Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'
Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.
Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!
Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!
Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!
Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Simulasi Ketahanan Pangan dan Sentuhan di Sudut Bibir
"Uhuk! Uhuk! Bau apaan nih? Waduh, kebakaran?!"
Adit refleks berlari ke arah dapur dengan wajah pucat. Tangannya bergerak cepat melepas kancing jasnya agar bisa bergerak lebih leluasa memadamkan bencana buatan istrinya. Adit melempar jas navy-nya ke kursi makan dengan gerakan frustrasi, seolah benda mahal itu baru saja diselamatkan dari medan perang asap yang mengerikan.
"Minggir! Minggir lo, Nyonya Huru-hara!"
Adit merangsek maju. Tangannya dengan sigap memutar kenop kompor induksi dan mencabut kabel pemanggang roti seolah sedang menjinakkan bom waktu yang siap meledakkan seisi penthouse mewah mereka.
Setelah kepulan asap sedikit mereda, Adit berbalik. Ia berkacak pinggang, napasnya naik-turun memburu. Pria itu memberikan pelototan paling tajam yang biasanya sanggup membuat direktur keuangan gemetar ketakutan—tapi sepertinya tatapan itu sama sekali tidak mempan buat Sella.
"Lo sebenarnya mau sarapan apa mau ritual bakar rumah gue, hah?!" bentak Adit, suaranya naik satu oktav karena emosi yang tertahan di dada.
"Kurang puas lo setelah tadi hampir bikin gue mandul di sofa, sekarang mau bikin gue jadi gembel karena apartemen ini hangus?!"
Sella, yang masih memegang tutup panci di depan dada seperti tameng prajurit Romawi, hanya menyengir lebar tanpa dosa. Sepasang mata bulatnya mengerjap polos menatap sang suami.
"Ya sorry, Om. Gue kan cuma mau berbakti sebagai istri yang lapar. Perut gue sudah menggelar konser rock nih, Om. Hehe," sahut Sella dengan nada jenaka.
Adit tidak tahan lagi menghadapi kebebalan mahasiswi di depannya ini. Ia menyambar tutup panci dari tangan Sella dengan kasar.
BRAKK!
Ia membanting tutup logam itu ke atas meja marmer hingga suaranya bergema nyaring di penjuru dapur.
"Berbakti lo bilang? Coba lo lihat baik-baik pakai mata bulat lo itu!"
Adit menunjuk wajan dengan jari yang gemetar. "Ini telur mata sapi apa arang batok kelapa? Ini roti bakar apa fosil kayu? Lo bisa masak nggak sih sebenarnya?!"
Sella memajukan bibirnya lima sentimeter, tampak tersinggung tapi tak berdaya menghadapi kenyataan di depan matanya.
"Nggak bisa," jawabnya singkat, padat, dan sangat jujur.
Adit memijat pangkal hidungnya, menggeleng-gelengkan kepala seolah tidak percaya dengan garis takdir hidupnya.
"Ck, ck, ck... gue nggak menyangka. Tampang doang estetik, tapi disuruh memecahkan telur aja malah bikin bencana nasional. Sudah, lo mending diam, duduk manis, dan jangan sentuh apa pun yang berhubungan dengan api atau listrik!"
Adit menyambar celemek hitam yang tergantung di dinding, lalu memakainya di atas kemeja putih mahalnya yang licin. Pemandangan itu sangat kontras; wajah garang seorang CEO muda, tapi mengenakan celemek dapur untuk membereskan kekacauan.
"Loh, Om mau ngapain?"
Sella dengan santainya memanjat kursi kitchen bar, menopang dagu menggunakan kedua tangannya sambil bersiap menonton pertunjukan gratis di depannya.
"Menurut lo?! Gue mau kayang jilid dua?!" semprot Adit sambil mulai membersihkan sisa pembantaian telur gosong Sella.
Ia bergerak sangat cekatan, mengeluarkan stok wagyu beef premium dan kentang segar dari dalam kulkas dengan gerakan penuh emosi.
"Emang Om bisa masak?"
