NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:156.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Tenggelam, Lalu Menjadi Gendut

Vivian menggenggam setir sambil sesekali melirik jam di dashboard. Presentasi koleksi terbarunya berjalan lancar. Kontrak dengan brand internasional pun tinggal menunggu tanda tangan.

"Akhirnya... semua kerja kerasku terbayar."

Senyum tipis terukir di bibirnya. Ponsel di dasbor bergetar sebentar. Notifikasi biasa dari grup kerja, tapi ia mengabaikannya. Fokusnya tetap ke depan. Hujan deras membuat jalan licin, jarak pandang menyusut.

Dari arah berlawanan, sebuah truk besar mendadak oleng.

"Astaga!"

Tiiinnn...!

Vivian refleks membanting setir. Ban mobil kehilangan traksi di atas aspal yang basah.

Sreeet! Mobil berputar tak terkendali.

"Ya Tuhan...!"

BRAK!

Pembatas jembatan hancur diterjang mobilnya. Dalam hitungan detik, kendaraan itu meluncur bebas ke arah sungai yang arusnya sedang deras.

"TIDAAAAKKK!"

BYURR!

Air langsung masuk ke dalam kabin. Vivian berusaha membuka pintu, tetapi tidak bisa.

Sabuk pengaman. Tangannya gemetar saat mencoba menekan penguncinya.

Klik.

Sabuk terlepas. Ia mendorong pintu sekuat tenaga. Tetap tidak bergerak. Tekanan air dari luar membuat pintu seolah terkunci rapat. Napasnya mulai memburu.

"Gak... Aku belum mau mati. Masih banyak yang ingin kulakukan. Masih banyak mimpi yang belum kucapai."

Air terus naik hingga menutupi dagunya. Vivian memukul kaca jendela berkali-kali.

Brak!

Brak!

Brak!

Sia-sia. Pandangannya mulai kabur. Dadanya terasa seperti terbakar karena kehabisan udara.

"Tidak...”

"Aku belum nikah..."

"Aku gak mau mati perawan..."

Gelembung udara akhirnya menutup bibirnya. Tubuhnya melemah. Kelopak mata menutup. Gelap dan dingin menyelimuti.

Ada jeda. Sesuatu seperti vakum. Kesunyian penuh tekanan. Lalu tubuhnya seolah dicabut dari kegelapan.

Vivian membuka mata dengan susah payah. Masih ada air. Tetapi aneh, ia tidak lagi berada di dalam mobil. Arus sungai tetap deras menyeret tubuhnya.

"A-apa...?"

Air yang dingin menyesakkan dadanya. Vivian meronta. Matanya terbuka lebar, tetapi yang terlihat hanya air keruh yang terus menyeret tubuhnya. Dadanya terasa seperti akan meledak karena kehabisan napas.

"Bukankah... aku udah mati?"

"Apa tadi cuma pingsan?"

"Kalau aku udah mati... Lalu sekarang, aku berada di mana?"

Belum sempat memahami keadaan, sebuah tangan besar tiba-tiba mencengkeram lengannya dengan kuat.

Vivian spontan meraih lengan pria itu, sementara kesadarannya masih dipenuhi pertanyaan.

Tubuhnya ditarik ke atas. Sesaat kemudian kepalanya muncul ke permukaan.

"Hosh...!"

"Uhuk-! Uhuk-! Uhuk-!"

Vivian terbatuk-batuk hebat. Air memenuhi mulut dan hidungnya hingga membuat dadanya terasa perih.

"Tarik! Sedikit lagi!"

Beberapa orang ikut membantu pria yang memegang lengannya. Anehnya, mereka tampak kesulitan.

"Ayo! Berat banget!"

"Pegang yang kuat!"

Vivian mengernyit bingung. "Kenapa mereka kelihatan susah banget narik aku? Memangnya berat badanku seratus kilo?"

Dengan susah payah akhirnya tubuhnya berhasil diangkat ke tepian sungai. Vivian masih terbatuk sambil memuntahkan air yang tertelan.

Belum sempat mengatur napas, sebuah suara dingin terdengar dari sampingnya.

"Ini terakhir kalinya aku nyelametin kamu."

Vivian mengangkat kepala. Seorang pria bertubuh tegap berdiri beberapa langkah darinya. Seragam loreng yang dikenakannya masih basah kuyup. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan wajah tampannya nyaris tak memiliki cela.

"Buset... ganteng banget."

Hampir saja Vivian mengatakannya keras-keras. Namun, saat tatapan pria itu bertemu dengan matanya, ia langsung mengurungkan niat.

Sorot mata pria itu begitu dingin, seolah baru keluar dari lemari pendingin.

"Apa orang ini dibuat di freezer?"

Belum sempat Vivian mengalihkan pandangan, pria itu kembali bersuara dengan nada yang sama dinginnya.

