NovelToon NovelToon
Kutukan Jiwa Niskala 2

Kutukan Jiwa Niskala 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Fantasi
Popularitas:315
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!

****

Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Sayembara Kota dan Jeruji Benang Tak Kasat Mata

Di sudut ruang aula Cheon Gi Won yang biasanya sepi, kepulan asap teh mengepul tipis.

Do Hyun duduk berhadapan dengan Baek Seo Jun dan pamannya, Baek Yun O. Sebagai bentuk perhatiannya yang mendalam kepada Jin Chae Rin, Do Hyun memutuskan untuk turun tangan langsung membantu pencarian Jin So Hwa. Di atas meja kayu di hadapan mereka, terbentang sebuah gulungan kertas tebal.

Di atas kertas itu, goresan tinta membentuk lukisan wajah seorang wanita yang teramat cantik.

"Jadi, ini adalah rupa Nona Sulung Jinyowon yang hilang?" tanya Do Hyun, jemarinya mengetuk pinggiran meja sambil menatap lukisan yang baru saja didapatkannya dari Yun O.

Yun O mengangguk lesu, gurat kecewa masih tercetak jelas di wajahnya. "Benar. Itu adalah Jin So Hwa. Aku menyimpannya agar aku tidak salah mengenali calon istriku saat pesta pernikahan."

Tanpa membuang waktu, Do Hyun segera memerintahkan Ha Jin untuk menyalin lukisan tersebut dalam jumlah banyak. Draf salinan itu kemudian disebarkan ke setiap sudut strategis Kota Niskala. Tidak hanya sekadar memajang gambar, Do Hyun juga menyertakan sebuah maklumat sayembara yang tertulis tegas di bawahnya: Bagi siapa saja yang berhasil menemukan keberadaan Jin So Hwa atau memberikan informasi akurat mengenai posisinya, akan diberikan hadiah emas yang sangat besar.

Akibat aksi nekat Do Hyun, rahasia besar yang selama tiga tahun terakhir ini dijaga ketat oleh Jinyowon kini runtuh. Keberadaan Jin So Hwa yang semula disembunyikan dari semua orang, kini mendadak menjadi konsumsi publik dan tersebar luas ke seantero Negeri Niskala.

Kabar yang menghebohkan itu akhirnya bertiup hingga ke dalam dinding istana. Mendengar desas-desus bahwa putri sulung Jinyowon ternyata masih hidup dan kini menghilang, Yang Mulia Raja Go Haneul langsung menitahkan sebuah pertemuan umum darurat.

Di atas singgasana emas yang megah, Raja Go Haneul duduk dengan wibawa yang menekan. Di samping kirinya, duduk sang Putra Mahkota, Go Si Woo, yang menyimak dengan saksama.

Sementara di sebelah kanan raja, berdiri Jin Wu dengan senyum misterius yang tersungging tipis di bibirnya. Di hadapan singgasana itu, Master Lee berdiri tenang dengan kedua tangan bersedekap di dalam lengan jubahnya.

"Jinyowon adalah pilar yang sangat penting bagi Niskala," ucap Raja Go Haneul, suaranya menggema di dalam aula istana yang luas.

"Sejak zaman leluhur, mereka diberikan amanat sakral untuk menyimpan relik dan benda-benda mistis berbahaya. Tempat itu harus dipimpin oleh seorang penyihir yang memiliki kekuatan spiritual yang sangat kuat dan murni. Mengingat kabar bahwa Jin So Hwa kembali hidup, kita harus segera memastikan kelayakan penerus Jinyowon sebelum posisi itu kosong terlalu lama."

****

Sementara itu, di kediaman tersembunyi keluarga Han, suasana sore itu terasa cemas. Jin So Hwa yang tubuhnya belum pulih sepenuhnya dari sisa terkaman roh danau semalam, sedang duduk bersandar di selasar. Pikirannya seketika terusik ketika Baek Chae Won datang berkunjung bersama asisten setianya, Park So Eun, dengan niat untuk memberikan pengobatan dan memeriksa kondisinya.

Namun, di sela-sela pemeriksaan medis itu, So Eun tanpa sengaja mengungkit kehebohan yang terjadi di pasar. "Nona Jin, keadaan di luar sangat kacau. Gambar wajah Anda saat ini sudah tersebar di seluruh penjuru Niskala. Ada sayembara besar untuk menemukan Anda."

Jin So Hwa tersentak. Alih-alih berpikir jernih, asumsi gadis itu langsung melompat ke satu arah. Karena ia tahu bahwa calon suaminya berasal dari keluarga Baek yang terpandang, ia mengira bahwa sosok yang menyebarkan gambar wajahnya adalah Baek Seo Jun—penyihir muda berbakat yang sangat terkenal di kota pertahanan Niskala.

