NovelToon NovelToon
Menikahi Pewaris Cacat

Menikahi Pewaris Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Orang Disabilitas / CEO
Popularitas:134.7k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

​"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."

​"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
​Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.

"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."

​Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.

​Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?

Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debar Yang Sama

Kepanikan akibat semalam telah berlalu, namun sisa ketegangannya masih berbekas di dalam mansion. Sinar matahari pagi membiaskan cahaya keemasan di dalam kamar utama.

Levara berjalan keluar dari kamar mandi dengan pakaian kasual yang rapi. Langkah kakinya terhenti saat mendapati Dante sedang duduk di tepi tempat tidur, tampak kesulitan mengancingkan kemeja putihnya dengan tangan kiri. Tangan kanan pria itu terbebat perban elastis.

"Dante?" panggil Levara pelan seraya melangkah mendekat.

Dante menghentikan gerakannya, lalu mendongak. "Ya?"

"Tanganmu kenapa?" Levara mendudukkan diri di sebelah Dante, menatap perban elastis di tangan kanan suaminya dengan raut cemas. "Akibat menahan beban dan mengetik terlalu cepat semalam?"

"Hanya terkilir ringan," jawab Dante datar, mencoba meraih kancing kemeja ketiganya lagi. "Ototnya sedikit tegang. Bukan masalah besar."

"Bukan masalah besar bagaimana?" cetus Levara gemas seraya menepis pelan jemari kiri Dante dari kemejanya. "Kamu bahkan tidak bisa memasukkan kancing kemejamu sendiri. Diam di situ, biar aku yang bantu."

Dante menatap jemari Levara yang mulai merapikan kerah kemejanya. "Saya bisa sendiri, Levara. Kamu tidak perlu repot-repot."

"Dante," potong Levara tegas. Ia menatap iris mata cokelat gelap milik suaminya dari jarak dekat. "Kamu Yang pasang badan melindungiku dari ancaman tanpa pernah mengeluh. Jadi, tolong diam dan biarkan aku mengurus kemejamu. Paham?"

Dante menaikkan sebelah alisnya, lalu terkekeh pendek. "Kamu makin berani memerintah saya sekarang?"

"Aku bukan memerintah, aku sedang merawat suamiku," sahut Levara polos tanpa sadar.

Gerakan jemari Levara yang sedang memasangkan kancing kemeja keempat mendadak terhenti saat menyadari kata yang baru saja keluar dari bibirnya. Pipi Levara seketika merona merah padam.

"Suami?" bisik Dante. Suaranya berubah menjadi lebih berat dan dalam. Ada nada godaan yang halus di sana.

"Maksudku ... secara hukum kita memang nikah," dalih Levara cepat-cepat, mencoba mengalihkan pandangannya kembali ke kemeja Dante. "Jangan memotong pembicaraan!"

"Saya tidak memotong, saya cuma mendengarkan," balas Dante pelan.

Keheningan yang intens mendadak menyelimuti ruangan. Jarak mereka begitu dekat hingga aroma sandalwood dan fresh cedar yang maskulin dari tubuh Dante tercium sangat jelas oleh Levara.

Saat jemari Levara menyentuh bagian dada kemeja, tangannya tak sengaja menyenggol kulit dada Dante yang keras dan hangat di balik celah kain. Levara tersentak kecil, hendak menarik tangannya kembali.

Namun, tangan kiri Dante yang bebas bergerak cepat. Jemari tegap pria itu menggenggam lembut pergelangan tangan Levara, menahannya tepat di atas dadanya.

"Dante ... apa yang kamu lakukan?" lirih Levara dengan napas tertahan.

"Rasakan ini," bisik Dante, menatap lurus ke dalam mata Levara tanpa berkedip sedikit pun.

Di bawah telapak tangannya, Levara bisa merasakan debaran jantung Dante yang berpacu kencang dan liar.

"Jantungmu ...," gumam Levara tak percaya. "Debarannya sangat kencang."

"Sama kencangnya dengan debaran jantungmu saat ini, Levara," sahut Dante dengan suara bass yang serak. "Kamu pikir hanya kamu yang merasa canggung saat kita berdekatan seperti ini?"

Levara menelan ludah, mencoba menetralkan degupan dadanya sendiri yang kian tak beraturan. "Tapi Dante ... bukankah pernikahan kita ini cuma perjanjian kontrak satu tahun di atas kertas?"

