NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:831
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Diceritakan Eyang

Musim hujan datang lagi ke Karang Sewu, tetapi kali ini Embun tidak takut pada sungai.

Ia berdiri di tepi jalan setapak dengan payung kuning di tangan, memandangi air cokelat yang mengalir deras di antara akar-akar bambu. Usianya tujuh belas tahun sekarang. Rambutnya yang hitam tebal dikepang satu, jatuh di bahu seperti ekor kuda yang tenang. Ia mengenakan jaket sekolah yang kebesaran dan sepatu bot karet merah muda yang sudah lama jadi bahan ejekan ayahnya. Di punggungnya, tas ransel berisi buku catatan bersampul kulit, hadiah ulang tahun dari Tante Laras.

"Nduk," panggil sebuah suara dari kejauhan. "Hujannya makin deras. Masuk."

Embun menoleh. Di teras gubuk bambu yang kini berdinding batu bata separuh tetapi masih beratap seng, seorang perempuan tua duduk di kursi rotan dengan selimut tebal di pangkuan. Rambutnya putih seluruhnya, tubuhnya lebih kecil dari yang Embun ingat dari masa kecil, tetapi matanya masih setajam dulu.

"Sebentar, Eyang!"

"Kamu bilang sebentar dari tadi!"

Embun tertawa dan berlari menyusuri jalan becek, payung kuningnya berputar di atas kepala. Ketika tiba di teras, ia menutup payung, mengguncangnya, dan duduk di bangku kecil di samping kursi neneknya.

"Eyang masih suka melihat hujan?"

"Ibu suka semuanya, Nduk." Bu Rukmini tersenyum. "Hujan, panas, malam, pagi. Kalau usia sudah delapan puluh satu, semuanya terasa seperti hadiah."

---

Besok pagi, Embun akan berdiri di atas panggung sekolah, menyampaikan pidato perpisahan sebagai lulusan terbaik, dan ia belum menulis satu kalimat pun.

Itulah sebabnya ia kabur ke desa. Ayah dan Bunda mengizinkan dengan senyum paham, Bunda menyelipkan sekantong bekal ke tasnya, dan Ayah mengantarnya ke terminal sambil berpesan, "Pidato terbaik bukan yang paling indah, tapi yang paling jujur."

"Eyang," kata Embun, membuka buku catatannya di pangkuan. "Boleh Embun minta sesuatu?"

"Apa saja."

"Ceritakan bagaimana Ayah dan Bunda bertemu."

Bu Rukmini menoleh, alisnya terangkat. "Kamu sudah mendengarnya ratusan kali."

"Dari Ayah. Dari Bunda. Dari Tante Laras. Dari Om Raka. Dari Opa Bram." Embun menghitung dengan jarinya. "Tapi tidak pernah dari Eyang. Dan semua orang bilang, Eyang yang paling tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Bu Rukmini terdiam lama. Hujan menetes dari tepi seng, membentuk tirai tipis di depan teras. Di kejauhan, sungai bergemuruh pelan, suaranya tak lagi mengancam.

"Eyang tidak pandai bercerita."

"Eyang pandai. Tadi Eyang cerita tentang bubur jagung lima belas menit tanpa berhenti."

"Itu bukan cerita. Itu resep."

"Tetap cerita, Eyang."

Bu Rukmini menghela napas, tetapi sudut bibirnya naik. Ia menarik selimut lebih tinggi, memandang hujan, dan akhirnya mulai bicara dengan suara yang pelan dan jernih.

---

"Malam itu hujan turun sejak sore," katanya. "Deras sekali. Ibu sedang menyalakan pelita di dipan ketika pintu terbuka dan ibumu masuk, basah kuyup, memapah seorang laki-laki yang berlumuran darah."

Embun menahan napas, pena di tangannya tak bergerak.

"Ibu hampir menjatuhkan korek api. Ibu pikir, Ya Allah, anak ini bawa masalah ke rumah. Tapi ibumu menatap Ibu, dan dia bilang, *Ibu, tolong ambilkan air hangat dan kain bersih.* Tanpa menangis. Tanpa ragu. Padahal waktu itu dia baru dua puluh dua tahun, anak buruh tani yang tidak pernah belajar apa-apa selain bekerja."

"Eyang tidak marah?"

"Marah? Ibu takut." Bu Rukmini tersenyum samar. "Tapi di balik takut itu ada rasa bangga. Karena Ibu tahu, sehebat apa pun dunia mencoba menjadikan ibumu keras, hatinya tetap lembut. Itu yang paling Ibu syukuri dari semua yang pernah terjadi."

Ia bercerita tentang luka yang rapi dan dalam. Tentang demam yang membakar tiga hari. Tentang bubur jagung dan wedang jahe. Tentang laki-laki asing yang bangun dengan mata liar seperti binatang terpojok dan perlahan, hari demi hari, belajar bagaimana duduk tenang di bale-bale sambil mengamati kebun sayur yang disiram terlalu sedikit.

"Ayahmu itu keras kepala," kata Bu Rukmini. "Tidak mau menerima apa pun tanpa membalas. Waktu Ibu sakit, dia pergi ke kota tanpa bilang pada siapa-siapa dan kembali dengan mobil hitam dan karung beras. Ibu tahu dia berbohong tentang sesuatu. Tapi Ibu juga tahu dia tidak berbohong tentang satu hal."

"Apa itu, Eyang?"

"Bahwa dia mencintai ibumu." Bu Rukmini menatapnya. "Dengan cara yang salah, dengan keputusan yang salah, dengan rahasia yang menyakitkan. Tapi cintanya nyata. Dan itu yang membuat semuanya jadi sulit."