Sella memicingkan mata bulatnya, meragukan kemampuan pria kaku yang biasanya cuma tahu beres di atas meja kantor pusat itu.
"Ya bisalah! Lo pikir gue hidup selama ini cuma makan aspal?!"
Adit mulai mencuci kentang di wastafel, lalu memotongnya di atas talenan kayu dengan cepat.
TAK! TAK! TAK!
Bunyi pisau yang menghantam talenan itu terdengar sangat keras dan bertenaga. Adit sengaja menghentakkan pisaunya, seolah-olah sedang membayangkan kentang tersebut adalah kepala Sella yang minta dijewer karena saking gemasnya.
"Jangan lama-lama ya, Om! Gue sudah hampir pingsan nih menahan lapar. Kalau bisa masakannya yang enak, bumbunya yang meresap sampai ke dalam sanubari," celetuk Sella tanpa tahu diri.
Pisau di tangan Adit mendadak terhenti di udara. Ia melotot horor ke arah Sella, memutarkan badannya perlahan dengan aura gelap yang mengintimidasi mental.
"Dengar ya, Mahasiswi Sableng. Yang statusnya istri di sini tuh lo apa gue, hah? Kenapa jadi gue yang beralih profesi jadi babu lo di dapur?!"
Adit menunjuk tumpukan telur gosong tadi dengan ujung pisaunya. "Noh! Kalau lo nggak sabar dan mau masakan yang bumbunya meresap sampai ke sanubari, makan tuh telur arang! Dijamin langsung meresap dan merusak usus buntu lo!"
Sella hanya terkekeh pelan. Pengaruh halusinasi obat semalam memang sudah hilang, namun jiwa bar-barnya sama sekali tidak takut dengan ancaman drakula kaku yang sedang sibuk memotong kentang itu.
"Ya sudah, gue makan! Tapi jangan salahin gue kalau nanti gue langsung laporan ke Papa lewat telepon. Gue bakal bilang kalau di Paris gue ditelantarkan, disuruh tidur di balkon, dan dikasih makan arang hitam sama lo, Om!"
Sella menyilangkan kedua tangan di depan dada, sepasang matanya berkilat penuh kemenangan.
Adit seketika membeku kaku di tempatnya berdiri. Pisau di tangannya nyaris saja terlepas mencium lantai marmer. Ia tahu betul kalau Sella itu adalah informan tingkat dewa, dan Papa mertuanya adalah jenis pria militer yang bisa nekat mengirimkan rudal atau terbang ke Paris hari ini juga jika mendengar putri kesayangannya kelaparan.
Seketika, ekspresi wajah garang Adit berubah drastis dalam sekejap mata. Pria itu memaksakan sebuah senyuman yang sangat lebar—begitu lebar sampai-sampai otot pipinya terasa kaku dan kram.
"Aduh, Sayang... sensitif banget sih jadi orang? Gue cuma bercanda, Sella. Masa iya suami setampan gue tega membiarkan istri cantiknya makan telur gosong? Itu kan tadi cuma bagian dari simulasi ketahanan pangan keluarga kita."
Namun, jauh di dalam lubuk kepalanya, Adit sedang berteriak histeris menahan frustrasi: Sabar, Adit... Sabar. Kalau bapaknya nggak galak dan punya pangkat militer, sudah gue bungkus nih cewek pakai karpet tebal terus gue paketkan balik ke Jakarta hari ini juga!
****
Sepuluh menit berlalu dengan cepat, dan aroma harum dari mentega serta daging panggang yang gurih mulai memenuhi seluruh ruangan dapur mewah tersebut. Adit menyajikan dua piring Steak Frites sederhana namun dengan aroma yang luar biasa menggoda iman perut yang kelaparan. Kentangnya digoreng hingga berwarna keemasan, dan potongan daging premiumnya tampak berkilau karena lelehan saus garlic butter.
Sella takjub melihat estetika hidangan di depannya. Ia menarik piring tersebut ke hadapannya dengan sepasang mata yang berbinar cerah.
