Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Tulisan Juru Tulis
Zhao Feng datang ke belakang pondok tujuh pada pagi kedua puluh dua setelah duel, tanpa pengawal dan tanpa pedang di pinggang. Jian Chen sedang menyelesaikan ayunan ke-sembilan puluh dengan besi tujuh kati ketika bayangan seseorang jatuh di atas tanah di depannya. Qiu Bo, yang sedang menghitung, berhenti di tengah angka dan langsung menegakkan punggung seperti dipanggil oleh guru.
"Kakak Senior," katanya dengan suara terlalu keras.
"Aku bukan kakak seniormu," kata Zhao Feng. "Pergilah. Aku perlu bicara dengan temanmu."
Qiu Bo menoleh ke Jian Chen. Jian Chen mengangguk. Qiu Bo pergi dengan langkah yang jelas-jelas ingin berlari, tetapi ia menahan diri sampai tikungan.
Zhao Feng duduk di batang kayu tempat Ye Ran biasa duduk. Ia mengamati Jian Chen yang menyelesaikan sepuluh ayunan terakhir tanpa berkata apa-apa. Setelah besi itu diletakkan di tanah, ia baru bicara.
"Kau sudah bisa tujuh kati."
"Dalam dua pekan."
"Bahumu juga lebih tegak." Zhao Feng mengangguk kecil. "Itu kemajuan. Aku tidak akan mengatakannya dua kali."
"Aku tahu."
"Aku datang bukan untuk memuji." Zhao Feng mengeluarkan sebuah lipatan kertas dari balik jubahnya dan menyodorkannya. "Lihat."
Jian Chen membuka lipatan itu. Di dalamnya ada dua sobekan kertas. Yang pertama adalah salinan tulisan merah dari lampion yang ia temukan: Kami menemukanmu. Yang kedua adalah sobekan dari catatan resmi aula, berisi daftar nama dengan tulisan tangan yang sama persis, persegi dan datar.
"Bagaimana kau mendapatkan ini?" tanyanya.
"Lu Gang mengirim kabar tadi malam. Ia mengatakan ada lampion dengan tulisan merah. Aku meminta salinannya dan membandingkannya dengan catatan aula." Zhao Feng menyilangkan kaki. "Tulisan ini milik seorang juru tulis bernama Hu."
"Hu."
"Hu Min, juru tulis rendahan di aula kontribusi, tiga puluh tahun. Ia bekerja di sana sejak umur lima belas. Ia hilang tiga bulan lalu."
"Hilang?"
"Tidak ada yang melapor. Teman-temannya mengira ia pulang ke kampung. Tetapi catatan keluar-masuk gerbang tidak mencatat kepergiannya." Zhao Feng menatap Jian Chen. "Dan ia menghilang beberapa hari sebelum perintah palsu itu muncul."
Jian Chen menunduk menatap kertas itu. Otaknya bekerja cepat. Juru tulis aula. Segel palsu yang rapi. Surat izin kebun herbal. Tulisan di lampion. Semuanya dari satu tangan, atau seseorang yang meniru dengan sempurna.
"Kau pikir dia pemalsu?" tanya Jian Chen.
"Aku pikir dia alat," kata Zhao Feng. "Seseorang yang dipaksa atau dibayar. Dan seseorang yang tahu banyak tentang prosedur aula. Tetapi tidak ada yang bisa menemukannya, kecuali jika dia ingin ditemukan."
"Lampion itu sengaja ditinggalkan dengan tulisannya."
"Ya." Zhao Feng menyandarkan siku ke lutut. "Itu pesan untukmu. Atau untuk anak itu. Seseorang ingin kau tahu bahwa mereka tahu."
"Mengapa Hu Min?"
"Karena mereka butuh orang yang tidak akan dicari." Zhao Feng mengerutkan dahi. "Aku sudah menyelidiki ke mana dia pergi. Dua orang melihatnya terakhir kali di jalan menuju Bukit Lampion."
Jian Chen mengangkat kepala cepat. "Bukit Lampion."
"Kau tahu sesuatu."
"Aku baru kembali dari sana."
"Aku tahu. Aku juga tahu kau membawa anak itu pulang, dan sebelas anak lainnya kau titipkan di rumah singgah." Zhao Feng menatapnya tanpa berkedip. "Aku tidak bodoh, Jian Chen. Aku tidak menekanmu karena aku sudah punya sebagian jawabannya. Seseorang sedang mengincar anak yatim di Bukit Lampion, dan orang itu punya akses ke sekte. Itu lebih besar dari urusan Gu Hong."
