NovelToon NovelToon
Hiraisin: Legenda Pedang Kilat

Hiraisin: Legenda Pedang Kilat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Penyelamat
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: Astrius

Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan ke Perbatasan Utara

Angin utara bertiup kencang tanpa henti, membawa buiran es tipis yang menampar wajah dan menyayat kulit. Di hadapan Hiraisin dan Liora, membentang Dataran Angin Dingin—sebuah wilayah tak bertuan yang menjadi garis pemisah antara peradaban manusia dengan wilayah terlarang di utara Benua Tianlan.

Tanah di dataran ini berwarna hitam keabu-abuan, gersang tanpa pepohonan lebat. Hanya rumput-rumput berduri yang mampu bertahan hidup di tengah suhu mendidih yang membekukan. Di kejauhan, puncak-puncak Pegunungan Tulang Iblis menjulang tinggi bagaikan deretan gigi raksasa, tertutupi oleh gumpalan awan hitam yang pekat dan terus berputar.

Hiraisin melangkah dengan tenang di atas tanah berbatu basah. Jubah pengelana berwarna cokelat sederhana melambai-lambai diterpa angin kencang. Meskipun hawa dingin membekukan udara di sekitarnya, napas yang dihembuskan Hiraisin tetap hangat. Di dalam pembuluh darahnya, aliran Qi Petir Purba mengalir secara halus dan teratur, memancarkan hawa hangat alami yang menjaga tubuhnya dari cengkeraman cuaca ekstrem.

"Cobalah untuk memisahkan fokus aliran energi di Meridian Ren dan Meridian Du," ucap Liora yang berjalan dua langkah di sampingnya.

Liora mengenakan mantel tebal dari bulu serigala salju, dengan selendang hijau muda yang menutupi leher dan separuh wajah bagian bawahnya. Matanya yang jernih terus memperhatikan gerakan bahu dan pola napas Hiraisin.

"Saat kau berjalan di medan dingin seperti ini, dorong sepuluh persen energi petirmu melingkari saluran luar tubuh untuk menahan hawa dingin," lanjut Liora sabar. "Sisa sembilan puluh persen harus tetap mengendap tenang di dalam Dantian. Jangan biarkan energinya memicu percepatan denyut jantung yang tidak perlu."

Hiraisin mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang melalui hidungnya, membayangkan aliran listrik tipis di dalam tubuhnya bagaikan benang-benang sutra yang sangat halus.

Di bawah bimbingan Liora selama tiga hari perjalanan ini, Hiraisin belajar bahwa kekuatan sejati seorang pendekar bukan hanya terletak pada seberapa besar ledakan Qi yang bisa ia hasilkan, melainkan seberapa sempurna ia mampu mengendalikan setiap tetes energinya tanpa ada yang terbuang sia-sia.

Czzz...

Getaran liar di pergelangan tangan Hiraisin mendadak mereda. Rasa hangat yang tadinya bergejolak panas kini terbagi dengan sangat merata, menyelimuti permukaan kulitnya tanpa memicu percikan api kilat yang mencolok.

"Bagus sekali," puji Liora dengan senyuman lembut di balik selendangnya. "Penguasaan fokusmu jauh lebih cepat dari yang kubayangkan. Kebanyakan pendekar membutuhkan waktu bertahun-tahun hanya untuk mengisolasi arus Qi sekecil itu."

"Itu karena aku tidak punya waktu bertahun-tahun," jawab Hiraisin datar. Pandangan matanya menetap pada awan hitam di ujung utara. "Setiap detik yang kubuang adalah kesempatan bagi Raja Kegelapan untuk memperkuat pasukannya."

Liora menghela napas pelan, mengagumi tekad baja pemuda di sebelahnya. Namun sebelum ia sempat membalas, telinga Hiraisin yang tajam mendadak bergerak halus.

Kring... sst...

Suara erangan rendah bercampur gesekan cakar tajam di atas batu keras terdengar dari balik bukit batu di sebelah kanan mereka.

Hiraisin menyentuh hulu pedang patah di punggungnya, menghentikan langkahnya seketika. "Liora, bertahan di belakangku."

