Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
suamiku tak pulang
Hujan turun sejak sore dan belum juga berhenti ketika Nayla berdiri di depan jendela ruang tamu apartemennya.
Titik-titik air menghantam kaca, membentuk garis-garis panjang yang mengaburkan pemandangan kota di bawah sana. Dari lantai dua belas, kendaraan di jalan raya tampak kecil seperti mainan. Lampu-lampu mobil memantul di aspal yang basah. Sesekali, suara petir terdengar dari kejauhan, disusul kilatan cahaya yang hanya bertahan sepersekian detik.
Nayla memeluk lengannya sendiri.
Entah mengapa, malam itu udara terasa lebih dingin dari biasanya.
Jam digital di dinding menunjukkan pukul 22.47.
Ia menatap angka merah itu cukup lama, seolah dengan tatapan penuh harap, waktu akan bergerak lebih cepat. Seolah pintu apartemen itu akan segera terbuka dan Arga akan masuk sambil meminta maaf karena membuatnya menunggu.
Namun tidak ada suara langkah kaki dari lorong.
Tidak ada suara kunci yang diputar.
Tidak ada pesan baru dari suaminya.
Di atas meja makan, dua piring masih tersusun rapi. Nasi putih yang tadi sore masih hangat kini mulai mengeras. Sup ayam favorit Arga sudah tidak lagi mengeluarkan uap. Di sebelahnya ada tumis buncis dengan potongan wortel dan jagung muda yang dimasak Nayla dengan hati-hati, persis seperti cara yang disukai suaminya.
Ada juga sambal kecap dalam mangkuk kecil.
Arga selalu meminta sambal kecap jika makan sup ayam.
Dulu, ketika mereka baru menikah, Arga sering memuji masakan Nayla walau rasanya belum sempurna. Kadang sup terlalu asin. Kadang gorengan terlalu lama berada di minyak. Kadang nasi yang dimasak Nayla terlalu lembek karena ia masih belajar menggunakan rice cooker baru.
Namun Arga selalu tersenyum.
“Masakan istri sendiri tetap paling enak,” katanya sambil menghabiskan satu piring penuh.
Kenangan itu seharusnya membuat Nayla tersenyum.
Sayangnya, yang ia rasakan sekarang justru sesak di dada.
Sudah hampir tiga bulan Arga jarang makan malam bersamanya.
Tiga bulan Arga selalu punya alasan untuk pulang terlambat.
Tiga bulan Nayla makan sendiri, membereskan meja sendiri, dan tidur di sisi ranjang yang terasa semakin luas meski tubuh suaminya berada tidak jauh darinya.
Ponsel di atas meja bergetar.
Nayla segera berbalik. Jantungnya berdebar kecil karena berharap nama Arga muncul di layar. Namun yang datang hanya notifikasi promosi dari aplikasi belanja. Diskon tengah malam untuk perlengkapan rumah tangga.
Harapan kecil yang sempat muncul langsung lenyap.
Nayla mengembuskan napas perlahan, lalu mengambil ponselnya. Ia membuka percakapan dengan Arga. Pesan terakhir yang ia kirim satu jam lalu masih berada paling bawah.
**Mas, pulang jam berapa? Aku tunggu buat makan.**
Pesan itu sudah terkirim, tetapi belum dibaca.
Nayla mengetik sesuatu.
**Aku khawatir karena hujan deras.**
Ia menatap kalimat itu, lalu menghapusnya.
Terlalu berlebihan, pikirnya.
Ia mengetik lagi.
**Kalau sudah selesai, kabari aku, ya.**
Jarinya berhenti di atas tombol kirim. Kemudian kalimat itu juga dihapus.
Nayla tidak ingin terlihat seperti istri yang terlalu menuntut.
Ia tahu Arga bekerja keras. Ia tahu perusahaan properti tempat suaminya bekerja sedang mengerjakan proyek besar. Rapat dengan klien, revisi laporan, kunjungan lokasi, dan makan malam bersama rekan kerja adalah hal-hal yang dulu sering Arga ceritakan kepadanya.
Dulu, Arga akan pulang lalu menceritakan semuanya.
Tentang bosnya yang dikenal tegas dan jarang tersenyum.
Tentang rekan kerjanya yang suka datang terlambat.
Tentang target penjualan yang membuat semua orang di kantor tertekan.
Tentang mimpi Arga untuk suatu hari nanti bisa membeli rumah kecil dengan halaman luas bagi mereka.
Saat itu, Nayla selalu mendengarkan dengan sabar. Ia akan memijat pundak suaminya, membuatkan teh hangat, lalu berkata bahwa semua kerja keras itu pasti akan membuahkan hasil.
Namun belakangan, Arga tidak lagi bercerita.
