NovelToon NovelToon
Batal Cerai Setelah Suami Mendengar Isi Pikiran Sang Istri

Batal Cerai Setelah Suami Mendengar Isi Pikiran Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:61.6k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.

Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.

Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.

Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.

Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.

Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”

Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Sejak kejadian ciuman itu, ada sesuatu yang berubah di antara Alina dan Lorenzo. Bukan perubahan besar yang langsung terlihat oleh orang lain. Hanya saja, setiap kali Lorenzo berdiri terlalu dekat, tubuh Alina mendadak kaku. Setiap kali tangan pria itu bergerak mendekatinya, Alina refleks mundur satu langkah. Bahkan ketika mereka sedang makan bersama, Alina lebih sering sibuk memperhatikan piring daripada berani mengangkat wajah.

Bagi Alina, ciuman itu adalah kejadian yang memalukan. Bagi Lorenzo? Justru sebaliknya. Pria itu malah seperti menemukan sesuatu yang selama tiga tahun pernikahan mereka tidak pernah dia sadari.

"Mau apa kamu? Jangan dekat-dekat!" ucap Alina waspada sambil menutup mulutnya, ketika sedang mencuci tangan di wastafel.

"Aku mau mencuci piring," jawab Lorenzo enteng.

Lorenzo menyukai mencium Alina. Dan semakin dia memikirkannya, semakin besar keinginannya untuk mengulanginya.

Pagi berikutnya, cahaya matahari yang baru muncul perlahan masuk melalui celah tirai kamar. Alina masih tertidur pulas di sisi ranjang. Rambutnya sedikit berantakan, beberapa helai menutupi pipinya. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan saat terjaga.

Lorenzo sudah bangun lebih dulu. Dia menoleh ke arah Alina. Tatapannya berhenti cukup lama pada wajah istrinya. Kemudian, dengan gerakan sangat hati-hati, Lorenzo mendekat. Dia menyingkirkan beberapa helai rambut dari dahi Alina. Lalu mengecup keningnya pelan. Satu kecupan singkat.

Lorenzo tersenyum kecil. "Selamat pagi istriku," bisiknya.

Namun, entah kenapa, Lorenzo belum merasa puas. Tatapannya turun ke bibir Alina. Dia teringat ciuman mereka semalam. Tanpa banyak berpikir, Lorenzo kembali mendekat dan mengecup bibir Alina dengan lembut. Setelah itu dia segera menjauh, seolah tidak terjadi apa-apa.

Alina masih tertidur. Lorenzo justru tersenyum puas.

"Tahu rasanya begini, kenapa pas nikah dulu tidak aku cium bibirnya, malah pilih cium keningnya," gumam Lorenzo penuh penyesalan.

Pria itu menggeleng sambil terkekeh kecil. "Rugi bener tiga tahun tidak melakukannya."

Alina bergerak pelan dalam tidurnya. Lorenzo langsung pura-pura memejamkan mata.

Beberapa detik kemudian, Alina membuka mata. Dia menguap sambil mengusap wajah.

"Sudah pagi? Lorenzo bangun! Cepat buat sarapan!" Alina menggoyangkan bahu suaminya.

Lorenzo masih pura-pura tidur. Sehari tidak makan masakan Alina, dia merasa ada yang kurang.

"Pura-pura tidur saja. Biar dia yang buatkan sarapan," batin Lorenzo, jahil.

Alina menatapnya sebentar, kemudian turun dari ranjang. Begitu pintu kamar tertutup, Lorenzo membuka satu mata.

Senyum jahil muncul di wajahnya. "Kalau setiap pagi begini, sepertinya aku tidak keberatan bangun lebih awal."

Tidak lama kemudian, aroma telur goreng dan roti panggang memenuhi dapur. Alina sedang sibuk menyiapkan sarapan ketika mendengar langkah kaki dari belakang. Dia tidak menoleh.

"Kamu sudah bangun?" tanyanya sambil mengambil piring.

"Iya." Suara Lorenzo terdengar dekat sekali.

Alina baru hendak berbalik. Namun—

Cup! Sebuah kecupan mendarat di pipinya.

Alina langsung membeku. Tangannya yang memegang piring berhenti di udara. Matanya membesar.

Lorenzo sudah berjalan santai menuju meja makan seolah tidak melakukan apa pun.

Alina perlahan menyentuh pipinya. Panas.

"Lorenzo brengsek! Bisa-bisanya dia melakukan serangan mendadak!"

Lorenzo yang sudah duduk di kursi hampir tersenyum lebar, namun dia menahannya. Dia pura-pura sibuk mengambil roti.

Alina menatap punggungnya dengan kesal. Pria itu bahkan terlihat santai. Seolah mencium pipi istrinya secara tiba-tiba adalah kegiatan biasa.

"Kenapa dia jadi seperti ini setelah kejadian kemarin?"

Lorenzo menggigit roti sambil menahan senyum. "Kenapa berdiri saja?" tanyanya.

Alina tersentak. "Siapa yang berdiri?!"

"Kamu."

"Aku memang sedang mengambil piring."

"Oh."

Jawaban pendek itu justru membuat Alina semakin kesal. Dia meletakkan piring di meja dengan sedikit lebih keras.

"Jangan tiba-tiba menciumku lagi."

Lorenzo mengangkat alis. "Kenapa?"

"Ka-karena ...." Alina tidak bisa berkata-kata.

Wanita itu merasa malu. Selain itu detak jantungnya selalu berantakan. Dia takut suatu hari nanti dirinya terbiasa dengan sentuhan Lorenzo.

Alina akhirnya mendengus. "Pokoknya jangan!"

Lorenzo mengangguk santai. "Baik."

Alina menyipitkan mata. Dia merasa ada yang aneh dengan Lorenzo

Kenapa dia menurut begitu saja?

