Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.
Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.
Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.
Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.
Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.
Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kurir dengan Amplop Rahasia
Hujan turun tipis di luar gedung NSM Company.
Sejak pagi, langit Jakarta diselimuti awan kelabu. Tetes air menempel di kaca-kaca tinggi gedung, membuat pemandangan kota dari lantai lima belas terlihat buram.
Elena berdiri di depan jendela ruangannya sambil memegang secangkir kopi yang sejak lima menit lalu tidak disentuh.
Pikirannya masih tertuju pada satu hal.
Dokumen 17-B.
Sejak Maya memberitahunya bahwa Pak Haris meminta pemeriksaan tambahan terhadap arsip keuangan tahun 2023, Elena merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Bukan karena permintaan itu melanggar prosedur.
Justru karena permintaan tersebut terlalu rapi.
Arman tahu bahwa Elena sedang mengawasi semua dokumen lama. Jika masih ada sesuatu yang ingin disembunyikan, orang yang cukup berpengalaman tidak akan menghilangkannya secara terburu-buru.
Mereka akan memastikan semuanya terlihat normal.
Ketukan terdengar dari pintu.
Tok. Tok.
"Masuk."
Maya muncul sambil membawa sebuah map tipis.
"Bu, ada sesuatu."
Elena langsung berbalik.
"Apa?"
"Seorang kurir datang ke lobi sekitar lima menit lalu."
Maya meletakkan map tersebut di atas meja.
"Dia membawa amplop untuk bagian direksi. Katanya ditujukan langsung kepada Ibu."
Elena mengerutkan kening.
"Siapa pengirimnya?"
"Itu masalahnya."
Maya membuka map dan mengeluarkan formulir penerimaan.
"Nama perusahaan pengirim tidak tercantum."
Elena menatap formulir tersebut.
"Alamat?"
"Ada."
Maya menunjuk bagian bawah kertas.
"Tapi hanya alamat gudang lama. Setelah saya cek dengan bagian legal, alamat tersebut sudah tidak digunakan sejak dua tahun lalu."
Elena mengambil napas perlahan.
"Dan kurirnya?"
"Masih menunggu di lobi."
Elena menatap Maya.
"Suruh dia naik."
Maya tidak langsung menjawab.
"Bu, saya menyarankan amplopnya jangan dibuka sebelum kita tahu siapa yang mengirim."
Elena mengangguk.
"Saya setuju."
Maya keluar.
Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun masuk mengenakan jaket kurir berwarna gelap. Tangannya memegang sebuah amplop cokelat berukuran cukup tebal.
"Bu Elena?"
"Ya."
Pria itu mendekat dan menyerahkan amplop tersebut.
"Ini untuk Ibu."
Elena tidak langsung mengambilnya.
"Siapa yang mengirim?"
Kurir tersebut melihat formulir di tangannya.
"Saya hanya menerima paket dari gudang transit. Tidak ada nama pengirim."
"Siapa yang menyerahkannya kepada Anda?"
"Seorang pria."
"Namanya?"
Kurir itu menggeleng.
"Dia tidak menyebutkan nama."
Maya menyipitkan mata.
"Bagaimana Anda bisa menerima paket tanpa identitas pengirim?"
Kurir itu tampak sedikit gugup.
"Maaf, Bu. Saya hanya menjalankan pengiriman."
Elena akhirnya mengambil amplop tersebut.
Tidak ada logo perusahaan.
Tidak ada alamat lengkap.
Hanya satu tulisan di bagian depan.
Untuk Elena — NSM Company.
Elena menatap amplop itu beberapa detik.
"Anda bisa pergi."
Kurir tersebut mengangguk dan berbalik.
Namun sebelum pintu tertutup, Maya berkata,
"Tunggu."
Kurir itu berhenti.
"Nomor kontak pengiriman?"
"Sudah ada di sistem."
"Pastikan data pengirimannya tidak dihapus."
"Baik, Bu."
Setelah kurir pergi, Maya langsung menutup pintu.
Elena meletakkan amplop di meja.
"Menurutmu?"
"Jangan buka di sini."
Maya membuka laci mejanya dan mengeluarkan sepasang sarung tangan lateks tipis.
Elena menaikkan sebelah alisnya. "Sejak kapan kamu menyimpan itu?"