Dante tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang meruntuhkan kesan dingin di wajahnya. Ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Levara yang masih tertahan di dadanya.

"Surat perjanjian itu dibuat saat kita masih menjadi dua orang asing yang saling memanfaatkan," ujar Dante pelan namun sarat akan kejujuran. "Tapi sekarang, apa kamu masih menganggap saya sebagai orang asing?"

Levara menatap mata Dante yang dipenuhi kehangatan dan rasa perlindungan yang tulus. Ia menggeleng pelan. "Tidak. Kamu ... kamu perisai teraman yang pernah aku punya."

"Kalau begitu, lupakan batas satu tahun itu," tegas Dante tanpa ragu. "Saya tidak pernah bermain-main saat berjanji melindungi seseorang. Terutama kamu."

Sentuhan hangat dan pengakuan jujur dari Dante membuat dinding pertahanan di hati Levara runtuh sepenuhnya. Ia menghembuskan napas perlahan, lalu menyunggingkan senyuman manisnya.

"Baiklah," ucap Levara lembut. "Tapi sekarang, lepaskan dulu tanganku supaya aku bisa menyelesaikan kancing kemejamu."

Dante terkekeh pelan lalu melepaskan genggamannya. "Sesuai perintahmu, Nyonya Velmore."

Dengan telaten, Levara memasangkan kancing terakhir di bagian bawah kemeja Dante, lalu merapikan lipatan kerahnya. Setelah itu, ia mengambil salep khusus dan membetulkan balutan perban di tangan kanan Dante dengan hati-hati.

"Selesai," ujar Levara puas. "Bagaimana rasanya? Terlalu kencang?"

Dante menggerakkan jarinya sedikit. "Pas. Kamu berbakat jadi perawat."

"Jangan mulai menggoda lagi," potong Levara seraya menahan senyum. "Ingat, tanganmu harus diistirahatkan hari ini. Hari ini aku yang menyetir mobil dan menyiapkan semua dokumen untuk rapat bersama tim hukum nanti siang."

Dante menatap istrinya dengan pendar kekaguman yang hangat. "Kamu yakin bisa menyetir mobil antipeluru yang besar itu?"

"Kamu meremehkan kemampuan jurnalis lapangan?" tantang Levara seraya menaikkan sebelah alisnya. "Aku bisa mengendarai apa saja kalau situasi mendesak."

Dante menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur, menatap Levara penuh rasa percaya. "Baiklah, hari ini saya sepenuhnya berada di bawah kendalimu, Levara."

"Pilihan yang sangat bijak, Tuan Velmore," balas Levara dengan tawa kecil.

"AAAAAA, NDA MAU MANDIIIII!"

Lengkingan teriakan dari kamar sebelah mendadak memecah ketenangan, sukses membuat Levara tersentak kaget. Mengenali suara nyaring itu sebagai milik Varo, ia bergegas bangkit dan melangkah ke sumber keributan untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Di dalam kamar, suasana sudah campur aduk. "Nda maaauuu! Valo gigit mau? Mau? Labieeees kalian cemua nanti tau nda?!" pekik bocah itu histeris. Varo kini tampak bertengger nekat, bergelantungan pada teralis jendela berpagar seperti seekor koala yang ketakutan.

Melihat kedatangan Levara, para pelayan yang kewalahan langsung mundur perlahan, memberi ruang bagi Levara untuk mendekati Varo.

Levara berjalan mendekat, menatap Varo dengan tangan bersedekap. "Apa alasanmu enggak mau mandi? Jangan kira karena kepalamu botak dan tak ada rambut, kamu bisa seenaknya bolos mandi. Kamu tahu monyet? Monyet saja mandi, sedangkan kamu enggak mandi. Lucu tahu, enggak mandi sudah mirip tuyul tahu?" cerocos Levara tanpa beban.

Mata Varo seketika membulat lebar mendengar celotehan itu.

"Jadi makcud cituuu, kalau Valo mandi Valo kayak monyet?! Kalau nda mandi kayak tuyul? Telus Valo halus apaaaaa?! Keling otaknya yah!" pekik Varo melengking, matanya melotot tajam dengan emosi yang menggebu-gebu.

Levara refleks menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merutuki logika terbalik yang baru saja ia buat sendiri. "Iya juga, ya ... eh, maksud Aunty bukan begitu! Maksudnya, kalau kamu mandi, badan kamu jadi bersih dan wangi. Nah, kalau sudah wangi, pacarmu bisa banyak!" bujuk Levara cepat, mencoba memutar haluan.

