Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.
Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.
Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.
Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.
Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4
Malam yang seharusnya menjadi batas akhir kepahitan Cinderella justru berujung pada akhir yang tak terduga.
Tepat setelah Draxler melangkah keluar dan menutup pintu kamar secara perlahan, Mata yang pura-pura terpejam itu tiba-tiba mengeluarkan Air mata.
keheningan yang mencekam kembali menyelimuti Cinderella, menyisakan kekosongan yang melubangi dadanya.
Rasa sakit karena tidak pernah diinginkan, pengkhianatan keji tunangan dan adiknya, serta ketidakadilan bertahun-tahun yang ia terima dari keluarga Huntington mendadak menghantamnya jauh lebih keras.
Cinderella bangkit dan duduk di tepi ranjang.
Matanya menatap kosong ke sekeliling kamar mewah milik Draxler.
Rasa sesak itu tak lagi menampung air mata.
Ia menginginkan akhir.
Ia butuh sesuatu untuk menyelesaikannya—ujung dari segala luka yang menggerogoti jiwanya.
Dengan tubuh bergetar, Cinde melangkah pelan menuju lemari kecil di sudut ruangan.
Jemarinya membuka laci demi laci hingga pandangannya tertuju pada sebuah kotak besi dingin.
Di dalamnya, tergeletak sebuah pistol rapi.
Mata Cinderella berbinar redup. Ia mengusap permukaan dingin senjata api itu, menyunggingkan senyum paling pahit sepanjang hidupnya.
"Di kehidupan berikutnya..." bisik Cinderella pelan, suaranya menggema tegas di keheningan kamar.
"Aku bersumpah akan lebih mencintai diriku sendiri. Aku tidak akan pernah percaya lagi pada siapapun... terlebih lagi pada manusia."
DOR!
Satu tembakan bergema singkat, dan tubuh Cinderella Huntington terkulai dingin. Kehidupannya sebagai wanita terbuang resmi berakhir di tempat.
Namun, kegelapan itu tidak berlangsung lama.
Sensasi dingin yang menghantam dada dan dentuman keras yang sempat memekakkan telinganya mendadak lenyap begitu saja.
Tidak ada rasa sakit, tidak ada genangan darah, dan tidak ada lagi aroma mesiu yang menyengat paru-parunya.
Yang ada hanyalah rasa pening yang luar biasa, seolah otaknya dihantam oleh gelombang frekuensi tinggi secara mendadak.
Cinderella menarik napasnya dalam-dalam—sebuah helaan napas panjang yang terasa sangat berat, kasar, dan menyiksa tenggorokannya.
Kelopak matanya terasa amat berat saat ia berusaha membukanya perlahan.
Pandangannya buram, memantulkan bayangan langit-langit bertekstur kasar dengan cat putih yang mulai mengelupas di beberapa sudut.
Apakah aku... berada di rumah sakit? batin Cinderella ragu.
Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengingat detik-detik terakhir hidupnya.
Ia sangat yakin jari telunjuknya telah menarik pelatuk pistol dingin milik Draxler.
Suara tembakan itu masih bergema di dalam ingatannya.
Harusnya ia sudah tewas di kamar penthouse mewah itu.
Harusnya rasa sakit akibat pengkhianatan Jonah, kepalsuan Siena, dan pengabaian kedua orang tuanya sudah berakhir di atas lantai marmer yang dingin.
Namun, kenapa napasnya masih berembus? Kenapa dadanya masih naik turun?
Cinderella mencoba menggerakkan tubuhnya untuk duduk.
Otot-ototnya terasa lemas dan kaku, seolah baru saja lolos dari pengaruh obat bius berdosis tinggi.
Ketika ia berhasil menegakkan punggungnya, pandangannya langsung menyapu sekeliling ruangan.
Ini jelas bukan kamar penthouse milik Draxler Lutolf Ashford yang serba monokrom, luas, dan beraroma kayu cendana mahal.
Ini juga sama sekali bukan kamar tidurnya di Mansion Huntington yang megah.
Ruangan ini amat sangat sempit.
Dindingnya hanya dilapisi cat murah yang warnanya pudar.
