Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Fajar yang Ditunggu
Tiga hari mereka bertahan di dalam gua, hidup dalam keremangan yang hanya diselingi cahaya matahari yang menyusup lewat mulut gua di siang hari. Bekal mulai menipis, dan beberapa santri senior bergantian keluar dengan hati-hati untuk memeriksa keadaan sekitar, memastikan tidak ada pasukan Belanda yang mendekat.
Pada hari ketiga, seorang pelari dari Karangtengah datang membawa kabar yang ditunggu-tunggu.
"Kiai!" serunya, napasnya terengah setelah mendaki jalan setapak menuju gua. "Pasukan Belanda sudah mundur ke arah utara. Katanya mereka fokus menguasai jalur utama, tidak masuk ke daerah pegunungan seperti sini."
Kelegaan menyebar di antara seluruh rombongan yang mendengar kabar itu. Kiai Wahid memimpin doa syukur singkat sebelum memberikan instruksi.
"Alhamdulillah. Tapi kita tetap harus hati-hati. Kita akan kembali ke Karangtengah secara bertahap, kelompok kecil dulu, untuk memastikan keadaan benar-benar aman sebelum semua kembali."
Zaki termasuk dalam kelompok pertama yang kembali ke dusun, bersama beberapa santri senior dan Ustaz Malik. Ketika mereka tiba, dusun itu tampak sepi tapi utuh, tidak ada tanda-tanda kerusakan besar, hanya beberapa rumah penduduk yang tampak ditinggalkan sementara oleh penghuninya yang mungkin juga sempat mengungsi lebih jauh.
"Alhamdulillah, dusun ini selamat," gumam Ustaz Malik, memeriksa sekeliling dengan teliti. "Mari kita siapkan untuk menyambut rombongan yang lain."
Selama dua hari berikutnya, seluruh rombongan pengungsian kembali secara bertahap dari gua ke Karangtengah, kelompok demi kelompok, dengan pengawasan ketat untuk memastikan keamanan setiap perjalanan.
Ketika kelompok yang membawa Nafisah dan para santriwati lain akhirnya tiba, Zaki merasakan kelegaan yang luar biasa melihat sosok itu berjalan dengan selamat, meski wajahnya tampak lelah dan sedikit kurus dari sebelumnya.
Mereka tidak sempat bicara panjang di hari kedatangan itu, karena kesibukan menata ulang kehidupan pengungsian menyita hampir seluruh waktu dan tenaga semua orang. Tapi pandangan singkat yang mereka tukar, sarat dengan kelegaan dan syukur, cukup untuk menyampaikan apa yang tidak sempat terucap dengan kata-kata.
Seminggu kemudian, ketika kehidupan di Karangtengah mulai kembali menemukan ritmenya, kabar baru datang dari kota: perundingan gencatan senjata yang dimediasi oleh pihak internasional akhirnya membuahkan hasil. Meski belum sepenuhnya damai, dan Belanda masih menguasai sejumlah wilayah strategis, setidaknya pertempuran besar-besaran mulai mereda di banyak daerah, termasuk di sekitar Sumberwungu.
"Ini belum kemerdekaan penuh," kata Kiai Wahid dalam pengumuman kepada seluruh rombongan, suaranya penuh kehati-hatian meski ada kelegaan yang tidak bisa disembunyikan. "Tapi ini kesempatan untuk kita mulai memikirkan kepulangan, perlahan-lahan, dengan tetap waspada."
Kabar itu disambut dengan syukur yang mendalam oleh seluruh rombongan, meski di baliknya juga ada kesadaran bahwa perjalanan pulang tidak akan semudah yang dibayangkan, mengingat kondisi Al-Hikmah yang sudah ditinggalkan berbulan-bulan, dan situasi politik yang masih jauh dari stabil.