---

Hujan mulai reda ketika Bu Rukmini sampai pada bagian paviliun, foto pernikahan, rekaman, dan rumah di Menteng. Ia bercerita dengan tenang, tidak menghias, tidak menyembunyikan bagian yang buruk. Embun mendengarkan tanpa menyela, sesekali menulis satu-dua kata di buku catatannya, sering kali hanya menatap neneknya dengan mata berkaca-kaca.

"Dan Tante Laras?" tanya Embun pelan. "Eyang tidak membencinya?"

"Kenapa harus?" Bu Rukmini menggeleng. "Dia salah satu orang paling baik yang pernah Ibu temui. Dia memberi Ibu infus malam itu, di vila di lereng itu. Dia berdiri di depan Bima dengan senjata di dekatnya dan bilang *silakan nyalakan.* Perempuan seperti itu tidak boleh dibenci. Harus disayangi."

"Tapi dia istri pertama Ayah."

"Dia perempuan yang memilih tidak jadi korban." Bu Rukmini menatap ke arah sungai. "Itu yang paling berani dari semuanya. Ibumu dan Laras, dua perempuan yang secara adat seharusnya bermusuhan, memilih jadi saudara. Itu yang membuat Ibu yakin dunia ini masih punya harapan."

Embun menunduk, menulis cepat. Lalu ia berhenti, menatap halaman kosong di bawah baris terakhir, dan bertanya dengan suara kecil.

"Eyang. Apa Eyang pernah menyesal?"

"Menyesal apa, Nduk?"

"Membiarkan Bunda ikut Ayah ke kota. Padahal Eyang tahu Ayah menyembunyikan sesuatu."

Bu Rukmini terdiam lama. Hujan benar-benar berhenti sekarang. Awan di barat mulai terbelah, memperlihatkan serpihan langit senja yang jingga lembut, dan dari balik rumpun bambu di tepi sungai, seekor burung kecil mulai bernyanyi.

"Eyang menyesal setiap malam selama tiga bulan," katanya jujur. "Tapi kemudian Eyang sadar sesuatu. Kalau Eyang menahan ibumu, dia tidak akan pernah belajar bahwa dia kuat. Dia tidak akan pernah berdiri di depan pisau. Dia tidak akan pernah masuk rumah penuh gas. Dia tidak akan pernah membuka dapur untuk empat puluh orang yang kelaparan. Dan dia tidak akan pernah melahirkanmu di rumah ini, di malam sungai meluap."

"Jadi Eyang tidak menyesal?"

"Eyang menyesal bahwa dia harus melewati semua itu." Bu Rukmini mengusap pipi cucunya. "Tapi Eyang tidak menyesal bahwa dia yang melewatinya."

---

Senja turun pelan di atas Karang Sewu. Sawah di kejauhan berubah keemasan, sungai berkilat seperti pita perak, dan di ujung jalan setapak, dua sosok muncul berjalan beriringan dengan payung terlipat di tangan.

Embun mengenali mereka dari langkahnya. Ayah dengan bahu lebar dan rambut mulai memutih, Bunda dengan kain jarit dan senyum yang tak berubah sejak ia kecil.

"Mereka menyusulmu," kata Bu Rukmini, tersenyum geli. "Katanya hanya mengantar bekal."

"Bekal kan sudah ada, Eyang."

"Itu alasannya."

Embun tertawa, lalu menutup buku catatannya dan menatap neneknya dengan sorot yang berbeda dari tadi. Lebih tenang. Lebih pasti.

"Eyang."

"Ya, Nduk?"

"Terima kasih sudah bercerita."

"Sudah selesai, kamu tahu bagian yang kamu butuhkan?"

"Belum sepenuhnya." Embun tersenyum. "Tapi aku tahu bagaimana memulainya."

Bu Rukmini menatapnya lama, lalu menepuk tangannya sekali, pelan. "Itu cukup."

Dari ujung jalan, suara Andien terdengar memanggil, "Embun! Eyang! Kami bawa nasi liwet!" Dan suara Carlo menyusul, setengah menggerutu, "Aku sudah bilang jangan jalan lewat sawah, licin!"

Embun berdiri, meletakkan buku catatannya di bangku, dan berlari menyongsong mereka, sepatu bot merah mudanya menciprat lumpur. Di belakangnya, Bu Rukmini tersenyum sendirian di kursi rotan, memandangi tiga sosok yang berpelukan di tengah jalan setapak di bawah langit senja, dan menarik selimutnya lebih tinggi, tidak karena dingin, tetapi karena kenyamanan.

---

Malam itu, setelah makan malam dan setelah orang tuanya tertidur di bale-bale depan dengan kepala bersandar satu sama lain, Embun duduk sendirian di bawah pelita minyak di dalam gubuk.

Di luar, jangkrik bernyanyi dan sungai berbisik pelan. Hujan telah berhenti sepenuhnya, meninggalkan bau tanah basah yang manis dan hangat. Dari celah dinding anyaman, cahaya bulan jatuh di atas lantai tanah dalam garis-garis tipis keperakan.

Ia membuka buku catatan di pangkuannya. Halaman pertama masih kosong. Pidato besok bisa menunggu. Malam ini, ia ingin menulis sesuatu yang lain.

Ia memegang pena, menatap bulan di balik anyaman, dan mendengarkan sungai.

Lalu, pelan-pelan, tangannya mulai bergerak.

*Hujan turun sejak sore, deras dan tanpa jeda, seolah langit di atas Desa Karang Sewu sedang menumpahkan seluruh dukanya.*

Embun berhenti. Membaca kalimat itu sekali. Lalu tersenyum, dan menulis kalimat berikutnya.

--------

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!