Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Target
Mireya menggeleng dengan cepat. "Kalau dia ditaruh di pinggir, dia bisa jatuh. Elden tidurnya gerak-gerak terus."
Mireya langsung mengajak Elden tidur di posisi tengah. "Elden di sini ya? Biar nggak jatuh."
Elden mengangguk dan langsung mengambil posisi di tengah. Elden memiringkan badannya. "Bu ... usap-usap kayak biasa dong."
Arven membesarkan mata melihat putranya sendiri memunggunginya. Saat Arven akan bersuara, Mireya memberi kode, membuat Arven langsung terdiam.
Mireya segera merebahkan badannya dan mengusap punggung Elden sesuai permintaan. Sementara Arven, akhirnya memutar badan menghadap ke sisi lain.
.
.
Mireya sudah berada di lahan sejak matahari belum terlalu tinggi. Kali ini mereka tidak berdua.
Elden sedang memainkan tanah dengan sekop kecilnya. Sementara Arven berdiri beberapa langkah dari mereka dengan kedua tangan terlipat di dada.
Mireya meliriknya. “Mas.”
“Hm?”
“Kenapa berdiri saja?”
“Aku sedang mengawasi.”
Mireya mengangkat alis. “Aku berkebun bukan untuk diawasi.”
Arven menurunkan kedua tangannya, melirik sekop yang tergeletak di dekat kakinya.
Kemudian menatap Mireya. “Ini?”
“Iya.”
Arven mengambilnya. “Sebentar saja.”
Mireya tersenyum. “Katanya kemarin janji.”
“Aku tidak bilang akan seharian.”
Mereka bertiga akhirnya mulai bekerja. Elden menggali lubang kecil. Mireya memasukkan bibit. Arven menutup tanah. Tampak sederhana, tapi solid dan efektif.
Namun beberapa pekerja yang lewat sempat memperhatikan pemandangan itu dengan diam-diam. Tidak ada yang berani berkomentar.
Bagi mereka, Tuan Arven yang biasanya hanya berdiri memberikan perintah kini benar-benar memegang sekop.
Bahkan sesekali Mireya menegurnya. “Jangan terlalu dalam.”
“Sudah. Kalian saja yang menanam.” Arven menyerahkan sekop kepada Mireya.
Namun belum sempat berbalik, suara Pak Can terdengar dari arah rumah.
“Tuan!”
Arven menoleh. Pak Can berjalan cepat menghampiri mereka. Wajahnya terlihat lebih serius daripada biasanya.
“Ada apa?”
“Dari kantor.” Pak Can menyerahkan sebuah map. “Baru saja dikirim.”
Arven menerima map tersebut. Ia membukanya.
Mireya yang berdiri tidak jauh dari sana memperhatikan perubahan raut wajah suaminya. “Ada masalah?”
Arven tidak langsung menjawab. Matanya membaca halaman pertama. Kemudian halaman kedua. Dahinya perlahan berkerut.
“Mas?”
Arven menutup map itu. “Tidak apa-apa.”
Mireya menatapnya. “Kalau tidak apa-apa, kenapa wajahmu begitu?”
“Ada urusan perusahaan.”
Mireya mengangguk. “Kalau memang penting, pergilah.”
Arven menatapnya. “Aku akan kembali.”
Mireya mengangguk. “Kami tunggu.”
Elden langsung mengangkat sekop. “Ayah harus kembali sebelum makan siang!”
Arven mengusap kepala putranya. “Ayah usahakan.”
Kemudian ia pergi bersama Pak Can.
Mireya memperhatikan mobil itu meninggalkan halaman. Entah kenapa, kali ini ada perasaan tidak enak yang muncul di dalam hatinya.
Namun ia segera menggeleng.
“Elden, ayo lanjut.”
.
.
.
Di dalam mobil, Arven membuka kembali map yang tadi diberikan Pak Can.
“Kenapa perusahaan meminta pertemuan mendadak?”
Pak Can menggeleng. “Saya juga belum tahu, Tuan.”
Arven membaca surat tersebut sekali lagi. Perusahaan yang selama ini menyewa sebagian lahan miliknya meminta peninjauan ulang terhadap kerja sama.
Alasannya sederhana. Hasil produksi dianggap tidak stabil. Arven mengerutkan kening.
“Tidak stabil?”
“Padahal laporan terakhir cukup baik.”
“Justru itu.”
Arven menutup map. “Cari semua laporan produksi tiga bulan terakhir.”
“Baik.”
“Dan cari tahu siapa yang mengajukan peninjauan ulang ini.”
