"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Tidak Peka
Meski tertidur dengan perasaan dongkol, untungnya Kate bisa tidur dengan nyenyak karena memang sudah sangat mengantuk dan lelah. Kini, sinar matahari pagi masuk melalui celah-celah jendela kamar utama, memberikan salam kepada sang nyonya besar yang masih terlelap dalam tidurnya.
Kate tertidur menghadap ke jendela persis, mungkin karena itu juga sang putri mulai bergerak sedikit karena terganggu dengan cahaya yang menyinari dirinya.
“Ngh..”
Matanya berkedip-kedip pelan, beradaptasi dengan cahaya yang baru saja masuk. Mengumpulkan nyawa untuk bangun seutuhnya sampai akhirnya membuka matanya lebar-lebar.
“Sudah bangun, Kate?”
Kate yang tadinya sedang menggeliat kecil langsung menegang. Suara itu jelas suara yang sangat dia kenali, Salvatore. Jadi pria itu masih menyempatkan diri untuk ke kamar?
Jadi setelah kemarin puas menghabiskan waktu dengan wanita itu, kau kembali lagi ke sini Jenderal? Batin Kate ketus.
Wanita itu enggan membalas sapaan suaminya. Alih-alih melakukannya, dia justru bangun dari ranjang dengan kecepatan yang lebih cepat dari orang-orang yang baru bangun biasanya. Dia berdiri, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, tidak mengucapkan sepatah pun kalimat.
“Ah, jadi kamu sudah bangun. Selamat pagi, Kate,” sapa Sal seperti biasa.
Wajah sang jenderal sama sekali tidak menunjukkan kalau dia sadar istrinya sedang melakukan perang dingin. Meski Kate di depannya sangat jelas melewati ranjang mereka tanpa membalas menyapa.
Kate beranjak begitu saja menuju ke arah kamar mandi. Gerakannya begitu jelas kalau dia sedang marah, merajuk, sengaja mengabaikan Sal bahkan menolak menatap. Namun Sal yang tidak peka tidak pernah tahu itu.
“Ada acara pagi ini? Udara cukup dingin kalau kamu tidak pakai air hangat,” peringatnya lagi.
Kate dongkol di dalam hati. Kenapa Sal berbicara seolah dia tidak punya salah apapun kepada Kate. Kesal karena hanya diam, Kate akhirnya mengeluarkan suaranya ketus, berharap dengan itu Sal bisa sadar.
“Tidak ada. Air dingin juga cocok untuk menjernihkan kepalaku dari peristiwa yang menyebalkan” ketusnya.
“Baiklah kalau kamu lebih suka menggunakan air dingin. Jangan lama-lama ya, setelah itu aku juga mau mandi,” balasnya tenang.
Dan terjadi lagi. Sudah sejelas itu Kate ketus! Bahkan sengaja dia membuang muka agar akting marahnya kuat, tapi suaminya tidak sadar sama sekali. Apa kata-kata Kate yang menyindir juga belum masuk ke pikiran Salvatore si jenderal agung?
Apa isi otak pria itu hanya strategi perang sampai tidak mengerti kalau aku sedang marah padanya? gerutu Kate dalam hati.
Brak!
Pintu kamar mandi ditutup dengan kencang. Dan itu tidak cukup membuat Sal menyadari istrinya sedang merajuk. Pria itu hanya menatap pintu yang tertutup sebentar lalu kembali menyender ke ranjang dan memejamkan mata.
Entah siapa yang salah disini.
Kate terlalu menggunakan kode kalau dia merajuk kepada Salvatore yang di medan perang sering menggunakan bahasa yang jelas. Tingkah Kate dari sebelum mereka menikah juga sama, ketus dan hobi membuang muka. Jadi bagi Sal, itu hanya sifat Kate. Dia sama sekali tidak menyadari perubahan penting itu dilakukan Kate semata-mata untuk menunjukan kalau dirinya sedang marah.
Beberapa saat kemudian, Kate keluar dari kamar mandi dengan gaunnya yang santai. Jelas bukan penampilan orang yang mau bepergian hari ini.
Sal hendak membuka mulut, ingin bertanya. Namun dia mengurungkan niatnya ketika melihat tatapan Kate yang sudah seperti harimau mau menerkam mangsa. Pada akhirnya dia berjalan melipir masuk ke kamar mandi untuk mandi juga.
Tidak sampai lima belas menit, Salvatore keluar dari kamar mandi dengan handuk yang tersampir di bahunya. Rambut hitamnya masih basah, menyisakan tetesan air yang jatuh ke bahu tegapnya. Pria itu menghampiri lemari, mengambil seragam dinas militer berkerah tinggi yang sudah rapi disiapkan oleh para pelayan sejak subuh.
Kate yang sedang duduk di depan meja rias, berpura-pura sibuk memoles minyak aroma terapi di pergelangan tangannya. Lewat pantulan cermin, matanya mengawasi setiap gerak-gerik suaminya dengan tatapan dingin.
Salvatore mengancingkan seragamnya satu per satu dengan gerakan sigap dan efisien. Tipikal seorang prajurit. Selesai membenahi penampilannya, pria itu berjalan mendekati meja rias Kate. Langkah kakinya yang berat dan berwibawa biasanya membuat dada Kate berdebar, namun pagi ini yang terasa hanyalah hawa panas di dadanya.