Sebuah meja belajar kayu yang catnya mengelupas berdiri di sudut dekat jendela kecil.
Di atas meja itu menumpuk beberapa buku pelajaran sekolah yang sudut-sudutnya sudah terlipat, beradu dengan botol air mineral plastik yang sudah kosong.
Di sisi lain, hanya ada sebuah lemari pakaian dua pintu yang terbuat dari bahan olahan kayu murah.
Cinderella menunduk, menatap ranjang tempatnya berbaring. Kasur single yang tipis, dilapisi seprai kain katun sederhana bertaut motif bunga pudar yang baunya bercampur antara detergen murah dan aroma kelembapan.
"Di–Dimana... aku?" bisik Cinderella.
Suaranya meluncur pelan, namun mendadak ia membeku. Cinderella memegang lehernya sendiri.
Suara itu bukan suaranya.
Suara yang baru saja keluar dari tenggorokannya terdengar lebih serak, lebih tinggi, dan memancarkan nada kepemudaan yang khas—suara seorang remaja, bukan suara wanita dewasa berusia 27 tahun yang biasa memberi instruksi di ruang rapat pimpinan eksekutif.
Dengan jantung yang mulai berdegup kencang akibat kebingungan yang melingkupinya, Cinderella mengulurkan kedua tangannya ke depan wajah.
Mata indahnya membelalak penuh kejutan.
Jemari yang ada di hadapannya tampak lebih pendek, dengan kulit yang agak pucat dan telapak tangan yang tidak semulus biasanya.
Tidak ada bekas polesan kuteks berkelas buatan salon ternama Paris pada kuku-kukunya.
Pakaian yang melilit tubuhnya pun hanya berupa kaus longgar bergambar grup musik indie yang sudah mulai luntur dan celana kain sedikit kumal.
"Ini... ini bukan tubuhku," gumamnya tak percaya.
Rasa panik mulai merayap naik menembus kesadarannya.
Apakah ia diselamatkan oleh seseorang lalu diubah penampilannya? Tidak, hal itu sama sekali tidak masuk akal.
Cinderella dengan bersusah payah menurunkan kakinya dari atas ranjang.
Telapak kakinya yang bertelanjang menyentuh lantai ubin yang dingin.
Ia menyapu pandangan ke seluruh ruangan dengan napas yang mulai tak teratur, mencari petunjuk, atau apa pun yang bisa menjelaskan kegilaan ini.
Matanya menangkap cermin gantung kecil berbingkai plastik merah yang menempel di pintu lemari.
Dengan langkah gemetar dan hampir tersandung kakinya sendiri, Cinderella melangkah mendekati cermin itu.
Ia menahan napas saat menatap bayangan yang terpantul di permukaan kaca yang agak buram tersebut.
Sosok yang menatapnya balik dari dalam cermin bukanlah Cinderella Huntington—wanita anggun berambut gelombang pirang gelap dengan garis wajah tegas dan mata tajam yang biasa menghiasi sampul majalah bisnis Amerika.
Sosok di dalam cermin adalah seorang gadis remaja.
Berusia sekitar 17 atau 18 tahun.
Matanya bundar namun redup, dikelilingi lingkaran hitam tebal seolah tak pernah tidur nyenyak selama Berhari-hari.
Kulitnya pucat, pipinya tirus, dan rambut hitam lurusnya jatuh berantakan melewati bahu.
Cinderella menyentuh pipinya sendiri. Bayangan di cermin melakukan gerakan yang persis sama.
Ia membuka mulutnya, dan sosok di cermin pun mengikutinya.
"Tuhan... permainan gila apa lagi ini?!" serunya frustrasi seraya melangkah mundur hingga punggungnya menabrak tepi meja belajar.
Satu sikutan lengannya secara tak sengaja menyenggol beberapa barang di atas meja hingga jatuh berserakan ke lantai.
Sebuah botol bening berukuran kecil menggelinding tepat di dekat kakinya.
Cinderella membungkuk dan memungut botol obat itu.
Labelnya menunjukkan bahwa itu adalah botol racikan pil penenang keras, dan kondisinya kini sudah benar-benar kosong melompong.
Di samping botol itu, tergeletak sebuah kartu identitas.
