Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Usai sesi konsultasi berakhir, Dera keluar dari ruang praktik Gio dengan langkah pelan. Bahunya masih terasa berat, tapi setidaknya ia sudah menceritakan tentang pesan Vivian.
Di koridor yang tenang, ia menghela napas panjang, mengusap sisa air mata di sudut mata, lalu berjalan menuju ruang tunggu untuk mengambil tasnya.
Di dalam ruangan, Mario yang sejak tadi hanya duduk diam langsung berdiri begitu melihat Dera pergi. Ia merapikan jasnya dengan cepat, lalu menoleh ke Gio.
“Aku pulang dulu,” ujarnya singkat.
Gio yang sedang menulis catatan langsung mengangkat kepalanya. Alisnya berkerut melihat temannya. “Mau ke mana kamu? Kenapa buru-buru?” serunya melihat Mario yang sudah sampai di depan pintu.
Mario hanya menoleh sebentar, senyum tipis terulas di bibirnya. “Aku ada urusan,” balasnya sambil sedikit berteriak, lalu segera keluar tanpa memberi kesempatan Gio untuk menyahut lebih jauh.
Gio menghela napas kesal di dalam ruangan, menggumam pelan, “Dasar…”
Di luar klinik, udara sore Jakarta terasa panas dan berdebu. Dera baru saja melangkah ke trotoar, menunggu ojek online yang sudah dipesan, terdengar suara langkah cepat menghampirinya dari belakang.
“Nona Dera.”
Dera terkejut. Ia menoleh dan menemukan Mario berdiri beberapa langkah darinya. Wajahnya tenang, tapi napasnya sedikit terengah karena baru saja berlari.
Dera otomatis menghentikan langkahnya, jaraknya keduanya begitu dekat membuat tubuhnya sedikit menegang. “Ya…?” suaranya pelan dan penuh kewaspadaan.
Mario tersenyum kecil, berusaha terlihat tidak mengancam. “Maaf kalau mengagetkan. Saya Mario. Teman Gio. Tadi di dalam, saya tidak bermaksud mengganggu sesi konsultasimu.”
Dera hanya mengangguk singkat, tidak membalas senyumnya. Matanya menghindari tatapan Mario. Setelah semua yang ia alami, ia sudah terbiasa menjaga jarak dari laki-laki yang baru dikenal. Apalagi yang tiba-tiba menyusulnya seperti ini.
“Ada perlu apa?” tanya Dera pelan, suaranya datar.
Mario menggaruk tengkuknya pelan, seolah mencari kata yang tepat. “Saya hanya ingin bilang, kalau kamu butuh bantuan apa pun, saya bisa bantu. Bukan dalam arti aneh-aneh. Saya dengar sedikit tadi. Dan saya pikir, tidak ada yang pantas mengalami hal seperti itu.”
Dera terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena tertarik, melainkan karena rasa tidak nyaman. Ia sudah terlalu sering mendengar kata-kata manis yang berakhir dengan pengkhianatan. Senyum Galih dulu juga pernah sama tenangnya.
“Terima kasih, tapi saya baik-baik saja.” jawabnya singkat.
Tukang ojek online yang dipesannya akhirnya tiba. Dera segera melangkah mendekat, seolah menjadikan kendaraan itu sebagai pelarian.
Mario tidak memaksa. Ia hanya berdiri di tempat, menatap punggung Dera yang menaiki motor. “Hati-hati di jalan,” ujarnya pelan.
Dera tidak menoleh. Ia hanya mengangguk kecil ke arah pengemudi, lalu motor itu melaju meninggalkan trotoar.
Mario masih berdiri di sana beberapa saat, tangannya masuk kedalam saku celana, menatap arah kepergian motor hingga menghilang di antara lalu lintas sore. Di benaknya, wajah Dera yang terlihat sedih masih terlihat jelas. Ada sesuatu dalam dirinya yang tergerak, bukan sekadar rasa kasihan, melainkan rasa ingin tahu yang lebih dalam tentang perempuan yang berhasil bertahan meski terus disakiti.
"Sabar Mario, kamu hanya butuh mengenalnya saja" ucapnya pada diri sendiri.
