Cinta kadang dapat membutakan mata seseorang, itu juga yang terjadi pada Ivy. Cinta membuatnya buta hingga tega merebut tunangan saudara kembarnya sendiri.
Ivy memang berhasil, pertunangan Mateo dan Evelyn dibatalkan dan dia berhasil menikahi Mateo. Tapi sayangnya pria itu tidak pernah mencintai Ivy. Mateo melakukan banyak hal untuk menyakit hati Ivy bahkan dia juga berselingkuh hanya agar Ivy lebih terluka. Tapi Ivy selalu memaafkan Mateo.
Hingga hari itu Ivy benar-benar berhenti mencintai Mateo. Sejak Mateo lebih memilih menemani selingkuhannya dibandingkan mengantarkan putri mereka ke rumah sakit. Hingga akhirnya Ivy harus kehilangan putrinya untuk selamanya. Sejak saat itu, cinta Ivy lenyap dan dia akhirnya memilih bercerai dan meninggalkan Mateo.
Saat Ivy berpikir dia sendirian dan tak punya tempat untuk pulang, Edgar datang memberikan cahaya untuknya. Awalnya Ivy berpikir jika Edgar hanyalah pria biasa. Tapi ternyata identitas Edgar tidak sesederhana itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nitaastri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Serangan di tengah perjalanan
Perjalanan yang awalnya berlangsung tenang perlahan berubah menjadi menegangkan, Edgar yang duduk di balik kemudi mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Sejak beberapa menit lalu, dia merasa ada kendaraan yang terus mengikuti mereka dari belakang.
Awalnya, Edgar berusaha mengabaikan perasaan itu. Namun, ketika melirik kaca spion, tatapannya seketika berubah tajam.
Dua buah mobil hitam terlihat mengikuti mereka dengan jarak yang cukup dekat. Tidak lama kemudian, kedua mobil itu mulai bergerak ke sisi kanan dan kiri, seolah-olah sengaja mengapit mobil Edgar agar mereka tidak bisa melarikan diri.
Edgar mengeratkan genggamannya pada kemudi.
"Siapa mereka? Dan apa yang sebenarnya mereka inginkan?" Batin Edgar, tatapannya tajam.
Belum sempat dia menemukan jawaban, salah satu mobil hitam itu tiba-tiba mempercepat lajunya dan memotong jalan mereka.
Edgar segera menginjak rem.
DOR! DOR! DOR!
Suara tembakan mendadak memecah keheningan.
Ivy yang duduk di kursi sebelah Edgar langsung menjerit ketakutan ketika melihat kaca mobil mereka retak akibat tembakan. Dia refleks menundukkan kepalanya sambil menutupi telinganya dengan kedua tangan.
"Ahhh!"
Jantungnya berdegup begitu kencang, tubuhnya gemetar hebat, sementara air mata mulai menggenangi kedua matanya.
"Edgar! Apa yang terjadi?! Siapa mereka?!" tanyanya panik.
Edgar melirik Ivy sekilas. Meskipun wajahnya terlihat serius, dia berusaha mempertahankan ketenangannya agar wanitanya itu tidak semakin ketakutan.
"Dengarkan aku, Ivy. Semuanya akan baik-baik saja."
"T-tapi mereka menembaki mobil kita!" Kata Ivy, suaranya bahkan sampai bergetar.
"Aku tahu." Edgar kembali menatap jalan di depannya. "Sekarang, kencangkan sabuk pengamanmu. Apa pun yang terjadi, jangan melepaskannya."
Ivy segera melakukan apa yang diperintahkan. Tangannya begitu gemetar sampai-sampai dia kesulitan memasang sabuk pengamannya sendiri.
Setelah memastikan Ivy terlindungi, Edgar menginjak pedal gas dalam-dalam.
Mobil mewah itu melesat dengan kecepatan tinggi, berusaha menjauh dari para penyerang yang terus mengejar mereka.
Namun, sepertinya orang-orang itu tidak berniat membiarkan mereka lolos begitu saja. Salah satu mobil kembali mendekat dari sisi kiri, berusaha memepet kendaraan Edgar. Sementara itu, mobil lainnya terus membuntuti mereka dari belakang.
"Brengsek!" gumam Edgar.
Dia memutar kemudi dengan cepat, menghindari mobil yang berusaha menabrak mereka. Akan tetapi, beberapa detik kemudian, mobil di depan mereka mendadak berhenti melintang di jalan.
Edgar menginjak rem sekuat tenaga.
Belum sempat mobil mereka benar-benar berhenti, beberapa pria berpakaian hitam keluar dari kendaraan tersebut. Mereka mengangkat senjata dan mengarahkannya tepat ke mobil Edgar.
DOR! DOR! DOR!
Tembakan kembali terdengar bertubi-tubi.
"EDGAR!"
Ivy berteriak histeris. Dia tidak pernah membayangkan akan mengalami kejadian mengerikan seperti ini. Selama hidupnya, dia memang telah melewati banyak penderitaan, tetapi menghadapi sekelompok pria bersenjata yang berusaha membunuh mereka adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.
