Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penebusan dosa
SRRUUUUPPPPPP...
Gayanya mirip orang-orang kaya yang sedang nongkrong di coffeeshop sedang mencicipi kopi yang mereka pesan. Gayanya ya, kenyataannya.
BWEEEEEEHHH.. CUUUIIIHHHH..
" Ya ampun.. Sepet.. sepet.. sepet... "
" Kamu juga ada-ada aja, Sen. Masa kamu pesennya kopi pahit sih, ya jelas pahit lah.. " ujar bu Mi terkekeh melihat tingkah Senjana.
Tak berubah, sejak masa SMA dimana Senjana ini merupakan teman sekelas putranya. Selalu ada saja tingkahnya yang bikin orang ketawa, selalu ceria, selalu penuh warna, hanya saja bagi siapapun yang benar mengenal Senjana pada masa SMA nya lalu melihat Senjana yang sekarang, mereka akan tahu di depan mereka bukan lagi Senjana di masa SMA.
Senjana ikut terkekeh, " Nyoba gaya orkay, bu Mi.. Kok mereka biasa aja ya pas nyicip? Kalau saya yang nyicip kok luar biasa jadinya. "
" Bu Mi ada apa sampai jauh-jauh kemari? " tanya Senjana to the point, yang langsung disambut keterkejutan dari bu Mi.
" Saya sudah menyangka kamu akan bertanya seperti ini, Sen. Tapi mendengar langsung, saya tetap terkejut. " bu Mi tersenyum ramah.
Wanita muda di depannya ini merupakan seseorang yang memiliki jasa paling besar dalam hidupnya. Kalau saja saat itu dia tidak bertemu dengan Senjana, entah bagaimana nasibnya saat ini. Kenyataan dia masih hidup bahkan terbilang sangat beruntung karena bisa hidup cukup, semua karena keputusan besar yang dibuat seorang Senjana.
" Kamu pergi begitu saja sebelum saya sempat menyapa, makanya saya sengaja datang ke sini untuk menemui kamu langsung. Karena saya tahu kita tidak akan bisa bicara secara gamblang kalau di depan anak-anak saya. " Senjana mengangguk setuju.
" Saya selalu ingin menemui kamu untuk mengucapkan Terima kasih, Sen. Tapi sejak hari itu, kamu tidak terlacak. Saya sudah minta orang cari kamu, tapi tidak pernah ketemu. " ujar bu Mi tulus dari hati yang paling dalam.
" Apa yang saya berikan saat itu, bukan dari saya, bu. Itu hak dia. Jadi sudah sewajarnya saya berikan karena saya tidak berhak sedikitpun atas semua itu... "
" Dan saya harap, sesuai janji ibu waktu itu, apa yang terjadi hari itu kita anggap tidak pernah terjadi. Ibu tidak bertemu saya, dan saya tidak membantu ibu. Ibu nggak lupa kan? "
Bu Mi mengangguk, " Saya ingat, Sen. Bahkan sampai hari ini, baik Welly ataupun Santana, tidak ada yang tahu kejadian itu. "
" Terima kasih, bu.. " Senjana nampak lega, terbukti dari senyumnya nampak begitu manis.
Setelah berbincang basa-basi, Senjana pun pamit pulang. Dia takut kalau Miduri mengajak suami dan orang tuanya menyusul kalau Senjana tidak segera pulang. Tadi saja Miduri enggan di suruh balik duluan, saat tahu siapa yang akan Senjana temui.
Bu Mi, panggilan untuk ibu Mitha, mama dari Welly, sekaligus beliau adalah manager Santana dan juga merupakan wali dari Santana. Seseorang yang waktu itu tanpa sengaja Senjana temui, dan akhirnya dia tolong.
Pertemuan waktu itu menjadi rahasia mereka berdua, termasuk apa yang terjadi dalam pertemuan itu dan kesepakan yang keduanya buat. Semua itu tidak diketahui orang lain, baik keluarga maupun orang terdekat.
Bagi bu Mi sendiri, andai saja saat itu dia tidak bertemu Senjana. Bu Mi mungkin sudah tidak berada di dunia ini lagi. Entah bagaimana nasib Welly dan Santana andai saja tidak ada bantuan dari Senjana.
Ya...
Bantuan yang bagi Senjana bukanlah sebuah bantuan karena dia hanya memberikan apa yang menjadi hak Santana. Dari situlah, Senjana mulai sedikit demi sedikit memaafkan dirinya sendiri, karena dia adalah putri dari seseorang yang menyebabkan Santana menjadi yatim piatu.
