Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Adam yang semula berdiri dengan kedua tangan di sisi tubuhnya mendadak mengepalkan jemari. Tatapannya menjadi begitu tajam hingga Marco dapat merasakan perubahan suasana hati atasannya.
"Ulangi kata-katamu barusan,"
Marco menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Tuan Sadam menduga Nona Gia mungkin menjadi orang yang menyebabkan kecelakaan tersebut. Menurut beliau, hilangnya Nona Gia pada hari pernikahannya merupakan sesuatu yang mencurigakan. Beliau bahkan mempertanyakan kemungkinan bahwa Nona Gia melarikan diri karena ingin menghindari tanggung jawab."
Adam menghantam meja dengan telapak tangannya.
"Kurang ajar!"
Berkas-berkas yang tersisa di atas meja bergetar akibat benturan itu.
"Jadi, sekarang dia melemparkan kesalahan kepada Gia hanya untuk melindungi jalang itu?"
Marco tidak segera menjawab. Adam berjalan kembali ke mejanya, lalu mengambil gelas berisi wiski. Namun, alih-alih meminumnya, ia justru menggenggam gelas tersebut erat-erat.
"Menarik sekali," gumamnya penuh kemarahan. "Putri yang satu dituduh kabur dan tidak lagi dianggap sebagai anak, sementara putri yang lain dibela mati-matian meskipun namanya muncul dalam penyelidikan kematian seseorang." Ia meletakkan gelas itu dengan keras.
"Apakah Tuan Sadam benar-benar sebodoh itu, atau dia sengaja menutup mata karena tidak ingin kehilangan menantu dari keluarga Dominic?"
"Saya tidak tahu, Tuan."
"Dan kau membiarkannya mengatakan semua itu? Kenapa kau tidak memenggal kepalanya saja?!" Bentak Adam, Marco menunduk.
"Saya tidak memiliki wewenang untuk mengurus urusan keluarga mereka. Saya datang untuk mencari Nona Amerda dan menyampaikan perintah Tuan."
Adam menatap Marco beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke jendela. Pikirannya kembali tertuju pada Gia. Perempuan itu masih terbaring di rumah sakit, belum sadarkan diri setelah ditemukan tidak bernyawa di dalam bak mandi kediamannya. Sementara itu, penyelidikan yang semula ia yakini akan mengarah kepada Gia kini justru menunjukkan kemungkinan lain.
Anting yang ditemukan di lokasi kecelakaan bukan milik Gia, tetapi benda itu milik Amerda.
Ia telah menghabiskan bertahun-tahun membangun kekuasaan dengan tangannya sendiri. Ia bisa menerima jika seseorang membencinya karena kekejamannya, tetapi ia tidak bisa menerima kemungkinan bahwa ia telah menjatuhkan hukuman kepada orang yang ternyata tidak bersalah. Terlebih, ia telah memperlakukan Gia seolah-olah perempuan itu adalah penyebab kematian Veronika, padahal bukti yang dimilikinya belum pernah benar-benar memastikan hal tersebut.
Pikiran itu membuat amarahnya semakin sulit dikendalikan.
"Marco,"
"Ya, Tuan."
"Aku ingin kau menyelidiki seluruh aktivitas Amerda sejak hari kecelakaan itu terjadi. Siapa yang dia temui, ke mana dia pergi, dengan siapa dia berkomunikasi, dan apa yang dilakukannya setelah Veronika meninggal. Satu lagi, siapa yang membantunya menghapuskan jejak cctv," ungkapan Adam, membuat Marco terkejut, karena Adam telah tahu kalau cctv di lokasi telah di hapus sebagian.
"Baik, Tuan."
Adam kembali duduk di kursinya. Ia menyandarkan punggung, lalu menatap Marco dengan sorot mata yang tidak menyisakan ruang untuk kesalahan.
"Dan satu hal lagi."
Marco menegakkan tubuhnya.
"Jangan biarkan keluarga Dominic tau seberapa jauh penyelidikan kita sudah berjalan. Jika Tuan Sagara memang selicik yang kau katakan, kita tidak boleh memberinya kesempatan untuk menghilangkan bukti."
"Saya mengerti, Tuan."
"Namun, jangan bertindak ceroboh. Aku tidak ingin dia memiliki alasan untuk menjadikan masalah ini sebagai perang terbuka antara keluarga kita. Karena, wilayah selatan masih incaran dia untuk saat ini,"
Marco mengangguk sekali lagi. Adam kemudian menunjuk pintu dengan gerakan singkat.
"Pergi, temukan jalang itu hidup atau mati. Aku ingin tau apakah dia benar-benar tidak bersalah seperti yang diyakini keluarganya, atau mereka semua hanya sedang melindungi seorang pembohong."
Marco membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruangan.
Begitu pintu tertutup, Adam kembali menatap layar ponselnya. Di sana terdapat foto Veronika yang diambil beberapa hari sebelum kecelakaan. Perempuan itu tersenyum lebar ke arah kamera, sama sekali tidak menyadari bahwa hidupnya akan berakhir tragis. Adam mengambil ponsel tersebut dan menggenggamnya erat.
"Siapa pun yang bertanggung jawab atas kematianmu, Veronika," bisiknya dingin, "aku akan menemukannya."
Tatapannya beralih ke jendela yang diguyur hujan.
"Jika ternyata aku telah salah menuduh seseorang, orang yang sebenarnya bersalah akan membayar semuanya."
Di luar sana, malam semakin larut. Adam, telah mengerahkan beberapa pengawal untuk berjaga di pintu ruang rawat Giana.
ap Dy punya rencana sendri???
Qta semua membelanya,, mendukung nya...,, eh malah dia yg nawarin diri utk bertahan d rumahnya Sadam. Kecuali kalo dirimu kuat,, d jahatin bisa balas,, d pukul bisa balas memukul,, bisa mu hanya menangis saja...,, Qta perempuan memang makhluk lemah....,, tapi jangan melemahkan dirimu kayak gitu juga Gia. Kau berharap ayahmu Sadam akan terharu....,, hingga akhirnya menyayangimu....,, seperti berharap salju turun d tengah hutan yang terbakar....,, mustahil.
ngapain nyari amerda dirumah Adam GK langsung tempat mertuanya 🤔
berharap Adam membuka jati diri siapa amerda siih ,,