Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.
Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.
Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.
Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Sewakan Kamar?
Percakapan di atas motor matic itu mengalir makin hangat dan lepas, hingga Nabila kembali membahas topik mencari kosan saat berhenti di lampu merah.
Seperti biasa, Nabila menarik perhatian beberapa laki-laki, tapi ada juga beberapa gadis yang melirik wajah Yuda karena tampan.
Tapi keduanya tidak menghiraukan mereka seolah sudah terbiasa.
"Aku sebenarnya sudah lihat beberapa tempat kos." Nabila kembali membuka topik pembicaraan.
Entah kenapa, di dekat Yuda, ia sangat nyaman berbincang panjang lebar dan merasa pria ini bukanlah tipe kaku kayak pria lain nya yang pernah ia temui.
"Bagaimana kosannya? Sesuai seleramu?"
"Ya dan tidak. Soalnya ada yang dekat kampus tapi kamarnya sempit banget. Ada juga yang nyaman, tapi lokasinya agak jauh."
"Budget berapa emang kamu carinya?"
"Sekitar 5 jutaan masih oke." Nabila menjawabnya pelan.
Yuda terdiam sejenak. '5 juta.'
Angka itu langsung membuatnya teringat pada Botanic Villa di kawasan NavaPark miliknya.
Vila besar itu punya beberapa kamar kosong yang terbiar rapi.
Semalam ia mengeluh karena tempat sebesar itu terlalu sepi kalau ditinggali sendirian.
Daripada dibiarkan kosong, kenapa tidak disewakan saja satu kamar?
Harga Rp5 juta per bulan terasa sangat masuk akal untuk standar kelas atas hunian mahasiswa berada di kawasan BSD yang sudah termasuk biaya listrik dan air.
'Apa aku sewakan saja? Harganya tidak usah terlalu tinggi, 5 juta cukup.'
Ia memikirkan nya sejenak.
Dia juga merasa ini sepadan, daripada vilanya dibiarkan kosong kamarnya, disewakan sepertinya tidak buruk.
Yuda tidak mencari untung dalam menyewakan kamar divilanya, lebih ke kesepian.
Apalagi Nabila ini parasnya cantik, sangat sesuai dengan tipenya.
Tidak akan rugi menyewakan kamar vilanya seharga 5 juta perbulan padanya.
Dan harga segitu juga tidak akan membuat Nabila menaruh curiga, mungkin hanya sedikit terkejut.
Padahal, dengan nominal tersebut, Nabila bakal menikmati fasilitas yang nilainya jauh di luar nalar—kamar luas dengan kamar mandi pribadi, akses kolam renang, taman, hingga sistem keamanan vila kelas atas.
Setelah lama memikirkannya, ia segera mengambil keputusan.
Yuda menyunggingkan senyum tipis. "Kalau budget-nya 5 juta, kebetulan banget. Memang ada satu kamar kosong yang disewakan di dekat kampus kamu."
Mata Nabila langsung berbinar antusias. "Serius, Kak? Dekat kampus?"
"Cukup dekat."
"Berapa?"
"5 juta sebulan, sudah termasuk biaya listrik, air dan ada WiFi dengan kecepatan tinggi juga."
Nabila berpikir sejenak dan merasa tergiur karena ada WiFi juga. "Hm... masih masuk di budget."
Yuda mengangguk. "Tapi sebelum memutuskan, kamu bisa lihat dulu tempatnya."
"Boleh banget!" Nabila tersenyum manis dari belakang. "Jika nyaman dan cocok, aku langsung ambil."
Ia merasa perkataan Yuda dapat di percaya dari penilaian singkat obrolan tadi, jadi untuk sekarang dia tidak menaruh curiga padanya.
"Kalau begitu, mau langsung lihat tempatnya sekarang?" Yuda bertanya sambil melirik kaca spion.
Nabila terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat jadwalnya hari ini.
Sebagai mahasiswi baru, kegiatan orientasi kampus baru saja selesai kemarin dan jadwal perkuliahan efektif belum dimulai.
Hari ini ia benar-benar bebas.