Liora tidak membantah. Ia mundur dua langkah, tangannya dengan cepat menyusup ke balik lipatan mantel untuk memegang kantong jarum racunnya.

Dari balik bayangan bukit batu, tiga ekor makhluk bertubuh besar melangkah keluar secara perlahan. Makhluk-makhluk itu menyerupai serigala gunung bertubuh raksasa, namun bulu mereka telah rontok dan digantikan oleh kulit kehitaman yang retak-retak. Dari celah retakan kulit mereka, mengalir cairan hitam pekat berbau amis yang memancarkan aura kegelapan yang menyengat.

Mata ketiga serigala itu berwarna merah darah tanpa pupil, memancarkan hawa pembunuh yang liar dan tanpa akal sehat.

"Serigala Bayangan Abyss..." bisik Liora dengan raut wajah berubah serius. "Mereka bukan lagi binatang buas biasa. Tubuh mereka telah terkontaminasi oleh Sihir Kegelapan milik Raja Kegelapan."

"Apakah sihir kegelapan sudah menyebar hingga sejauh ini dari Wilayah Abyss?" tanya Hiraisin, matanya menyempit tajam.

"Ini membuktikan bahwa segel batas wilayah terlarang kian melemah," jawab Liora cemas. "Pasukan Raja Kegelapan pasti sengaja melepas binatang-binatang terkontaminasi ini untuk memburu siapa saja yang mendekati wilayah utara."

GGRRRRRR!

Serigala terbesar menggerung nyaring, menghentakkan empat cakarnya dan melompat menerjang lurus ke arah tenggorokan Hiraisin dengan kecepatan yang luar biasa. Air liur beracun berwarna hitam menetes dari taringnya yang tajam.

Hiraisin tidak membuang gerakan. Ia tidak lagi mencabut pedangnya dengan ledakan petir yang membakar udara seperti dulu.

Zap!

Hiraisin bergeser setengah langkah ke samping dengan gerakan yang sangat luwes. Saat tubuh serigala raksasa itu melintasi sisinya, tangan kanan Hiraisin mengayunkan pedang patahnya dalam tebasan horizontal yang sangat pendek.

Garis cahaya ungu mikro—setipis benang jahit—terukir sekilas di udara.

CRASSS!

Kepala serigala raksasa itu terpisah dari lehernya sebelum tubuh besarnya sempat menghantam tanah. Darah hitam berbau busuk menyembur ke udara, namun Hiraisin telah mengibaskan jubahnya untuk menghalau cipratan tersebut.

Dua serigala sisanya meraung murka melihat pemimpin mereka tumbang seketika. Mereka menerjang bersamaan dari arah kiri dan kanan, mencoba mengurung ruang gerak Hiraisin.

"Jarum Seroja: Pengunci Jiwa!"

Liora mengibaskan tangan kirinya. Dua buah jarum perak meluncur presisi menancap tepat di dahi kedua serigala tersebut. Tubuh kedua binatang buas itu membeku kaku di udara selama setengah detik akibat racun penumpuh saraf.

Kesempatan singkat itu lebih dari cukup bagi Hiraisin.

Sst! Sst!

Dua tebasan kilat mikro meluncur cepat, membelah dada kedua serigala terkontaminasi tersebut hingga roboh tak bernyawa di atas tanah basah.

Pertarungan itu berakhir dalam hitungan detik tanpa meninggalkan ledakan energi yang mencolok.

Hiraisin berlutut di samping bangkai serigala, menggunakan ujung pedangnya untuk memeriksa cairan hitam yang keluar dari luka binatang tersebut. Cairan itu menggumpal menjadi kristal hitam kecil yang memancarkan pendar dingin yang jahat.

"Kristal Kegelapan..." gumam Hiraisin seraya menghancurkan kristal itu dengan injakan tumitnya hingga menjadi abu. "Raja Kegelapan menggunakan sihir ini untuk memanipulasi makhluk hidup menjadi monster tanpa pikiran."

