NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

AKU KEMBALI MEMBALAS SEMUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di sungai ia mendorong pacarnya, lalu ikut tenggelam. Ketika membuka mata, usianya lima belas: 1 April 2005, tiga bulan sebelum ujian, dengan ingatan penuh akan semua yang akan terjadi. Di laci rumah tua ia menemukan kotak kayu ukiran berisi tanah sakti—satu tegukannya menyembuhkan luka dan mengubah takdir. Ia membangun keluarga dari nol: gerobak es campur, bakso, juara satu se-kota, kuliah, dan cinta yang dulu ia tolak. Setelah hidup pertama berakhir pada usia seratus tahun, ia terbangun lagi—dan sadar semuanya hanya penglihatan. Ibu kritis, bisnis hilang, dan ia harus mulai dari nol sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30 - Pindah ke Lingkungan Baru

Bapak benar-benar khawatir. Seandainya tadi ia tidak berada di gerobak di plaza, ia yakin kejadian di gang itu tidak akan sampai separah itu; ia tidak mengira tetangga sebelah bisa seberingas itu.

Ibu memutar mata lalu menyahut dengan marah: "Alah! Justru karena kau orang baik, orang lain berani naik ke atas kepalamu dan berlaku sesukanya!"

"Kenapa kau tak melihat betapa beraninya Bu Irma mengusik orang lain sepanjang ini?"

Bapak tidak bisa membantah ucapan itu; ia menelan ludah, menahan napas, lalu meneruskan makan diam-diam.

Ibu menunggu sampai ia selesai, baru menuturkan dengan tenang tetapi tegas: "Hari ini anak-anak kita pergi melihat garasi; mereka bilang mau menyewa sesuatu untuk gerobak. Sewanya tidak mahal, lima ratus ribu sebulan."

"Kupikir tempat kita sempit; selain itu menyewa memang lebih praktis, jadi kusetujui. Baru saja urusan itu beres, ternyata terjadi keributan ini."

"Anakmu bilang kita sudah terlanjur berselisih; berdampingan dengan orang seperti itu tidak aman. Kau tahu kan sifat Yohan? Dia tidak takut apa-apa, doyan berkelahi, dan kenal banyak preman."

"Kupikir Intan memang punya alasan untuk khawatir."

Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan: "Aku mau melihat-lihat rumah bersama mereka secepatnya. Kalau bisa, kita sewa rumah yang lebih besar."

"Tidak usah terlalu besar; yang penting lingkungannya lebih baik. Nanti anak-anak tetap sekolah di tempat masing-masing, biar tidak terganggu belajarnya."

"Kita sewa rumah baru; sementara rumah yang lama kita sewakan juga, sehingga per bulan tidak banyak biaya yang keluar. Sebagai suami istri, kita bekerja lebih giat, hasilkan lebih banyak."

"Kalau benar-benar nanti punya rezeki membeli rumah bagus, kita jual yang lama."

Bapak menatapnya dengan keheranan.

Ia tidak habis mengerti bagaimana sebuah keputusan besar bisa diambil dalam keluarga begitu saja, dan ia justru menjadi orang terakhir yang diberi tahu.

Butuh beberapa saat baginya untuk menemukan suaranya: "Aku tidak keberatan soal garasi. Sewa rumah dan pindah juga boleh."

"Tetapi soal jual beli rumah, bukankah seharusnya dibicarakan dulu bersama?"

"Apa yang maunya diributkan!"

Ibu membanting meja hingga semua orang tersentak.

Bapak langsung mundur: "Sudah, sudah, tidak jadi dibahas. Kudengar saja."

Ibu melipat lengan sambil mencibir: "Kalau keluarga kita tidak semiskin ini, kita tidak perlu tersiksa begini terus-menerus!"

"Aku sudah muak dengan kehidupan macam begini. Kali ini harus pindah, apa pun yang terjadi."

"Nanti kalau ada uang, kita beli rumah baru, lalu jual yang lama. Biar mata mereka melek, dasar orang-orang yang tidak tahu malu!"

Melihat istrinya sangat murka, Bapak tidak berani menimpali.