Di tengah perjalanan menuju area asrama kampus, Nabila menganggukkan kepala dari belakang.
"Boleh deh, Kak. Kita lihat dulu aja tempatnya sekarang."
Setelah mengucapakan itu, Nabila merogoh saku celananya dan mengeluarkan Hpnya.
Ia membuka aplikasi chat untuk mengabari teman-teman satu gengnya di kampus.
Nabila mengetik pesan singkat di grup chat temannya:
"Guys, sorry banget ya, jadwal makan bareng kita di restoran ditunda dulu sebentar. Aku mau mampir lihat calon tempat kosan dulu nih di daerah BSD."
Hanya dalam hitungan detik, ponselnya bergetar hebat menerima balasan beruntun dari teman-temannya.
"Lho, mendadak banget, Bil? Dapet info kos dari siapa?"
"Iya Bil, dapet dari agen atau calo yang ngasih tahu?"
"Jangan sembarangan lihat tempat sendirian, Bil, nanti di apa-apain gimana?"
Nabila tersenyum tipis membaca kepanikan dan rasa penasaran teman-temannya.
Ia melirik punggung Yuda yang santai mengemudikan Honda Beat di depannya, lalu membalas singkat dengan nada jahil:
"Tenang aja, aku dapet rekomendasi langsung dari mas-mas ojek ganteng. Dan kurasa dia cukup baik"
Teman-temannya langsung mengirim deretan stiker kaget dan emosi bingung di grup.
Nabila terkekeh pelan, mematikan layar Hpnya, lalu menyimpannya kembali ke dalam saku.
Ia kembali menatap jalanan di depannya, cukup penasaran seperti apa wujud kosan seharga 5 juta per bulan yang ditawarkan oleh pengemudi ojek yang ada di hadapannya ini.
Honda Beat itu terus melaju dengan tenang membelah jalanan BSD, membawa Nabila menuju NavaPark.
Tanpa dia sadari bahwa hunian yang akan dilihatnya nanti adalah sebuah vila mewah bernilai puluhan miliar milik sang 'Sultan' didepannya.
...----------------...
Honda Beat itu terus melaju membelah jalanan BSD.
Nabila yang sejak tadi menikmati percakapan mereka mulai menyadari sesuatu.
Jalan yang mereka lewati semakin sepi.
Bangunan-bangunan komersial yang tadi ramai perlahan berganti dengan pepohonan dan kawasan hunian yang terlihat jauh lebih tertata.
Nabila mengernyitkan dahi.
Ia sedikit mengangkat kepala, mencoba mengenali jalan di depannya.
'Ini... bukannya arah ke NavaPark?'
Ia cukup mengenal kawasan BSD.
Nabila kembali melihat punggung Yuda. "Kak Yuda."
"Hm?"
"Ini kita mau ke mana, ya?"
"Ke tempat kos yang tadi saya bilang."
Nabila terdiam. "Kosnya... di sini?"
"Iya, di kawasan NavaPark, aku jamin kamu bakal suka."
Nabila sedikit terkejut dan terdiam. 'Kawasan NavaPark?'
Matanya mulai memperhatikan lingkungan di sekelilingnya.
Jalan yang mereka lewati terasa berbeda dari kawasan BSD lainnya.
Lebih tenang, pepohonan tumbuh rapi di sepanjang jalan, sementara rumah-rumah besar berdiri dengan jarak yang cukup berjauhan.
'Emangnya ada kamar yang disewakan disana?' pikir Nabila dengan ragu.
Dia cukup paham tentang kawasan NavaPark.
Bagaimanapun ia pernah berkunjung ke rumah salah satu temannya yang tinggal di salah satu kluster kawasan ini.
Dan dari cerita temannya dan rumor yang beredar, semua hunian di NavaPark bernilai belasan hingga puluhan miliar rupiah.
Setahunya, sama sekali tidak ada sejarahnya pemilik rumah di kawasan mewah ini menyewakan kamar kos-kosan.
Pertanyaan besar pun muncul dan mengganjal di benaknya.
Kalaupun memang beneran ada sewa kamar di kawasan mewah NavaPark, pertanyaannya... kenapa pemilik rumah seharga miliaran mau nyewain kamarnya?