Liora melangkah mendekat, memandangi abu kristal yang tertiup angin dingin.

"Dahulu, semasa Perang Iblis Purba," cerita Liora dengan suara pelan dan penuh penghormatan, "Raja Kegelapan menggunakan jutaan monster terkontaminasi seperti ini untuk meratakan kota-kota manusia. Pada masa-masa paling kelam itulah, Pendekar Pedang Kilat Pertama bangkit bersama Ordo Penjaga."

"Bagaimana Inti Pedang Kilat Pertama bisa berada di Lembah Badai Purba?" tanya Hiraisin penasaran seraya menyarungkan kembali pedangnya.

"Setelah pertarungan puncaknya menembus alam kegelapan," jelas Liora, "Pendekar Pedang Kilat Pertama mengorbankan fisik mortalnya untuk mengunci gerbang utama Abyss. Sebelum jiwanya kembali ke alam gaib, beliau membagi wujud murni kekuatannya menjadi tiga artefak utama. Inti pertama disembunyikan di dalam pusat badai abadi agar tidak ada penganut sihir hitam yang bisa menyentuhnya tanpa hancur terlebur."

Hiraisin menatap telapak tangannya sendiri. Ia merasakan betapa beratnya warisan yang kini terpikul di atas bahunya. Keberadaan energi petir di tubuhnya bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang ditinggalkan oleh sang leluhur untuk menyelesaikan perang yang belum usai.

Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri bukit-bukit batu gersang hingga sore hari tiba. Ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan warna jingga keemasan yang muram di balik kabut, keduanya akhirnya tiba di puncak celah bukit tertinggi.

Di bawah bukit tersebut, membentang sebuah jurang sempit yang menjadi satu-satunya celah gunung menuju wilayah dalam Lembah Badai Purba: Celah Badai.

Namun, langkah Hiraisin dan Liora terhenti di balik bayangan batu raksasa.

Di mulut celah gunung yang sempit itu, berdiri sebuah benteng barikade kayu dan besi hitam yang kokoh. Puluhan obor minyak tanah menyala terang di sepanjang dinding benteng, menerangi bendera-bendera hitam yang berkibar gagah ditiup angin malam.

Di atas bendera-bendera tersebut, terukir lambang bintang bersudut delapan berwarna merah darah.

"Pasukan Bintang Hitam..." bisik Liora dengan raut wajah menegang. "Pasukan elite di bawah komando langsung Jenderal Ravaka!"

Hiraisin memicingkan matanya. Dari balik kegelapan malam, ia melihat belasan prajurit berzirah besi hitam berlapis Runa kegelapan sedang bersiaga ketat di atas benteng. Mereka memegang busur silang raksasa yang diarahkan lurus ke luar celah.

Tidak hanya itu, di tengah pintu gerbang benteng, tampak sebuah formasi batu sihir hitam yang memancarkan kubah cahaya kemerahan, menutup rapat seluruh lorong celah gunung.

"Mereka telah memblokir total pintu masuk menuju Lembah Badai Purba," desis Hiraisin, matanya memancarkan pendar ungu keemasan yang tajam. "Ravaka tahu bahwa pewaris petir akan datang ke tempat ini."

Liora meraba peta proyeksi di dalam ingatannya. "Mengamuk menerobos gerbang itu sangat berbahaya, Hiraisin. Pasukan Bintang Hitam memiliki formasi pelindung gabungan. Jika kita memicu alaram benteng, seluruh pasukan perbatasan akan mengepung kita di celah sempit ini."

Langit di utara kian menggelap. Guntur gemuruh mulai bersahutan di balik pegunungan, menandakan badai perbatasan malam hari akan segera menerjang kawasan tersebut.

Hiraisin menatap gumpalan awan hitam yang memancar kilatan petir alami di atas benteng musuh. Sebuah senyuman dingin terukir di bibirnya.

"Badai malam akan segera tiba," bisik Hiraisin seraya menarik tudung jubah cokelatnya lebih rendah. "Dan di bawah naungan kilat malam, kita akan membongkar barikade ini dari dalam."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!