Ketika nama seorang Kaisar Langit mengguncang seluruh Alam Fana, sebuah rahasia tua mulai bergerak di balik dunia yang dikuasai sekte, kekaisaran, dan para kultivator.
Di tengah pusaran kekuasaan itu, Ye Chan, mendapati jalan hidupnya berubah setelah sebuah tragedi menghancurkan segalanya.
Dari sana, ia melangkah kembali ke dunia kultivasi, berhadapan dengan kekuatan yang jauh melampaui pemahamannya, sembari perlahan menyadari bahwa di balik Takhta Kaisar Langit tersimpan rahasia yang menghubungkan nasib seluruh Alam Fana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Pemulihan di ruang Kehampaan
Ye Chan menghela napas panjang saat kesadarannya perlahan kembali. Rasa dingin dari lantai batu di ruang tersegel itu terasa nyata menembus kulitnya.
Pemeriksaan cepat segera ia lakukan pada kondisi bagian dalam tubuhnya. Jalur-jalur meridiannya masih tampak seperti jaring laba-laba yang koyak. Ketika ia mencoba mengalirkan sedikit Qi, aliran itu langsung macet dan terasa buntu di beberapa simpul penting.
Sensasi nyeri yang tajam segera menyengat dadanya. Cepat-cepat ia menghentikan aliran tersebut sebelum simpul sarafnya kembali terluka lebih parah.
Mata Ye Chan terbuka, menatap langit-langit batu yang gelap.
'Ia tidak memperbaiki meridianku,' pikirnya.
Detik berikutnya, sebuah pemahaman baru muncul di benaknya.
'Tidak, benda ini membantuku memulihkan diri.'
Kesadaran Ye Chan kembali ditarik masuk ke dalam ruang batin yang gelap gulita di dalam giok.
Di tengah kehampaan hitam tanpa batas itu, ia tidak menguji fungsi penyimpanan barang lagi. Ia hanya berdiri diam, memusatkan kepekaan jiwanya untuk mengamati sekeliling.
Ada yang berbeda dari sebelumnya. Kehampaan yang tadinya mati kini mulai terasa dinamis oleh gerakan riak yang sangat halus.
Gerakan itu berasal dari energi tipis yang ditarik secara konstan oleh giok dari dunia luar. Energi tersebut tidak langsung merembes ke tubuh fisiknya, melainkan ditampung dan dinetralkan terlebih dahulu oleh pusaka misterius itu.
Proses ini jauh berbeda dari cara kultivator menyerap Qi alam secara langsung yang biasanya kasar dan membebani meridian.
Merasakan potensi tersebut, Ye Chan mencoba menarik sebagian kecil energi yang mengapung di sekitarnya.
Aliran hangat mengalir lembut ke raganya. Rasanya sangat stabil dan tidak meledak-ledak. Saat energi itu melewati bagian meridiannya yang rusak, rasa nyeri tetap datang, tetapi tingkat perihnya masih sangat bisa ia toleransi.
Namun, ia segera menyadari keterbatasan benda ini. Energi yang masuk terlalu sedikit untuk memulihkan seluruh kekuatannya dalam waktu singkat.
'Benda ini bukan obat dewa,' gumamnya dalam hati.
Ia tidak bisa mengandalkan giok ini untuk menjadi kuat secara instan. Pemulihan nyata tetap membutuhkan ramuan obat, bahan berenergi tinggi dari monster, serta latihan fisik yang keras.
Sebuah senyum tipis yang sarat tekad dingin terukir di wajahnya. Ye Chan mulai menata rencana besar di kepalanya.
Langkah pertamanya adalah menstabilkan raga yang melemah ini. Setelah itu, ia harus menambal satu demi satu meridian yang terputus, membangun kembali wadah penampung Qi, dan mencari cara baru untuk membentuk inti kultivasi yang baru.
Ia sama sekali tidak berniat mengulang jalur kultivasi lamanya yang kini telah hancur.
"Aku tidak perlu mendapatkan kembali apa yang hilang," bisik Ye Chan pada keheningan di sekitarnya.
Ia mengepalkan jemari tangannya dengan erat.
"Aku hanya perlu memastikan apa yang kubangun berikutnya tidak bisa dihancurkan dengan cara yang sama."
***
Memulai langkah pertama selalu menjadi bagian paling sulit. Ye Chan mengambil botol obat sederhana dari cincin penyimpanan yang melingkar di jarinya.
Itu hanya ramuan pemulih luka biasa berharga murah, satu-satunya obat yang mampu diterima oleh tubuhnya yang ringkih saat ini tanpa risiko keracunan energi.
Ramuan itu meluncur turun ke tenggorokannya, disusul tarikan sedikit energi murni yang telah distabilkan oleh giok dari dalam dadanya.