Penghuni di sini kan orang kaya semua, mana mungkin mereka butuh uang 5 juta per bulan kan?
Meskipun merasa agak skeptis dengan tawaran Yuda, Nabila memilih untuk menyimpan pertanyaan itu dalam hati dan tidak menyuarakannya.
Karena, ia juga sangat berharap tempat yang dikatakan Yuda ini beneran ada.
Sebab hunian di NavaPark itu mewah-mewah, yang pasti fasilitas dan kualitas kamarnya dijamin luar biasa bukan?
Yang terpenting, kamar sewa itu seharga cuma Rp5 juta per bulan di kawasan eksklusif NavaPark dengan fasilitas lengkap, itu jelas keberuntungan besar baginya.
Dalam benaknya, Nabila berspekulasi kalau kamar sewa yang ingin di perkenalkan Yuda itu pasti milik temannya.
Atau milik salah satu kenalannya dan Yuda hanya bantu mempromosikan.
Tidak mungkin seorang pengemudi ojek biasa memiliki kos di kawasan semahal ini kan?
Setidaknya, itulah kesimpulan paling masuk akal yang muncul di kepalanya.
Beberapa saat kemudian, sebuah gerbang besar mulai terlihat di depan.
Nabila spontan memperhatikan papan nama kawasan tersebut.
NavaPark.
Matanya sedikit melebar.
Ia menatap papan nama itu sekali lagi untuk memastikan.
'Serius?'
Meski sudah siap secara mental, ia masih sangat terkejut dan sedikit tidak percaya.
Dia masih sedikit gugup ketika Yuda mengendari motonya perlahan mendekati gerbang utama NavaPark.
Yuda yang sedang mengemudi tidak mengetahui gejolak emosi yang dialami Nabila.
Bahkan jika dia tahu, mungkin reaksinya cuman biasa dan berpikir gadis ini terlalu banyak berpikir.
Honda Beat yang dikendarai Yuda terus mendekati gerbang.
Di dalam pos keamanan, dua orang satpam yang sedang berjaga langsung memperhatikan kendaraan tersebut.
Bambang yang sedang duduk santai segera mengenali motor itu. "Hah?"
Ia langsung berdiri. "Itu Pak Yuda, kan?"
Jaya yang berada di sampingnya ikut melihat ke arah jalan. "Yang Beat itu?"
"Iya."
Bambang memperhatikan lebih teliti.
Benar.
Honda Beat yang beberapa kali dilihatnya keluar masuk kawasan itu.
Namun kali ini ada seorang perempuan duduk di jok belakang.
Jaya ikut menyipitkan mata.
Begitu Honda Beat semakin dekat, wajah Nabila terlihat semakin jelas.
Keduanya terdiam sesaat.
"Waw..." Jaya bergumam. "Gadis yang cantik."
Bambang mengangguk pelan tanpa sadar. "Itu pasti pacarnya."
"Kayaknya."
Motor tersebut berhenti di depan pos.
Bambang langsung keluar dan berdiri tegak.
"Selamat siang, Pak Yuda."
Nabila yang tadinya masih melihat-lihat kawasan sekitar langsung menoleh.
Pak?
Ia memperhatikan Bambang yang berdiri dengan sikap jauh lebih hormat daripada yang biasanya diberikan kepada pengemudi ojek.
Yuda hanya mengangguk santai.
"Siang, Pak Bambang."
Bambang tersenyum.
"Siang, Pak Yuda." Jaya yang berdiri di sampingnya ikut memberi salam.
"Siang juga, Pak Jaya."
Nabila semakin bingung.
Ia menatap Yuda, kemudian kedua satpam tersebut.
'Pak Yuda?'
'Kenapa mereka hormat banget? Bukannya kalau ojek atau tamu luar masuk NavaPark harus tukar kartu identitas dan verifikasi dulu?'
'Kenapa sekarang malah kak Yuda diperlakukan seperti kunjungan ke rumah pribadinya?' Nabila memiliki keraguan dalam hatinya.
Bab Berakhir.