NovelToon NovelToon
Mate Takdir Sang Werewolf

Mate Takdir Sang Werewolf

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 2]

Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'

"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Tamu Di Malam Hari

"Bagus sekali. Sekarang cepat habiskan susumu, padamkan lenteramu, dan segera tidurlah!"

Lucas bergerak melangkah mendekati meja.

Ia meniup sumbu lentera minyak di kamar, membuat kondisi di dalam ruangan kecil itu secara instan langsung berubah menjadi gelap gulita. Hanya sisa-sisa pancaran cahaya rembulan perak yang mengintip masuk membelah celah jendela kaca, memberikan siluet temaram pada koper kanvas White yang sudah tertutup rapi.

Pria paruh baya itu kemudian menarik daun pintu kayu. Ia menutupnya dengan teramat pelan tanpa suara, meninggalkan White sendirian di dalam keheningan malam yang sunyi untuk mengistirahatkan tubuhnya sebelum fajar tiba.

Dok... Dok... Dok...

Suara ketukan itu terdengar berat, solid, dan ritmis, memecah kesunyian malam yang pekat di perbukitan Arcania. Baru saja Lucas Emerson hendak memejamkan sepasang matanya dan menarik selimut wolnya untuk bersiap tidur, suara ketukan dari arah pintu depan itu memaksanya kembali terjaga seketika.

"Siapa yang bertamu malam-malam begini?" gumamnya lirih dengan suara serak.

Lucas menyipitkan mata, berusaha mengumpulkan kembali kesadaran jiwanya yang sempat terbuai kantuk. Ia menoleh ke arah jam pendulum kayu tua yang terpasang di sudut ruangan; malam sudah teramat larut, hampir menyentuh tengah malam yang dingin. Dahinya berkerut heran.

Seumur hidupnya tinggal di pinggiran desa ini, baru kali ini ada orang asing yang berani mengetuk pintu rumahnya pada larut malam seperti ini.

Lucas bergegas turun dari ranjang. Ia melangkah keluar kamar dengan sangat hati-hati, memastikan setiap pijakan kakinya tidak menimbulkan derit lantai kayu yang bisa membangunkan istrinya. Ia melirik sekilas ke arah Sarah yang sudah terlelap tenang di balik selimut; akan sangat panjang urusannya jika wanita tua itu terbangun. Bisa-bisa malam yang damai ini berakhir dengan amukan histeris delusional yang melelahkan.

Sesampainya di ruang tengah, Lucas tidak langsung membuka pintu. Ia melipir menyamping ke arah jendela, menyibak sedikit tirai kain tipis untuk mengintip ke halaman depan. Cahaya obor dinding teras yang temaram menyinari tiga sosok pria yang berdiri di sana.

"Siapa mereka?" bisik Lucas pada kesunyian.

Lucas sama sekali tidak mengenali satu pun dari mereka. Dari posisinya, ia hanya bisa melihat siluet tubuh mereka karena ketiganya sedang menghadap ke arah halaman ladang, seolah sedang melakukan diskusi kecil sambil menunggu respons pemilik rumah.

Sebelum membuka pintu, Lucas melipir ke pojok ruang keluarga sejenak untuk mengambil sebuah tongkat kayu pemukul yang kokoh. Ia menyembunyikannya di balik punggung, bersiaga penuh jika ketiga orang asing bertubuh tegap ini berniat jahat. Dengan satu tarikan napas dalam, Lucas memutar kunci besi dan membuka pintunya secara perlahan.

Krieetttt!

Suara engsel pintu yang bergesekan membuat ketiga pria itu menoleh secara bersamaan. Mereka adalah Alan, Ethan, dan Damian yang terpaksa mengenakan jubah katun longgar merah muda cerah dengan tudung bertelinga kelinci pemberian istri Alan.

Lucas menatap mereka dengan tatapan waspada yang tajam. Namun, ekspresi yang ia dapati dari para tamunya justru sebaliknya. Ketiga pemuda itu malah tersenyum, tampak begitu semringah.

Mereka yang tadinya hampir pasrah dan mengira sang pemilik rumah sudah tertidur, kini kembali dipenuhi harapan baru.

"Maaf kalau kehadiran kami sudah mengganggu ketenangan Anda malam-malam begini, Tuan."

Alan membungkukkan badannya cukup dalam, sebuah gestur hormat yang sangat formal seolah ia terbiasa melakukannya di lingkungan bangsawan agung dimensi Alfheim.

Setelah beberapa saat, ia menegakkan kembali tubuhnya yang tegap, menatap tuan rumah dengan ramah namun tegas.

"Perkenalkan, nama saya Alan. Di sebelah kiri saya ini adalah Damian, dan di sebelah kanan saya adalah sahabat saya, Ethan."

Alan memberi isyarat tangan ke arah kedua rekannya secara bergantian.

"Kami bertiga sebenarnya sedang mencari tempat persinggahan di sekitar wilayah desa ini, namun kami tak kunjung menemukannya. Dan kebetulan sekali, hanya rumah kayu Anda inilah satu-satunya bangunan yang kami lihat masih menyalakan lentera di tengah kesunyian perbukitan ini. Untuk itu, kami ingin memohon izin bermalam di sini sampai besok pagi... itu pun jika Anda mengizinkannya. Diizinkan tidur di lantai teras pun kami sama sekali tidak keberatan," pungkas Alan dengan nada suara yang begitu sopan dan merendah.

