NovelToon NovelToon
Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sibee

Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."

Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.

Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.

sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: Luka di Telapak Tangan dan Daun Binahong

Langkah kaki Arkan terasa semakin berat menyusuri jalan setapak Desa. Sinar matahari siang yang terik seolah membakar ubun-ubunnya, menembus kaus oblong putihnya yang kini mengering dan mengeras akibat noda lumpur sawah yang melekat. Di depannya, berjalan Nayla dengan ritme santai, seolah cuaca ekstrem pedesaan hari ini sama sekali bukan masalah besar baginya yang sudah terbiasa dengan alam sekitar.

Pak Barkah sengaja tetap tinggal di ladang timur untuk menyelesaikan sisa saluran irigasi, meninggalkan Arkan untuk pulang berjalan kaki berdua saja bersama Nayla. Jarak dari ladang menuju rumah Mbah Harjo yang hampir dua kilometer terasa bagai perjalanan ribuan mil bagi fisik Arkan yang sudah terkuras habis sejak subuh.

Setiap kali tangannya yang memegang tali tas anyaman kosong bergerak, rasa perih yang teramat sangat langsung menusuk sarafnya. Arkan mencoba menyembunyikan rasa sakit itu dengan mengepalkan tangan di dalam saku celana kain longgarnya. Namun, gerakan tubuhnya yang kaku dan sesekali ringisan kecil yang lolos dari bibir tipisnya tidak bisa menipu sepasang mata jeli milik Nayla.

"Kalau jalanmu lambat begitu karena menahan sakit, lebih baik berhenti dulu," suara jernih Nayla memecah keheningan di bawah naungan pohon beringin besar pinggir jalan. Gadis itu membalikkan badannya, bersedekap dada sambil menatap Arkan dengan pandangan menilai yang serius.

Arkan langsung menegakkan punggungnya, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya yang tersisa. "Siapa yang menahan sakit? Saya cuma capek. Jangan sok tahu jadi orang," balas Arkan ketus, suara beratnya terdengar parau karena kelelahan.

Nayla tidak membalas ucapan ketus itu dengan kemarahan. Ia justru melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga Arkan bisa mencium aroma samar daun teh segar dari tubuh gadis itu. Tanpa permisi, Nayla meraih pergelangan tangan kanan Arkan dengan cepat dan menariknya keluar dari saku celana.

"Lepaskan! Apa-apaan kamu!" Arkan mencoba memberontak dan menarik tangannya kembali, namun tenaganya yang sudah terkuras habis membuatnya kalah gesit dari cengkeraman tangan Nayla yang kecil namun kuat.

Nayla membalikkan telapak tangan Arkan ke atas. Sepasang alis tebal gadis itu seketika menukik tajam begitu melihat kondisi kulit Arkan. Telapak tangan pria kota itu sudah memerah parah, dengan tiga benjolan melepuh berukuran cukup besar di bawah jari-jarinya yang mulai terisi cairan bening. Di beberapa bagian, kulit halusnya bahkan sudah mengelupas hingga menyisakan warna daging yang kemerahan.

Nayla menghela napas panjang, menatap wajah tampan Arkan yang kini memalingkan muka karena enggan melihat tatapan kasihan. "Ini namanya melepuh parah, Arkan. Kulit kotamu itu belum terbiasa memegang gagang kayu cangkul yang kasar seharian. Kalau tidak segera diobati dan dibersihkan, luka ini bisa pecah dan infeksi terkena kotoran lumpur tadi."

"Ini cuma luka kecil. Saya biasa angkat beban puluhan kilo di Jakarta dan tidak pernah manja seperti ini," bela Arkan keras kepala, meskipun dahinya mengernyit menahan perih saat Nayla menyentuh pinggiran lukanya dengan hati-hati.

"Di Jakarta kamu memegang besi gym yang bersih dan halus, bukan kayu ladang yang penuh serat kasar," balas Nayla telak, membuat Arkan seketika bungkam. Nayla melepaskan pergelangan tangan Arkan, lalu menunjuk sebuah amben atau dipan bambu kecil di bawah pohon beringin teduh dekat persimpangan. "Duduk di sana. Jangan membantah kalau kamu tidak mau tangan kananmu cacat dan tidak bisa menyetir mobil sport mewahmu lagi di Jakarta."

Ancaman itu terdengar konyol, namun Arkan yang sudah benar-benar kehabisan energi akhirnya menurut. Ia berjalan lesu dan menjatuhkan tubuh tegapnya di atas dipan bambu, menyandarkan kepalanya yang pening pada batang pohon beringin di belakangnya. Matanya memejam rapat, menikmati semilir angin sepoi-sepoi yang bertiup di area persimpangan desa yang sepi.