Alina tidak tahu bahwa di kepala Lorenzo justru sedang merancang sebuah ide lainnya. Lorenzo menahan senyum.

Bagus. Berarti lain kali harus lebih hati-hati supaya tidak ketahuan.

Beberapa jam kemudian, mereka berangkat ke kantor. Alina duduk di kursi penumpang sambil memeriksa beberapa jadwal rapat Lorenzo melalui tablet.

Setiap kali tanpa sengaja melihat wajah Lorenzo, pikirannya kembali mengingat kejadian pagi tadi. Alina buru-buru mengalihkan pandangan ke jendela.

"Aduuuh, kenapa terbayang terus ciumannya semalam."

Lorenzo yang sedang menyetir meliriknya sekilas. Dia mendengar isi pikiran Alina, tetapi memilih diam.

Sesampainya di gedung perkantoran, Lorenzo memarkir mobil di tempat biasa. Mesin dimatikan dan membuka sabuk pengamannya.

"Kita sudah sampai."

Lorenzo bukannya membuka pintu. Dia malah mendekat ke arah sang istri.

"Alina."

Alina hendak melepas sabuk pengaman. Namun sebelum dia sempat keluar, panggilan Lorenzo membuatnya menoleh.

"Hmm, apa?"

Lorenzo mendekat.

Alina langsung menoleh tanpa curiga. Belum sempat dia menjauh, Lorenzo sudah meraih dagunya dengan lembut dan mencium bibirnya lebih mesra dari semalam.

Mata Alina membesar. Tubuhnya masih tertahan sabuk pengaman sehingga dia tidak bisa langsung bergerak menjauh.

Beberapa detik kemudian Lorenzo melepaskannya. Pria itu tersenyum manis dan tatapan nakal.

Alina langsung menarik napas. Wajahnya merah padam. "Lorenzo!"

Pria itu justru tersenyum santai. "Ayo!"

Pria itu segara turun dari mobil.

Sementara Alina masih terpaku. Dia menyentuh bibirnya sendiri. Lipstiknya terasa berantakan.

"Astaga! Dia benar-benar tidak tahu tempat!"

Alina mengambil cermin kecil dari tas. Begitu melihat pantulan wajahnya, matanya langsung membesar. Lipstiknya memang sudah tidak berbentuk.

"Bibirku bengkak! Lipstikku juga rusak! Bagaimana aku masuk kantor begini?!"

Alina menatap pintu mobil dengan kesal. "Lorenzoooo!"

Sementara Lorenzo sudah berdiri beberapa langkah dari sana. Dia menoleh dengan senyum lebar.

"Alina, cepat! Kalau terlambat aku potong gaji kamu."

Alina turun dengan wajah cemberut.

1
Noor hidayati
kok dirumah lorenzo ga ada ART,di awal awal bab waktu lorenzo bilang mau menceraikan alina,terus alina saking senangnya sampai jingkrak jingkrak kan ada ART yang ngeliat alina heboh sendiri
Maulidia Okta
baru menyesal bang, kemarin2 kemana....
aku
beehhh!! 3 tahun ndul. selama itu pula kau manjakan jg gundikmu. gk adil bgt
aku
ini pada gak sadar apa bgmn? kata amnesia kok lgsg tau MAMA 😌😌
aku
🤣🤣🤣🤣 jangan mati dulu soale urusane cere lom kelar 🤣🤣🤣 aduhai 🤣🤣
Atik Kiswati
kalau apa.....nanggung ih...../Smug/
Felycia Fernandez
Bianca mau menjatuhkan mental Alina,malah dia yang sekarang terkejut dengar kenyataan semuanya 😆😆😆😆
Alina di lawan
Felycia Fernandez
karena itu ciuman pertama Alina...
pasti membekas di hati
Felycia Fernandez
😆😆😆😆😆😆
Pudkeciput
good job Al kamu cewek yg tdk mudah di intimidasi..👍
Felycia Fernandez
mulai sayang istri ya...bagus deh
Sastri Dalila
😅😅
Ita rahmawati
bagus lah Alina bukan tipe yg mudah di tindas 😍
Ita rahmawati
makanya lerenzo jgn sok sok GK doyan sekalinya coba ketagihan,, heeh 3 THN loh dianggurin itu istri 🤣
Ita rahmawati: bener LG 🤣🤣
total 4 replies
Lianty Itha Olivia
caritanya diakhir...kau...kugantung 😆😆😆 thoor ngomongnya kok setengah sih diakhir kalimat
Inooy
aq kira Alina akan mudah terintimidasi ama Bianca,,ternyata Alina modelan senggol bacok niih 😆

bagus Aal, kamu jangan mudah terprovokasi oleh kata2 Bianca..walaupun ada kata2 Bianca yg sedikit nya benar, tp kamu jangan takut..karena status kamu lebih tinggi dr pada Bianca yaitu seorang istri,,skali pun terjadi nya pernikahan karena perjodohan..tp kamu lebih kuat kedudukan nya, apalagi skarang Lorenzo nya udh mulai membuka hati dn membuka mata..klo selama ini dia udh d berikan berlian berkat perjodohan....
Inooy
hayooo..klo apa niiih!?? 🤔
Inooy
kamu y Reen mulai nakal kamuu,,kasian tau jantung Alina pasti g bisa d kondisikan gara2 serang ngedadak kamu 😆
Uthie
Kalaauuuuu... ?!???
penasaran niii Thor 😆😍🙏🙏
Inooy
itu kamu tau sendiri,,ada yg udh halal knapa masih ngurusin yg lain..nyesel kan kamu Ren!? 🤦‍♀️
Inooy: beneran kaa aq suka gedek sendiri klo liat istri2 yg cuma manut2 aj teh..🤭
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!