Penugasan di medan perang adalah hal biasa. Namun, menghadapi pengkhianatan di dalam barak asrama dinasnya sendiri adalah pertempuran yang tak pernah ia duga.
Ketika ia memergoki lettingnya sendiri menelantarkan dan menyakiti seorang wanita di sudut pangkalan militer akibat hasutan keluarga, naluri pelindungnya bangkit. Dalam sebuah tindakan nekat demi menyelamatkan kehormatan sang wanita, ia mengambil alih takdir itu. Ia membawanya pergi, melindunginya di garis depan hidupnya, dan menikahinya.
Di bawah naungan seragam lorengnya, ia memulai misi paling rahasia dalam hidupnya.. Menyembuhkan luka batin gadis itu, namun, ia harus menghadapi dendam dari rekan satu lettingnya, dan mencintainya setulus hati tanpa syarat.
Sebab di garis depan hatinya, keselamatan wanita itu adalah perintah mutlak haram untuk gagal.
KONFLIK.. SKIP bagi yang tidak sanggup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Jalan hidup.
Prada Syafi'i kelabakan mencari ponselnya. Secepatnya ia menghubungi pos piket depan. "Selamat malam Angkasa, mohon ijin kami meminta dukungan untuk mengirimkan unit kesehatan ke ruang Danki sekarang juga..!! Letnan Satu Oscar black out di ruang kerja." Suara Prada Syafi'i terdengar cemas namun tetap tegas saat berbicara melalui telepon.
"Baik.. Kami kirimkan segera."
~
Prada Syafi'i berlutut di samping tubuh atasannya yang terbaring lemah. Tangannya menyambar bantal sofa, dengan hati-hati ia menyandarkan kepala Bang Oscar pada bantal tersebut, lalu melonggarkan ikat pinggang dan membuka kancing seragamnya agar napasnya lebih lega.
"Tahan sebentar lagi, Danki." Ucapnya pelan. Ia berusaha tidak panik meskipun hatinya panik setengah mati.
Tak lama kemudian, langkah tergesa terdengar. Unit kesehatan datang membawa tas medisnya, diikuti dua anggota piket. Dokter segera memeriksa nadi dan tekanan darah Bang Oscar.
"Tekanan darahnya turun drastis. Beliau mengalami kelelahan berat, dehidrasi, dan terindikasi asam lambung tinggi, mungkin belum makan dalam waktu lama. Bantu saya bawa ke ruang perawatan, segera..!!" perintah dokter dengan nada serius.
:
Di rumah dinas, telepon berdering nyaring dalam heningnya malam. Pitta yang sejak tadi belum tidur, langsung menyambar dan mengangkat panggilan telepon tersebut, tapi nama yang ada disana adalah nama Prada Syafi'i.
"Iya, Om."
"Ijin Ibu Pitta... mohon tenang dulu. Kami ingin memberitaukan. Danki... Tadi sempat pingsan di ruang kerjanya. Sekarang beliau sudah di ruang perawatan Kompi. Dokter sedang memeriksa. Mohon Ibu segera ke sini ya, Bu." Kata Prada Syafi'i.
Telepon terlepas dari tangan Pitta. Dunia seakan berhenti berputar sejenak. Wajahnya langsung pucat pasi. Mama Dilan yang melihatnya langsung mendekat. Pak Dante pun sampai kaget melihat ekspresi menantunya.
"Ada apa, Nak? Siapa yang menelepon?" Tanya Pak Dante.
Pitta menatapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, suaranya tercekat. "Mama... Abang Oscar... Abang Oscar pingsan, Pa..."
~
Mata Bang Oscar terbuka perlahan. Pandangannya masih kabur, tapi saat sosok Pitta muncul di hadapannya, ia langsung menutup mata kembali, seakan kehadiran wanita itu menyakitinya lebih dalam dari luka fisiknya.
"Abang..." panggil Pitta lirih, suaranya bergetar, tangannya terulur ingin menyentuh kening suaminya namun ia mengurungkannya.
Bang Oscar memalingkan wajah ke sisi lain tempat tidur, menjauh darinya. "Siapa yang mengijinkanmu disini??? Pergilah..." ucapnya pelan namun tegas, suaranya masih lemah tapi tak mengurangi aura garangnya.
Pitta terdiam, tak ada isakan tangis, air matanya jatuh membasahi pipi.. "Abang... Pitta mohon, biar Pitta yang menjaga Abang malam ini saja. Setelah itu Pitta janji akan pulang ke rumah Mama."
Bang Oscar menarik napas panjang, napas yang terdengar berat lagi menyakitkan. Ia kembali menatap Pitta, matanya tak lagi hangat seperti dulu, yang ada kini hanya luka yang dalam serta kekecewaan yang menghujam tajam.
"Kehadiranmu disini tidak membuatku jauh lebih baik. Justru setiap kali melihatmu, saya teringat... teringat bagaimana dia menggantikan posisiku. Bagaimana kalian berdua... di belakangku." Suaranya berat penuh rasa menyakitkan. "Saya belum bisa mengikhlaskan, Pitta. Hati saya belum siap melihatmu seakan tidak ada yang terjadi. Masih ada rasa sesalmu jika saja sejak awal kamu cerita. Diam mu sama saja kamu melindungi kesalahan Satria. Satu kali, hanya satu kali yang kalian akui. Begitu kah caramu menghargai suamimu???"
Sejenak Bang Oscar terdiam, ia kemudian kembali menatap kedua bola mata Pitta. "Panggil Satria. Minta dia datang dan menjemputmu sekarang. Silakan kalian mengenang hal indah tak terlupakan itu."
Pitta terisak pelan, menahan tangisnya agar tidak mengganggu suaminya. "Baik... Pitta akan menuruti permintaan Abang. Tapi percayalah, tidak ada apapun di antara kami. Pitta menolaknya, Abang. Pitta hanya lemah dan kesepian saat Abang tidak ada."
"Jangan pernah menjual tangismu hanya untuk mencari rasa iba saya. Kembalilah pada laki-laki yang kamu inginkan. Saya yang salah sudah pernah mencintai kamu mati-matian." Bang Oscar memejamkan mata kembali. "Pergilah, saya ikhlaskan kamu."
Pitta setengah berlari keluar dari ruangan. Di koridor yang dingin dan sepi, ia menghubungi Bang Satria. Saat menceritakan permintaan suaminya, suara Pitta tak lagi mampu menahan tangisnya.
Pak Dante dan Mama Dilan bahkan tidak bisa berucap apapun bahkan untuk sekedar mendamaikan.
~
Tak lama kemudian, Bang Satria tiba. Wajahnya pucat, matanya sembab, ia tau semua ini adalah ulah yang ia buat. Ia tak berani menatap mata Pitta, apalagi bertemu lagi dengan Abangnya. Mereka berjalan berdampingan menuju kendaraan, dalam keheningan yang menyakitkan.
Dari balik jendela ruang perawatan, Bang Oscar melihat bayangan mereka berdua pergi bersama. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menangis dalam kesunyian malam kelam.
'Rasanya aku tidak sanggup, Tuhan. Hatiku sangat sakit, tapi.. Hati Pitta bukan untuk ku. Hanya ada Satria di hatinya.'
.
.
.
.
ditunggu lanjutanya mba
ditunggu lanjutannya mba Nara
lanjut mba Nara👍