Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Perpisahan, Runtuhnya Backstreet, dan Ciuman di Bawah Kembang Api
Musim panas di Jiangcheng bulan Juli selalu membawa hawa kebebasan yang mutlak bagi murid kelas 12.
GaoKao telah usai. Buku-buku tebal yang dulunya menyiksa kini telah dijual loak atau diwariskan ke adik kelas. Malam ini, aula utama SMA Mingde disulap menjadi tempat pesta perpisahan (Prom/Graduation Party). Tidak ada lagi seragam *tracksuit* biru-putih yang membosankan. Malam ini, semua orang berdandan dengan pakaian bebas terbaik mereka.
Suasana aula dipenuhi suara musik, tawa, dan denting gelas soda. Topik obrolan paling panas malam itu tentu saja adalah pengumuman hasil GaoKao minggu lalu. Dan dari semua berita pencapaian, ada satu nama yang memonopoli gosip seisi sekolah: Kang Lu Feng.
Murid pindahan berandal, hobi bolos, dan langganan poin minus itu secara ajaib menembus Universitas Beijing dengan skor 698. Berita itu sukses membuat Pak Zhang, si guru Matematika, nyaris tersedak teh panasnya di ruang guru saat melihat daftar cetak kelulusan.
Di sudut aula, Lin Xiao sedang berdiri mengobrol dengan Li Na dan beberapa siswi lain.
Malam itu, sang ketua kelas terlihat sangat berbeda. Jika biasanya ia selalu mengikat rambutnya kaku dan tampil tanpa riasan, malam ini Lin Xiao membiarkan rambut lurus sebahunya tergerai indah. Ia mengenakan *dress* selutut berwarna putih tulang dengan potongan kerah *sabrina* yang mengekspos tulang selangkanya yang mungil. Sapuan *makeup* tipis membuat wajahnya yang memang sudah cantik kini terlihat benar-benar bercahaya.
"Xiao, kamu beneran ke Beijing kan bulan depan?" tanya Li Na antusias, memegang segelas jus jeruk. "Sumpah, aku masih merinding. Dua orang dari kelas kita masuk kampus nomor satu di Tiongkok! Kamu dan... Lu Feng. Eh, ngomong-ngomong, pahlawan kita yang satu itu mana?"
Tepat saat nama Lu Feng disebut, pintu ganda aula utama terbuka.
Perhatian beberapa murid di dekat pintu langsung teralihkan. Suara obrolan perlahan mereda, digantikan oleh bisik-bisik kagum dari murid-murid perempuan.
Lu Feng melangkah masuk.
Cowok itu tidak memakai jas kaku seperti anak-anak lain. Dia hanya mengenakan kemeja hitam lengan panjang yang kancing atasnya sengaja dibuka dua, memperlihatkan sedikit dadanya. Lengan kemejanya digulung asal hingga siku, dipadukan dengan celana bahan gelap yang pas di kaki panjangnya. Rambutnya sedikit di-*styling* ke atas, mengekspos dahinya yang tajam. Aura berandalannya belum hilang, namun kini bercampur dengan pesona dewasa yang sangat mematikan.
Di belakangnya, Chen Hao mengekor dengan kemeja kotak-kotak dan dasi kupu-kupu yang sedikit miring, terlihat seperti manajer artis yang sedang mengawal bintang utamanya.
Mata sayu Lu Feng menyapu seisi aula. Hanya butuh dua detik baginya untuk menemukan sosok *dress* putih yang sudah membuat otaknya korslet sejak pertama kali melangkah masuk.
Tanpa mempedulikan tatapan dan bisikan cewek-cewek lain yang menatapnya lapar, Lu Feng berjalan lurus membelah kerumunan. Langkahnya panjang dan mantap, tujuannya hanya satu.
Lin Xiao menahan napas saat melihat Lu Feng berjalan ke arahnya. Jantung cewek itu kembali berdetak dengan ritme tidak karuan.
Lu Feng berhenti tepat di hadapan Lin Xiao. Cowok itu menunduk sedikit, menatap Lin Xiao dari ujung rambut sampai ujung sepatu dengan tatapan yang luar biasa intens, gelap, dan penuh dambaan.
"Lo curang, Ketua Kelas," bisik Lu Feng, suaranya berat dan serak, cukup pelan tapi bisa didengar oleh Li Na yang langsung mematung di sebelah mereka. "Gue butuh waktu setengah jam buat nata rambut, tapi lo cuma pakai *dress* putih begini aja udah bikin gue pengen bawa lo kabur dari sini sekarang juga."
