NovelToon NovelToon
Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Gawat Jendral, Istri Gendutmu Ternyata Badas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:49.7k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”

Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.

Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.

Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.

​Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22

Kelopak mata kecil itu bergerak sangat pelan. Nakula membuka matanya sedikit demi sedikit, menyesuaikan cahaya putih yang menyilaukan. Pandangannya masih buram, tetapi sosok pertama yang ia tangkap di samping ranjang adalah Arunika, wanita yang sejak semalam duduk setia menggenggam tangan mungilnya tanpa lelah.

"Mama," gumamnya lirih dan nyaris tak terdengar.

Arunika yang sedang melamun sontak menoleh. Wajahnya yang nampak lelah langsung berbinar.

"Nakula, akhirnya kamu bangun juga, Sayang." Ia buru-buru berdiri, mengelus rambut bocah itu. "Ada yang sakit di badanmu? Pusing? Mau Mama panggilkan dokter sekarang?"

Nakula menggeleng pelan dengan mata berkaca-kaca. "Tadi aku seperti mendengar suara papa," ucapnya.

Arunika tersenyum hangat, meski dadanya terasa sesak. Karena saat Nakula bangun, Arjuna malah tak ada di sana.

"Iya, Nak. Papa sudah pulang dan sempat datang kemari. Dia menjagamu cukup lama."

Manik mata Nakula sedikit membesar penuh harap. Ia tak menyangka jika Arjuna benar-benar datang menemuinya. "Benarkah?"

"Iya. Papa langsung pulang begitu tahu kamu dirawat."

Nakula hanya mengangguk pelan. Bibirnya bergetar seolah ingin mengatakan sesuatu yang berat, namun urung. Ia kembali menundukkan kepala, memandangi selang infus yang menancap di punggung tangan kecilnya dalam kesunyian.

Seorang perawat masuk membawa troli makanan.

"Selamat siang, Nakula," sapa perawat itu ramah. "Wah, sudah bangun rupanya. Syukurlah demamnya sudah turun."

Perawat itu meletakkan nampan berisi nasi, sup bening, lauk dan segelas susu.

"Ini makan siangnya ya. Harus dihabiskan supaya lekas sembuh."

Perawat itu tersenyum lembut, lalu mengusap puncak kepala Nakula. "Kamu anak yang hebat. Kemarin demammu tinggi sekali, tapi sekarang sudah jauh lebih baik. Semangat ya, jagoan."

"Terima kasih banyak, Suster," jawab Arunika mewakili.

"Sama-sama, Nyonya. Kalau anda butuh sesuatu, tekan saja tombol di samping ranjang." Setelah mengecek infus, perawat itu berlalu.

Arunika mengambil mangkuk nasi yang masih mengepul. "Ayo Nakula, kita makan dulu ya."

Nakula langsung menggeleng lemah. "Aku tidak lapar."

"Kalau tidak makan, nanti minum obatnya bagaimana, Sayang?"

Bocah itu tetap menggeleng, menolak menatap mangkuk tersebut. Arunika berpikir sejenak, lalu memasang senyum jahil.

"Hmm, kalau Nakula tidak mau makan, ya sudah. Mama saja yang habiskan semuanya, ya. Sayang sekali, lauknya kelihatan enak sekali." Ia pura-pura mengambil sesendok besar untuk dirinya sendiri.

Nakula diam-diam melirik dari sudut matanya. "Apa ada ayamnya juga."

"Iya. Kalau Nakula tidak mau, nanti Mama bisa gendut dua kali lipat lho."

Bocah itu akhirnya mendongak menatap Arunika. "Tapi, Mama kan memang sudah gendut."

Arunika sengaja membelalakkan matanya dramatis. "Lho, kok putra Mama ini jujur sekali, sih?"

Nakula spontan menutup mulutnya dengan tangan kecilnya. "A-aku minta maaf."

Bukannya marah, Arunika malah tertawa kecil untuk mencairkan suasana. "Kalau begitu, supaya Mama tidak tambah gendut, bantu Mama menghabiskan semua ini ya, Nak."

Beberapa detik Nakula terdiam menatap sendok itu. Lalu perlahan, ia membuka mulutnya. Arunika menyuapinya dengan penuh kesabaran. Sesendok demi sesendok bubur hangat itu masuk ke mulut mungilnya. Tidak ada bentakan. Tidak ada paksaan. Hanya kehangatan yang sejak kecil belum pernah ia rasakan dari siapa pun.

Setelah beberapa suapan, Nakula berbisik sangat pelan, membuat tangan Arunika terhenti di udara.

"Ini pertama kalinya aku disuapi."

Sendok di tangan Arunika bergetar hebat. "Apa?" ulangnya.

"Aku belum pernah disuapi lagi semenjak mama tiada," suara Nakula begitu rapuh. "Biasanya kalau lapar aku makan sendiri. Kadang, kalau makanannya sudah habis ya sudah, aku biarkan."

Air mata Arunika langsung tumpah menggenang di pelupuk matanya. Dadanya terasa diremas kuat oleh tangan tak kasat mata. Anak sekecil ini belum pernah merasakan disuapi setelah ibunya tiada?

Ia mengusap cepat air matanya agar Nakula tidak melihatnya menangis. "Nakula..."

Bocah itu menatapnya dengan kepolosan yang menyayat hati. "Rasanya... ternyata hangat seperti ini ya, Ma."

Kalimat sederhana itu meruntuhkan pertahanan terakhir Arunika. Air matanya jatuh tanpa mampu dibendung lagi. Ia meletakkan mangkuk bubur ke nakas, lalu memeluk tubuh kecil itu dengan sangat hati-hati agar tidak mengenai jarum infusnya.

