Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Air mata itu tidak bisa ditahan lagi.
Begitu pintu kamar tertutup dan suara Anya serta Soraya di ruang tamu terdengar samar, tubuh Arhan yang sejak pagi ia tegakkan dengan susah payah akhirnya ambruk. Ia duduk di tepi kasur, kasur mereka, kasur yang masih menyimpan lekuk tubuh Anya. Wangi sabun dan wangi rambut Anya masih tertinggal di bantal itu, wangi yang begitu familiar dan kini terasa begitu menyakitkan.
Ia tidak menangis dengan suara. Ia menangis dengan cara yang paling menyakitkan: bahunya bergetar hebat, dadanya sesak, tapi mulutnya ia bungkam rapat dengan kedua tangannya sendiri. Ia menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga agar tidak ada isakan yang lolos. Air mata itu mengalir deras, membasahi sela-sela jarinya, jatuh ke seprai biru muda di bawahnya.
Jangan sampai terdengar. Jangan sampai Anya dengar.
Tiga puluh hari.
Angka itu berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak yang tidak bisa dimatikan. Tiga puluh hari untuk menatap wajah ini. Tiga puluh hari untuk memegang tangan sedingin itu. Tiga puluh hari untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, padahal hatinya sudah hancur berkeping-keping sejak dokter mengucapkan vonis itu di rumah sakit kemarin.
Ia menatap seprai yang baru saja ia bentangkan. Seprai berwarna biru muda kesukaan Anya, warna langit pagi. Ia membayangkan Anya akan berbaring di sini nanti, dengan tubuh yang semakin ringan dan napas yang semakin pelan, seperti kapas yang diterbangkan angin.
"Kenapa harus dia?" bisiknya akhirnya, suaranya pecah dan serak, hampir tidak terdengar, hanya menjadi getaran di udara kamar yang sepi. "Kenapa harus Anya?"
Tidak ada jawaban. Hanya angin sore yang masuk dari jendela yang ia buka tadi, menggoyangkan gorden pelan dan membawa debu-debu halus yang menari di cahaya temaram.
Arhan duduk seperti itu selama hampir dua menit. Membiarkan semua kesedihan itu tumpah, tapi dalam diam. Ia membiarkan bahunya terguncang, membiarkan dadanya yang sesak itu mencari udara.
Setelah puas dan air matanya mulai mengering di pipi, ia menarik napas dalam-dalam. Satu kali, dua kali, tiga kali. Napas yang panjang dan bergetar, seperti orang yang baru saja tenggelam dan berhasil muncul ke permukaan. Ia mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan, menghapus jejak air mata dengan gerakan yang kasar.
Ia berdiri.
"Harus beres," gumamnya pada diri sendiri, suaranya masih serak. "Kamar harus rapi. Anya harus nyaman."
Ia melanjutkan pekerjaannya dengan gerakan yang lebih cepat, seolah kesibukan bisa mengusir sisa tangisnya yang masih tertinggal di sudut matanya. Ia merapikan bantal, menepuk-nepuk guling agar mengembang dan empuk, menyingkirkan buku bacaan Anya yang terbuka dan meletakkannya rapi di atas nakas dengan sampul menghadap atas.
Ia memunguti beberapa helai rambut yang rontok di atas bantal dan membuangnya ke tempat sampah kecil di sudut kamar, hatinya perih melihat rambut-rambut halus itu, ia tahu apa artinya.
Setelah kasur terlihat rapi dan nyaman dan tidak ada lagi lipatan yang mengganggu, ia berjalan ke kamar mandi yang ada di dalam kamar. Ia membuka keran, membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali sampai kulitnya terasa kebas. Ia menatap pantulannya di cermin yang agak buram. Matanya merah. Jelas sekali merah dan sembab.
Ia menepuk-nepuk pipinya sendiri, mencoba terlihat lebih segar dan tidak seperti orang yang baru saja menangis.
Baru setelah merasa cukup dan wajahnya tidak terlalu terlihat habis menangis, ia keluar dari kamar dan kembali ke ruang tamu.
Di ruang tamu, Anya dan Soraya sedang berbincang pelan. Soraya duduk di samping Anya, tangannya mengusap lengan putrinya dengan lembut, penuh kasih sayang seorang ibu yang tidak bisa menyembunyikan cemasnya.
"Rumah kamu masih sama, Anya. Cuma tamannya aja agak kering, kasihan bunga-bunga kamu," kata Soraya.
"Iya, Ma. Nanti kalau udah agak enakan, Anya mau siram lagi," jawab Anya dengan suara lembut dan senyum tipis.
Melihat Arhan datang dari arah kamar, keduanya menoleh bersamaan.
"Udah beres, Han?" tanya Soraya.
Arhan mengangguk dan mencoba tersenyum, senyum yang ia paksa muncul meski matanya masih basah. "Udah, Bu. Kasurnya udah rapi. Jendelanya juga udah aku buka biar udaranya masuk dan tidak pengap."
Anya menatap wajah suaminya lekat-lekat. Senyum Arhan tidak bisa menutupi matanya yang memerah.
"Han," panggil Anya pelan. "Sini."