Wajah Lin Xiao langsung merona sehebat-hebatnya. "L-Lu Feng! Jaga bicaramu! Ini di tengah aula!" cicitnya, berusaha mengingatkan aturan *backstreet* yang sudah mendarah daging di kepala mereka.
Tapi Lu Feng tertawa pelan. "GaoKao udah kelar, Xiao. Surat penerimaan udah di tangan. Poin kedisiplinan udah nggak berlaku lagi."
Dan di hadapan Li Na yang matanya nyaris melompat keluar, serta puluhan pasang mata murid lain yang sedang memperhatikan sang pemecah rekor GaoKao, Lu Feng mengangkat tangan kanannya, dan dengan sangat santai, menautkan jari-jarinya ke sela-sela jari Lin Xiao.
Lu Feng menggenggam tangan Lin Xiao erat-erat, mengangkatnya sedikit agar semua orang bisa melihatnya.
Suasana aula mendadak hening. Hening yang sangat absolut, sebelum akhirnya meledak menjadi sorakan dan teriakan histeris dari seisi ruangan!
"GILA! LU FENG SAMA KETUA KELAS LIN?!"
"ANJIR, SEJAK KAPAN?!"
"PLOT TWIST MACAM APA INI?!"
Chen Hao yang berdiri di belakang Lu Feng langsung mengangkat kedua tangannya seperti pendeta yang memberi pemberkatan. "AKHIRNYA! MATA BATIN GUE BEBAS DARI RAHASIA NERAKA INI! SELAMATKAN GUE DARI KEEGOISAN MEREKA, TEMAN-TEMAN!"
Wajah Lin Xiao sudah merah padam menyamai warna tomat rebus. Dia menunduk dalam-dalam, berusaha menarik tangannya dari genggaman Lu Feng, tapi cowok itu menahannya dengan sangat lembut.
"Lu Feng... semua orang melihat kita..." gumam Lin Xiao malu, menyembunyikan wajahnya di balik lengan Lu Feng.
"Biarin. Biar satu angkatan tahu kalau cewek paling pintar di Mingde ini milik gue," jawab Lu Feng santai, mencium punggung tangan Lin Xiao kilat.
Tiba-tiba, dari arah meja *buffet*, muncul sosok tinggi berkacamata.
Wang Yibo.
Sorakan di sekitar mereka mereda. Kerumunan murid sedikit membelah, memberikan jalan bagi sang peringkat satu paralel yang reputasinya nyaris tersaingi oleh Lu Feng. Yibo mengenakan setelan jas abu-abu yang sangat rapi. Matanya menatap tautan tangan Lu Feng dan Lin Xiao.
Dada Lin Xiao sedikit menegang, bersiap akan konfrontasi. Namun Lu Feng tetap berdiri santai, ibu jarinya mengusap punggung tangan pacarnya untuk menenangkan.
Yibo berhenti beberapa langkah dari mereka. Cowok berkacamata itu menatap Lu Feng lama, lalu beralih menatap wajah Lin Xiao yang terlihat begitu bahagia, tulus, dan tidak tertekan—ekspresi yang tidak pernah Lin Xiao tunjukkan kepadanya selama bertahun-tahun.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, senyum di wajah Wang Yibo bukanlah senyum palsu atau penuh kalkulasi. Melainkan senyum pahit yang sarat akan kekalahan telak.
"Skor 698," ucap Yibo, suaranya tenang. Dia mengangkat gelas sodanya sedikit ke arah Lu Feng. "Aku tidak tahu bagaimana kamu melakukannya, tapi... selamat, Lu Feng. Kamu membuktikan omonganku salah. Dan selamat juga untukmu, Xiao. Kalian berdua memenangkan semuanya."
Lu Feng sedikit terkejut, namun cowok itu membalas dengan anggukan pelan, memberikan penghormatan pada rival yang telah memaksanya keluar dari batas kemampuannya.
"Lo juga lumayan, Kacamata. Jangan sampai turun peringkat pas di kampus nanti, karena gue nggak bakal segan-segan nginjek lo lagi," balas Lu Feng dengan seringai khasnya, meski nada bermusuhannya sudah jauh berkurang.
Yibo mendengus pelan, membalikkan badannya dan berjalan menjauh, meninggalkan ego masa SMA-nya di belakang, bersiap membuka lembaran baru yang lebih sehat di masa depan.
***
Tepat pukul sembilan malam, saat puncak acara perpisahan sedang meriah-meriahnya di dalam aula, Lu Feng diam-diam menarik tangan Lin Xiao, menyelundupkan cewek itu keluar dari gedung sekolah.
