Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Jebakan Dokter Bedah
Keesokan pagi, Theo baru saja menyelesaikan operasi bedah pada seorang pasien selama hampir enam jam. Begitu keluar dari ruang operasi, seorang dokter residen buru-buru menghampiri.
"Dokter Theo. Ada jadwal makan malam dengan perwakilan PT Arga Medika."
Theo melepas sarung tangan operasi. "Yang mengurus alat kesehatan itu?"
"Iya, Dok."
Theo melirik Bonar yang berdiri tak jauh darinya. Bonar hanya mengangguk pelan. Target sudah masuk jebakan sesuai rencana. Theo mengambil map yang disodorkan.
Di sudut kanan atas ... tertera sebuah nama.
Delvando Argianda.
Sudut bibir Theo nyaris tak bergerak. "Terima."
Dokter residen tampak bingung. "Jadwalnya jadi dilanjutkan?"
"Iya." Theo menutup map.
"Tapi ..."
Ia menatap Bonar. "Sampaikan satu syarat yang harus dipenuhi."
.
.
Beralih ke kantor Vando
Vando baru saja menerima telepon.
"Selamat siang, Pak Delvando. Dokter Theodore bersedia menerima permintaan kerja sama dengan perusahaan Anda."
Mata Vando langsung berbinar. "Benarkah?"
"Tapi beliau memiliki sebuah persyaratan yang harus dipenuhi."
"Persyaratan seperti apa?"
"Beliau ingin makan malam nanti dilaksanakan dalam suasana kekeluargaan."
Vando tersenyum. "Tidak masalah."
"Silakan Bapak membawa pasangan. Bukankah, Anda sudah menikah?"
Senyum Vando perlahan memudar. "Harus kah bersama istri?"
"Iya. Dokter Theodore mengatakan beliau akan lebih nyaman jika kerja sama bisnis ini disaksikan langsung oleh keluarga rekan kerjanya."
Telepon pun ditutup. Vando mengusap pelipis. "Sial."
Padahal, awalnya ia ingin datang bersama Irana. Karena mereka bekerja pada perusahaan yang sama. Bukan bersama Milka.
.
.
Pada sore harinya, ia menemukan Milka sedang menyiram bunga. Karena sejak awal, jadwalnya memang dikosongkan atasan, Milka tak memiliki banyak pekerjaan meski cuti telah dibatalkan. Sehingga, ia bisa pulang lebih awal, untuk menyelidiki tindak-tanduk suaminya dengan diam-diam.
"Milka, apa kamu mau menemaniku bertemu klien penting?"
Milka menghentikan aktivitasnya sejenak dan menoleh. "Kenapa harus aku? Bukan kah biasanya masih bersama orang-orang kantor kamu, Mas?"
"Klien kali ini meminta bersama keluarga. Berhubung aku sudah menikah, jadi mereka meminta aku datang bersama istri."
"Ada ya, yang seperti itu?" Kalau begini, bisa menyita waktu Milka untuk mengusut perselingkuhan antara suami dan sahabatnya.
"Ini permintaan langsung dari klien. Agar bisa mendapatkan kerja sama dengan mereka, terpaksa harus kita turuti."
Milka menghela napas. Sebenarnya ia tak peduli perusahaan yang mempekerjakan dua pengkhianat ini akan hancur atau tidak. "Memangnya sepenting itu?"
"Sangat. Kalau kerja sama ini berhasil, karierku bisa naik."
"Baik lah," ucap Milka dengan berat hati. Namun, akhirnya ia memilih untuk mengalah kali ini.
.
.
.
Gedung AD Medical Center tampak menjulang megah di tengah kota. Dinding kaca membuat bangunan itu terlihat begitu modern dan berkelas.
Delvando Argianda merapikan dasinya beberapa kali sebelum turun dari mobil.
Di sampingnya, Milka ikut keluar dengan mengenakan gaun sederhana tetapi elegan, menemani Vando memenuhi undangan makan malam dengan seorang dokter spesialis bedah yang konon memiliki pengaruh besar di dunia medis.
"Ini untuk pertama kalinya, aku datang sebagai pendamping orang lain. Biasanya, aku datang memang sebagai orang yang diundang secara langsung," gumam Milka pelan.
Vando tersenyum tipis. "Ya, karena sekarang kamu sudah menjadi istriku."
Milka memasang wajah datar mengikuti langkah Vando memasuki lobi rumah sakit.
Para dokter dan perawat yang berpapasan dengan mereka langsung memberi salam hormat. Beberapa dari mereka bahkan berhenti sejenak hanya untuk menundukkan kepala.
Melihat pemandangan itu, Vando semakin yakin bahwa yang akan ditemuinya bukanlah orang sembarangan.
"Dokter Theodore sudah menunggu di Executive Lounge."
Seorang sekretaris cantik mempersilakan mereka naik menggunakan lift khusus. Selama perjalanan menuju lantai paling atas, jantung Vando berdebar sedikit lebih cepat.
Nama Theodore Arlov Darmawan sudah berkali-kali ia dengar. Dan, baru kali ini lah pertama kali menemuinya secara langsung.
Seorang dokter bedah konsultan yang usianya bahkan belum menginjak tiga puluh tahun, tetapi reputasinya telah menembus berbagai negara.
Banyak perusahaan berlomba mendapatkan kerja sama dengannya. Termasuk perusahaan tempat Vando bekerja. Pintu lift terbuka perlahan. Executive Lounge tampak terang dan tenang.
Ruangan itu didominasi warna putih dengan jendela kaca yang menghadap seluruh kota. Di dekat jendela, seorang pria sedang berdiri menatap indahnya pemandangan malam di kota ini.
Jas dokter putih terbalut rapi di tubuh tegapnya. Satu tangan berada di saku celana, sementara tangan lainnya memegang secangkir kopi hitam. Perlahan pria itu berbalik.
Tatapan mata mereka bertemu. Senyumnya tipis. Nyaris tak terlihat. Namun cukup membuat suasana hati Vando menjadi semakin berdebar.
"Selamat malam." Suara berat itu terdengar tenang.
Milka tersentak dan perlahan tersenyum kaku. Ia mencoba-coba merangkai alasan keberadaannya di sini. Seseorang penting itu ternyata, orang yang beberapa waktu lalu melihatnya menangis.
"Kak Theo?"
*bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