Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERKELAHIAN
"Jadi benar kamu di sini, Sora... Teganya kamu sama aku!"
Suara Rian menggelegar memecah keheningan penthouse. Pintu lift privat yang terbuka lebar memperlihatkan sosok suaminya dengan mata memerah, rambut berantakan, dan wajah yang mengeras oleh amarah yang meluap.
Sora melangkah mundur, refleks bersembunyi di balik tubuh tegap Aris. Tangannya yang gemetar meremas ujung kemeja Aris dari belakang, mencari perlindungan di tengah badai yang akhirnya pecah.
"Mundur dua langkah, Rian. Ini apartemenku, bukan rumah tempat kamu biasa membentak istrimu."
Suara Aris terdengar begitu dingin, tenang, namun sarat akan ancaman yang tak terbalaskan. Pria itu berdiri tegap, memosisikan dirinya bagaikan benteng yang tak tergoyahkan di depan Sora.
Rian tertawa sumbang, sebuah tawa penuh cemoohan yang meluap dari rasa dihina. Matanya menatap Aris dan Sora bergantian dengan tatapan murka.
"Sahabat?" desis Rian dengan suara serak. "Kamu yang bilang kita sahabat sejak kuliah, Aris! Dan sekarang... kamu tampung istriku di tempat kelakuan bejatmu ini?"
"Jaga mulutmu, Rian!" potong Aris dengan nada bariton yang ditekan rendah. "Sora datang ke sini karena dia sudah tidak sanggup lagi hidup dalam kebohongan dan dinginnya rumah tanggamu. Kamu yang membuat dia hancur!"
"Bohong apa?!" teriak Rian, mencoba melangkah maju melewati ambang lift. "Dia istri sahku! Apapun masalah rumah tangga kami, kamu tidak punya hak sedikit pun buat ikut campur, apalagi menyembunyikan dia di kamar tidurmu malam-malam begini!"
Sora menelan ludah yang terasa setajam duri. Dari balik bahu Aris, ia memberanikan diri menatap Rian secara langsung. Air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang di pelupuk matanya, namun kali ini bukan lagi karena ketakutan, melainkan kepedihan atas kemunafikan pria yang telah dinikahinya selama tiga tahun itu.
"Kamu tanya kebohongan apa, Rian?" suara Sora akhirnya keluar, bergetar namun tegas menembus ketegangan udara di antara mereka.
Rian menatap istrinya, matanya sedikit menyipit. "Sora, kamu pulang sekarang! Jangan terpengaruh sama bualan Aris. Kita bicarakan ini di rumah!"
"Di rumah?" Sora tersenyum sinis di balik linangan air matanya. "Rumah yang mana? Rumah yang sepi kaya kuburan itu? Atau rumah tempat kamu pulang mabuk dan memaksaku saat kamu baru saja memeluk wanita lain?"
Wajah Rian mendadak pucat seketika. Langkah kakinya yang hendak maju mendadak terhenti.
"Kamu... kamu ngomong apa sih, Ra?" Rian berusaha mengelak, namun ada kebingungan dan kepanikan yang mendadak melintas di raut wajahnya.
Sora melepaskan genggamannya pada kemeja Aris. Ia melangkah sedikit ke samping, berdiri sejajar dengan Aris, lalu menatap Rian lurus-lurus.
"Dua hari yang lalu, saat kamu bilang ada rapat penting sampai larut malam... kamu ada di restoran mewah sama cewek pirang itu, kan?" bisik Sora pelan namun menohok. "Lalu kamu bawa dia ke hotel di area Senayan. Aku punya semua bukti fotonya, Rian."
Kata-kata Sora bagaikan hantaman keras yang membuat Rian bungkam seketika. Rahangnya mengeras, matanya berkedip cepat mencari alasan, namun telanjang bulat kebohongannya telah terbongkar tanpa sisa.
Aris menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap Rian dengan pandangan penuh penghinaan.
"Ternyata bukan cuma penjahat bisnis yang buruk, tapi kamu juga suami yang menjijikkan, Rian," sindir Aris tenang. "Selama ini aku diam karena menghargai hubungan masa lalu kita. Tapi melihat Sora menangis setiap malam gara-gara kamu... aku nggak akan tinggal diam lagi."
"Dengar ya, Aris!" Rian menunjuk muka Aris dengan jari gemetar penuh amarah. "Kamu jebak aku! Kamu yang memata-matai aku, kan? Kamu sengaja dekati istriku dari awal kamu balik ke Jakarta!"
"Aku mendekati Sora karena aku tahu dia menderita!" balasan Aris cepat dan tajam. "Dan kalaupun aku menyukai Sora... itu karena aku tahu persis betapa berharganya dia, sesuatu yang nggak pernah kamu sadari selama tiga tahun pernikahan kalian!"
Kemarahan Rian meledak sepenuhnya. Pria itu melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Aris.
Bugh!
Pukulan Rian mendarat di rahang kiri Aris, membuat Aris sedikit terhuyung ke samping. Sora menjerit histeris melihat kejadian itu.
"Aris!" teriak Sora panik.
