NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Dokter Dingin

Istri Kontrak Dokter Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dydy_ailee

Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab-9 Penagih Utang

Amora pulang dengan langkah gontai, tubuhnya lelah setelah seharian bekerja, tapi pikirannya lebih lelah lagi. Tawaran Damian masih menghantui benaknya. Ia mendesah pelan, mencoba mengenyahkan pikiran itu. Namun, begitu tiba di depan rumah, ia melihat Azka duduk termenung di teras dengan kepala tertunduk.

"Azka?" Amora segera menghampiri adiknya. Ia terkejut melihat plester di lutut dan lengan bocah itu. "Kamu kenapa?"

Azka mengangkat wajahnya perlahan, senyum kecil berusaha ia tunjukkan, tapi air matanya menggenang. "Gak apa-apa, Kak. Cuma jatuh tadi."

Amora berlutut di hadapan Azka, tangannya lembut menyentuh luka di lengan sang adik. "Jatuh di mana? Kok bisa sampai begini?"

Azka diam sejenak, ragu untuk bercerita. "Maaf, Kak. Aku tadi jualan tisu di lampu merah. Terus ada orang baik beli semua tisunya, aku senang banget, Kak!" Matanya berbinar sesaat. "Tapi pas pulang... ada orang-orang jahat yang ngambil uangku. Aku nolak, tapi mereka mukul aku..."

Jantung Amora mencelos. Amarah bergejolak di dadanya. "Siapa mereka, Azka? Kok bisa?"

"Preman, Kak. Katanya aku jualan di daerah mereka. Aku sudah bilang aku cuma pengen bantuin Kakak, buat beli obat sama bantu makan..." suara Azka semakin kecil.

Amora menarik adiknya ke dalam pelukan, menahan air matanya agar tidak jatuh. "Maafin Kakak, Azka. Kamu tidak harus melakukan ini... Kakak masih bisa cari uang buat kita."

Azka menggeleng. "Aku mau bantu Kakak... Aku nggak mau Kakak sendirian."

Hati Amora semakin perih mendengar ucapan itu. Tapi sebelum ia sempat menenangkan diri, suara keras dari luar menggetarkan dinding rumah mereka.

"Amora! Keluar lo!"

Amora menegang. Ia mengenali suara itu. Rentenir yang pernah datang sebelumnya.

Pintu diketuk keras, bahkan hampir ditendang. Amora menatap Azka yang mulai ketakutan, lalu mengusap pipinya. "Kakak yang urus. Kamu masuk kamar, ya? Jangan keluar sampai Kakak bilang."

Azka ragu, tapi akhirnya mengangguk dan masuk ke kamar mereka. Amora menarik napas dalam, menguatkan diri sebelum membuka pintu.

Di depannya berdiri tiga pria berbadan besar. Salah satunya, yang berkumis tebal, menyeringai melihatnya. "Akhirnya keluar juga. Mana bapak lo?"

Amora menelan ludah. "Nggak ada. Dia nggak tinggal di sini lagi."

"Alah, jangan bohong! Bapak lo punya utang dan lo yang harus bayar!"

"Itu bukan hutang gue! Gue nggak pernah pakai uang itu!" suara Amora bergetar, tapi ia tetap berusaha tegar.

Pria berkumis itu tertawa sinis. "Utang keluarga ya utang keluarga. Kalau nggak bisa bayar, ya siap-siap rumah ini kami ambil. Kemarin kita udah kasih peringatan pertama dan sekarang peringatan kedua. Besok, eksekusi pengambilalihan rumah.”

"Tapi—" Amora mendekat dan mendorong pria besar itu.

Tiba-tiba, salah satu dari mereka menarik lengan Amora dengan kasar. Ia terhuyung dan jatuh ke lantai, bibirnya terbentur ujung kursi hingga pecah. Rasa perih menjalar di ujung bibirnya, tapi yang lebih menyakitkan adalah ketidakberdayaannya.

"Kita nggak main-main, Amora! Bayar atau siap keluar dari rumah ini!" Rentenir itu meludah ke tanah lalu pergi, meninggalkan Amora yang terduduk lemas.

Air matanya akhirnya jatuh. Amora mengusap bibirnya yang berdarah, lalu meremas ujung jaketnya dengan tangan gemetar. Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa terus begini.

Tawaran Damian tiba-tiba terlintas di kepalanya.

"Apa aku harus menerimanya...?" bisiknya pelan.