Ia hanya mengangguk-angguk samar, menatap piring kosong di depannya sementara bayangan kejadian pagi tadi masih berputar di kepalanya; istrinya yang lembut kini bisa mencakar tetangga demi menjaga anak-anak, dan itu membuat dadanya sesak sekaligus haru.

Ia lalu buru-buru mengambil alih lapak menggantikan Intan.

Setelah keluar dari Plaza Cendrawasih, Ibu, Intan, dan Dimas langsung menuju kompleks tempat garasi itu disewa, yaitu Perumahan Semarak Jaya, lalu masuk lewat gerbang utama.

Seorang satpam muda menanyai maksud kedatangan mereka, dan setelah Dimas menyebut nama Pak Hartono barulah mereka dipersilakan.

Ibu sempat melirik aspal di depan gerbang yang licin bersih, berbeda jauh dengan gang kompleks lamanya yang becek jika hujan.

Perumahan itu termasuk kompleks baru di kota; keamanannya bagus.

Hanya mobil pemilik yang boleh masuk ke dalam kompleks.

Mobil dari luar hanya bisa masuk ke pelataran parkir bawah tanah dengan membayar biaya parkir.

Jalan pejalan kaki dan jalan kendaraan terpisah dengan rapi.

Bangunan di baris terdepan adalah gedung tinggi, setinggi lima belas lantai, sementara di belakangnya ada gedung-gedung sembilan lantai yang tersusun rapi.

Lantai pertama seluruhnya berupa garasi.

Di antara garasi dan jalan semen terbentang halaman rumput hijau.

Sebagian besar pemilik memarkir kendaraannya di atas rumput itu.

Garasinya lebih banyak dipakai sebagai gudang, penuh dengan barang-barang yang ditumpuk berlapis.

Ibu berkeliling kompleks itu dan langsung jatuh cinta.

Pertama, lingkungan di sini tenang: sederet gedung lima belas lantai berdiri di antara bagian dalam kompleks dan jalan raya, sehingga suara bising jalan raya hampir tidak terdengar.

Kedua, jaraknya tidak jauh dari Plaza Cendrawasih; naik becak hanya sekitar setengah jam.

Penghuninya pun tidak banyak, sehingga ketika tinggal di sini tidak perlu khawatir urusan saling sapa dengan tetangga yang berisik.

Ibu berjalan di sepanjang trotoar yang bersih, mengamati halaman rumput yang hijau, lalu kembali ke garasi sambil tersenyum kecil.

Lingkungan beginilah yang selama ini ia cari-cari.

Karena Ibu sudah puas, Dimas segera menelepon Pak Hartono dan bertanya apakah bisa datang sekarang untuk menandatangani kontrak.

Begitu mendengar urusan kontrak, Pak Hartono seketika melesat.

Tak lama kemudian ia sudah berdiri di depan ketiga orang itu sambil membawa map kertas yang sudah terisi.

Melihat ada Ibu yang menyertai, ia merasa lega; dengan hadirnya orang dewasa, ia tidak perlu khawatir kena tipu.

Pak Hartono membuka pintu garasi, Ibu melangkah masuk dan memeriksa sekelilingnya; ruangan itu cukup lapang untuk menaruh gerobak, bumbu-bumbu, dan barang dagangan.

Lantainya sudah disemen rapi dan bersih.

Sementara itu Intan dan Dimas membaca kontrak sampai tuntas; karena kontrak itu adalah contoh yang diunduh dari internet, tidak banyak yang perlu dipermasalahkan.

Hanya saja mereka diminta tetap teliti baris per baris.

Intan membubuhkan tanda tangan untuk Ibu, dan Ibu membayar uang sewa tiga juta rupiah sekaligus, langsung menerima kunci garasi.

Di sela-sela itu Ibu menyempatkan bertanya: "Pak Hartono, kira-kira sewa rumah di kompleks Semarak Jaya ini berapa sebulan?"

Pak Hartono menjawab santai: "Belum pernah kutanyai benar, tetapi dari para pemilik lain kudengar sepertinya sewa apartemen delapan puluh meter persegi bisa mencapai sejuta lima ratus ribu sebulan. Tidak murah."