Cinderella mengambil kartu identitas berbahan plastik lunak tersebut.
Di sana tertera foto wajah gadis remaja yang sama dengan yang ada di cermin, lengkap dengan nama yang tercetak jelas:
Marcella Ember Vitiello
Saat matanya membaca nama itu, sebuah sengatan hebat mendadak menembus sel-sel otaknya.
Kepala Cinderella terasa seperti dihantam oleh palu godam.
Rasa sakit yang teramat sangat membuatnya mengerang dan terduduk di lantai, memegang kepalanya erat-erat.
Arus memori asing yang bukan miliknya membanjiri kesadarannya secara paksa, berputar cepat bak kaset yang diputar pada kecepatan tinggi.
Ingatan tentang perceraian menyakitkan antara kedua orang tua gadis ini.
Pertengkaran hebat di ruang tamu rumah kecil ini beberapa hari lalu, di mana sang ayah dan ibu saling melempar tanggung jawab karena tidak ada satu pun dari mereka yang mau membawa gadis bernama Ember ini ikut dalam kehidupan baru mereka.
“Bawa dia bersamamu! Aku harus pindah ke Chicago untuk pekerjaan baruku!”
“Enak saja! Kau pikir aku tidak punya kehidupan? Bawa saja dia, dia kan anakmu juga!”
Ingatan tentang bagaimana Ember—gadis kesepian ini—ditinggalkan sendirian di rumah kecil ini tanpa uang yang cukup, tanpa rasa kasih sayang, dan tanpa ada satu orang pun di dunia ini yang menginginkan keberadaannya.
Dan akhirnya, dalam puncak keputusasaan, Ember memilih menelan seluruh isi botol pil penenang itu untuk mengakhiri hidupnya yang hampa.
Pusing di kepalanya perlahan mereda, menyisakan napas Cinderella yang terengah-engah di atas lantai dingin.
Ia menatap kartu identitas di tangannya, lalu kembali menatap bayangan di cermin gantung.
Perlahan tapi pasti, pemikiran logisnya mulai menata kembali puzzle takdir yang absurd ini.
Cinderella Huntington telah mati.
Ia tewas di kamar penthouse malam itu setelah menarik pelatuk pistol.
Namun jiwanya... jiwanya rupanya tidak lenyap. Jiwanya terlempar dan terbangun di dalam raga Marcella Ember Vitiello, seorang gadis remaja yang baru saja menyerah pada hidupnya di waktu yang bersamaan.
Dua jiwa yang sama sekali tidak terkoneksi, namun disatukan oleh satu takdir yang identik: sama-sama dibuang, tidak pernah diinginkan, dan dikhianati oleh orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung mereka.
Cinderella memejamkan mata rapat-rapat.
Rasa berduka dan kebingungannya perlahan menguap, berganti menjadi sebuah kepasrahan dingin yang tajam.
Ia perlahan bangkit dari lantai, menegakkan tubuhnya yang tipis namun kini memancarkan aura yang sama sekali berbeda.
Tatapan matanya yang tadi redup milik Ember kini berkilat penuh dengan ketegasan dan kecerdasan dingin milik pimpinan Huntington Group.
"Ember..." bisiknya pelan pada bayangan di cermin.
"Rupanya takdir mengizinkan kita berdua untuk bertukar tempat dari penderitaan ini."
Cinderella mengusap rambut hitam lurusnya ke belakang.
Sumpah yang ia ucapkan beberapa detik sebelum menarik pelatuk pistol kembali bergema kuat di benaknya.
Ia tidak akan pernah lagi membiarkan dirinya diinjak-injak.
Ia tidak akan menangis karena tidak diinginkan, dan ia tidak akan pernah lagi mempercayai manisnya janji manusia.
"Mulai hari ini," ucap Cinderella dengan nada dingin yang mantap, "nama Cinderella Huntington telah mati. Aku adalah Marcella Ember Vitiello. Dan di kehidupan kedua ini... aku akan memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menghancurkanku lagi."
...----------------...
Pertama kali bikin cerita Transmigrasi 🙏🏻 Jangan lupa tinggalkan komentar nya kak Reader 🫶🏻