Mereka berlari kecil menyusuri jalanan Jiangcheng yang diterangi lampu jalan berwarna kekuningan. Angin malam musim panas berhembus sejuk, membawa aroma bunga osmanthus dari taman kota di dekat sekolah.
Lu Feng menghentikan langkahnya di sebuah jembatan batu tua yang melintasi sungai kecil, tempat yang cukup sepi dan memiliki pemandangan langit malam yang bersih.
Lin Xiao bersandar di pagar jembatan, terengah-engah sambil tertawa lepas.
"Kamu gila, Lu Feng. Kita kabur sebelum Pak Kepala Sekolah selesai pidato!" omel Lin Xiao, meski tawanya membantah kemarahannya.
Lu Feng berjalan mendekat, mengurung tubuh mungil Lin Xiao di antara kedua lengannya yang bertumpu pada pagar jembatan. Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.
"Gue udah terlalu lama nahan diri pura-pura jadi murid alim di depan kepala sekolah. Sekarang waktunya gue nikmatin hadiah kemenangan gue," bisik Lu Feng parau.
Cowok itu merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru *navy*.
Mata Lin Xiao membelalak kaget. "A-apa ini?"
Lu Feng membuka kotak itu dengan satu tangan. Di dalamnya, bertengger sebuah kalung perak tipis yang sangat cantik, dengan liontin kecil berbentuk daun ginkgo—persis seperti daun yang berguguran di hari pertama mereka bertemu di jendela Kelas 11-3.
"Gue beli ini pakai gaji pertama gue kerja paruh waktu di bengkel abis ujian kemarin," jelas Lu Feng. Dia mengeluarkan kalung itu, lalu memutar tubuh Lin Xiao dengan lembut. "Biar lo selalu inget, kalau cowok berandal yang dulu telat masuk kelas ini... sekarang udah sepenuhnya jadi milik lo."
Jemari kasar Lu Feng dengan hati-hati memasangkan kalung itu di leher jenjang Lin Xiao. Sentuhan dingin dari perak dan hangatnya jari Lu Feng membuat Lin Xiao menahan napas. Saat kalung itu sudah terpasang sempurna, Lu Feng mengecup pelan tengkuk cewek itu, mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuh sang ketua kelas.
Lin Xiao berbalik, menyentuh liontin daun ginkgo di dadanya. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Terima kasih, Lu Feng. Ini sangat indah," bisik Lin Xiao tulus, menatap lurus ke dalam mata cowok itu.
Tiba-tiba, suara letupan keras terdengar dari arah pusat kota.
*DUARR! SYUUUT!*
Kembang api musim panas pertama di Jiangcheng meledak di langit malam, memancarkan warna-warni cerah yang memantul di permukaan sungai dan di mata Lin Xiao.
Lu Feng tidak menatap kembang api itu. Baginya, satu-satunya pemandangan yang pantas dilihat hanyalah wajah cewek di depannya yang sedang tersenyum menatap langit.
Cowok itu menangkup wajah Lin Xiao, menarik perhatian sang ketua kelas agar kembali menatapnya.
"Di Beijing nanti, gue mungkin bukan orang paling pinter," bisik Lu Feng pelan, di sela-sela dentuman kembang api. "Gue mungkin bakal sering pusing lagi sama tugas kuliah, dan lo mungkin bakal sering ngomelin gue lagi."
Lin Xiao tersenyum, mengalungkan lengannya di pinggang Lu Feng. "Pasti. Aku akan memastikan IPK-mu tidak hancur berantakan."
"Tapi satu hal yang pasti, Xiao..." Lu Feng menundukkan wajahnya, menempelkan kening mereka. "Gue bakal selalu, selalu milih lo."
Dan di bawah cahaya kembang api Jiangcheng yang mempesona, Lu Feng menghapus jarak di antara mereka. Bibir mereka kembali bertemu, bukan lagi ciuman penuh keputusasaan di tangga darurat, melainkan ciuman manis, lembut, dan penuh kebebasan yang mengukuhkan awal dari kehidupan baru mereka.
Malam itu, di jembatan batu tua tersebut, Lu Feng dan Lin Xiao tahu bahwa angin masa muda mereka (Breeze of Youth) telah membawa mereka melewati badai terberat. Aturan ketua kelas telah dipatahkan, digantikan oleh aturan baru yang akan mengikat mereka selamanya: di mana ada Lin Xiao, di situ pasti ada Kang Lu Feng yang akan selalu melindunginya.
**TAMAT (End of High School Arc)**