Edgar menoleh kepadanya.
"Ivy, lihat aku."
Namun, Ivy terlalu ketakutan untuk menjawab, air matanya terus mengalir, sementara kedua tangannya mencengkeram erat sabuk pengaman.
"Ivy!" panggil Edgar sekali lagi, kali ini dengan suara tegas.
Wanita itu akhirnya menoleh dengan wajah pucat.
"Aku akan keluar sebentar, kamu harus mengunci semua pintu mobil setelah aku keluar. Jangan membuka pintunya, apa pun yang terjadi, mengerti?" Tanya Edgar serius, rahangnya mengeras sementara kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Ia berusaha menahan amarahnya yang perlahan menguasai dirinya akibat serangan itu, apalagi saat ini Ivy bersamanya, dia tidak ingin membiarkan wanitanya terluka karena musuh-musuhnya.
Ivy langsung menggelengkan kepalanya ketakutan, dia tidak mau Edgar sampai keluar. Bagaimana jika orang-orang itu melukai Edgar, dia tidak mau itu terjadi.
"Tidak! Jangan keluar, Edgar! Mereka membawa senjata!" Kata Ivy, tangannya memegang tangan Edgar erat-erat, air matanya terus mengalir membasahi pipinya, sementara suaranya terdengar bergetar saat ia berbicara.
"Aku tahu." Ujar Edgar, berusaha menangkan kekasihnya itu.
"Mereka bisa membunuhmu!" Ujar Ivy putus asa.
Edgar terdiam sesaat, dia menatap wajah Ivy yang dipenuhi ketakutan, kemudian mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan wanita itu.
"Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu." Kata Edgar.
"Tapi—"
"Percayalah padaku."
Edgar menatap Ivy lekat-lekat, sorot matanya begitu serius hingga Ivy tak mampu berkata-kata lagi. Bibirnya terkatup rapat, sementara matanya hanya bisa menatap Edgar dalam diam, seolah seluruh kalimat yang semula ingin ia ucapkan mendadak menghilang begitu saja.
Pria itu kemudian melepaskan genggaman tangannya, mengambil senapan yang disimpannya di dalam kompartemen khusus mobil, lalu memeriksa senjata tersebut dengan gerakan terlatih.
Ivy menatapnya dengan mata membelalak, bagaimana bisa Edgar memiliki senjata seperti itu.
"Edgar... sejak kapan kau memiliki senjata itu?" Tanya Ivy.
Edgar tidak menjawab pertanyaan tersebut, dia hanya membuka pintu lalu keluar dari mobil, kemudian menutupnya kembali.
"Ivy, kunci pintunya!"
Ivy segera menekan tombol pengunci.
Dari balik kaca mobil yang mulai retak, dia melihat Edgar berjalan mendekati para pria bersenjata itu seorang diri.
Jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Edgar..." Bisik Ivy, suaranya bahkan bergetar saat menyebut nama pria tersebut.
Edgar berhenti beberapa meter dari para penyerang.
Ada tujuh orang pria yang berdiri di hadapannya. Mereka semua membawa senjata, sementara wajah mereka tertutup sebagian sehingga sulit dikenali.
Salah seorang dari mereka melangkah maju.
"Edgar Emilio Falcon," ucap pria itu dengan nada mengejek. "Akhirnya kami menemukan mu."
Edgar menyipitkan matanya.
"Jadi, kalian memang datang untuk mencariku?"
Pria itu tertawa kecil.
"Kau cukup pintar untuk mengetahuinya."
"Kalau begitu, aku hanya punya satu pertanyaan." Edgar mengangkat senjatanya, tatapannya dingin dan penuh ancaman. "Siapa yang mengirimmu?"
Ketujuh pria itu saling berpandangan.
"Kau tidak perlu mengetahui siapa dia, yang jelas, malam ini kau tidak akan pulang hidup-hidup."
Senyum tipis muncul di bibir Edgar.
"Begitu rupanya."
Dia mengarahkan pandangannya pada mereka satu per satu.
"Tujuh orang bersenjata hanya untuk menghadapi satu orang? Kalian pasti sangat takut padaku."
Wajah salah seorang pria langsung mengeras.
"Jangan banyak bicara! Habisi dia!"
Lalu salah seorang penyerang mengangkat senjatanya.
Edgar bergerak cepat menghindari serangan pertama. Suara tembakan menggema di jalan yang sepi, disusul suara langkah kaki dan benturan keras ketika Edgar berusaha melumpuhkan para penyerang.
Pertarungan pun dimulai, Edgar menghadapi ketujuh pria itu dengan semangat yang membara. Dia memanfaatkan setiap kesempatan untuk menghindari serangan dan mencari celah di antara kepungan mereka.
Namun, jumlah lawannya yang jauh lebih banyak membuat pertarungan tersebut tidak mudah.