Dia pasti sangat ngebet untuk segera menikahiku hingga membuat sayembara gila seperti ini, pikir So Hwa dengan percaya diri yang keliru.

Khawatir keberadaannya di rumah Han Seol akan membahayakan, serta didorong oleh keinginan untuk meminta bantuan Seo Jun agar membawanya pergi dari Niskala, Jin So Hwa nekat menyelinap keluar. Memanfaatkan kelengahan Chae Won dan So Eun, ia segera kabur melompati pagar belakang untuk menemui pria yang ia kira sebagai calon suaminya.

Langkah kakinya yang tergesa-gesa akhirnya membawa So Hwa sampai ke halaman Rumah Mawar, tempat kediaman sementara Baek Seo Jun selama berada di kota. Dengan napas terengah-engah, ia berhasil menyelinap masuk dan mendapati Seo Jun sedang membersihkan pedangnya di teras.

Namun, begitu So Hwa mengungkapkan identitasnya dan menuntut penjelasan tentang sayembara tersebut, senyuman di wajahnya runtuh seketika.

"Kau salah paham, Nona," ucap Baek Seo Jun dengan dahi berkerut heran menatap gadis berpenutup kepala di depannya. "Aku bukan calon suamimu. Pria dari keluarga Baek yang dipilih oleh ibumu untuk menikahimu adalah pamanku sendiri, Baek Yun O."

Mendengar kenyataan pahit itu, Jin So Hwa terpaku dengan wajah kaget sekaligus kecewa yang teramat sangat. Pria yang ia harapkan bisa menjadi pelindungnya ternyata adalah seorang pria paruh baya yang sama sekali tidak ia kenal.

Belum sempat ia mencerna kekecewaannya, suara derap langkah kaki yang seragam terdengar mengepung Rumah Mawar. Pintu gerbang dihempas terbuka, menampilkan belasan anak buah Jin Hwa Young yang bersenjata lengkap.

Tanpa ampun, mereka langsung meringkus So Hwa dan membawanya pulang paksa ke Jinyowon.

****

Di tempat lain, desas-desus mengenai gambar sayembara itu juga menarik perhatian para petinggi sihir. Di dalam markas Cheonbugwan, Jin Wu berdiri menatap selembar kertas sayembara yang menempel di dinding. Matanya menyipit tajam, menelusuri setiap gundukan garis wajah yang terlukis di sana.

“Ini mustahil...” gumam Jin Wu dalam hati, seringai licik di wajahnya memudar berganti dengan kilatan horor.

Sebagai orang yang merawat dan membesarkan pembunuh bayaran bernama Nara sejak kecil, Jin Wu sangat mengenali struktur wajah itu.

"Wajah di lukisan ini... ini bukan Jin So Hwa yang asli. Ini adalah wajah Nara."

Pada saat yang sama, di sudut jalanan kota yang ramai, seorang gadis bernama Soi sedang berjalan pelan di antara kerumunan. Pandangannya terjatuh pada kertas sayembara yang terpasang di tiang batu. Soi, yang di masa lalu secara tidak sengaja telah mengetahui rahasia besar bahwa Jin So Hwa yang hidup sekarang sebenarnya adalah jiwa Seol Ah, mendengus pelan.

"Mereka semua benar-benar buta," bisik Soi sinis. "Wajah yang mereka cari-cari itu jelas-jelas bukanlah rupa putri sulung keluarga Jin."

Secara hakikat, baik spekulasi tajam Jin Wu maupun penilaian sinis Soi, sama-sama bisa dikatakan benar. Jiwa yang bersemayam di dalam raga itu telah merubah wajah Jin So Hwa menjadi wujud Nara yang dahulu.

****

Sementara itu, kepanikan melanda kedelaman rumah keluarga Han. Oh Myung Ja berlari tergesa-gesa menghampiri Han Seol yang sedang duduk tenang di ruang tengah.

"Tuan Muda! Gawat! Nona So Hwa telah pergi dari rumah ini secara sembunyi-sembunyi!" lapor Myung Ja dengan wajah cemas.

Han Seol yang sedang memegang cangkir tehnya justru terlihat biasa-biasa saja. Raut wajahnya datar seolah tak memperdulikan hilangnya gadis pelarian itu.

"Dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Biarkan saja dia pergi," sahut Han Seol dingin.

Namun, saat Han Seol berdiri dan berniat mengembalikan kotak kayu ke tempat semula, pandangannya tidak sengaja terjatuh pada lampu lentera pemberian Jinyowon yang semalam ia gunakan untuk menguji So Hwa. Langkahnya seketika terkunci.

Lampu lentera yang apinya abadi dan tidak bisa dipadamkan oleh sembarangan orang itu... kini kondisinya telah mati total. Apinya padam, menyisakan sumbu yang dingin.