Arhan mendekat dan berjongkok di depan Anya, sejajar dengan lututnya yang tertutup selimut tipis.
"Kenapa mata kamu merah?" tanya Anya langsung, tanpa basa-basi. Tangannya terangkat, ingin menyentuh pipi Arhan tapi ragu dan menggantung di udara.
Pertanyaan itu lagi. Anya selalu jeli melihatnya, selalu tahu kapan Arhan berbohong.
Arhan sudah menyiapkan jawaban sejak di kamar mandi tadi.
"Oh, ini? Tadi pas beresin kamar, debunya banyak banget. Apalagi di bawah kolong sama di atas lemari. Mataku kemasukan debu, perih. Makanya tadi aku langsung cuci muka," jawab Arhan cepat. Ia menggosok matanya sedikit, memperkuat alasannya agar terlihat meyakinkan.
"Debu?" Anya tampak tidak sepenuhnya percaya. Alisnya sedikit berkerut. "Banyak ya debunya? Padahal baru beberapa hari kita tinggalin."
"Iya. Mungkin karena jendela kemarin lupa ketutup rapat. Namanya juga rumah kosong, pasti debunya numpuk," sahut Soraya mencoba membantu menantu kesayangannya, ia menangkap isyarat dari mata Arhan yang memohon.
Arhan mengangguk cepat. "Iya. Makanya perih banget tadi. Tapi udah mendingan sekarang abis dicuci pakai air dingin."
Anya masih menatapnya beberapa detik, tatapan yang dalam dan menyelidik, lalu akhirnya mengangguk pelan. Ia tidak ingin mendebat suaminya lagi. Ia terlalu lelah untuk berpikir jauh.
"Ya udah. Makasih ya, Han. Udah repot-repot beresin kamar," kata Anya.
"Apapun buat kamu, An." Ucap Arhan.
Suasana hening sejenak. Hanya terdengar jam dinding berdetak pelan. Soraya melirik jam di dinding yang menunjukkan sudah hampir sore.
"Han, Anya udah kelihatan capek banget. Lebih baik bawa ke kamar aja ya biar bisa istirahat tiduran. Kasihan kalau duduk terus di sofa, nanti punggungnya sakit," kata Soraya.
"Iya, Bu. Bener," Arhan setuju.
Arhan berdiri, lalu dengan hati-hati membantu Anya berdiri dari sofa. Tubuh Anya yang ringan bersandar pada lengannya, hampir seluruh beratnya ditopang Arhan. Soraya membantu dari sisi lain, memapah punggung Anya dengan hati-hati.
Mereka berjalan pelan menuju kamar tidur. Langkah-langkah kecil Anya terdengar pelan di lantai kayu yang dingin. Dari ruang tamu ke kamar hanya butuh beberapa meter, tapi bagi Anya itu seperti perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan, napasnya terdengar agak berat.
Sampai di dalam kamar, Anya menghela napas lega melihat kasurnya yang sudah rapi dan wangi, terkena angin sore. Jendela terbuka, angin sore masuk dengan lembut menggoyangkan gorden biru muda itu.
"Enak banget kamar kita, Han," bisik Anya dengan senyum lega.
Arhan membantu Anya duduk di tepi kasur, lalu perlahan membantunya berbaring dengan posisi yang nyaman. Ia menarik selimut biru muda itu hingga menutupi perut Anya dan merapikan ujungnya.
Soraya berdiri di dekat pintu, menatap putrinya dengan tatapan sayang yang tidak bisa ia sembunyikan, mata ibunya sudah berkaca-kaca.
Saat itulah, Anya menoleh ke arah ibunya.
"Ma..."
"Iya, sayang?"
"Boleh Anya minta waktu sebentar? Anya mau ngobrol berdua aja sama Arhan."
Soraya terdiam sesaat, menatap Arhan dan Anya bergantian, lalu mengangguk dengan senyum penuh pengertian. Ia mengerti, mungkin ada hal-hal pribadi antara suami istri yang ingin dibicarakan tanpa ada orang lain.
"Oh, tentu. Tentu boleh, An. Mama tunggu di luar ya. Di dapur aja, Mama buatin teh hangat buat kalian."
"Makasih, Ma."
Soraya menatap Arhan sekilas, memberi isyarat dengan mata agar menjaga Anya baik-baik dan jangan membuatnya sedih, lalu ia keluar dari kamar dan menutup pintu pelan. Suara langkah kakinya menjauh menuju dapur, meninggalkan keheningan.
Kini, di dalam kamar yang temaram oleh cahaya sore itu, hanya tinggal berdua. Arhan dan Anya. Cahaya jingga masuk dari jendela.
Arhan masih berjongkok di samping kasur, tangannya masih menggenggam tangan Anya yang dingin dan kurus. Jantungnya berdegup kencang, tidak karuan, seperti genderang yang ditabuh keras.
Jika tadi ia kalut karena harus berbohong di depan dua orang, kini ia harus berhadapan sendirian dengan tatapan istrinya yang seolah bisa melihat langsung ke dalam hatinya yang sedang berantakan.
Hati Arhan semakin kalut.