Sementara itu, Nayla melangkah menuju semak-semak hijau menjalar yang tumbuh subur di dekat pagar bambu pembatas kebun warga tidak jauh dari sana. Dengan cekatan, jari-jari lentiknya memetik beberapa lembar daun berbentuk hati yang cukup tebal. Itu adalah daun binahong, tanaman obat tradisional yang tumbuh liar di desa itu. Setelah memetik beberapa lembar, Nayla berjalan menuju sebuah pancuran air bambu umum di dekat sana untuk mencuci daun-daun itu hingga bersih.

Tak lama kemudian, Nayla kembali ke dipan bambu tempat Arkan duduk. Gadis itu meletakkan daun-daun basah tersebut di atas selembar daun pisang kecil, lalu menggunakan sebuah batu bersih untuk menumbuk daun binahong itu hingga lumat dan mengeluarkan lendir alaminya yang pekat.

Arkan membuka matanya perlahan, memperhatikan gerak-gerik Nayla dalam diam. Ada rasa heran yang menyelinap di benak Tuan Muda metropolitan itu. Gadis desa di depannya ini kemarin ketus dan galak setengah mati, siang tadi mengejeknya tanpa ampun di gubuk, namun sekarang justru sibuk meracik obat tradisional dengan telaten untuk mengobati lukanya.

"Kemari tanganmu," perintah Nayla sambil menggeser duduknya menjadi lebih dekat di samping Arkan.

Arkan ragu sejenak, namun akhirnya ia menjulurkan tangan kanannya yang terluka ke arah Nayla. Nayla menerima tangan itu dengan lembut. Menggunakan ujung jarinya, gadis itu perlahan mengoleskan lumatan daun binahong yang dingin dan berlendir itu ke atas kulit telapak tangan Arkan yang melepuh dan perih.

Sssss...

Arkan reflek mendesis pelan, tubuhnya menegang sesaat ketika rasa perih berbenturan dengan sensasi dingin yang pekat dari daun obat tersebut. Namun, hanya dalam hitungan detik, rasa panas terbakar di telapak tangannya perlahan-lahan mereda, digantikan oleh rasa sejuk yang menenangkan yang meresap ke dalam pori-pori kulitnya.

"Tahan sedikit. Ini memang agak perih di awal, tapi daun binahong ini sangat bagus untuk meredakan radang dan mempercepat kulit baru tumbuh," ucap Nayla dengan nada suara yang melembut, sangat berbeda dari nada sarkas yang biasa ia gunakan. Wajah manis alaminya tampak sangat serius dan fokus meratakan ramuan hijau itu di tangan Arkan, membuat beberapa anak rambut hitamnya yang terlepas dari kunciran jatuh menjuntai di pipinya.

Arkan terpaku di tempatnya. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat dengan jelas bulu mata Nayla yang lentik secara alami tanpa maskara, serta kulit wajah gadis desa itu yang bersih meskipun tanpa sapuan bedak mahal ala wanita kota. Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di Desa ini, Arkan tidak merasakan dorongan untuk mendebat atau bersikap ketus pada gadis ini. Jantung Tuan Muda kota itu mendadak berdegup dengan ritme yang sedikit lebih cepat, sebuah getaran aneh yang langsung ia tepis dengan cepat karena dianggapnya sebagai efek dari rasa lelah yang ekstrem.

"Sudah selesai," ujar Nayla memecah keheningan, melepaskan pegangan tangannya dengan perlahan setelah seluruh luka Arkan tertutup ramuan hijau. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Arkan yang sedang memperhatikannya, membuat suasana di bawah pohon beringin itu mendadak terasa sedikit canggung.

Nayla buru-buru berdeham, membersihkan sisa daun di tangannya dengan kain kecil lalu berdiri dari dipan bambu. "Ingat, jangan dicuci dulu sampai nanti sore agar obatnya meresap. Ayo jalan lagi, Bude Lastri pasti sudah menunggu kita untuk makan malam di rumah."

Arkan mana kala menatap telapak tangannya yang kini berwarna hijau pekat, lalu menggenggamnya perlahan dengan rasa sakit yang sudah jauh berkurang. Ia berdiri dari dipan bambu, membersihkan celana kainnya yang berdebu.

"Terima kasih," gumam Arkan dengan suara yang sangat pelan, hampir menyerupai bisikan, seolah egonya masih menolak untuk mengucapkan kata itu dengan lantang.

Nayla yang sudah berjalan dua langkah di depan menghentikan langkahnya sejenak. Tanpa membalikkan badan, sebuah senyuman tipis yang tulus terukir di wajah manis gadis desa itu.

"Sama-sama, Pria Kota. Ternyata kamu masih punya sopan santun untuk bilang terima kasih."

Arkan mendengus samar, mempercepat langkah kakinya untuk menyejajarkan posisinya di samping Nayla. Perjalanan pulang menuju rumah Mbah Harjo di bawah terik matahari itu entah kenapa tidak lagi terasa melelahkan seperti sebelumnya bagi sang Tuan Muda. Dinding keangkuhannya belum runtuh sepenuhnya, namun retakan pertamanya baru saja tercipta di bawah bayangan pohon beringin Desa Sukmawarna.

1
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian Author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya Author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!