"Kalau lain kali kamu mengancam bunuh diri lagi, aku bakal biarin kamu."

Vivian mengernyit. "Bunuh diri? Aku?"

Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang lain di sekitarnya yang mungkin sedang diajak bicara. Namun, pria itu masih menatap lurus ke arahnya.

"Berarti... dia ngomong sama aku?"

Vivian semakin bingung.

"Aku bahkan gak pernah kepikiran buat bunuh diri. Karierku lagi naik, hidupku baik-baik aja. Aku juga belum punya pacar, belum sempet ngerasain indahnya jatuh cinta. Ngapain aku bunuh diri? Konyol."

Seorang wanita paruh baya segera berlari menghampiri. Air mata membasahi pipinya.

"Sudah, jangan marahi Via lagi."

Wanita itu berjongkok, lalu menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Vivian dengan tangan gemetar.

"Levia... jangan nekat lagi ya, Nak. Kamu tahu betapa khawatir Ibu dan ayahmu. Apa yang harus Ibu bilang sama ayahmu jika terjadi sesuatu sama kamu."

"Levia?"

Vivian menatap wanita itu kebingungan.

"Siapa Levia?"

Nama itu seperti potongan teka-teki. Vivian mendengar sendiri, jelas ia dipanggil Levia.

Pria berseragam loreng itu mendengus pelan. "Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Vandra!" hardik wanita paruh baya itu. "Jaga ucapanmu!"

Vandra... Nama itu terasa begitu familiar. Vivian membeku.

Vandra... Levia...

Potongan-potongan ingatan mendadak bermunculan seperti banjir yang tak terbendung. Kepalanya mendadak nyeri hebat seperti dihantam benda tumpul.

Novel. Nama tokoh. Alur cerita. Ia pernah membaca novel itu beberapa minggu lalu. Judulnya masih membekas. "Arvandra: Janji yang Memaksa". Dan pemeran figuran yang bernama... Levia.

Ia ingat adegan ini; tiga halaman terakhir, Levia menenggelamkan diri karena putus asa.

"Gak... gak mungkin...."

Jantungnya berdetak semakin cepat.

"A-aku...."

Ia benar-benar masuk ke dalam dunia novel. Dan yang lebih mengerikan, ia bukan menjadi tokoh utama.

Melainkan Levia. Wanita obesitas yang tergila-gila pada teman masa kecilnya, Kapten Arvandra Jayasena. Demi memiliki pria itu, Levia bahkan menjebaknya hingga terpaksa menikah.

Seorang istri yang dibenci suaminya sendiri.

Menurut alur novel yang pernah dibacanya, hari ini seharusnya menjadi hari kematian Levia. Putus asa karena gagal mempertahankan pernikahannya, wanita itu memilih mengakhiri hidup dengan menceburkan diri ke sungai.

Mendadak Vivian teringat bagaimana dulu ia berkali-kali mengumpat Levia saat membaca novel itu.

"Dasar bodoh! Ngapain sih ngejer orang yang jelas-jelas gak cinta sama kamu? Sampai ngancem bunuh diri berkali-kali lagi. Mending fokus nurunin berat badan, terus cari laki-laki lain yang benar-benar ngehargain kamu. Masokis banget sih!"

Saat itu ia begitu yakin tak akan pernah bersimpati pada karakter Levia. Namun sekarang... Justru ia yang berada di dalam tubuh wanita itu.

Dengan gerakan kaku, Levia menunduk menatap tubuhnya sendiri. Lengannya membulat. Jari-jari montok. Tangannya gemetar saat menyentuh wajahnya sendiri. Pipinya terasa penuh. Lalu ia mencubitnya. Empuk. Perutnya juga menonjol.

"Ya ampun...." Wajahnya memucat. "Jadi sekarang... aku yang gendut?"

"Aaaaaa!"

Teriakannya menggema di sepanjang tepian sungai hingga membuat semua orang menoleh dan menatapnya dengan bingung.

 

...✨"Jangan pernah menertawakan takdir orang lain. Kita tidak pernah tahu kapan takdir itu memilih kita sebagai pemeran utamanya."✨...

.

To be continued

1
anonim
Bram dan Levia sudah meninggalkan meja makan.

Ninis, Bu Sari, juga Herman mencicipi ayam panggang masakan Levia.

Baru percaya bagaimana rasa masakan Levia.
anonim
Bram bilang, ini salah satu masakan terenak yang pernah dia makan.

Levia tertawa mendengarnya.

Bram jadi teringat istrinya yang suka masak untuknya.

Kalau Ayahnya suka, mulai sekarang Levia yang akan masak. Bram terharu mendengarnya.
anonim
Bram penasaran dengan rasa masakan putrinya. Mulailah Bram menyendok sedikit sup beserta potongan ikan.

Suapan pertama mata Bram membulat. Enak rupanya, masih belum percaya Levia yang masak.