Seketika emosi Varo mereda. Matanya menyipit penuh rasa ingin tahu. "Kalau Valo mandi, pacal Valo banyak?" tanyanya memastikan.

"Iya! Bahkan semangka juga bisa banyak!" pancing Levara lagi.

Mata Varo kembali menyipit tajam, menimbang-nimbang tawaran menggiurkan tersebut. "Yacudah, Valo mau mandi," ucapnya akhirnya, lalu dengan sigap turun dari balik jendela dan melangkah mantap masuk ke dalam kamar mandi.

Levara mengembuskan napas lega Yang panjang. Ia kemudian beralih menatap para pelayan yang kini tersenyum penuh rasa syukur. Salah satu dari mereka bahkan menggenggam tangan Levara dengan mata berkaca-kaca.

"Terima kasih, Nyonya! Terima kasih banyak!" serunya lega.

Levara mengukir senyum tipis. "Sama-sama. Menghadapi anak-anak memang butuh trik khusus," sahut Levara maklum.

Pelayan itu menghela napas panjang, tatapannya berubah menjadi sendu. "Untunglah ada Nyonya. Dulu, Tuan Kecil diangkat anak oleh Tuan Dante setelah beliau secara tak sengaja bertemu di rumah sakit saat Tuan Dante menjalani terapi kakinya. Waktu itu, Varo baru berusia dua tahun dan sudah harus berjuang melawan leukemia. Hati Tuan Dante tersentuh, hingga beliau memutuskan untuk mengadopsi dan merawatnya sepenuh hati."

Ia melanjutkan dengan suara yang makin pelan, "Beliau menanggung seluruh biaya pengobatannya, sampai dua tahun kemudian akhirnya dokter menyatakan Tuan Varo sembuh. Tapi, sampai sekarang beliau tetap harus rutin kontrol untuk memastikan sel kankernya tidak tumbuh lagi."

Levara terpaku. Kalimat pelayan itu menghantam dadanya dengan rasa haru yang mendalam. Ia tak menyangka pria setegas dan sedingin Dante memiliki sisi sehangat itu.

"Ternyata ... dia setulus itu, di tengah segala keterbatasan fisiknya," gumam Levara lirih, menatap pintu kamar mandi dengan sudut pandang yang kini sepenuhnya berubah.

"Levara!"

Levara menoleh, terlihat Dante datang dengan raut wajah yang tegang. "Bersiap, kita datang ke konferensi pers. Julian, telah membuat masalah dengan menyebar rumor buruk tentangmu," ucapnya dengan tatapan dingin yang membuat Levara menegang.

___________________

Oh ya, yang bener Edlan meninggal 21 tahun lalu yah, berarti Levara usia 25. Kalau 15 tahun yang lalu Levara masih 19 masih kemudaan huhu

1
Ass Yfa
kok..Lepa jdi keponakan seh..harusnya kan ank angkt...sama Lio jadi kakak angjt dong..kak Ra..😁
indrie_💖
si juli mau meracuni Lepa...jangan ditelan mentah2
indrie_💖
sdh tau sj si juli
Rosy
masih berharap kalau Edlan masih hidup dan bisa berkumpul dg Levara 😢😢
faridah ida
hadeeeh gagal ini rencana kalian karena Levara di tangkap .
GiZaNyA
Papa Edlaannnn... kenapa buang banyak Bawang Merah.... pedess niihhh... jadi mewekkk.. 😭😭😭
faridah ida
kalau bukti2 sudah terkumpul semua , Davit gak bisa berkutik lagi ..
Rosy
meskipun cuma baca cerita tapi ikut deg2an 😌😍😍
Marya Dina
nah nah auto gk bisa tidur ni
malemgara2 mikirin leva😭😭
Rosy
sengaja banget bikin anak orang cemburu 😂
Rosy
harusnya kan saudara angkat bukan saudara sepupu 🤔
Rosy
waduh,pasti ada yg kepanasan nih 😂
Sastri Dalila
👍👍👍👍👍
Senja Susanti
ini cerita siapa ka,,
Cahaya
duhhh bikin kagen ini ada bocil lagi 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Sastri Dalila
👍👍😅😅
Sastri Dalila
👍👍👍
Sastri Dalila
👍👍
Sastri Dalila
😅😅
Sastri Dalila
🥺😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!