Dahi Ibu berkerut: "Mahal ya!"

Pak Hartono mengangguk: "Bagaimanapun ini salah satu kompleks baru terbaik di kota dan dekat dengan pusat."

"Sejujurnya, sejuta lima ratus ribu itu masih harga yang masuk akal."

"Kalau mau menyewa rumah dan menganggapnya mahal, bisa sewa di kompleks seberang jalan sini."

"Kompleks itu rumah relokasi; lingkungannya tidak jelek, tetapi tidak ada pengelola properti; semua urusan penghuni diurus oleh lembaga RT setempat."

"Untungnya harga rumah di sana murah: di sini per meter perseginya enam juta, di sana hanya tiga koma delapan juta. Kalau sewa, di sini yang delapan puluh meter sejuta lima ratus ribu, sedangkan di sana yang seratus dua puluh meter tiga kamar hanya sejuta sebulan."

Ibu sedikit tergoda mendengar angkanya, tetapi juga waswas: "Kenapa harga rumahnya beda jauh? Bukankah sama-sama kawasan perkotaan?"

Sudut bibir Pak Hartono terangkat, lalu ia menjelaskan dengan sabar: "Rumah relokasi di sana tidak punya sertifikat hak milik, hanya ada perjanjian relokasi."

"Untuk mengurus sertifikatnya, kalian harus membayar sendiri sejumlah uang per meter persegi."

"Justru karena itulah rumah di sana murah, dan sewanya pun murah. Rumahnya sendiri tidak ada masalah; kompleksnya juga baru, denahnya bagus."

Ibu menimbang-nimbang kata-kata itu di dalam hati.

Enam juta berbanding tiga koma delapan juta per meter persegi memang selisih yang jauh, tetapi rumah dengan perjanjian relokasi berarti tidak ada jaminan mutlak; ia tidak mau menyesal di kemudian hari.

Mendengar itu, Ibu tidak sabar menyerbu ke kompleks relokasi, Perumahan Griya Permata, secepatnya untuk melihat sendiri seperti apa wujudnya.

Begitu sampai di Perumahan Griya Permata, kompleks relokasi yang dimaksud Pak Hartono, Ibu mendapati apa kata Pak Hartono tepat.

Gerbang kompleksnya hanya pajangan, tidak ada penjaga keamanan atau semacamnya; banyak orang tua berkumpul di bawah bangunan, persis seperti kompleks lamanya.

Bedanya lingkungan di sini memang lebih baik: banyak tempat untuk sekadar lewat dan jalan-jalan.

Karena kompleks baru belum punya banyak tempat duduk, orang-orang hanya menumpuk di satu titik, dan tempat lain terbilang bersih.

Pada mulanya Ibu kurang puas dengan tempat ini, karena ia memang tidak suka pemandangan orang berkumpul bergosip tentang rumah orang lain.

Tetapi karena sewanya murah, ia masih berkeliling beberapa kali dengan sabar.

Pada akhirnya ia menemukan bahwa di kompleks ini, seperti halnya Semarak Jaya, juga ada gedung-gedung tinggi di sepanjang jalan.

Gedungnya berlift, menjulang lima belas lantai, total ada empat bangunan, dan gedung-gedung itu bukan rumah relokasi.

Lobi masing-masing gedung dibersihkan rapi.

Petugas pintu masuk tidak banyak bertanya.

Penghuninya juga orang-orang asing yang menutup pintu dan menjalani hidupnya sendiri-sendiri.

"Kalau tinggal di sini, tidak ada yang mengintip di jendela kita," gumam Dimas.

Ibu tertegun sejenak mendengar ucapan itu.

Hatinya tertambat di situ, dan gagasannya tentang pindah semakin kuat.

Ibu cukup puas dengan tempat ini; ia lalu menanyakan informasinya kepada agen properti di seberang jalan.

Tokonya kecil, dindingnya penuh tempelan daftar rumah sewa dan jual.

Seorang pemuda berpakaian rapi menyambut mereka.

Ketika Ibu bertanya soal gedung tinggi berlif di kompleks itu, pemuda tersebut bersemangat menunjuk brosur: bila ingin yang luas, unit seratus sepuluh meter persegi di lantai sebelas baru saja dikosongkan; harga sewanya sejuta dua ratus ribu sebulan.

Informasi itu cukup bagus.

Harganya memang termasuk mahal, meski lebih murah daripada di Perumahan Semarak Jaya; untuk keluarga yang membutuhkan tiga kamar bagi empat orang, tetap terasa berat.

Ibu menggeleng, "Sewanya mahal sekali," katanya pelan sambil mengusap bekas luka di bahunya.

Pemuda itu tersenyum, "Kalau dibeli, di sini jauh lebih murah daripada kompleks sebelah, Bu. Peluang bagus."

Ibu tersenyum getir; tawaran itu masuk di telinga, tetapi kantongnya masih menahan uang untuk ongkos becak dan lemari pendingin yang belum terbeli.

Ia hanya mengangguk: "Kita pikirkan dulu."

Sesampai di luar, Intan berbisik, "Bu, tempat itu bagus. Biarpun belum sekarang, paling tidak kita sudah tahu harganya."

Dimas menyusul mengangguk, lalu mereka bertiga menyusuri trotoar sepi menuju becak.

Ibu menatap gedung-gedung itu sekali lagi sambil menyimpan harapan di dalam hati; semakin jauh jarak dari Bu Irma, semakin besar pula ketenangannya. (Bersambung)

1
Putry Chan
sebenarnya tadi itu apa ya
Kartika Candra Buwana: nanti akan tau deh
total 1 replies
Putry Chan
rumah ini beneran udh tua ya gak da yang tempatin juga banyak debu nya
Putry Chan
Kakek nya sudah tidak ada tapi kenangan itu masih ada sampai saat ini
Xlyzy
Ayah nya sampai bertanya sangking berubah nya sang anak
Xlyzy
itu dia miskin bukan jadi alasan kita ga bisa sukses
Mingyu gf😘
Ortunya peduli banget sama pendidikan anaknya😍
Mingyu gf😘
Bagus, di kesempatan kedua ini, kamu memang harus banyak berubah
Mingyu gf😘
Waduhh kamu manja juga ya, kalau aku udah melayang sapu kalau kayak gitu🤣
Arni Arlinawati Pratiwi💃
bertekad maksud nya ya.. ayok intan, kamu bisa memperbaiki lagi hal yang menurut mu kurang di kehidupan sebelumnya.. /Determined//Determined//Determined/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
menghormati leluhur nya juga.. di bacain alfatihah kalo muslim mah, di do'a in! /Determined//Determined//Determined/
Kartika Candra Buwana: betul. ini sengaja ku ganti ke ajaran lain
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
🙄.. emak inget dulu mamak nya emak, nenek kalian ngejewer emak karena emak bilang nanti nanti terus akhir nya di jewer di arahin ke tempat cuci piring!!! emak nangis kejer, kan sakit.. 😑
Arni Arlinawati Pratiwi💃: 🙄... ga ada ya.. tokoh utama cerita nya tukang marahin author,🗿.. gak berfaedah banget, 🙄
total 2 replies
Prayy
kalau terus sembahyang gak ada gunanya kan kalau tidak di iringi dengan tindakan,,
Kartika Candra Buwana: betul sekali
total 1 replies
Prayy
ini kaya doa di anime itu kan ?
Kartika Candra Buwana: iya ada yg seperti itu
total 1 replies
Prayy
hahahah mampus di marahin di suruh apa yang di kerjakan apa
Kartika Candra Buwana
ya, rajin lah sembahyang
Kartika Candra Buwana
untung saja ramalannya baik
Kartika Candra Buwana
lebih baik pake masker
ginevra
Yap ....sekarang kamu harus lebih rajin lagi... seneng banget kan kalau bisa ikut sama ibu sembahyang
Myz Pena
wkwkkwkw dimana2 ibu gitu ya guys.. cerewet tapi bikin rindu ❤️❤️
Myz Pena
rumah tua atau rumah nenek,, adalah warisan kehangatan yang diturunkan ke anak cucunya yang nggak akan pernah pudar... selalu dirindukan setiap momentnya apalagi berkumpul di hari2 besar dan hari raya 🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!