Jika Nayla bertanya, jawabannya hanya satu atau dua kalimat.
“Capek.”
“Biasa saja.”
“Tidak ada yang perlu dibahas.”
Atau yang paling sering ia dengar, “Jangan banyak tanya, Nay.”
Awalnya Nayla menganggap perubahan itu sebagai akibat dari tekanan pekerjaan. Ia mencoba lebih sabar. Ia tidak lagi mengajak Arga berbicara ketika pria itu tampak lelah. Ia tidak mempermasalahkan ketika makan malam berubah menjadi makan sendirian. Ia bahkan mulai tidur lebih dulu agar tidak terlihat menyambut Arga dengan pertanyaan.
Namun semakin Nayla diam, semakin jauh Arga menjauh.
Pria itu mulai membawa ponselnya ke mana-mana.
Ke kamar mandi.
Ke balkon.
Bahkan ketika mengambil minum di dapur pada tengah malam.
Jika ada pesan masuk, Arga selalu menundukkan layar ponselnya atau buru-buru mematikannya saat Nayla berada di dekatnya.
Nayla pernah mencoba bertanya dengan hati-hati.
“Kenapa akhir-akhir ini ponselmu selalu dibawa ke kamar mandi?”
Arga justru menatapnya seolah pertanyaan itu adalah tuduhan.
“Memangnya kenapa? Itu ponsel aku.”
“Aku cuma tanya.”
“Kalau cuma tanya, jangan pakai nada seperti menyelidiki.”
Setelah itu Nayla tidak pernah bertanya lagi.
Namun, ada hal lain yang jauh lebih sulit ia lupakan.
Seminggu lalu, saat mencuci pakaian, Nayla menemukan noda merah muda di kerah kemeja putih Arga. Warnanya samar, nyaris tidak terlihat jika tidak diperhatikan. Ia sempat berpikir itu mungkin noda makanan atau tinta.
Sampai ia mencium aroma parfum perempuan.
Manis, lembut, dan terlalu asing.
Aroma bunga dengan sedikit wangi vanila.
Nayla tidak pernah menggunakan parfum seperti itu. Ia lebih suka wangi yang ringan dan segar. Bahkan parfum yang biasa ia pakai masih tersimpan hampir penuh karena akhir-akhir ini ia jarang keluar rumah.
Saat Arga pulang malam itu, Nayla mencoba bertanya tanpa emosi.
“Mas, hari ini ketemu klien perempuan?”
Arga yang sedang membuka sepatu langsung mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya mencium parfum perempuan di kemejamu.”
Arga tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih mirip ejekan daripada rasa lucu.
“Rekan kantor perempuan tidak sengaja menabrak aku di lift. Jangan berpikir aneh-aneh, Nay. Kamu terlalu banyak menonton drama.”
Kalimat itu terus terngiang sampai sekarang.
*Jangan berpikir aneh-aneh.*
Jika memang hanya kecelakaan kecil di lift, mengapa Arga tampak begitu tersinggung?
Jika tidak ada apa-apa, mengapa ia tidak mencoba menenangkan Nayla?
Jika Nayla benar-benar istrinya yang ia cintai, mengapa ia membuat Nayla merasa bersalah karena bertanya?
Ponsel Nayla kembali bergetar.
Kali ini, namanya benar-benar muncul di layar.
**Arga.**
Nayla cepat-cepat membuka pesan itu.
**Arga:** Masih ada kerjaan. Jangan tungguin. Tidur dulu.
Hanya satu kalimat.
Tidak ada kata maaf.
Tidak ada penjelasan lebih lanjut.
Tidak ada pertanyaan apakah Nayla sudah makan malam.
Tidak ada kalimat mesra yang dulu sering ditulis Arga, seperti *maaf ya, Sayang* atau *besok aku ganti waktu kita.*
Nayla menatap layar ponselnya hingga pandangannya mulai kabur.
Ia ingin membalas dengan jujur.
Ia ingin menulis bahwa ia lelah selalu menunggu.
Ia ingin menulis bahwa ia rindu Arga yang dulu.
Ia ingin bertanya apakah suaminya masih menganggap rumah ini sebagai tempat pulang.
Namun akhirnya, Nayla hanya mengetik satu kalimat sederhana.
**Nayla:** Baik. Hati-hati di jalan.
Pesan terkirim.
Tidak lama kemudian, tanda dibaca muncul.
Arga sudah membacanya.
Namun tidak ada balasan.
Nayla menggigit bibirnya agar air mata tidak jatuh. Ia meletakkan ponsel di atas meja, lalu berjalan ke dapur. Ia membuka pintu lemari pendingin dan mulai memasukkan makanan satu per satu.