Setelah rentenir dan anak buahnya pergi, Amora terduduk di lantai dengan napas memburu. Pipinya perih, ujung bibirnya terasa panas dan asin oleh darah yang merembes. Tangannya gemetar menekan lantai berusaha menopang tubuhnya yang masih lemas akibat dorongan kasar tadi.

"Kak..." suara lirih itu datang dari belakangnya. Azka berdiri di ambang pintu dengan mata lebar penuh kecemasan. Anak itu tampak ragu untuk mendekat, tetapi setelah melihat darah di bibir Amora, ia menyeret kakinya yang lemah menuju sang kakak.

Amora segera menegakkan punggung dan tersenyum, meski bibirnya terasa sakit. "Kamu belum tidur? Sudah kubilang jangan keluar, kan?"

Azka berjongkok di hadapan Amora, menatap kakaknya dengan ekspresi sedih. "Mereka menyakiti Kakak? Kakak nggak apa-apa?"

Amora menghela napas lalu mengusap kepala adiknya. "Hanya luka kecil. Kakak lebih kuat dari mereka."

Namun, Azka tidak percaya begitu saja. Tangannya yang kecil terangkat, jari-jarinya menyentuh bibir Amora yang sobek. "Sakit?"

"Nggak kok. Ini cuma luka biasa." Amora berusaha tetap ceria, meski dalam hati ia ingin menangis. "Ayo tidur, besok kamu masih harus sekolah."

Azka menggigit bibirnya. "Tapi... uang yang aku kumpulkan tadi diambil preman di jalan. Kakak sudah kerja keras, aku juga mau bantu... tapi malah jadi begini..."

Mata Amora terasa panas. Ia menelan gumpalan kesedihan yang nyaris keluar. Dengan lembut, ia menarik Azka ke dalam pelukannya. "Nggak apa-apa, kita pasti bisa cari jalan keluar. Jangan nangis, ya? Kakak janji akan cari cara."

Azka mengangguk kecil dalam pelukan Amora sebelum akhirnya berdiri perlahan dan kembali ke kamar. Setelah memastikan adiknya tertidur, Amora duduk di lantai, menatap kosong ke dinding. Tubuhnya terasa sakit, tetapi bukan itu yang membuatnya sulit bernapas. Ia merasa semakin terpojok.

Seketika ia ingat sesuatu. Kartu nama yang diberikan Damian. Tangannya merogoh saku celana dan menarik kartu itu keluar. Jantungnya berdebar kencang. Apakah ia benar-benar akan melakukan ini?

Amora menghembuskan napas panjang lalu mengeluarkan ponselnya. Tangannya masih gemetar saat mengetik nomor yang tertera di kartu itu. Ia menekan tombol panggil dan menunggu.

Nada sambung terdengar, satu... dua... tiga kali.

"Halo?" Suara dalam dan datar itu menyambut di seberang.

Amora menggigit bibirnya sebelum menjawab, "Dokter Damian? Ini Amora... yang kemarin kehabisan bensin. Manusia paling ceroboh yang suka nabrak dan numpahin kopi,” cerocos Amora.

Sejenak hening. Lalu suara Damian terdengar lagi, datar tapi tajam. "Ada apa menelepon malam-malam begini?"

Amora menutup matanya sejenak, berusaha menahan egonya. "Saya mau bicara soal tawaran Anda." Suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia harapkan.

"Bertemu sekarang?" tanya Damian dengan nada tenang namun sedikit terkejut.

"Iya. Saya mau bertemu sekarang juga," jawab Amora mantap.

Hening sebentar. Lalu Damian berkata, "Baiklah. Aku akan kirim lokasi. Jangan terlambat."

Klik.

Amora menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Damian bahkan tidak bertanya apakah ia baik-baik saja atau apa yang terjadi. Pria itu benar-benar dingin. Namun, ia tidak peduli. Saat ini, Damian adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya.

Dengan cepat, ia bangkit dan mengambil jaket. Ia menatap Azka yang tertidur pulas, lalu menghela napas berat. "Tunggu kakak, Azka. Kakak akan cari cara supaya kita nggak terus-terusan hidup seperti ini."

Amora menatap layar ponselnya lama. Apa ia baru saja menjual dirinya ke iblis bersetelan jas?

Tanpa menoleh lagi, Amora melangkah keluar rumah menuju pertemuan yang bisa mengubah hidupnya selamanya.

1
Suhartini hartini
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!