"Sejak insiden audit bermasalah di divisi logistik tiga tahun lalu, Bu," jawab Maya tenang sambil memasang sarung tangannya dengan cekatan. "Kalau amplop anonim ini memang berkaitan dengan investigasi internal, kita perlakukan seperti barang bukti. Sidik jari kita berdua tidak boleh tertinggal di kertasnya."
Elena tersenyum tipis, mengapresiasi insting asistennya. "Lakukan."
Mereka membuka amplop dengan hati-hati.
Tidak ada perangkat aneh.
Tidak ada ancaman.
Hanya beberapa lembar dokumen lama.
Elena mengambil lembar pertama.
Matanya langsung tertuju pada judul.
Lampiran Pendukung Kontrak Jasa Logistik — Periode 2023.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Maya mengambil lembar kedua.
"Ini nomor referensi kontraknya."
Elena membaca angka tersebut.
Kemudian ia terdiam.
Nomor itu sama dengan nomor yang tercantum pada laporan audit internal yang ditemukan Andrian.
"Ini bukan dokumen baru."
Suara Elena terdengar pelan.
Maya mengangguk.
"Sepertinya dokumen pendukung kontrak lama."
Elena membalik halaman berikutnya.
Ada tabel pembayaran.
Tanggal.
Nomor invoice.
Nilai transaksi.
Nama vendor.
Dan beberapa catatan pemeriksaan internal.
Tidak ada sesuatu yang secara langsung menunjukkan siapa yang mengirim dokumen tersebut.
Tetapi ada satu catatan kecil di bagian bawah halaman terakhir.
Dokumen pendukung pemeriksaan ditahan atas instruksi internal.
Elena membacanya dua kali.
"Ditahan?"
Maya mengambil dokumen itu.
"Artinya dokumen ini pernah diminta untuk tidak diedarkan."
"Siapa yang memberikan instruksi?"
"Tidak tercantum."
Ruangan kembali sunyi.
Elena bersandar di kursinya.
Laporan audit yang ditemukan Andrian.
Dokumen 17-B.
Sekarang lampiran kontrak lama.
Semua mengarah ke periode yang sama.
Namun belum ada satu pun bukti yang cukup untuk menyimpulkan siapa yang berada di baliknya.
Elena menatap Maya.
"Bawa ini ke ruang arsip."
Maya mengangguk.
"Tapi sebelum itu, saya ingin seseorang yang memahami nomor referensi ini memeriksanya."
Elena langsung teringat satu orang.
"Hubungi Andrian."
Maya terdiam sesaat.
"Di Basement 2?"
"Ya."
Basement 2 masih sama seperti sebelumnya.
Pengap.
Berdebu.
Dan terlalu sunyi.
Andrian sedang jongkok di depan sebuah rak ketika suara langkah kaki terdengar dari ujung lorong.
Ia mengangkat kepala.
Maya muncul membawa map transparan.
Andrian berdiri.
"Bu Maya?"
Maya mengangkat map itu.
"Berhenti bekerja sebentar."
Andrian mengusap tangannya pada celana.
"Kalau ini inspeksi, saya sudah siap menunjukkan bukti bahwa saya masih hidup."
Maya mengabaikan candaan itu.
"Saya membawa sesuatu."
Ia menyerahkan satu lembar salinan dokumen.
Andrian membaca judulnya.
Wajahnya langsung berubah serius.
"Ini dokumen pendukung kontrak vendor?"
"Ya."
Andrian mengambilnya.
Matanya bergerak dari atas ke bawah.
Kemudian berhenti pada nomor referensi.
Ia mengenal nomor tersebut.
"Nomor ini..."
"Apa?"
Andrian menunjuk bagian tengah dokumen.
"Ini sama dengan nomor referensi yang ada di laporan audit yang gue temukan."
Maya mengangguk.
"Itulah alasan saya membawanya ke sini."
Andrian membaca halaman itu sekali lagi.
"Berarti dokumen ini memang bagian dari kontrak yang sama."
"Kelihatannya begitu."
Andrian mengamati cap dan tanggal pada dokumen.
"Tapi ada yang aneh."
"Apa?"
"Kalau ini benar-benar lampiran kontrak biasa, kenapa ada catatan bahwa dokumen pendukung pemeriksaan ditahan?"