Untuk suapan kedua Bram mengambil lebih banyak. Setelah menelan suapan kedua, Bram menggeleng pelan sambil tersenyum.

Bram memuji rasa masakan dan cara penyajiannya yang cantik.

Mendengar pujian Bram untuk putrinya, Bu Sari sampai melongo, Ninis masih sirik berpikir negatif.

Bram menikmati makan malamnya, menambah nasi setengah porsi.
Uthie
Bagus Vandra...tegas 👍👍😡
anonim
Makan malam sudah tersaji beberapa hidangan di meja yang sama sekali berbeda dari biasanya.

Makanan sehat hasil masakan Levia sudah tertata rapi, warnanya terlihat cerah, aroma masakan menggugah selera siapapun yang menciumnya.

Bram tertegun melihat hidangan di depannya dengan menu beda banget. Sampai mengira ada kedatangan tamu penting dan bertanya pada Bu Sari.

Mendengar Ninis mengatakan yang masak Levia, Bram seperti tak percaya.

Bahkan Bram masih belum percaya ketika Bu Sari mengatakan - Levia yang memasak semuanya.

Bram masih serasa mimpi melihat makanan yang terhidang apa beli dari restoran atau pesan katering.
anonim
Tuh kan Levia sudah tidak percaya sama Ninis yang sok perhatian tapi jelas menjerumuskan.

Levia mau masak sendiri makanan sehat. Bu Sari juru masak keluarga dan Ninis hari ini jadi asistennya.

Bu Sari mengambil semua bahan yang diminta Levia.

Levia mencuci sayuran sendiri. Memotong bahan-bahan masakan dengan ukuran yang sama.

Bu Sari dan Ninis pada heran melihat yang dikerjakan Levia.

Levia dengan dibantu dua asistennya, akhirnya masakan selesai.

Levia sendiri yang menata hasil masakannya. Potongan ayam, sayuran, kentang tumbuk disusun dengan sangat rapi.
Puji Hastuti
apa yang akan di lakukan oleh Pramono?
Siska Sutartini
dih enak aja, mentang anak jendral bisa bebas gitu. udahlah mengancam, mencelakai, ada bukti yg memberatkan juga. dahlah jendral harusnya kau mendidik anakmu dg benar. bukan ngandalin jabatan doang, tapi moral ga ada
Kadek Sri
lanjut
anonim
Vandra jadi kepikiran dengan perubahan yang terjadi pada Levia. Harusnya senang sesuai keinginannya, Levia sudah tidak bikin Vandra merasa tertekan.

Ninis masih mencoba mempengaruhi Levia. Levia yang sekarang sepertinya sudah tidak mau menuruti kemauan Ninis yang terlihat perhatian tapi menjerumuskan.
Anitha
Jabatan yang tinggi tidak berarti apa²,,kalo sudah seperti ini apa mau di kata bukti sudah jelas dari VIDIO yang menunjukan wajah Risa dan Ninis sedang menyusun rencana untuk mencelakai Levia...

Penjarakan saja biar jera,,Ayahnya ikut terseret
lin sya
penasaran klo pramono smkin bodoh dan smkin menghalalkan segala cara bisa bikin risa bebas gk ya, tp smga bukti yg diberikan vandra gk bsa dibeli sm uang, lgian siapa tau jabatan anak dan bpk bsa copot biar mikir klo gk pnya apa2 msih bsa sombong gk
Septi Wijaya
sebaiknya jangan cari jalan keluar dg cara kotor pak... nanti bukan cuma Risa yg ditahan... Anda pun bisa jd tersangka
Kadek Sri
lanjut
Siska Sutartini
tuh kan, masa si ninis dibiarin gitu dikasih pesangon lg. baiklah saatnya memperkarakan mereka. itu vancdra sempat merekam gak ya?
Siska Sutartini
risa oh risa itu namanya obsesi udah bukan cinta lagi. lagian lu buta apa gimana sih, org mau baikan sama bininya sendiri. lah elu siapa? orang luar. mentang2 bapaknya jendral dikira bisa seenak jidat gitu? sekalipun dipaksakan ga bakal berbuah manis
mery harwati
Minum kopi dulu aahh sambil menikmati akhir dari sang Jendral di dunia novel 😍
mery harwati
Apakah kasus hukum di novel ini akan sama dengan kasus² hukum di Negeri Naruto? 🤭
Negeri Naruto tercinta sudah terlalu sesak, mual, pening, muntah dan berakhir mentah oleh kasus² hukum yang menguap bagai uap air yang mendidih & akhirnya air itu dingin dengan sendirinya atw dingin karena dibekukan
🤣
Mundri Astuti
lah kamu ayahnya dari awal ngejerumusin anakmu sendiri, y begitu jadinya
Septi Wijaya
semoga jera
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!