaligus tempat yang paling sempurna baginya.

"Namun, di balik bahaya itu, terdapat warisan seni bela diri kuno, artefak, dan tanaman spiritual berusia ribuan tahun," Tetua Wu mengangkat tangannya, menunjuk ke arah pilar cahaya. "Akademi tidak mewajibkan siapa pun untuk masuk. Tingkat kematian di dalam sana mencapai enam puluh persen. Bagi kalian yang takut mati, kembalilah ke asrama. Bagi kalian yang ingin menebas jalan menuju puncak, bersiaplah!"

Saat barisan mulai diatur untuk menuju gerbang spasial, hawa dingin yang familiar menyelimuti punggung Lin Chen. Sesosok gadis berjubah putih melangkah mendekat, memancarkan aura es yang menetralisir hawa tegang di sekitarnya.

Su Qingyue berdiri di sampingnya. Mata jernih sedingin es itu menatap pilar cahaya di kejauhan.

"Guru melarangku mencarimu di dalam sana," ucap Qingyue pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh keributan para murid. "Tetua Puncak Salju tahu bahwa faksi-faksi besar, termasuk kekuatan di balik Fraksi Harimau Ungu, akan menggunakan kekacauan di Alam Rahasia ini untuk membunuhmu tanpa jejak."

Lin Chen menoleh, menatap profil samping wajah Qingyue. "Lalu? Apakah kau akan menuruti larangannya?"

Qingyue memalingkan wajahnya menatap Lin Chen, seulas senyum yang sangat tipis dan anggun mekar di bibirnya. Sebuah pemandangan yang bisa membuat ribuan jenius di akademi rela mempertaruhkan nyawa.

"Gerbang spasial itu akan memisahkan lokasi pendaratan kita secara acak," jawab Qingyue sambil menyelipkan sebuah liontin giok berbentuk kristal salju ke telapak tangan Lin Chen dengan sangat cepat. "Giok Es ini akan beresonansi jika kita berada dalam radius sepuluh mil. Jangan mati sebelum kita sempat menguji siapa yang lebih kuat."

Lin Chen menggenggam giok yang terasa dingin namun menenangkan itu, lalu menyimpannya di balik jubah abu-abunya. "Aku berjanji."

Satu jam kemudian, ribuan murid inti telah berdiri di tepi tebing belakang akademi, tempat sebuah celah ruang berputar seperti pusaran air hitam keunguan.

Para jenius dari faksi-faksi besar, termasuk beberapa pemuda dengan aura yang jauh melampaui Liu Zhan, memberikan tatapan membunuh ke arah Lin Chen sebelum mereka melompat masuk ke dalam pusaran tersebut.

"Waktunya menguji tubuh baja ini, Bocah," kekeh Tua Hitam di dalam kepalanya.

Lin Chen tidak gentar sedikit pun. Ia mengambil napas panjang, merendahkan kuda-kudanya, dan melompat lurus menembus celah spasial itu.

Sensasi pertama yang ia rasakan adalah perutnya yang seolah diputar balik. Pemandangan di depan matanya kabur oleh distorsi ruang berwarna-warni, sebelum akhirnya ia dilemparkan dari udara.

BAM!

Lin Chen mendarat dengan keras, menghancurkan tanah berbatu di bawahnya hingga membentuk kawah kecil selebar tiga meter. Ia perlahan bangkit berdiri dan mengedarkan pandangannya.

Langit di tempat ini berwarna merah darah, diterangi oleh sabuk asteroid yang melayang rendah. Tanah di sekitarnya dipenuhi oleh ngarai hitam dan sisa-sisa reruntuhan kuil batu raksasa. Tidak ada pepohonan, hanya ada pilar-pilar batu tajam yang mencuat dari dalam tanah.

Namun, hal yang paling mematikan bukanlah pemandangannya, melainkan tekanan di udara.

Begitu Lin Chen melangkah keluar dari kawah pendaratannya, ia merasa seolah ada dua buah gunung raksasa yang diikatkan ke bahunya. Tulang-tulangnya langsung mengeluarkan suara gemeretak keras. Gravitasi di area ini berada di tingkat yang sangat ekstrem setidaknya lima puluh kali lipat lebih berat dari dunia luar!

Jika murid di ranah Pengumpulan Qi biasa mendarat di sini, organ dalam mereka pasti sudah hancur lebur sejak detik pertama.

"Hahaha! Sempurna!" tawa Tua Hitam bergema di Lautan Kesadarannya. "Area gravitasi absolut! Lin Chen, jangan gunakan Qi spiritualmu untuk menahan beban ini. Biarkan tubuh gajah purbamu yang menanggungnya. Di sinilah kau akan menciptakan teknik pergerakanmu sendiri!"

Tepat saat Lin Chen hendak memulai sirkulasi Teknik Penempaan Tubuh Gajah Purba-nya, sebuah bayangan raksasa tiba-tiba melesat keluar dari balik ngarai batu di depannya. Mata merah menyala menatap Lin Chen di tengah debu kemerahan.

Itu adalah Kalajengking Bintang Ekor Besi, binatang buas purba sekelas ranah Pondasi Abadi awal (Foundation Establishment Awal)  yang telah beradaptasi dengan gravitasi ekstrem ini. Monster itu mendesis, mengayunkan ekor bajanya yang beracun, bersiap mencabik penyusup yang masuk ke wilayahnya.

Bibir Lin Chen tidak menunjukkan rasa takut, melainkan menyeringai dingin. Tangan kanannya perlahan mengepal, memancarkan cahaya emas-hitam yang pekat.

"Kebetulan sekali," gumam Lin Chen, matanya setajam ujung tombak. "Aku baru saja membutuhkan rekan latihan untuk pemanasan."

1
Murdiat Hariyanto
tor klau bisa kata2 Gadis yg tampak seolah bukan berasal dari dunia fana itu sebaikkan di hilangkan atau di ganti..bosan tiap bab selalu itu2 sja yg di bilng...ini hanya masukkan sja
mbono keling
🙏💪💪👍👍
mbono keling
💪💪💪💪👍👍👍👍
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Bernard
Mantap sekali Thor👍👍
mbono keling
💪💪💪👍👍👍👍💪💪💪👍👍👍
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
GEDE JAYANEGARA
bintang Toedjoe, obt sakit kepla
mbono keling
💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
mbono keling
👍👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪
Bernard
Pleaseee.., tolong di lanjut
Sang_Imajinasi: lanjut terus kok kak tiap hari jam 3 sore
total 1 replies
Arinto Ario Triharyanto
yoi
Bernard: Sangat bagus.., tolong lanjutkan 🙏
total 1 replies
saniscara_Patriawuha
gasss pollll manggg minnnn..
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!