Namun Aris sama sekali tidak memperlihatkan rasa sakit. Ia menyapu sudut bibirnya yang sedikit berdarah dengan punggung tangannya, lalu menyunggingkan senyuman dingin. Tanpa membuang waktu, Aris membalas dengan satu cengkeraman kuat pada kerah baju Rian, mendorong pria itu hingga punggungnya menghantam dinding besi lift dengan keras.
"Jangan pernah main fisik denganku di tempatku sendiri, Rian," usul Aris dengan napas memburu di depan wajah Rian. "Kamu sudah kalah. Lebih baik kamu pergi sebelum aku panggil sekuriti dan bikin namamu hancur di media esok pagi."
Rian mencengkeram lengan Aris, berusaha melepaskan diri, namun tenaga Aris jauh lebih kokoh dan dominan. Rian menatap Sora yang berdiri ketakutan dengan linangan air mata.
"Sora... kamu beneran mau milih dia dibanding suamimu sendiri?" tanya Rian dengan nada yang kini terdengar putus asa bercampur amarah yang tertahan.
Sora menyapu air matanya dengan kasar. Ia menatap Rian tanpa ragu lagi.
"Aku nggak milih Aris ataupun kamu, Rian," jawab Sora dengan kepastian yang dingin. "Aku milih untuk berhenti jadi orang bodoh. Kita selesai. Besok pengacaraku akan kirim surat gugatan cerai ke kantormu."
Rian membelalakkan matanya tak percaya. Kalimat itu bagaikan ketukan palu hakim yang memutus takdir hubungan mereka.
Aris melepaskan cengkeramannya pada kerah Rian, lalu menekan tombol close dan tombol ground floor pada panel lift.
"Pergi, Rian. Sebelum aku hilang kesabaran," perintah Aris dingin.
Pintu lift perlahan merapat, memutus pandangan mereka dari wajah Rian yang memerah penuh amarah dan kehancuran. Ketika pintu logam itu tertutup rapat dan indikator lantai bergerak turun, keheningan yang sangat pekat kembali menguasai penthouse.
Sora menyandarkan tubuhnya pada dinding ruang tamu, badannya gemetar hebat saat ketegangan emosionalnya meluap keluar. Seluruh sendi kakinya terasa lemas bagaikan jelly.
Aris membalikkan badan, bergegas mendekati Sora. Tanpa memedulikan rasa nyeri di rahangnya, Aris merangkul tubuh Sora rapat-rapat ke dalam dadanya yang hangat.
"Sudah selesai, Sora... Sudah selesai," bisik Aris lembut di balik rambut harum wanita itu. Tangannya mengusap punggung Sora dengan teratur, menyalurkan rasa aman yang begitu menenangkan.
Sora menangis sejadi-jadinya di dada Aris. Rasa lega karena akhirnya berani melepaskan ikatan beracun itu bercampur dengan ketakutan akan masa depan yang kini membayang di hadapannya.
Aris menangkup wajah Sora, mengangkatnya perlahan agar mata mereka saling bertemu. Ibu jarinya dengan lembut menyapu setiap bulir air mata di pipi halus Sora.
"Kamu aman sama aku. Aku janji... nggak akan pernah ada orang yang nyakitin kamu lagi," janji Aris dengan tatapan mata yang penuh ketulusan dan gairah protektif.
Aris menundukkan kepala, mendaratkan ciuman hangat di kening Sora, lalu turun menyusuri hidungnya, dan berhenti di bibir Sora yang gemetar. Ciuman kali ini tidak menuntut, melainkan sebuah kepastian dan perlindungan yang sangat dalam. Sora memejamkan matanya, membalas kecupan itu dengan kepasrahan penuh, merapatkan tubuhnya pada dada Aris yang menjadi satu-satunya tempat bersandar malam ini.
Pukul dua pagi.
Sora terbangun dari tidur lelapnya di kamar utama. Kamar itu redup, hanya diterangi sinar bulan yang menyusup dari balik gorden kaca. Di sampingnya, Aris berbaring miring, memeluk pinggang Sora rapat dari belakang dengan napas yang teratur dan hangat di tengkuknya.
Sora merasa sangat hangat dan terlindungi, sebuah perasaan nyaman yang belum pernah ia rasakan bertahun-tahun.
Namun, saat Sora meraih ponselnya di meja samping ranjang untuk melihat jam, layarnya menyala menampilkan sebuah notifikasi pesan dari nomor yang tak dikenal.
Dengan jantung yang perlahan kembali memburu, Sora membuka pesan asing tersebut.
"Sora, kalau kamu mikir bisa hidup tenang sama Aris setelah ini, kamu salah besar. Kamu nggak tahu rahasia paling kelam yang disembunyikan Aris dari kamu selama lima tahun ini..."
Sora menahan napasnya. Jemarinya yang dingin memegang ponsel makin erat saat membaca kalimat berikutnya yang dikirim oleh nomor misterius itu.
"Tanya sama dia, siapa orang yang sebenarnya merencanakan kecelakaan bisnismu lima tahun lalu sampai kamu terpaksa menikah sama Rian?"