Lucas berdiri mematung di ambang pintu. Ia hanya menganggukkan kepalanya perlahan sembari menyipitkan mata, memperhatikan penampilan ketiga pria itu satu per satu dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Di bawah temaram cahaya, ketiga pria itu tampak teramat menonjol; mereka memiliki fitur wajah yang luar biasa tampan dengan karisma yang sangat kuat, bahkan meski pakaian mereka terlihat sedikit lusuh akibat perjalanan menembus hutan ladang jagung tadi.

Namun, pandangan mata Lucas mendadak terkunci mati pada sosok pria yang berdiri di sebelah kiri: pria dengan rambut cokelat sebahu yang membingkai wajah maskulinnya dengan sempurna. Damian Dexter.

Lucas terdiam membeku cukup lama, memandangi wajah Damian dengan dahi berkerut sangat dalam.

'Sepertinya... aku tidak asing dengan struktur wajah itu? Tapi aku lupa... kira-kira di mana aku pernah melihat garis rahang dan tatapan mata yang semirip itu?' batin Lucas penuh keraguan. Ia terus menatap tanpa berkedip, mencoba menggali memori lama di kepalanya yang terasa samar setelah peristiwa di sungai sore tadi.

Damian, yang merasa ditatap seintens itu oleh pria paruh baya di depannya, mulai merasa salah tingkah dan kikuk. Ia tersenyum canggung, tangannya naik untuk menggaruk tengkuk lehernya. Ia mengira penampilannya yang aneh—mengenakan baju katun longgar berwarna merah muda terang dengan telinga kelinci yang menjuntai—adalah alasan utama mengapa pria paruh baya di depannya ini tak berhenti memperhatikan fisiknya.

Damian merasa sedikit malu. Jiwa bocah sepuluh tahunnya tidak tahu bahwa yang membuat Lucas tertegun bukanlah pakaian merah mudanya yang mencolok, melainkan kemiripan wajahnya dengan sosok misterius dari dalam es yang ia temui di tepi sungai beberapa hari lalu. Damian sendiri sama sekali tidak mengenali wajah Lucas, karena saat ia pertama kali terbangun, Lucas sudah bergegas lari tunggang-langgang bersama anaknya menembus rimbunnya hutan.

"Bagaimana, Tuan? Apakah Anda sudi mengizinkan kami?"

Suara Alan kembali memecah keheningan yang sempat menggantung canggung di udara teras.

Lucas tersentak hebat, seolah baru saja ditarik paksa kembali dari lamunan panjangnya. Dengan gerakan tangan cepat yang sedikit gugup, Lucas menyembunyikan tongkat kayu pemukul yang sedari tadi ia genggam erat ke balik daun pintu.

"Oh... tentu saja! Dengan senang hati saya mengizinkan Anda semua untuk menginap di sini," jawab Lucas, berusaha menata vokal suaranya agar terdengar hangat, ramah, dan bersahabat.

"Sebelumnya, perkenalkan... nama saya Lucas Emerson. Dan kebetulan sekali, di lantai atas rumah ini masih ada satu kamar tamu yang ukurannya cukup luas dan dalam kondisi kosong."

Lucas mengulurkan tangan kanannya. Ketiga pria itu menyambutnya dengan senyuman hangat, menjabat tangan Lucas satu per satu sebagai tanda perkenalan resmi. Setelah itu, Lucas menarik pintu kayu rumahnya lebar-lebar, memperlihatkan interior rumah yang hangat dengan dominasi furnitur kayu yang terawat rapi.

"Silakan masuk, Tuan-tuan!"

Alan dan Damian membalas dengan senyuman lebar, segera melangkahkan kaki masuk melewati ambang pintu rumah. Namun, berbeda dengan kedua temannya yang bergerak cepat, Ethan justru terdiam membeku di tempatnya memijak tanah.

Ia berdiri mematung tepat di depan pintu.

Sepasang manik mata ungunya menatap intens tanpa berkedip ke arah lorong rumah yang remang.

Perasaan Ethan saat ini benar-benar campur aduk tidak karuan; ada rasa senang yang meledak-ledak, kegelisahan yang menggelitik sukma, dan detak jantung werewolf-nya yang berdebar kencang menjadi satu kesatuan.

Sejak pertama kali melihat siluet bangunan rumah kayu ini dari kejauhan ladang jagung tadi, ia sudah merasakan adanya tarikan magnetis supernatural yang sangat kuat mencengkeram inti dadanya.

Tepat saat ia berdiri di depan ambang pintu, indra penciuman supernaturalnya yang teramat tajam menangkap sebaris aroma magis.

Aroma buah sitrus yang segar bercampur dengan keharuman lembut dari kelopak bunga mawar yang sedang mekar sempurna mendadak menguar kuat dari arah dalam rumah, menyapa indranya dengan begitu pekat. Aroma itu begitu memabukkan, murni, dan terasa sangat akrab di dalam jiwanya yang terdalam.

'Apakah... apakah rasanya memang semendebarkan dan segila ini saat kita akan dipertemukan dengan Mate sejati kita?'

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!