Mangkuk sup ayam.
Piring tumis buncis.
Nasi yang sudah dingin.
Tangannya bergerak secara otomatis, tetapi pikirannya tidak berada di sana.
Bagaimana jika Arga benar-benar tidak sedang bekerja?
Bagaimana jika suaminya sedang bersama perempuan lain?
Bagaimana jika semua kekhawatiran yang selama ini ia tekan ternyata adalah kenyataan?
Nayla berhenti ketika tangannya masih memegang wadah makanan.
Napasnya terasa pendek.
Ia menutup pintu lemari pendingin, lalu bersandar pada meja dapur. Apartemen itu mendadak terasa terlalu sunyi. Hanya ada suara hujan dari luar dan dengung kulkas yang terdengar samar.
Tiga tahun lalu, Nayla tidak pernah membayangkan hidupnya akan seperti ini.
Ia mengenal Arga saat masih bekerja di sebuah butik pakaian. Arga datang untuk membeli hadiah ulang tahun bagi ibunya. Ia tampak kebingungan memilih warna syal, lalu meminta pendapat Nayla dengan cara yang sopan dan lucu.
Setelah itu, Arga kembali beberapa kali. Awalnya membeli hadiah. Lalu membeli kemeja. Kemudian hanya datang dengan alasan ingin melihat koleksi baru.
Nayla tahu Arga datang bukan karena pakaian.
Arga pun akhirnya mengaku.
Mereka berpacaran hampir dua tahun sebelum menikah. Arga bukan pria kaya. Ia juga bukan seseorang yang langsung membuat Nayla hidup bergelimang kemewahan. Namun Arga dulu punya perhatian yang membuat Nayla yakin.
Ia selalu menjemput Nayla ketika pulang malam.
Ia selalu mengingat tanggal-tanggal penting.
Ia bahkan pernah kehujanan demi mengantar bubur ketika Nayla sakit demam.
Nayla jatuh cinta bukan pada harta Arga, melainkan pada cara pria itu membuatnya merasa dipilih.
Namun sekarang, Nayla mulai bertanya-tanya.
Apakah ia masih dipilih?
Atau ia hanya seseorang yang tinggal bersama Arga karena status pernikahan mereka belum berakhir?
Suara langkah dari lorong membuat Nayla menoleh.
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu apartemen.
Jantung Nayla berdebar lebih cepat.
Kunci diputar.
Pintu terbuka perlahan.
Arga masuk dengan rambut sedikit basah oleh hujan. Kemeja putih yang dikenakannya terlihat kusut. Lengan bajunya digulung sampai siku. Tas kerja hitam tergantung di bahunya, dan wajahnya tampak lelah.
Namun ada sesuatu pada wajah itu yang membuat Nayla tidak tenang.
Arga tidak terlihat seperti seseorang yang baru pulang dari rapat panjang.
Ia terlihat seperti seseorang yang terpaksa kembali ke rumah setelah menghabiskan malam di tempat yang lebih ia sukai.
“Kamu belum tidur?” tanya Arga.
Nayla melirik jam. Pukul 23.18.
“Aku menunggu kamu.”
Arga melihat meja makan. Dua piring sudah tidak ada, tetapi bekas mangkuk sup yang tadi Nayla pindahkan masih terlihat. Pria itu hanya mengembuskan napas panjang.
“Aku sudah bilang jangan tungguin.”
Nada suaranya datar.
Dingin.
Nayla berusaha menjaga wajahnya agar tetap tenang. “Aku tadi masak sup ayam. Kamu suka, kan?”
“Aku sudah makan.”
Jawaban itu singkat, seolah tidak ada alasan untuk membicarakannya lagi.
“Kamu sudah makan?” Nayla mengulang pelan.
“Iya. Anak-anak kantor pesan makanan.”
“Dengan siapa?”
Pertanyaan itu lolos begitu saja.
Arga menoleh tajam. “Maksud kamu?”
Nayla langsung mengalihkan pandangan. “Tidak apa-apa. Aku cuma tanya.”
“Kalau cuma tanya, jangan pakai nada seperti sedang menginterogasi.”
“Aku tidak menginterogasi kamu.”
“Ya sudah, jangan mulai bertengkar. Aku capek.”
Arga berjalan melewati Nayla menuju kamar. Namun saat jarak mereka begitu dekat, Nayla kembali mencium aroma yang membuat tubuhnya menegang.
Wangi bunga dan vanila.
Aroma parfum perempuan.
Aroma yang sama seperti yang menempel di kemeja Arga minggu lalu.
Kali ini lebih kuat.
Lebih jelas.
Sampai Nayla tidak bisa lagi menyebutnya sebagai kebetulan.
“Mas,” panggil Nayla.