Ia mengarahkan aliran gabungan itu menuju satu jalur meridian kecil di dekat jantungnya yang hampir mati. Rasa sakit menyengat seketika, membuat keningnya berkerut rapat dan peluh dingin menetes di pipi.
Namun, kali ini jalurnya tidak pecah. Energi tersebut perlahan mengikat kembali serat-serat halus meridian yang sempat hancur, membuatnya kembali terhubung walau sangat tipis.
Kelopak mata Ye Chan terbuka lebar, memancarkan binar tajam.
"Satu," gumamnya dengan napas yang agak memburu.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Masih ada banyak yang lain."
Saat ia hendak menghela napas lega, fokus kesadarannya kembali menangkap getaran aneh dari dalam ruang giok.
Di sudut terdalam kehampaan itu, ada aliran energi lain yang mulai terkumpul. Energi itu sangat tipis, terasa asing, dan memiliki sensasi dingin yang sangat berbeda dengan Qi alam fana yang biasa ia kenali.
Ye Chan tidak berani menyentuhnya, bahkan menjauhkan pikiran batinnya dari aliran misterius tersebut.
'Kalau bahkan aku tidak tahu energi ini berasal dari mana... Maka aku tidak boleh menggunakannya sembarangan,' pikirnya penuh waspada.
Tatapannya menjadi sangat serius. Giok putih ini jelas bukan sekadar alat penyimpan barang atau pengumpul energi spiritual biasa.
Ada rahasia yang jauh lebih besar di dalam pusaka ini, sesuatu yang tampaknya terhubung dengan tingkat keberadaan yang berada di luar pemahaman seluruh makhluk di Alam Fana.
Ye Chan menarik napas dalam-dalam, menutup rapat batinnya, dan kembali memusatkan seluruh konsentrasinya pada pemulihan tubuh fisiknya yang masih rapuh.
Duduk bersila di atas lantai batu yang dingin, Ye Chan mencoba mengatur napasnya.
Ia menarik napas, perlahan mengarahkan Qi tipis dari sekeliling masuk ke dalam tubuh.
Seketika, rasa panas menjalar hebat di dadanya. Jalur meridiannya yang hancur terasa seperti terbakar hebat.
Ia segera memutus hubungan dengan udara luar sebelum dadanya terluka lebih parah. Tubuhnya yang hancur menolak energi mentah itu dengan kasar.
'Jangan dipaksa,' pikirnya sambil mengusap sisa darah di sudut bibir.
Ia lalu beralih pada giok putih di batinnya. Dari dalam pusaka misterius itu, ia menarik energi lembut yang telah disaring.
Aliran hangat mengalir perlahan tanpa letupan. Ia menuntunnya dengan sangat hati-hati, melewati satu jalur meridian kecil yang tersisa.
Satu denyutan Qi berhasil lolos. Lemah sekali, tetapi kendali itu terasa nyata untuk pertama kalinya.
Ia membuka matanya, menatap telapak tangannya sendiri yang masih tampak pucat.
"Satu napas Qi saja sudah seperti membawa pisau melewati luka," gumamnya pelan.
Rencana pemulihan harus diubah total.
Ia menginventarisasi barang yang tersisa di dalam cincin penyimpanan cadangannya. Beberapa botol cairan obat pemulih luka murah dan sisa daging monster kering dari hasil buruan sebelumnya.
Pemulihan kondisi fisik harus menjadi prioritas utama. Tanpa raga yang kokoh, meridian tidak akan punya tempat untuk bernaung.
Setelah tubuhnya stabil, ia baru bisa memulihkan meridian, melatih kapasitas tampung, dan membentuk inti baru.
Ia meminum cairan obat itu dengan takaran yang pas. Setiap tetesnya dihitung dengan cermat agar tidak habis terlalu cepat.
"Aku harus hati-hati," bisiknya datar.
Langkah-langkah kecil dimulai di area datar dekat pintu masuk reruntuhan.
Ia berdiri tegak, lalu melangkah perlahan mengelilingi ruangan. Setiap gerakan fisik diselaraskan dengan embusan napas panjang.
Otot-ototnya yang kaku berontak, tetapi ia menolak untuk diam. Ia menyisipkan aliran Qi mikro dari giok ke dalam setiap gerakan ototnya.
Saat rasa nyeri tajam kembali menusuk meridian, ia segera berhenti dan mengubah pola gerakannya.
Giok Kehampaan terus bekerja di latar belakang, membantu menjaga energinya tetap stabil.
Secara bertahap, langkah kakinya tidak lagi terlalu goyah. Tubuhnya mulai mendapatkan kembali sedikit kekuatan dasar.