Pak Can mengangguk. “Baik, Tuan.”
Kendaraan terus melaju, tak lama kemudian ponsel Arven berdering.
“Ya?”
Suara dari seberang terdengar tergesa-gesa. Arven mendengarkan tanpa menyela.
Semakin lama, wajahnya semakin dingin. “Apa kau yakin?”
Ia terdaim, tetapi kepalanya sedikit menggeleng. “Jangan lakukan apa pun sebelum aku datang.”
Panggilan berakhir.
Pak Can melirik dari kursi depan. “Ada apa, Tuan?”
Arven tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju ke jalan di depan. “Beberapa pekerja baru saja menerima kabar.”
“Kabar apa?”
“Mereka diminta menandatangani surat pengunduran diri.”
Pak Can terkejut. “Siapa yang meminta?”
Arven menggeleng. “Belum diketahui.”
Tangannya mengepal di atas map. Masih masalah di wilayah timur. Berawal dari keterlambatan pembayaran. Peninjauan ulang kerja sama perusahaan. Dan sekarang para pekerja mulai diminta meninggalkan lahan.
Semua terjadi hampir bersamaan. Arven menyipitkan mata.
“Kita harus segera mencari biang keroknya.”
.
.
.
Sementara itu, di sebuah ruangan kantor yang berbeda, Daryanto sedang duduk bersama seseorang.
Sebuah dokumen terletak di atas meja.bPria di hadapannya membaca halaman terakhir.
“Kalau surat ini benar-benar beredar, para pekerja pasti akan panik.”
Daryanto tersenyum tipis. “Memang itu tujuannya.”
“Lalu setelah itu?”
Daryanto bersandar. “Setelah Arven mulai kehilangan kendali atas lahannya…”
Ia berhenti sejenak. Kemudian mengambil ponselnya. Sebuah pesan baru saja masuk. Daryanto membacanya.
Wajahnya berubah. “Apa?”
Pria di depannya menatapnya. “Ada masalah?”
Daryanto memperlihatkan layar ponselnya. Sebuah pesan singkat tertulis di sana.
[ Jangan ganggu perkebunannya dulu. Target utama kita bukan Arven. ]
Daryanto mengerutkan kening. “Kalau bukan Arven, lalu siapa?”
Pesan berikutnya masuk. Daryanto membacanya perlahan.
[ Istrinya. ]
Tangannya berhenti bergerak.
"Apa hubungan semua ini dengan istrinya?"
*bersambung*
ayooo belajar galak
perlu aku kesana ga?
bantuin jambak🫣🤣🤣🤣
kepercayaan itu ga tumbuh dalam semalem..
dia udah pernah mencoba mempercayai seseorang dengan segenap jiwa dan raganya ,dan endingnya menyakitkan.
jadi cobalah kau bangun kepercayaan nya dulu
ambil simpatinya, dan sembuh kan lukanya
baru dia akan bisa membuka hatinya🥹
lucu amet si mereka🤣🤣
kontrak oh kontrak🤔
mending jujur daripada mantan mertua yang mengacaukan semua greget sama Mire
trauma diselingkuhi itu kyk kangker dufalam tubuh,ga keliatan tapi sakitnya nyata. merasuk Ampe kedalam aliran darah dan otak kita tanpa kita sadari
selalu mempertanyakan apakah kita cukup baik
apakah ini semua karena salah kita?
apakah ada g kurang dr kita?
sampai mati pasti kebawa🥹🥹
Mau nya lupa
maunya ga dipikirin
tapi...🫣🥹🥹
Dia takut nasib pernikahannya akan sama dgn sebelumnya
bahkan sekelas artis sebelah aj yg lagi rame
ketemu yg baru,setengah mampus nyerein istrinya 🤣🤣.
katanya yg baru dipilih karena lemah lembut.
hei...kami juga awalnya kembang desa
pas lama nikah jadi kembang api🤣🤣🤣
apalagi pengalaman mireya yg paket komplit...🥹
hatinya aja ga ada gerbang nya di KK
ga ada yg jagain🤣🤣🤣
Iddah itu berlaku pas suami ngucapin talak kan?
nah...si b4ngs4t itukan nalak nya udah lama...lebih dr 3 bulan kali
di pengadilan mah tinggal ketik pali doank
wahhhh....begini orang yg ga ngerti agama sok sok an mau pake dalili agama
tapi bener Lo
kita yg terbiasa di sajikan pisau didepan mata,tetibaan dikasih bunga
pasti bingung kan ya🫣🥹🥹