Han Seol mematung. Pikirannya berputar cepat. “Lentera ini padam...” pikirnya dengan dada yang bergemuruh.

Dengan padamnya lampu mistis tersebut, kemungkinan besar kekuatan spiritual agung di dalam diri Jin So Hwa telah mulai bangkit kembali setelah insiden di kolam semalam. Dan jika kekuatannya bangkit, maka dimungkinkan juga bahwa wanita itu kini memiliki kemampuan luar biasa yang bisa memenuhi keinginan terbesarnya—yaitu mengeluarkan Batu Es yang menyiksa dari dalam tubuhnya.

Menyadari hal itu, Han Seol mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia berpikir ulang dan memantapkan hatinya untuk tidak membiarkan Jin So Hwa lepas begitu saja. Ia harus membawanya kembali.

****

Beralih ke kedalaman benteng Jinyowon...

Sesuai dengan perintah tegas dari Raja Go Haneul dalam pertemuan darurat, Jin Wu selaku pemimpin Cheonbugwan sekaligus orang yang memiliki pengaruh paling dekat dengan urusan dalam Jinyowon, datang berkunjung. Ia berdiri di aula utama menghadapi Jin Hwa Young yang tampak tegang.

"Nyonya Jin, Yang Mulia Raja meminta Anda untuk membawa Jin So Hwa menghadiri pertemuan umum istana besok pagi," ucap Jin Wu dengan nada menuntut.

Jin Hwa Young langsung mengibaskan tangannya, menolak dengan tegas. "Putriku baru saja pulih dari sakit parah dan emosinya tidak stabil setelah kegagalan pernikahan kemarin. Aku tidak bisa membawanya ke hadapan publik."

Jin Wu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sarat akan ancaman. "Jika Anda menolak, Raja akan menganggap Jinyowon tidak lagi memiliki pewaris yang cakap. Ada kemungkinan besar bahwa hak penyimpanan seluruh relik dan benda-benda mistis sakral di dalam Jinyowon akan dicabut dan dipindahkan ke bawah pengawasan keluarga penyihir lain."

Mendengar ancaman kehancuran bagi Jinyowon tersebut, pertahanan Jin Hwa Young runtuh. Demi mempertahankan martabat keluarganya, ia terpaksa langsung menyetujui permintaan Jin Wu.

Lantas, segera setelah kepergian Jin Wu dari kediamannya, Jin Hwa Young melangkah dengan wajah penuh amarah menuju kamar kurungan tempat Jin So Hwa baru saja dibawa pulang oleh para pengawalnya. Pintu dikuak lebar, menampilkan So Hwa yang duduk dengan wajah muram di tepi ranjang.

"Besok kau harus ikut denganku menghadiri pertemuan umum di hadapan Raja, So Hwa," perintah Jin Hwa Young tanpa basa-basi.

So Hwa mendongak, menatap wanita yang ia kira ibunya itu dengan tatapan dingin. "Untuk apa? Agar kau bisa memamerkanku sebagai boneka barumu?"

Jin Hwa Young mencengkeram bahu So Hwa dengan keras. "Pertemuan besok akan menentukan nasib dan hak kepemilikan relik mistis Jinyowon! Oleh karena itu, aku memintamu dengan sangat... kau harus tetap menyembunyikan fakta bahwa kekuatan sihirmu telah menghilang dari hadapan Raja dan para penyihir lain. Beraksilah seolah-olah kau adalah penyihir agung yang sempurna."

Jin So Hwa membuang muka. "Dan setelah pertemuan itu selesai, kau akan kembali mengurungku di dalam paviliun gelap ini seumur hidup, bukan?"

Kediaman So Hwa adalah jawaban mutlak bagi Jin Hwa Young. Untuk memastikan bahwa putri sulung palsunya ini tidak akan bisa melarikan diri lagi atau membongkar rahasia mereka di istana nanti, Jin Hwa Young mengeluarkan sebilah jarum perak kuno yang terikat benang merah mistis dari saku bajunya.

"Maafkan Ibu, So Hwa. Tapi ini demi keselamatan kita bersama," bisik Jin Hwa Young kejam.

Dengan cengkeraman sihir yang kuat, Jin Hwa Young menekan tubuh So Hwa. Tanpa memedulikan rintihan kesakitan gadis itu, ia menanamkan benang khusus tersebut tepat di pundak Jin So Hwa dengan cara menjahitkannya langsung ke dalam kulit raga tersebut sebagai ganti dari gelang pelacak yang telah dihancurkan oleh Han Seol. Benang mistis itu mengunci aliran darahnya, mengikat kebebasan Jin So Hwa dalam jeruji tak kasat mata yang teramat menyiksa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!