Maya tidak menjawab.
Andrian menyerahkan kembali dokumen itu.
"Siapa yang mengirim?"
"Kami tidak tahu."
"Berarti jangan langsung percaya."
Maya menatapnya.
"Kenapa?"
"Karena orang yang sengaja mengirim dokumen tanpa nama bisa punya dua tujuan."
Andrian menunjuk dokumen tersebut.
"Pertama, dia memang ingin membantu."
Jarinya berpindah ke amplop.
"Kedua, dia ingin kita menemukan sesuatu yang memang dia sengaja persiapkan untuk kita temukan."
Maya terdiam.
Untuk sesaat, tatapannya kepada Andrian berubah.
Pemuda ini bukan lagi sekadar anak magang yang kebetulan menemukan arsip.
Ia mulai memahami cara sebuah permainan informasi bekerja.
Andrian melipat tangan.
"Kalau Bu Elena mau memeriksa ini, gue sarankan jangan jadikan dokumen ini sebagai bukti utama dulu."
"Kenapa?"
"Verifikasi nomor kontrak, tanggal, dan catatan pembayaran lewat sistem resmi. Kalau semuanya cocok, baru kita tahu dokumen ini asli."
Maya mengangguk pelan.
"Saya akan menyampaikan itu."
Andrian mengembalikan salinan dokumen.
Namun sebelum Maya pergi, matanya menangkap sesuatu.
"Bu Maya."
"Ya?"
"Di bagian bawah."
Maya menunduk.
Andrian menunjuk catatan kecil yang tercetak di halaman terakhir.
"Kalimat ini."
Maya membaca kembali.
Dokumen pendukung pemeriksaan ditahan atas instruksi internal.
Andrian mengerutkan kening.
"Kalau laporan auditnya sendiri ditemukan di Basement 2, berarti kemungkinan dokumen pendukung lainnya juga pernah dipindahkan ke sini."
Maya terdiam.
Tatapannya perlahan beralih ke lorong panjang penuh rak arsip.
Ribuan kotak.
Ribuan dokumen.
Dan mungkin, satu jawaban yang selama ini tersembunyi di antara semuanya.
"Kamu jangan mencari sendiri."
Andrian menatapnya.
"Kenapa?"
"Karena kalau memang ada orang yang sedang berusaha mengarahkan kita ke sesuatu, saya tidak ingin kamu menjadi orang pertama yang masuk ke perangkap."
Andrian mengangguk.
"Tenang, Bu. Gue juga nggak mau mati gara-gara kardus."
Maya hampir tertawa, tetapi menahannya.
"Serius."
"Serius."
Maya akhirnya pergi.
Andrian memperhatikan punggungnya menghilang di balik pintu.
Kemudian ia kembali menatap rak-rak arsip.
Kali ini, pandangannya berbeda.
Bukan lagi sekadar tumpukan kardus.
Melainkan jejak keputusan lama yang mungkin sengaja disembunyikan.
Sore menjelang malam.
Elena kembali ke ruangannya setelah mendapatkan laporan awal dari bagian keuangan.
"Bu."
Maya menyerahkan hasil pemeriksaan.
"Nomor kontrak dan tanggal dokumen cocok dengan data sistem."
Elena menghela napas.
"Jadi dokumennya asli."
"Setidaknya berdasarkan data yang kita punya."
Elena membuka lembar terakhir.
"Bagaimana dengan catatan penahanan?"
"Belum diketahui siapa yang memberikan instruksinya."
Elena menatap dokumen itu.
"Dan pengirim?"
"Kurirnya sudah meninggalkan gedung."
"Hubungi perusahaan kurir."
"Sudah."
Maya menunjukkan layar ponselnya.
"Nomor pengiriman aktif ketika paket diterima di gudang transit."
"Setelah itu?"
"Nonaktif."
Elena mengerutkan kening.
"Secepat itu?"
Maya mengangguk.
"Sepertinya nomor tersebut memang hanya digunakan untuk satu pengiriman."
Elena menyandarkan punggungnya.
"Berarti orang ini memang tidak ingin ditemukan."
Maya tidak membantah.
Elena menutup mata sejenak.