Satu orang menyerang dari depan, sementara dua lainnya berusaha mendekatinya dari sisi berlawanan. Edgar terpaksa terus bergerak agar tidak terjebak di tengah kepungan.
Dari dalam mobil, Ivy menyaksikan semuanya dengan napas tertahan. Dia ingin membantu Edgar, tetapi dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya. Tubuhnya bahkan terlalu gemetar untuk membuka pintu mobil.
Dengan tangan gemetar, Ivy meraih ponselnya, dia harus menghubungi polisi! Namun, begitu menyalakan layar ponselnya, sebuah tulisan muncul di sana.
Baterai lemah.
"Tidak... jangan sekarang!"
Ivy buru-buru mencoba menghubungi kakek james, tetapi ponselnya mati sebelum panggilan tersambung.
Wanita itu membeku, ponselnya kehabisan daya.
Dia benar-benar tidak bisa meminta pertolongan siapa pun. Ivy kembali menatap ke luar jendela, air matanya semakin deras ketika melihat Edgar masih bertarung melawan para pria bersenjata tersebut.
"Edgar, kumohon jangan sampai terjadi sesuatu padamu."
Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha menahan isak tangisnya. Ivy tidak ingin kehilangan orang yang dia cintai untuk kedua kalinya, cukup putrinya saja yang meninggalkan dirinya jangan Edgar juga. Ivy sudah tidak memiliki siapapun lagi saat ini selain Edgar.
Edgar telah banyak membantunya ketika hidupnya berada di titik terendah. Pria itu memberinya kesempatan untuk kembali menjalani hidup, ketika dia sendiri hampir kehilangan alasan untuk terus bertahan dan sekarang, pria itu mempertaruhkan nyawanya di hadapan matanya sendiri.
Ivy tidak sanggup membayangkan bagaimana jika Edgar tidak pernah kembali kepadanya.
"Jangan tinggalkan aku..." bisiknya lirih.
Waktu berlalu begitu lambat bagi Ivy.
Setiap suara tembakan membuat tubuhnya tersentak. Setiap kali Edgar menghilang dari pandangannya di balik kendaraan, dia merasa jantungnya akan berhenti berdetak.
Hampir satu jam berlalu sebelum pertarungan itu akhirnya berakhir. Ketika suasana mulai sunyi, Ivy perlahan mengangkat kepalanya. Dia melihat Edgar berjalan kembali menuju mobil, namun langkah pria itu terlihat berbeda. Salah satu tangannya menekan bagian perutnya, sementara tangan lainnya tampak menahan bahunya.
Ivy langsung menyadari ada sesuatu yang salah.
"Edgar?"
Pria itu membuka pintu mobil dengan susah payah, lalu duduk di kursi pengemudi.
Begitu melihat wajahnya dari dekat, Ivy menjerit kecil.
"EDGAR!"
Tanpa berpikir panjang, Ivy segera melepaskan sabuk pengamannya dan memeluk pria itu erat-erat.
Air matanya tumpah membasahi pakaian Edgar.
"Kamu baik-baik saja kan? Kamu terluka? Ya Tuhan, Edgar, katakan sesuatu!" Tanya Ivy panik.
Edgar sedikit terkejut dengan reaksi Ivy, dia mengangkat tangannya, berniat menenangkan wanita itu, tetapi gerakannya membuat rasa sakit di tubuhnya semakin terasa.
"Aku baik-baik saja," jawabnya pelan.
Namun, Ivy tidak memercayainya, tatapannya jatuh pada bagian perut Edgar. Darah mulai merembes melalui pakaian pria itu, membentuk noda merah yang semakin melebar. Ketika pandangannya beralih ke bahu Edgar, dia menemukan noda darah lain di sana.
Wajah Ivy seketika pucat pasi, rasa takut mulai menggerogoti hatinya.
"Kamu... kamu tertembak?" cicit Ivy, suaranya tercekat.
Edgar mencoba tersenyum tipis.
"Hanya luka kecil." Kata Edgar agar Ivy tidak terlalu panik.
"Luka kecil?!" Tanya Ivy, dia menatap Edgar tidak percaya. Bagaimana bisa luka sebesar itu di bilang hanya luka kecil.
"Perutmu berdarah! Bahumu juga! Bagaimana mungkin kamu mengatakan itu hanya luka kecil?!" Kata Ivy, suaranya pecah di akhir kalimat.
Edgar menghela napas perlahan, dia sebenarnya ingin menenangkan Ivy, tetapi rasa sakit yang menjalar dari perut dan bahunya membuatnya sulit berkonsentrasi.
"Ivy, aku perlu kau membantuku." Ujar Edgar dengan nafas yang terengah-engah.
Wanita itu segera menghapus air matanya.
"Apa? Apa yang harus kulakukan?" serunya, suaranya terdengar panik.
"Bawa aku ke rumah sakit." pintanya lirih, tangannya mencengkram perutnya agar pendarahannya tidak terlalu parah.
Ivy mengangguk berkali-kali.
"Baik! Kita akan pergi sekarang!" Kata Ivy.
Bersambung