Arga berhenti, tetapi tidak langsung berbalik.
“Apa lagi?”
Nayla menggenggam ujung bajunya sendiri. Kata-kata yang selama ini ia tahan mendesak keluar.
Ia ingin bertanya, *Siapa perempuan itu?*
Ia ingin bertanya, *Apa kamu masih mencintaiku?*
Ia ingin bertanya, *Apa salahku sampai kamu mencari orang lain?*
Namun yang keluar justru kalimat paling jujur dari hatinya.
“Aku kangen.”
Arga akhirnya menoleh. Tatapannya datar. Tidak ada kelembutan yang dulu selalu Nayla temukan di sana.
“Kita tinggal serumah, Nay.”
“Bukan itu maksudku.” Nayla mencoba tersenyum, tetapi bibirnya bergetar. “Kita sudah lama tidak makan berdua. Kamu selalu pulang malam. Kalau di rumah, kamu sibuk dengan ponsel. Aku hanya merasa kamu menjauh.”
Arga mengusap wajahnya kasar.
“Aku bekerja untuk kita. Bukan untuk main-main.”
“Aku tidak bilang kamu main-main.”
“Tapi kamu selalu mencurigai aku akhir-akhir ini.”
Nayla terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa kecurigaannya bukan muncul tanpa alasan.
“Kalau kamu punya waktu terlalu banyak di rumah, cari kegiatan lain,” lanjut Arga. “Jangan semua hal dijadikan masalah.”
Kalimat itu membuat Nayla terpaku.
Dulu, Arga yang meminta Nayla berhenti dari pekerjaannya di butik. Arga berkata Nayla tidak perlu terlalu lelah dan bisa fokus mengurus rumah serta membantu usaha daring mereka.
Namun malam ini, Arga menggunakan keputusan itu untuk menyalahkannya.
“Aku cuma ingin bicara dengan suamiku,” ujar Nayla dengan suara hampir tidak terdengar.
“Besok saja. Aku mau mandi.”
Arga melangkah ke arah kamar mandi.
Ia sempat mengulurkan tangan untuk mengambil ponselnya di atas meja, tetapi tas kerja yang dibawanya terjatuh. Arga menghela napas kesal, memungut tas itu, lalu berjalan ke kamar mandi tanpa menyadari ponselnya masih tertinggal.
Klik.
Pintu kamar mandi tertutup.
Beberapa detik kemudian, suara air mulai mengalir.
Nayla berdiri tanpa bergerak di dekat meja makan. Matanya tertuju pada ponsel Arga.
Ia tidak pernah memeriksa ponsel suaminya.
Bagi Nayla, setiap orang tetap memiliki ruang pribadi, bahkan setelah menikah. Ia selalu percaya kepercayaan adalah dasar rumah tangga. Selama ini, meski hatinya tidak tenang, Nayla tidak pernah memaksa diri untuk membaca pesan-pesan Arga.
Namun malam itu, ponsel tersebut tiba-tiba berdering.
Layar menyala.
Nayla menoleh secara refleks.
Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak tersimpan.
Di atas nomor itu, tertulis nama kontak yang membuat darah Nayla terasa berhenti mengalir.
**Sayang Kantor.**
Nayla tidak langsung bernapas.
Matanya terpaku pada dua kata itu.
*Sayang Kantor.*
Panggilan berhenti sebelum sempat ia angkat.
Namun tidak lama kemudian, sebuah pesan masuk.
**Aku kangen. Besok jangan lupa, ya. Aku tunggu seperti biasa.**
Dunia Nayla seperti runtuh dalam satu detik.
Tangannya gemetar ketika meraih ponsel Arga. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh satu per satu ke layar.
Ia membaca pesan itu lagi.
Lalu lagi.
Seolah jika ia membacanya cukup lama, kalimat itu akan berubah menjadi sesuatu yang tidak menyakitkan.
Namun tidak.
Pesan itu tetap sama.
Jelas.
Keji.
Dan nyata.
Dari balik pintu kamar mandi, terdengar suara Arga bersenandung pelan.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Seolah ia tidak baru saja menghancurkan seluruh kepercayaan Nayla.
Nayla menggenggam ponsel itu erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Di antara rasa sakit yang membuat dadanya seolah robek, perlahan muncul sesuatu yang lain.
Bukan hanya kesedihan.
Bukan hanya ketakutan.
Melainkan keinginan untuk mengetahui semuanya.
Siapa perempuan itu?
Sejak kapan Arga menyimpannya dengan nama “Sayang Kantor”?
Dan yang paling menyakitkan, apakah selama ini suaminya pulang terlambat karena bekerja—atau karena sudah tidak ingin pulang kepada Nayla lagi?