Kemudian sebuah kalimat dari dokumen tadi kembali muncul dalam pikirannya.
Dokumen pendukung pemeriksaan ditahan atas instruksi internal.
Kalau memang ada instruksi untuk menahan dokumen pendukung, berarti seseorang pernah mengetahui bahwa pemeriksaan sedang berlangsung.
Dan jika laporan audit 2023 bukan satu-satunya dokumen yang disembunyikan...
Berapa banyak laporan lain yang mengalami nasib sama?
"Bu."
Suara Maya membuat Elena membuka mata.
"Ada satu hal lagi."
"Apa?"
Maya menyerahkan selembar catatan kecil yang ditemukan di dalam amplop.
Catatan itu hanya terdiri dari satu kalimat.
Audit 2023 bukan satu-satunya laporan yang dibatalkan.
Elena membeku.
Matanya membaca kalimat tersebut berulang kali.
"Apa maksudnya?"
"Saya tidak tahu."
Maya menunjuk tulisan tangan di bagian bawah.
"Tapi lihat ini."
Di bawah kalimat itu terdapat angka kecil.
17-B.
Elena langsung teringat percakapan sebelumnya.
"Dokumen 17-B..."
Maya mengangguk.
"Sepertinya seseorang sengaja ingin kita menemukan dokumen itu."
Elena berdiri.
"Kalau begitu, kita cari."
Maya menatapnya.
"Secara resmi?"
Elena mengangguk tegas.
"Secara resmi."
Ia mengambil ponselnya.
"Dan kali ini, jangan beri siapa pun alasan untuk mengatakan bahwa kita menghilangkan atau memanipulasi bukti."
Maya tersenyum tipis.
"Baik, Bu."
Malam semakin larut.
Basement 2 hampir sepenuhnya gelap.
Andrian mengusap lehernya yang pegal. Ia sudah melangkah menuju dinding dekat pintu, bersiap menekan sakelar untuk mematikan lampu utama.
Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh tombol, embusan angin kasar dari kipas ventilasi tua di sudut ruangan tiba-tiba berputar lebih kencang.
Wusss.
Angin itu meniup jatuh setumpuk map kosong yang bersandar miring di rak paling bawah, tepat di ujung lorong yang suram.
Langkah Andrian terhenti.
Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan dengung pelan dari baling-baling kipas.
Ia berjalan perlahan menghampiri map yang berserakan itu. Niat awalnya hanya ingin merapikannya kembali. Namun, di balik tumpukan map yang jatuh tersebut, matanya menangkap keberadaan sebuah kotak tua berbahan karton tebal.
Kotak itu berbeda dari yang lain.
Tidak memiliki label nama departemen.
Tidak memiliki tanggal pengarsipan.
Hanya ada tulisan kecil dengan spidol hitam yang tintanya sudah memudar.
17-B.
Andrian membeku.
Tangannya perlahan menjulur, mendekati kotak berdebu tersebut.
Namun sebelum ujung jarinya sempat menyentuh permukaan karton, ponsel di sakunya bergetar keras memecah keheningan.
Satu pesan masuk.
Dari nomor yang sama seperti sebelumnya.
Nomor Tak Dikenal:
«Jangan buka kotak itu sendirian.»
Andrian menatap layar ponselnya.
Kemudian ia mengangkat wajah, menatap lekat kotak 17-B di hadapannya, lalu menyapu pandangan ke setiap sudut gelap Basement 2.
Untuk pertama kalinya sejak menemukan laporan audit, bulu kuduknya meremang hebat.
Seseorang tahu apa yang sedang ia lihat.
Bahkan sebelum ia sempat menyentuhnya.
Andrian perlahan menarik tangannya mundur.
"Siapa sebenarnya lo?" bisiknya pada kegelapan.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara kipas tua yang terus berputar.
Dan di antara ribuan arsip yang seharusnya telah dilupakan, satu kotak kecil dengan label 17-B kini berdiri seperti pintu menuju rahasia yang jauh lebih berbahaya.
Andrian tidak membukanya.
Belum.
Namun malam itu, ia tahu satu hal mutlak.
Permainan ini sudah berubah.
Seseorang bukan lagi sekadar memberinya petunjuk.
Seseorang sedang mengawasinya.
Bersambung...
Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥
Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆
Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥
Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