NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Transmigrasi Ke Tubuh Istri Idiot Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.

Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.

Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.

Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Arlan menunduk, menatap Karin yang kini sedang sibuk menumpuk balok kayunya dengan formasi yang aneh. Ia tidak menumpuknya lurus ke atas, melainkan membuat dasarnya lebar dan melebar, lalu memperkecil bagian atasnya, dan menggunakan balok kayu ringan untuk bagian atapnya.

"Karin," suara Arlan terdengar berbeda. Tidak sedingin biasanya, ada nada terkejut yang samar. "Kenapa kamu menyusun baloknya seperti itu?"

Karin mendongak, wajahnya berlumuran sedikit debu dari kotak mainan. "Biar rumahnya kuat, Kak! Kakinya harus besar biar bisa pegang perutnya. Terus atapnya harus pakai balok yang enteng, biar nggak bikin pusing. Kalau Kak Arlan mau rumahnya nggak pusing, ganti aja atapnya pakai daun. Daun kan ringan, terus bisa fotosintesis. Nanti rumahnya jadi sehat!"

Arlan menatap istrinya lekat-lekat. Wanita di hadapannya ini baru saja secara tidak sengaja atau mungkin sengaja?menyelesaikan masalah yang membuat tim insinyurnya berdebat selama tiga hari.

Solusinya sederhana yaitu kurangi beban di bagian atas, perkuat dan perlebar basis penyangga di bawah, atau ganti material fasad atas dengan yang lebih ringan seperti panel komposit.

"Daun..." gumam Arlan, sudut bibirnya naik sedikit. "Panel komposit ringan. Kau benar, Karin. Fasadnya terlalu berat."

Karin tersenyum lebar, menunjukkan gigi putihnya. "Tuh kan! Aku pintar, kan, Kak? Nanti kalau rumahnya udah sembuh, jangan lupa kasih aku hadiah ya. Aku mau es krim rasa rumput laut!"

Arlan tertawa.

Suara tawa itu sangat singkat, hanya satu helaian napas yang keluar dari tenggorokannya, tapi itu adalah tawa yang nyata. Arlan menutup laptopnya, lalu menatap Karin yang masih duduk di lantai.

"Kau memang... unik, Karin," ucap Arlan pelan. Ia menunduk, menatap balok kayu yang disusun istrinya. "Bagaimana kalau hadiahnya es krim rasa cokelat saja? Rumput laut tidak cocok untuk es krim."

Karin memasang wajah berpikir, lalu mengangguk setuju. "Boleh! Tapi harus ada topping permen karetnya ya, Kak!"

"Baiklah," Arlan mengangguk, kembali menatap layar laptopnya, tapi kali ini dengan senyum tipis yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia mulai menggambar sketsa revisi dengan cepat.

Di lantai, Karin tersenyum puas. Langkah keempat berhasil! Menyelamatkan proyek miliaran rupiah tanpa ketahuan! Aku benar-benar jenius!

Namun, saat Arlan menoleh untuk mengambil penghapus, matanya menangkap sesuatu. Karin sedang tidak melihat ke arahnya. Wanita itu sedang menatap sketsa revisi yang baru saja dibuat Arlan di atas kertas transparan, dan mata Karin yang biasanya terlihat kosong dan polos sedikit menyipit, menganalisis garis-garis struktur itu dengan ketajaman yang sama sekali tidak dimiliki oleh seorang idiot.

Hanya selama dua detik. Lalu Karin kembali mengacak-acak balok kayunya dan tertawa sendiri.

Arlan membeku. Jantungnya berdetak aneh. Apakah aku salah lihat tadi? batinnya. Tadi matanya... terlihat sangat tajam.

Pria itu menatap punggung istrinya yang sedang bermain balok. Topeng kebodohan Karin mungkin sangat tebal, tapi untuk pertama kalinya, Arlan merasa ada retakan kecil di topeng itu. Dan anehnya, ia ingin melihat apa yang ada di baliknya.

***

Keesokan paginya, suasana sarapan di kediaman Dirgantara terasa sedikit berbeda. Arlan tidak langsung membuka tabletnya. Ia duduk dengan secangkir kopi, menatap Karin yang sedang berusaha menyeimbangkan sendok di atas hidungnya.

"Karin," panggil Arlan, suaranya terdengar santai, tapi ada nada menguji yang samar. "Turunkan sendok itu. Aku punya pertanyaan untukmu."

Karin kaget, sendok itu jatuh ke piringnya dengan suara *ting*. *Bahaya! CEO dingin mau menguji kecerdasanku!* batin Karin, alarm di kepalanya berbunyi nyaring.

"Iya, Kak Arlan?" jawab Karin, memasang wajah polos sambil mengedipkan sebelah mata yang agak kram karena usahanya menahan sendok tadi.

Arlan menatapnya lekat-lekat. "Katakan padaku. Jika ada tiga ekor burung hinggap di pagar, lalu kau tembak satu, berapa sisa burung di pagar?"

Ini adalah jebakan klasik. Jawaban logis dan matematis adalah dua. Tapi jawaban yang benar secara logika dunia nyata adalah nol, karena suara tembakan akan membuat burung yang lain terbang ketakutan. Tokoh asli Karin pasti akan menjawab dua, lalu dihina oleh Arlan karena tidak bisa berpikir sederhana.

Karin memutar otaknya. Jika ia menjawab nol, Arlan akan berpikir, *'Oh, istriku ternyata tidak sebodoh yang kukira, dia tahu efek suara tembakan.'* Itu berbahaya! Ia harus menjawab dengan cara yang paling tidak masuk akal, tapi terdengar seperti logika seorang idiot sejati.

Karin mengerutkan kening, pura-pura berpikir keras hingga pipinya mengembung. "Hmm... kalau aku tembak satu..." Karin menatap Arlan dengan mata membelalak ngeri. "Nol, Kak! Pagarnya jadi kotor!"

Arlan mengangkat alisnya. "Kotor? Maksudmu?"

"Iya, Kak! Darahnya muncrat ke pagar! Kalau pagar putih jadi bernoda merah. Nanti tetangga marah, terus tukang kebun dimarahi Bos, terus kita harus bayar orang buat bersihin darah. Ribet, Kak! Jadi lebih baik jangan nembak burung di dekat pagar. Mending nembaknya di tanah, biar darahnya nyerep. Jadi pagarnya tetap bersih!"

Arlan terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, lalu tertutup kembali. Pria itu menatap istrinya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ia mengharapkan jawaban matematis, atau setidaknya jawaban logis tentang burung yang terbang. Tapi istrinya ini malah khawatir soal biaya kebersihan dan tetangga yang marah.

"Kau... benar-benar memikirkan hal yang tidak terpikirkan oleh siapa pun, Karin," ucap Arlan akhirnya, memijat pelipisnya. Namun, sudut bibirnya berkedut lagi. "Baiklah. Hari ini temani aku makan siang di kantor."

Karin nyaris tersedak ludahnya sendiri. *Kantor?! Sarang Vanessa?!*

"Di kantor? Tapi Kak Arlan, aku nggak punya baju kerja. Nanti aku dikira satpam kalau pakai baju kuning ini," protes Karin.

"Pakai saja baju yang biasa. Aku hanya ingin kau menemaniku. Jangan banyak alasan."

1
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Susi Nugroho
Lanjut
ALEXIS A.😇
up kak
Susi Nugroho
Lanjut
Kucingku Hitam
seruu😍
lanjut kn thor💪
Susi Nugroho
,Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!