Alexa Steviola mati mengenaskan bersama janinnya saat terjadi kecelakaan tunggal, saat membuka mata dia tidak percaya jika dia terbangun sebelum kecelakaan itu terjadi.
Diberikan kesempatan kedua Alexa tidak menyia-nyiakannya lagi, dia tidak akan mengejar cinta Lucas suaminya lagi, dia memilih untuk mundur mencoba menjalani hidup yang lebih tenang tanpa harus memaksa Lucas mencintainya.
Lucas sendiri adalah pria yang dia jebak hingga dirinya hamil, Lucas awalnya adalah tunangan Catherine yang merupakan bibi Alexa, hanya karena rasa cemburunya pada Catherine membuatnya gelap mata. Kehidupan kali ini dia memilih untuk mundur, tidak ada gunanya memaksakan perasaan seseorang apalagi Lucas yang dikehidupan sebelumnya sangat mencintai Catherine.
Tetapi perubahan Alexa membuat Lucas kebingungan bahkan Lucas marah saat Alexa berkata ingin bercerai dengannya, Lucas berkata sampai kapanpun dia tidak akan melepaskan Alexa.
Mampukah Alexa mengubah takdir hidupnya? Stay tune!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mari Bercerai!
Lucas membawa Alexa berjalan pelan menuju taman samping rumah. Di sana terdapat sebuah gazebo kayu berukuran kecil yang menghadap langsung ke kolam ikan koi dengan gemericik air yang menenangkan. Lucas merasa Alexa sangat membutuhkan udara segar untuk menenangkan pikirannya yang kalut.
Malam itu udara London terasa sejuk. Lucas mendudukkan Alexa di bangku gazebo, sementara ia sendiri duduk di sampingnya. Pria itu tidak lagi memaksanya untuk makan. Makanan yang tadi dibawakan oleh Ben bahkan sudah diperintahkan nya kepada pelayan untuk dimasukkan ke dalam lemari es.
Lucas menatap Alexa yang sejak tadi hanya membisu. Pria itu sama sekali tidak menyangka bahwa pertahanan emosi Alexa bisa meledak sehebat tadi.
"Apakah aku memang terlalu berlebihan padanya selama ini?" batin Lucas bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Namun, di sudut hatinya yang lain, Lucas merasa bahwa semua ini terjadi karena ulah Alexa sendiri. Wanita itulah yang menyebabkan kerumitan ini dari awal, menjebaknya hingga hamil dan memaksanya mengikat pernikahan, padahal ia sudah bertunangan dengan Catherine yang merupakan bibi kandung Alexa. Hubungan itu menjadi sangat rumit dan berantakan. Lucas merasa dirinya juga korban dari keegoisan masa lalu Alexa.
Lalu mengapa... mengapa saat melihat tangisan histeris Alexa tadi, dadanya mendadak menyengat perih? Terutama saat wanita itu memegang dadanya dan meratap bahwa hatinya sangat sakit, Lucas merasa ikut terluka secara misterius.
Lucas menatap ke arah cangkir berisi susu cokelat hangat yang berada di genggaman tangan Alexa.
"Apakah kamu sudah lebih tenang?" tanya Lucas, break dari kesunyian dengan suara rendahnya.
Alexa tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari permukaan cangkir.
Beberapa saat kemudian, Alexa memutar kepalanya perlahan, menatap wajah kaku Lucas. Sisa air mata masih membasahi pipinya yang pucat, dan matanya memancarkan rasa sedih yang amat mendalam. Tanpa bisa ditahan, bulir air mata baru kembali menetes membasahi pipinya.
Bibir halus Alexa bergetar pelan. "Lucas..."
Lucas menatapnya kaku. "Bicara."
"Maafkan aku..." bisik Alexa dengan suara serak yang tertahan.
"Maafkan aku, Lucas..."
Lucas tetap diam, pandangannya terkunci pada raut kepasrahan di wajah istrinya.
"Aku minta maaf karena sudah bersalah merebut mu dari Bibi Catherine," tutur Alexa perlahan, mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan apa yang ada di hatinya.
"Aku... aku sudah sadar akan semua kesalahanku di masa lalu. Aku sangat menyesal."
Lucas masih bungkam, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Alexa. Namun, rahang pria itu mendadak mengetat keras saat kalimat berikutnya terucap dari mulut wanita di hadapannya.
"Pernikahan kita... kita harus bercerai secepatnya, Lucas," ujar Alexa pasrah dengan tatapan mata yang jujur tanpa tuntutan.
Mata abu-abu Lucas berkilat tajam seketika.
"Lagipula pernikahan kita tidak tercatat secara hukum," lanjut Alexa dengan senyum tipis yang amat miris.
"Mengurus perpisahan di antara kita pasti akan sangat mudah dan tidak merepotkan mu."
"Alexa—"
"Aku juga akan menemui keluarga Clinton nanti," potong Alexa cepat sebelum Lucas sempat menuntaskan panggilannya.
"Aku akan meminta maaf langsung pada keluargamu karena sudah membuatmu terjebak dalam situasi rumit dan memalukan seperti ini. Aku yang akan bertanggung jawab penuh atas kesalahan yang kubuat."
Alexa menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas cangkir susu hangat di tangannya. Ia benar-benar telah menyerah. Rasa lelah, ditolak oleh keluarganya sendiri, dan ketidakpastian hubungannya dengan Lucas membuatnya enggan menambah masalah lagi di dunia ini.
"Kamu tidak perlu khawatir," bisik Alexa lagi, suaranya terdengar makin lirih.
"Setelah kita bercerai nanti... aku tidak akan pernah melarangmu untuk bertemu dengan anak kita. Kamu adalah ayahnya. Kamu bebas menemuinya kapan pun kamu mau."
Keheningan melingkupi gazebo itu selama beberapa saat. Hanya suara gemericik air kolam koi yang terdengar membelah sunyi.
Alexa mendongak perlahan, menatap mata kaku suaminya sekali lagi. "Dan... terima kasih banyak, Lucas."
Lucas menyipitkan matanya tipis. "Untuk apa?"
"Terima kasih sudah memberiku tempat tinggal yang sangat bagus dan nyaman selama beberapa bulan ini," sahut Alexa penuh ketulusan.
"Sejujurnya... selama ini aku memang tidak pernah punya tempat yang benar-benar bisa kusebut rumah. Aku selalu merasa diriku hanya menumpang di rumah orang lain, baik di kediaman Ebera... maupun di sini."
Kata-kata itu terucap begitu saja dari bibir Alexa, tanpa nada dendam atau amarah, melainkan kesadaran penuh akan posisinya.
Setelah itu, hening kembali tercipta di antara mereka.
Lucas tidak membuka suaranya sedikit pun. Pria bertubuh tinggi itu tetap duduk membisu, menatap lekat-lekat pada wajah lelah dan pucat istrinya. Di balik ketenangannya yang membeku, raut wajah Lucas mengeras tajam. Pria itu tampak sekuat tenaga menahan gejolak emosi besar yang berkecamuk di dalam dadanya.
"Kalau begitu, mari kita bercerai," ucap Alexa tenang.
Buku-buku jari tangannya yang terbenam di dalam saku celana mengepal amat erat. Pria yang biasanya selalu memegang kendali atas segala hal dalam hidupnya itu kini hanya diam menatap Alexa, seolah sedang memikirkan dan merencanakan sesuatu di dalam benaknya, sebuah rencana tersembunyi yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.
Bersambung...
lanjut up lagi thor💪💪💪💪💪💪
lanjut thor