Malam itu, Zaki duduk sendirian di tepi sungai, tempat yang sama di mana ia dan Nafisah pernah bicara terakhir kali sebelum mereka sepakat menahan diri. Ia menatap air yang mengalir tenang di bawah cahaya bulan, pikirannya melayang ke berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi ke depan: kepulangan ke Al-Hikmah, kabar tentang Darto yang sudah beberapa minggu tidak terdengar, dan tentu saja, masa depan hubungannya dengan Nafisah yang masih menggantung dalam ketidakpastian.
"Kang Zaki?"
Suara lembut itu mengejutkannya. Zaki menoleh dan mendapati Nafisah berdiri beberapa langkah darinya, membawa sebuah kendi kecil, seolah sedang dalam perjalanan mengambil air meski waktu sudah cukup larut.
"Mbak Nafisah. Malam-malam begini masih di luar?"
"Bu Nyai memintaku mengambil air untuk keperluan besok pagi," jawab Nafisah, meski Zaki curiga itu hanya alasan, mengingat air sebenarnya bisa diambil kapan saja di siang hari. "Boleh saya duduk sebentar, Kang? Hanya sebentar."
Zaki mengangguk, dan Nafisah duduk di atas batu besar, menjaga jarak yang wajar seperti kebiasaan mereka, meski di bawah cahaya bulan yang temaram, jarak itu terasa lebih dekat dari yang sebenarnya.
"Saya dengar kabar tentang kemungkinan kepulangan," kata Nafisah pelan, menatap air sungai yang berkilau ditimpa cahaya bulan.
"Iya, Mbak. Meski Kiai bilang, itu belum pasti kapan waktunya."
Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati kesunyian malam yang untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu terasa tenang tanpa bayang-bayang ketakutan akan serangan mendadak.
"Kang," kata Nafisah akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Boleh saya bertanya sesuatu, tentang yang Kang bilang waktu itu? Soal Gus Hanif yang bicara jujur dengan Kang?"
Zaki menatapnya, mempertimbangkan bagaimana menyampaikan percakapannya dengan Gus Hanif tanpa terkesan lancang atau menyalahi kepercayaan yang diberikan.
"Beliau bilang, Mbak," katanya perlahan, "bahwa perjodohan itu keinginan keluarga, bukan sepenuhnya keinginan beliau sendiri. Dan beliau tidak akan menjadi penghalang, kalau memang hati Mbak sudah menentukan pilihan lain."
Nafisah terdiam lama, matanya berkaca-kaca menatap air sungai yang mengalir tenang. "Gus Hanif memang orang yang baik," gumamnya akhirnya. "Terlalu baik, sampai kadang saya merasa tidak pantas menerima kebaikannya."
"Mbak tidak perlu merasa begitu," kata Zaki lembut. "Kejujuran hati bukan sesuatu yang harus disesali, Mbak. Justru itu yang membuat semuanya menjadi lebih baik untuk semua pihak."
Nafisah menoleh menatapnya, matanya basah tapi ada senyum kecil yang mulai terbit di bibirnya. "Kang benar. Terima kasih sudah mengatakan itu."
Mereka berdua kembali terdiam, tapi kali ini keheningan itu terasa berbeda, lebih lapang, seperti beban yang selama ini menggantung mulai perlahan terangkat, digantikan oleh harapan baru yang mulai tumbuh seiring dengan tanda-tanda perdamaian yang mulai terlihat di ufuk, meski masih jauh dari sempurna.
"Kang," kata Nafisah lagi, sebelum akhirnya berdiri untuk kembali ke perkemahan, "terima kasih sudah selalu menjaga kejujuran ini, meski dengan cara yang berat, menahan diri seperti yang kita sepakati."
"Sama-sama, Mbak. Dan terima kasih juga sudah sabar menunggu, di tengah semua ketidakpastian ini."
Nafisah tersenyum, mengangguk pelan, lalu berjalan pergi membawa kendi kecilnya, meninggalkan Zaki yang duduk sendirian di tepi sungai, hatinya penuh oleh harapan yang, meski masih rapuh, mulai terasa lebih nyata dari sebelumnya, seiring fajar perdamaian yang perlahan mulai menyingsing di ufuk yang selama ini gelap oleh bayang-bayang perang.