"Aku ada tugas luar hari ini," kata Salvatore datar.
Kate tidak memutar badannya. Ia hanya menatap bayangan Salvatore di cermin, menanti kelanjutan kalimat pria itu dengan dagu terangkat—menjaga gengsi tingginya.
"Aku akan pergi ke distrik timur untuk meninjau pemetaan pos perbatasan," lanjut Salvatore tenang. Lalu, tanpa beban sedikit pun, ia menambahkan, "Sonia akan ikut bersamaku."
Sonia lagi.
Pena ukir di tangan Kate seketika ia genggam erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan rasa panas mendidih di dadanya. Setelah semalaman menghabiskan waktu bersama wanita itu untuk urusan peta, hari ini dia bahkan membawanya bertugas keluar seharian?
Kate memutar tubuhnya perlahan, menatap Salvatore lurus-lurus dengan tatapan tajam yang sanggup membekukan ruangan.
"Sonia?" suara Kate terdengar teratur, dingin, dan penuh nada menusuk. "Tiba-tiba sekali dia harus ikut ke distrik timur? Sejak kapan peninjauan pos perbatasan jenderal membutuhkan pengawalan ekstra dari orang luar?"
Salvatore tampak menimbang pertanyaan itu sejenak dengan kepalanya yang sepenuhnya logis. Tak ada guratan rasa bersalah, ragu, apalagi gelisah di wajah tampan itu.
"Ini urusan topografi, Kate," jawab Salvatore lugas. "Jalur perbatasan timur butuh pemetaan ulang yang presisi untuk memperkuat pos penjagaan. Sonia paling paham detail topografi wilayah sana dibanding perwira lain. Kehadirannya dibutuhkan di lapangan agar pemetaannya akurat."
Penjelasan yang sangat logis. Sangat masuk akal. Dan justru karena alasan itu terasa begitu sempurna serta rasional, Kate merasa semakin ingin melemparkan tempat bedak di mejanya ke wajah Salvatore. Pria ini menggunakan tugas militer dan alasan profesional untuk menutupi kenyataan bahwa ia akan menghabiskan waktu seharian bersama Sonia.
Kate tersenyum tipis. Sebuah senyuman dingin tanpa kehangatan sama sekali.
"Begitu? Sungguh alibi dan dedikasi yang sangat luar biasa dari sang Jenderal Agung dan ahli topografi kesayangannya," sindir Kate, membuang muka kembali ke cermin.
Bagi orang awam, kalimat itu adalah sindiran tajam yang sarat akan rasa cemburu dan kekesalan. Namun di telinga Salvatore, pria itu hanya menangkap kata 'dedikasi' dan 'tugas'.
"Ya, pemetaan ini memang penting. Kami kemungkinan baru kembali menjelang malam," respons Salvatore, sama sekali tidak menangkap nada sarkasme dari istrinya. Pria itu bahkan menyisir rambutnya ke belakang, menganggap obrolan itu hanyalah laporan rutin suami kepada istri sebelum berangkat kerja.
Ego dan gengsi Kate yang setinggi langit menolak untuk memintanya bertahan atau mempermasalahkan Sonia lebih jauh. Ia menolak terlihat seperti istri picik yang merajuk karena cemburu.
"Pergilah. Toh, keberadaanmu di kediaman ini juga tidak memberi pengaruh apa-apa," tanggap Kate tajam, nada suaranya ketus dan datar.
Salvatore mengangguk pelan. "Baiklah. Kalau ada kebutuhan kediaman yang mendesak, sampaikan saja pada kepala pelayan. Aku sudah menyetujui anggaran mingguan."
Pria itu mengambil pedang dinas yang bersandar di dekat pintu, mengenakannya di pinggang, lalu berjalan mendekati Kate. Salvatore membungkuk sedikit, hendak mencium kening istrinya seperti rutinitas formal mereka sebelum berpisah.
Namun sebelum bibir Salvatore menyentuh kulitnya, Kate menggeser duduknya dengan cepat, sengaja menghindar dan membuang muka ke arah jendela.
Bukannya bingung atau heran mengapa ciumannya dihindari, Salvatore hanya menghentikan gerakannya santai. Pria itu berasumsi Kate mungkin belum selesai memakai minyak aroma terapi atau terganggu dengan bau pakaian militernya.
"Aku berangkat sekarang, Kate. Jaga dirimu," ucap Salvatore dengan nada bicara yang benar-benar biasa, lembut namun datar, tanpa ada rasa curiga sedikit pun bahwa istrinya sedang berada di puncak kekesalan.
Salvatore membalikkan badan dan melangkah keluar dari kamar utama. Bunyi langkah sepatu boot militernya bergema pelan di koridor sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya.
Di dalam kamar, Kate memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya naik turun menahan emosi yang teramat sangat. Pria itu benar-benar tidak peka. Tidak sadar, tidak tahu diri, dan tidak mengerti sama sekali!
"Sialan kau, Salvatore..." bisik Kate penuh nada ketus di kamar yang kini terasa teramat sunyi.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