"Mulai hari ini Mama akan sering-sering menyuapimu," bisik Arunika parau di sela isak tangisnya.

Nakula tidak menolak pelukan itu. Ia diam, lalu perlahan mulai mencurahkan segala luka di hatinya.

"Bibi Wina bilang aku ini anak pembawa sial," isak Nakula kecil. "Nenek Ratna juga bilang, mama Alana meninggal dunia karena aku penyebabnya. Mungkin, malau aku tidak pernah lahir ke dunia, Mama pasti masih hidup."

Suara bocah itu semakin bergetar hebat.

"Damar juga sering mengejekku, dia bilang aku anak yang tidak diinginkan siapa pun. Kalau aku tidak mau mengerjakan PR-nya, dia memukuliku. Kadang bekalku diambil paksa. Nenek juga menyuruh pelayan memberi aku sisa makanan basi."

Nakula menelan ludah dengan susah payah. "Waktu aku mau mengadu pada papa, bibi Wina bilang papa akan semakin membenciku. Aku takut, Ma. Aku cuma ingin sekali saja papa memelukku seperti ayah-ayah lain. Meski nggak setiap hari."

Kalimat itu menghancurkan hati Arunika berkeping-keping. Ia memeluk Nakula semakin erat, menangis bersama bocah tak berdosa itu.

Apakah Arjuna terlalu sibuk dengan pekerjaannya sampai tak bisa menghabiskan waktunya dengan Nakula? Ataukah mertua dan kakak iaprnya sengaja menjauhkan mereka?

"Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang berani menyakitimu. Mama janji. Dan papa akan segera tahu semuanya. Orang-orang pengecut yang sudah membuatmu menderita selama ini, akan Mama buat mempertanggungjawabkan setiap air matamu, sayang," tekad Arunika dalam hati.

*

*

Arjuna yang sedang menatap berkas visum di ruang kerjanya segera mengangkat panggilan dari mayor Dimas.

"Bagaimana, Dimas?" tanyanya dengan raut wajah penasaran.

Di seberang sana terdengar embusan napas berat. "Jenderal, seluruh rekaman CCTV berhasil kami amankan. Tidak ada satu pun yang terlewat."

Arjuna mengepalkan tangannya. "Lalu?"

Suara Dimas berubah pelan, seolah sedang menahan emosi. "Saya harap, anda sudah menyiapkan diri."

"Maksudmu apa? Katakan dengan jelas Dimas?!"

"Apa yang saya lihat di rekaman itu, jauh lebih kejam daripada yang kita bayangkan."

Jantung Arjuna berdegup kencang. Dan bertepatan dengan itu, seolah ada tangan yang mencekik lehernya.

"Sebaiknya anda melihatnya sendiri. Karena saya yakin, setelah itu mungkin tidak akan ada lagi yang bisa menghentikan amarah anda."

1
Ita rahmawati
nah ini bener bner Badas,, ditindas balik nindas 🤣
Ita rahmawati
dih pak jenderal pake ngedipin mata sebagai isyarat segala 🤣
Melia Gusnetty
pasti si damar anak haram...🤭😜
Melia Gusnetty
sdh ku duga..ternyata mak tiri dn kk tiri...
dasar parasit gk tau diri...dh d tampung mlh ngelunjak ..merasa jd nyonya besar...tunggu aja hukuman utk kalian parasit..
sutiasih kasih
lhoooo ibu tiri trnyata.... jgn" wina kakak tiri....
ya elahhhhhhh..... bner" benalau tak tau diri.... 😄😄😄
Esther
Lanjutkan Arunika, jangan biarkan mereka jadi parasit dirumah Arjuna suamimu.

Sejak awal penasaran, kemana bapaknya Damar
Esther
Oalah ternyata bukan keluarga kandung, gitu gayanya kayak penguasa rumah
Sri Rahayu
kok Arunika bisa tau rahasia Wina ya...lanjut Thorr😘😘😘
𝓢𝓮𝓷𝓲 𝓢𝓮𝓿𝓲𝔂𝓸𝓻𝓾𝓶: nebak dia kak🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
rupanya Ratna ibu tirinya Arjuna...pantas.saja Ratna kejam sama Nakula...rupanya nenek tiri...
kl Wina kakak kandung atau kakak tiri Arjuna ya 😇😇😇...lanjut Thorr😘😘😘
Elina thea
kerja bagus arunika~~~ teruslah lawan mereka,kalo perlu segera usir mereka biar gak ganggu nakula lagi.
Muft Smoker
yx bnr dr awal cerita gx prnh tuh bpa ny si bocah gaib dsebut ,, gx mungkin kn si Wina nikah ma makhluk halus 😱😱😱
Maria Lina
lgi ya thor plisssss
Maria Lina
mantap arunika hajar aj wkwk
Mundri Astuti
gantian arunika beraksi 😂😂
🇦 🇵 🇷 🇾👎
next kk... klo gak... aq tumbuk
🇦 🇵 🇷 🇾👎
good sayg... itu dy yg sll aq tny".... uda di wakil kn
Endang Sulistiyowati
Ternyata mereka cuma keluarga tiri. benar2 parasit sikapnya.
Bantai aja Nika, mumpung Arjuna lagi tugas, jadi ga perlu akting2an kalian
🇦 🇵 🇷 🇾👎
hoooh keten
🇦 🇵 🇷 🇾👎
kasian🤣🤣🤣
rheisha
hajar tipis-tipis nika,biar berasa disiksa nya hahaha....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!