******
Flashback..
" Mau sampai kapan kamu mendiamkan saya? "
" Saya sudah katakan ribuan kali, kalau yang saya lakukan saat itu tak lebih dari ketidaksengajaan. " bela Anggoro. Dia sudah cukup tertekan dengan situasi yang terjadi belakangan ini, ditambah lagi istrinya, Mutia juga ikut-ikutan menghakiminya.
" Tidak sengaja kamu bilang, mas.. Tidak sengaja??? " suara Mutia naik satu oktaf.
" Yang mas bilang tidak sengaja itu nyata membuat seorang anak jadi yatim piatu bahkan saat dia belum tahu tentang dunia, mas. Yang mas bilang tidak sengaja itu, kini membuat situasi yang harus dialami Senja, putri kita.. Menjadi tidak baik-baik saja. "
" Keegoisan mas, ambisi mas, dan kesepakatan mas membuat keluarga tak ubahnya menjadi seorang pembunuh, mas.. " sentak Mutia sudah muak.
" Kecelakaan itu terjadi diluar kuasa saya, Mutia.. Niat saya memang membuat mereka gagal datang ke rapat itu agar saya yang menang tender. Niat saya hanya menghalangi, tapi siapa yang sangka mereka kecelakaan karena keluar jalur. " Anggota masih kekeh dengan pembelaannya.
" YANG MEMBUAT MOBIL MEREKA KELUAR JALUR ITU KARENA MAS NABRAK MEREKA DARI SAMPING. SEMUA KARENA MAS, JADI JANGAN LAGI MEMBELA DIRI, MAS.. KAMU ITU TAK LEBIH DARI SEORANG PEMBUNUH, MAS... PEMBUNUH KAMU ITU.... " Mutia berteriak kencang, meluapkan semua frustasi dan rasa bersalah dalam dirinya.
" Kamu.. Kamu pembunuh, mas.. Kamu yang membunuh orang tua Santana, mas.. kamu yang membunuh mereka... " Mutia luruh ke lantai sembari menangis kencang.
Pertengkaran itu, yang baik Anggota maupun Mutia hanya keduanya yang tahu, ternyata tidak seperti itu. Senjana, putri tunggal mereka yang bersembunyi di balik sofa yang ada di kamar mereka mendengarkan semuanya.
Senjana yang awalnya berniat mencari mamanya karena kembali bermimpi buruk, justru mendengarkan fakta yang membuat seluruh tubuhnya membeku. Jantungnya terasa diremas begitu kuat. Rasanya sakit dan sesak, yang mana sesak itu terasa begitu menghimpit dadanya.
Air matanya mengalir tak lagi bisa dibendung. Pikirannya begitu berisik mengomentari apa yang baru saja dia dengar. Lalu setelah semuanya ini, akhirnya Senjana tahu kenapa Santana memilih memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
Ternyata....
' Jadi kamu ninggalin gue, karena papa gue yang membunuh orang tua, lo.. '
' Jadi maksud lo yang nggak mau manfaatin gue itu ini, San... "
' Tapi kenapa? Kenapa harus disaat gue sesayang itu sama lo? Apa ini karma? Apa dengan gue menderita dengan begitu lo bisa bahagia? '
Dan kondisi Senjana yang saat itu sudah memburuk karena depresi, semakin menjadi-jadi. Beberapa kali Senjana sampai melukai dirinya sendiri, bahkan pernah sampai mencoba melakukan bunuh diri.
Kondisinya itulah yang membuat hubungan kedua orang tuanya semakin lama tidak lagi bisa diselamatkan. Hingga akhirnya malam itu, malam dimana Senjana secara langsung bertanya pada sang papa hingga akhirnya keduanya bertengkar hebat.
Malam terakhir Senjana bisa memanggil Anggoro sebagai papa, karena setelah pertengkaran itu, Anggoro ditemukan tewas dalam kecelakaan mobil tunggal. Mobil yang dikendalikan oleh Anggoro hilang kendali dan keluar jalur, lalu menghantam tuang listrik.
Anggoro langsung tewas ditempat karena terhimpit badan mobil dan tiang listrik. Dan peristiwa ini menjadi salah satu pemicu kondisi buruk Senjana. Rasa bersalah, membuat Senjana semakin sering melukai diri sendiri hingga dia pernah sampai hampir tidak selamat. Lalu setelahnya, dengan hati yang hancur, Mutia membawa Senjana untuk dirawat di sebuah rumah sakit Jiwa.