NovelToon NovelToon
SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA


Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.

Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.

Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Pagi itu udara di sekitar Kos Putra Putri Melati terasa sangat sejuk dan nyaman.

Suara burung gereja berkicau riang di atas dahan pohon mangga depan gerbang.

Maya sedang menyiram tanaman hias di pot plastik menggunakan air bekas cucian beras.

Budi melangkah keluar kamarnya dengan seragam mandor yang disetrika sangat licin dan rapi.

"Pagi, Bos Rahman!" sapa Budi dengan senyum cerah.

"Hari ini pabrik sedang banyak orderan, saya mungkin lembur sampai malam ya."

Rahman yang sedang duduk di kursi goyangnya hanya membalas dengan dengusan pelan.

"Kerja yang benar, jangan sampai gajimu dipotong gara-gara malas."

"Kalau gajimu turun, ancaman kenaikan uang sewamu bulan depan tetap berlaku!"

Budi hanya tertawa renyah mendengar ancaman palsu itu.

"Siap, Bos!"

Dari kamar nomor lima, Dimas keluar dengan kemeja flanel rapi dan ransel di punggung.

"Pak Rahman, saya berangkat kuliah dulu ya."

"Hari ini saya ada presentasi tugas akhir semester," pamit Dimas sopan sambil menyalimi tangan Rahman.

Rahman menarik tangannya dengan cepat karena gengsi.

"Jangan cium tanganku, tanganmu itu habis pegang knalpot motor pasti kotor."

"Semoga presentasimu lancar, jangan bikin malu bapak kosmu ini di kampus."

Dimas tersenyum lebar dan segera menyalakan motor maticnya.

Suasana kos-kosan ini benar-benar terasa seperti sebuah keluarga besar yang harmonis.

Namun, keharmonisan itu tiba-tiba dihancurkan oleh suara gemuruh yang sangat bising dari arah sebelah.

Brummm! Ngeeeng!

Tanah di bawah kaki Rahman bahkan terasa sedikit bergetar.

Semua penyewa yang masih ada di halaman langsung menoleh ke arah tembok sebelah kanan kos.

"Suara apa itu bising sekali?" Maya menutup telinganya dengan kedua tangan.

"Rasanya seperti ada gempa bumi kecil," tambah Rina yang buru-buru keluar sambil menggendong Dimas kecil.

Rahman berdiri dari kursi goyangnya dengan wajah kesal.

"Ada orang gila mana yang berani membuat keributan di dekat wilayahku pagi-pagi begini?"

Rahman melangkah keluar gerbang diikuti oleh Maya dan Rina yang penasaran.

Di lahan kosong yang dulunya penuh rumput ilalang tepat di sebelah kos Rahman, sebuah ekskavator kuning besar sedang meratakan tanah.

Brakkk!

Beberapa truk bermuatan pasir dan batu bata sudah terparkir rapi di pinggir jalan.

Puluhan pekerja bangunan berseragam proyek terlihat sibuk mengukur dan memasang patok kayu.

"Wah, lahan kosong milik Haji Sulaiman sebelah ini ternyata sudah laku dijual ya?" gumam Maya takjub.

"Kira-kira mau dibangun apa ya, Pak?" tanyanya pada Rahman.

Rahman mengerutkan keningnya, insting bisnisnya langsung merasakan firasat buruk.

Sebelum ia sempat menjawab, seorang pria muda berpakaian sangat rapi menghampiri mereka.

Pria itu memakai kemeja lengan panjang berwarna biru muda, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel mengkilap.

Di lehernya tergantung kartu identitas dari perusahaan properti besar.

"Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian."

"Perkenalkan, saya Anton, manajer proyek dari PT Properti Nusantara Makmur," sapa pria itu dengan senyum profesional yang terlihat kaku.

Rahman menatap Anton dari atas ke bawah dengan pandangan menilai.

"Aku Rahman Affandi, pemilik tanah dan bangunan di sebelah proyekmu ini."

"Kalian mau bangun apa sampai harus membuat suara sebising ini?" tanya Rahman tanpa basa-basi.

Anton tersenyum semakin lebar, namun senyum itu merendahkan.

"Kebetulan sekali saya bertemu langsung dengan pemiliknya."

"Kami sedang memulai pembangunan Kos Eksklusif Nusantara Tiga Lantai."

"Ini akan menjadi kos-kosan paling mewah, modern, dan elit di wilayah ini," jelas Anton dengan bangga.

Mendengar kata kos-kosan elit, jantung Rahman seakan berhenti berdetak sesaat.

Ini bukan sekadar tetangga baru, ini adalah saingan bisnis yang mematikan.

"Kos tiga lantai?" tanya Maya terkejut.

"Fasilitasnya apa saja, Pak Anton?"

"Tentu saja sangat lengkap, Dek."

"Setiap kamar akan dilengkapi AC, WiFi berkecepatan tinggi, kamar mandi dalam dengan air panas, dan kartu akses pintar."

"Di lantai bawah juga akan kami bangun kafe dan ruang belajar bersama."

Anton menjelaskan sambil melirik ke arah bangunan tua milik Rahman dengan tatapan mengejek.

Rina menelan ludah mendengar deretan fasilitas mewah tersebut.