Jian Chen menutup lipatan kertas itu perlahan. Ia merasakan keinginan untuk bercerita, bukan seluruhnya, tetapi sebagian, dan ia tahu keinginan itu berbahaya. Zhao Feng bukan Lin Xue. Ia tidak menunggu. Ia menagih.
"Kalau aku jujur sedikit," kata Jian Chen akhirnya, "apakah itu masuk hutang jawaban?"
"Tidak. Hutang jawaban hanya satu pertanyaan, satu jawaban, dan itu akan kutagih saat aku siap." Zhao Feng mengangkat bahu. "Kali ini aku menawarkan sesuatu yang lain."
"Apa?"
"Kerja sama." Zhao Feng mengucapkannya seperti kata yang rasanya asing di mulutnya. "Aku punya wewenang masuk aula dan sekte dalam. Kau punya pengetahuan yang tidak kumengerti dan tidak kuinginkan untuk kutanya. Aku tidak peduli dari mana. Aku hanya ingin tahu siapa yang memalsukan segel sekteku."
"Kau mau bekerja sama dengan murid luar?"
"Aku mau bekerja sama dengan siapa pun yang berguna." Zhao Feng mengangkat dagu. "Itu prinsip keluargaku."
"Keluargamu?"
Zhao Feng terdiam sejenak. Wajahnya, yang biasanya tegang, mengendur sedikit. "Ayahku pernah dibohongi oleh orang yang paling ia percaya. Seorang penasihat klan. Ia kehilangan sepertiga harta keluarga dan nyaris kehilangan nyawanya." Ia menatap tanah. "Aku masih sepuluh tahun waktu itu. Aku melihat wajah ayahku ketika ia tahu. Aku bersumpah tidak akan memaafkan siapa pun yang berbohong demi keuntungan."
"Aku berbohong padamu," kata Jian Chen pelan.
"Aku tahu."
"Dan kau masih mau bekerja sama?"
"Kau berbohong karena melindungi sesuatu, bukan karena mengambil keuntungan." Zhao Feng mengangkat wajah. "Aku sudah membedakan itu sejak sidang Gu Hong. Itu sebabnya aku belum menagih."
Hening. Dari jauh terdengar dentang palu Dao dan sorak anak-anak di lapangan murid luar.
"Baik," kata Jian Chen. "Aku setuju. Tapi dengan syarat."
"Syarat dari murid luar kepada murid dalam," gumam Zhao Feng. "Lucu. Katakan."
"Jangan menanyakan dari mana aku tahu sesuatu, sampai aku bilang aku siap."
"Aku sudah bilang aku tidak peduli."
"Kau peduli. Kau hanya menahan diri."
Zhao Feng menyeringai, hampir tidak terlihat. "Baik. Tidak bertanya. Tapi aku mencatat."
"Itu hakmu."
"Omong-omong," kata Zhao Feng sambil berdiri. "Temanmu Shen Yu menemuiku kemarin. Ia menanyakan apakah aku akan menantangmu lagi."
"Apa jawabanmu?" tanya Jian Chen.
"Aku bilang itu bukan urusannya." Zhao Feng mengernyit. "Dia terlalu ramah untuk orang yang bertanya soal duel orang lain."
Jian Chen terdiam. "Dia memang ramah."
"Itulah maksudku." Zhao Feng tidak menjelaskan lebih jauh. Ia membersihkan debu dari jubahnya. "Satu hal lagi. Sepuluh hari lagi, aula mengumumkan ujian kenaikan calon murid dalam. Daftarkan dirimu. Aku ingin kau berada di tempat yang bisa kujangkau."
"Aku belum cukup kuat."
"Belum, tapi lebih kuat dari kemarin." Zhao Feng berbalik dan berjalan pergi. "Dan lebih cerdik dari separuh orang yang akan mengikuti ujian."
Jian Chen menatap punggungnya sambil memegang lipatan kertas itu erat-erat. Dua bulan lalu orang itu adalah musuh yang mengawasinya. Sekarang ia adalah seseorang yang mengusulkan kerja sama. Hubungan di antara mereka sudah bergeser, dan ia tidak yakin apakah itu kabar baik atau buruk.