"Wah... ini beneran lo yang masak, Om? Bukan sulap bukan sihir, kan?"
"Makan aja, nggak usah banyak tanya. Keburu dagingnya dingin," gumam Adit sembari melepas celemek hitamnya. Ia mengambil posisi duduk di kursi seberang Sella, masih dengan kemeja kantor putihnya yang kini sedikit tercemar bau bawang putih.
Sella memotong daging tersebut menggunakan pisau dan memasukkannya ke dalam mulut. Detik itu juga, kedua matanya langsung membelalak sempurna karena terkejut.
"Demi apa?! Kok rasanya enak banget?!"
Sella mengunyah dengan penuh semangat sampai kedua pipinya menggembung bulat seperti seekor tupai yang sedang menyembunyikan cadangan makanan.
"Om, lo ternyata jauh lebih cocok beralih profesi jadi koki restoran daripada jadi drakula kaku di kantor pusat. Ini mah rasanya bintang lima!"
Adit berusaha keras menahan senyum bangga yang ingin lolos dari bibirnya. Ia menyeruput kopi hitam pekatnya dengan gaya elegan khas kaum elit, mencoba mengembalikan kewarasan dan mode CEO berwibawa ke dalam dirinya.
"Ya jelaslah. Gue pernah tinggal dan hidup sendiri selama masa kuliah di London. Skill masak gue itu sudah masuk level survival, bukan level mi instan amatir kayak lo."
Sella tidak memedulikan ejekan itu sama sekali. Ia terlalu sibuk memanjakan lidahnya dengan kelembutan daging wagyu buatan suaminya.
"Kalau tiap hari makannya begini, gue betah deh tinggal di Paris. Tapi besok-besok masak privatnya jangan pakai emosi dan marah-marah ya? Nanti rasa dagingnya jadi rasa dendam."
Adit mendengus pelan mendengar celetukan mahasiswi berusia 19 tahun tersebut. Namun, tatapan matanya perlahan melembut saat melihat Sella makan dengan sangat lahap, sampai-sampai ada sedikit noda saus mentega yang tersisa di sudut bibir mungilnya.
"Pelan-pelan makannya. Nggak bakal ada yang merebut makanan lo, Sella."
Tanpa sadar dan digerakkan oleh insting yang murni alami, Adit mengulurkan tangan kanannya ke depan. Ibu jarinya bergerak lembut mengusap noda saus yang mengotori sudut bibir Sella.
Gerakan perhatian itu terasa begitu spontan dan hangat, sampai-sampai keduanya mendadak mematung kaku di tempat.
Suasana dapur mewah yang semula dipenuhi oleh adu mulut yang bising, tiba-tiba berubah menjadi sunyi senyap yang mendebarkan saraf. Sella mendadak berhenti mengunyah, dan jantungnya melakukan gerakan maraton tanpa izin dari pemiliknya. Tatapan mata Adit yang biasanya tajam, kaku, dan penuh perhitungan bisnis, sekarang terasa sangat... berbeda di mata Sella.
"Ada... ada saus di bibir lo," bisik Adit, nada suaranya mendadak berubah menjadi serak dan berat.
Pria itu segera menarik kembali tangannya dengan cepat, seolah-olah jemarinya baru saja menyentuh kobaran api yang membakar kulitnya.
Sella menelan potongan makanan di dalam mulutnya dengan susah payah, seluruh wajah cantiknya mendadak berubah warna menjadi semerah buah stroberi matang karena salah tingkah.
"O-oh... makasih, Om. Lo... tumben bertindak baik sama gue."
Adit berdehem dengan sangat keras untuk menetralkan kembali atmosfer canggung yang merayap di antara mereka berdua. Pria itu buru-buru membetulkan letak jam tangan mewahnya.
"Gue cuma nggak mau lo punya alasan baru buat mengadu ke Papa kalau gue nggak menjaga kebersihan dan kesehatan lo selama di Paris. Sudah, cepat habiskan makanan lo! Gue harus segera berangkat ke kantor cabang sekarang juga."