Bagi penghuni kos tradisional, fasilitas itu terdengar seperti surga.

"Lalu apa urusannya kau memberitahu kami?"

"Kau sengaja ingin pamer kepadaku?" suara Rahman mulai terdengar berat dan dingin.

Anton membetulkan letak kacamatanya dengan gaya arogan.

"Bukan bermaksud pamer, Pak Rahman."

"Saya hanya ingin memberi saran yang sangat menguntungkan untuk bapak."

"Mengingat bangunan bapak ini sudah sangat tua, kusam, dan... yah, bisa dibilang kurang layak huni."

Mata Rahman langsung melotot tajam mendengar hinaan itu.

Aura Tuan Tanahnya mulai memancar keluar tanpa bisa dikendalikan.

"Jaga mulutmu, anak muda!"

"Bangunan ini adalah tempat paling nyaman bagi para penyewaku!" gertak Rahman.

Anton sedikit tersentak merasakan tekanan dari suara Rahman, tapi ia sudah terlatih menghadapi berbagai macam orang.

"Tenang dulu, Pak."

"Maksud saya, daripada kos bapak nanti sepi dan bangkrut karena kalah saing dengan kami..."

"Perusahaan kami bersedia membeli tanah dan bangunan bapak ini dengan harga dua ratus juta rupiah."

Anton menyodorkan sebuah kartu nama ke hadapan Rahman.

"Dua ratus juta?"

"Kau pikir kau sedang menawar harga kacang goreng di pasar?!"

Rahman langsung menepis tangan Anton hingga kartu nama itu jatuh ke tanah.

"Itu harga yang sangat wajar untuk bangunan reyot ini, Pak."

"Rencananya lahan bapak ini akan kami ratakan untuk dijadikan area parkir mobil kos elit kami."

Anton kembali memancing emosi Rahman dengan sangat licik.

Mendengar tempat tinggalnya akan diratakan jadi tempat parkir, Maya dan Rina langsung emosi.

"Enak saja mau merobohkan rumah kami!"

"Kos Pak Rahman ini jauh lebih nyaman dari hotel bintang lima mana pun!" teriak Maya membela.

Rahman mengangkat tangannya, mengisyaratkan Maya untuk diam.

Ia menatap Anton dengan tatapan membunuh layaknya serigala yang wilayahnya diusik.

"Dengar baik-baik, pelayan berdasi."

"Meskipun kau tawarkan dua miliar sekalipun, aku tidak akan pernah menjual tanah ini padamu!"

"Dan soal kalah saing, kita lihat saja nanti siapa yang akan gulung tikar duluan!" ancam Rahman menggelegar.

Tekanan Aura Tuan Tanah milik Rahman akhirnya menembus pertahanan mental Anton.

Manajer muda itu mendadak merasa sangat terintimidasi dan bulu kuduknya merinding.

"B-baiklah kalau bapak menolak tawaran baik kami."

"Jangan menyesal kalau beberapa bulan lagi bapak harus mengemis pada kami untuk membeli tanah ini."

Anton segera berbalik dan berjalan cepat menjauhi Rahman, kembali ke area proyeknya.

Begitu Anton pergi, suara dengingan keras tiba-tiba meledak di dalam kepala Rahman.

1
REY ASMODEUS
sistemnya pelit kasih hadiahnya bisa gini thor : 1 . peremajaan kulit
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.

ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...
REY ASMODEUS
lanjutkan........ pilih nomor 2..... 🤣🤣🤣
Nissa Safira: SIAP KAK! Nomor 2 emang paling memuaskan 🤣🤣
Lanjut ya kak, besok Budi bangun lihat gepokan duit di bantal + surat "jangan mabuk lagi atau sewa naik 3x lipat" pasti nangis kejer peluk kaki Rahman.
Makasih kak udah pilih nomor 2! malam ini saya lanjutin lagi misi renovasi kamar mandi gratisnya 🤣🤣😁🙏
total 1 replies
REY ASMODEUS
saya akan lawan,,, hidup rahman💪💪💪💪💪
REY ASMODEUS
siap tuan takur 🤣🤣
Nissa Safira: Siap! Bagus. Karena kamu siap, uang sewa komen naik 100rb ya. Bayar pake love & bintang 5. Jangan lupa setoran! 🤣🤣
total 1 replies
REY ASMODEUS
rasain loe tuan takarrrr🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: Rasain emang kak 😂 50rb aja pelitnya minta ampun, giliran sisa umur 7 hari baru panik. Tungguin kak bakal nangis tuh si rahman 🤣🙏
total 1 replies
Diana Lely
semangat thor
Nissa Safira: Semangat juga buat kakak! 🔥🔥
Makasih banyak kak udah mampir di kos pelitnya Pak Rahman🥰
Doain Rahman biar gak jantungan lagi pas disuruh sedekah🤣🤣
total 1 replies
xebeck D ron
Yoo novel baru
Nissa Safira: Hallo kak 🤣🔥 Iya kak novel baru😂
Selamat datang di kos-kosan dan kontrakan paling pelit se-Indonesia
Kenalin kak, ini Rahman 68 tahun bapak kos paling perhitungan, surga neraka baginya cuma soal uang sewa🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!