Di dalam klinik, Gio yang melihat dari jendela hanya menggelengkan kepala, bergumam kesal, “Sudah kutegur jangan aneh-aneh, masih saja mengganggunya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mario masuk ke rumah dengan langkah ringan, bersiul-siul riang seolah dunia sedang berpihak padanya. Wajahnya berbinar, senyum lebar tak bisa disembunyikan. Ia langsung menuju ruang keluarga, di mana Melani, ibunya, sedang duduk di sofa dengan tablet di tangan, membaca berita bisnis seperti biasanya.
Melani hanya melirik sebentar ke arah putranya, lalu kembali fokus pada layar. Ia sudah terbiasa dengan tingkah Mario yang kadang tiba-tiba bersemangat tanpa alasan yang jelas. Sejak kecil, anaknya memang suka dramatis kalau sedang ada yang membuat hatinya senang.
Mario berhenti di tengah ruangan, menunggu mommy nya menyapanya. Ia mengucek tangan, mengangkat alis, bahkan batuk kecil berulang kali. Tapi ibunya tetap diam.
Akhirnya ia tidak tahan.“Kenapa diam saja, Mom? Kenapa tidak tanya aku baru bertemu dengan siapa?” ucap Mario, nada suaranya penuh harapan agar ditanya.
Melani tidak mengangkat wajah. “Males. Nggak penting juga kamu mau bertemu siapa,” jawabnya acuh tak acuh, jari masih menggeser layar tablet.
Mario berdecak kesal. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di sofa seberang ibunya dengan gerakan berlebihan.“Kalau begitu aku kasih tahu saja,” katanya sambil tersenyum lebar. “Aku baru saja bertemu dengan calon menantu Mommy! Dia cantik dan baik” Lalu ia tertawa lepas, suaranya memenuhi ruangan.
Melani akhirnya menoleh. Ekspresinya datar, hanya satu alis yang terangkat. “Ck. Memangnya ada wanita yang mau sama laki-laki menyebalkan seperti kamu?” ejeknya tanpa ampun.
Mario langsung memegang dada, pura-pura tersakit hati. “Mom! Aku ini berkharisma lho. Kaya, ganteng, sukses. Siapa yang tidak mau?” serunya tidak terima.
“Banyak yang menyukai kamu. Tapi sayangnya kamu agak lain” jawab Melani singkat. Ia meletakkan tablet di meja, lalu menyandarkan tubuhnya di sofa. “Kamu itu suka tiba-tiba semangat, terus seminggu kemudian sudah lupa. Siapa lagi kali ini? Karyawan baru di kantor? Atau cewek yang kamu temui di kafe?” tanyanya ingin tahu.
Mario tersenyum miring, matanya berbinar lebih cerah. “Bukan. Yang ini lebih menarik dari yang sebelum-sebelumnya. Aku ketemu dia di klinik Gio. Pasien Gio. Namanya Dera.”
Melani mengerutkan dahi. “Pasien psikolog? Mario…”
“Tenang, Mom. Aku tidak mengganggu. Hanya, ada sesuatu pada dirinya. Matanya kelihatan sendu, tapi tetap ada ketegaran. Aku belum pernah melihat yang seperti itu.” terangnya.
Melani menghela napas panjang. Ia sudah terlalu sering mendengar putranya berbicara dengan nada seperti ini. Biasanya berlangsung singkat, lalu Mario kembali fokus pada perusahaan dan rapat-rapat panjang.
“Jangan main-main dengan orang yang sedang terluka,” peringat Melani pelan. “Kamu itu suka cepat bosan. Kalau sampai menyakiti dia, jangan harap mommy membelamu.”
Mario mengangkat kedua tangan. “Aku serius kali ini, Mom. Aku tidak akan menyakitinya.”
Melani hanya memandangnya lama, lalu berdiri dan berjalan menuju dapur. “Serius atau tidak, yang jelas kamu tetap menyebalkan,” gumamnya, tapi ada sedikit senyum tipis di bibirnya yang tidak ia biarkan Mario lihat.
Mario tersenyum sendiri di sofa, menatap ke arah jendela yang menampilkan taman rumah yang luas. Bayangan wajah Dera yang waspada dan lelah masih jelas di pikirannya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa penasaran yang tidak mudah hilang.
Di dapur, Melani menuang air ke dalam teko, bergumam pelan, “Calon menantu, katanya…” lalu menggelengkan kepala, tersenyum kecil meski enggan mengakuinya.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa