NovelToon NovelToon
Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Cinta Terlarang / Obsesi / Beda Usia / Tamat
Popularitas:51k
Nilai: 5
Nama Author: Celina González ♥️

Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.

Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.

Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Bangunan megah dari kaca dan baja itu menjulang di jantung kota bagai kuil modern yang dipersembahkan bagi kekuasaan. Dari lantai empat puluh lima, tempat ruang kerja sang CEO berada, kota tampak seperti papan catur yang hanya bisa dimainkan oleh segelintir orang. Dan Leonardo Santos adalah pemain yang paling ditakuti.

Ruang kerjanya, luas dan minimalis, dirancang dalam nuansa gelap: dinding abu-abu antrasit, perabot berlekuk tegas dari kulit hitam, rak buku kayu ek yang menyimpan lebih banyak rahasia ketimbang yang ditampakkannya. Jendela panorama besar memungkinkan memandang cakrawala, tempat langit pagi masih menyimpan sisa-sisa fajar keemasan.

Leonardo duduk di balik meja kerja kaca temper, bersandar ke belakang di kursi eksekutifnya, dengan secangkir espreso yang sudah dingin terjepit di antara jarinya. Ia belum menyentuhnya sedikit pun. Kedua mata kelabunya, yang biasanya setajam pisau, kini kosong menerawang. Pikirannya tak berada di sana.

Pikirannya bersama gadis itu.

Zaira.

Namanya sebuah bisikan tanpa henti di kepalanya, melodi terkutuk yang mustahil diabaikan.

Ia bisa melihatnya dengan jernih sempurna: rambut gelapnya jatuh ke bahu bagai air terjun sutra, kulitnya yang hangat di bawah jarinya, getar suaranya saat berkata ia bukan simpanan. Cara tubuhnya bergidik ketika ia menciumnya tepat di bawah telinga. Ketegangan di mata hijaunya saat menantangnya dan menolak menerima uangnya.

Gadis itu adalah api, jenis api yang tak membakar habis, melainkan menyusup ke bawah kulit dan menetap di sana, membakar pelan-pelan.

"Dia pergi," gumamnya pada diri sendiri, rahangnya mengencang. "Tapi dia akan kembali."

Ketukan sopan di pintu memutus lamunannya. Itu Clara, sekretarisnya, seorang perempuan yang rapi, cekatan, dan sepenuhnya setia.

"Ada yang Anda butuhkan, Tuan Santos?" tanyanya, seperti biasa, dengan suara lembut namun tegas.

Leonardo mengangkat pandangan, mengerjap seakan baru kembali dari sebuah mimpi. Ekspresinya kembali menjadi ekspresi CEO tanpa ampun yang dikenal semua orang.

"Ya. Hubungi Marcelo dan katakan padanya, aku ingin laporan lengkap tentang seseorang. Namanya Zaira Montes. Semua yang bisa dia temukan. Masa lalu, masa kini, mimpi-mimpinya, musuhnya, pekerjaannya, sampai bagaimana caranya minum kopi. Dan aku ingin informasi itu sudah ada di mejaku besok pagi-pagi buta. Tanpa kesalahan, Clara."

Clara mengangguk tanpa bertanya. Ia tahu, ketika Leonardo meminta sesuatu seperti itu, lebih baik tak menanyakan alasannya. Ia keluar tanpa berkata-kata lagi, meninggalkan jejak samar aroma melati dari losion hariannya.

Leonardo bangkit dan berjalan menuju jendela. Dari sana, dunia tampak kecil. Terkendali.

Tapi Zaira... gadis itu tidak.

Gadis itu tak membiarkan dirinya dikendalikan.

Dan itu membuatnya gila.

Malam itu ia tak tidur. Setiap kali memejamkan mata, ia merasakan gadis itu lagi. Tubuhnya gemetar di bawah tubuhnya, jarinya mencengkeram bahunya, suaranya terengah menyebut namanya bagai doa sekaligus kutukan. Cara gadis itu menatapnya ketika menolak uangnya... telah menembusnya bagai belati.

"Aku bukan simpananmu. Bukan pula pelacurmu."

Tidak, ia memang bukan. Ia lebih berbahaya daripada simpanan mana pun. Karena ia tak menyerah, tak tunduk. Dan yang paling parah... ia tak membutuhkan Leonardo. Tapi Leonardo, ya. Sialan, ia membutuhkan gadis itu.

Keesokan paginya, Clara masuk membawa map kulit hitam dan meletakkannya di atas meja kerja.

"Tuan, ini kiriman dari Marcelo. Katanya dia akan tiba sebentar lagi."

Leonardo membuka map itu perlahan, seperti orang yang bersiap mengurai sebuah misteri. Ia tak peduli Marcelo akan segera datang atau tidak.

Di halaman pertama, sebuah foto: Zaira tersenyum. Gambar yang diambil di depan sebuah kafe pinggir jalan, rambutnya dikepang longgar dan sebuah buku di tangannya.

Leonardo memegang foto itu dengan jarinya, memandanginya lama. Gadis itu tersenyum dengan tulus. Begitu berbeda dari perempuan yang mengerangkan namanya di sela seprai.

Laporan:

*Nama:* Zaira Montes.

*Usia:* 25 tahun.

*Penampilan:* Rambut panjang, gelap bagai malam, kulit langsat, mata besar berbentuk almond dengan warna hijau pekat. Kurus, dengan lekuk lembut, wajah manis tapi tatapan penuh tekad.

*Kepribadian:* Pejuang, cerdas, berhati mulia, impulsif. Bermoral teguh, tapi punya mimpi-mimpi yang mustahil diraih tanpa bantuan.

*Riwayat:* Keluarga sederhana. Bekerja sejak usia enam belas tahun. Tanpa ayah. Ibu sakit-sakitan. Mahasiswi jurusan administrasi penerima beasiswa. Tinggal di sebuah rumah kecil di lingkungan kelas menengah bawah. Sudah beberapa kali bekerja kontrak sementara. Pekerjaan terakhir: pelayan di sebuah kafe.

*Ketakutan:* Kehilangan martabatnya. Dimanfaatkan. Terperangkap dalam hidup yang tidak ia inginkan.

*Motivasi:* Lulus kuliah. Mengangkat ibunya keluar dari kemiskinan.

Leonardo melepaskan embusan napas pelan.

"Begitu murni sialan..." gumamnya, seakan hal itu justru lebih menjengkelkannya daripada apa pun.

Ia membaca setiap halaman seolah melahap dokumen rahasia. Dan, dalam beberapa hal, memang begitu adanya. Sebuah rontgen lengkap tentang perempuan yang telah menyusup ke bawah kulitnya.

Foto-foto rumahnya yang sederhana, ibunya dengan wajah letih, tagihan listrik yang menunggak, surat-surat beasiswa, riwayat hidup, daftar buku yang pernah dibaca, bahkan sebuah catatan tulisan tangan yang berbunyi: "Jangan menyerah, Zaira. Kamu pasti berhasil, sekalipun itu menyakitkan."

Perempuan itu bukan sekadar petualangan. Bukan pengisi waktu akhir pekan. Ia adalah godaan yang berbahaya bagi orang seperti Leonardo.

Leonardo menutup map itu dengan bunyi klik yang kering. Ia berjalan menuju lemari minuman, menuang segelas wiski mahal dan menenggaknya sekali habis. Panas di tenggorokan tak berhasil meredakan kobaran di dadanya.

Ia kembali ke jendela.

Dari sana, dunia masih tampak menjadi miliknya. Tapi kini ia tahu ada satu sudut, satu-satunya sudut, tempat kuasanya tak berlaku.

Zaira.

Gadis itu adalah batasnya.

Dan ia tak sudi menerimanya.

Ia mengeluarkan ponselnya, mengirim sebuah foto dan sebuah alamat, lalu memutar sebuah nomor.

"Awasi gadis itu. Tapi jangan sampai dia sadar. Jangan ada kesalahan."

Ia memutus sambungan tanpa menunggu jawaban. Lalu ia menyandarkan kening ke kaca, menarik napas dalam-dalam.

Ia tak tahu apakah ia ingin melindungi gadis itu... atau memilikinya sepenuhnya.

Tapi satu hal ia tahu pasti. Gadis itu akan menjadi miliknya. Miliknya seorang. Sekalipun ia harus membakar dunia untuk mendapatkannya.

1
Rinh@ Ayong
ke giliran c ziara hamil maneh embung tanggung jawab, trus malah nyudutkeun lain benih maneh.
biasana Kitu wae geura konflik na teh
Enik Ulandari
aku suka ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!