NovelToon NovelToon
Cinta Dan Keyakinan

Cinta Dan Keyakinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

romansa islami story

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Aroma truffle dan kopi arabica panggang menguar, memenuhi udara di dalam ruang Private Dining sebuah restoran bergaya klasik di kawasan Senopati. Lampu gantung kristal memendarkan cahaya kekuningan yang hangat, menyorot lima manusia yang duduk melingkari meja mahoni bundar di tengah ruangan.

​Di luar, hujan rintik mulai membasahi aspal ibu kota, namun di dalam ruangan berkedap suara ini, kehangatan mengalahkan segalanya. Lima tahun yang hilang seolah ditebus lunas malam ini.

​Karin, yang duduk tepat di sebelah Nadiva, tak henti-hentinya menggenggam tangan sahabatnya itu. Matanya masih sembab, meski bibirnya terus menyunggingkan senyum. Di sebelahnya, Andrew sibuk memotong steak di piring Karin dengan telaten—sebuah pemandangan yang sukses membuat Nadiva geleng-geleng kepala takjub.

​"Sumpah, ya," Nadiva menyesap chamomile tea-nya pelan, matanya menyipit geli menatap interaksi dua sejoli itu. "Dulu rasanya tiap hari kalian kerjaannya adu mulut di kantin. Sekarang udah kayak princess sama pengawal pribadinya. Dunia beneran kebalik."

​Andrew tertawa lepas, meletakkan pisau dagingnya. Kemejanya yang digulung sebatas lengan memamerkan jam tangan chronograph mahal. "Namanya juga cowok sejati, Div. Harus upgrade dong. Dulu gue ngejar dia pakai ejekan, sekarang gue ikat dia pakai saham. Ya kan, Yang?" goda Andrew sambil menaikkan sebelah alisnya ke arah Karin.

​"Saham apaan, cicilan mobil aja lo masih sering nitip ke gue kalau lagi seret!" sungut Karin, meski rona merah di pipinya gagal menyembunyikan kebahagiaannya. "Tapi jujur, Div, lo yang paling bikin kita speechless. Lo pulang-pulang bawa gelar Master, novel lo best-seller di mana-mana. Waktu gue lihat buku lo mejeng di rak depan toko buku, gue nangis di tempat saking bangganya!"

​Senyum tulus mengembang di bibir mungil Nadiva. Ia menatap para sahabatnya dengan dada yang terasa penuh. Lubang rindu yang selama ini menganga di relung hatinya, perlahan tertutup rapat.

​"Alhamdulillah, Rin. Semua ini juga berkat doa kalian. Kalau bukan karena kalian yang sering maksa aku buat istirahat waktu nugas, mungkin aku udah tumbang di gurun Sahara," balas Nadiva dengan kekehan ringan, gaya barbar dan cerianya yang khas kembali menguar secara natural.

​Perhatian Nadiva kemudian beralih pada pria yang duduk di sebelah Andrew. Mex. Pria itu tengah tersenyum tenang, menyesap air putih di gelasnya.

​"Dan Kak Mex..." panggil Nadiva lembut. "Aku dengar dari Karin, Kakak sekarang ngajar di pesantren? Aku... beneran masih nggak nyangka, Kak. Bahagia banget rasanya dengar Kakak udah nemuin jalan kedamaian Kakak sendiri."

​Mex meletakkan gelasnya. Mata teduhnya membalas tatapan Nadiva dengan keikhlasan yang begitu murni, tanpa ada lagi sisa obsesi masa lalu. "Hidayah itu datang dari arah yang nggak disangka-sangka, Div. Gue belajar banyak dari keteguhan lo dulu. Lo yang secara nggak langsung ngajarin gue, kalau di dunia yang berisik ini, kita butuh satu pegangan yang mutlak. Dan gue nemuin itu di Islam." Mex tersenyum tipis. "Sekarang gue malah lagi sibuk ngurusin santri-santri yang nakalnya ngalahin geng kita zaman SMA."

​Tawa renyah pecah mengelilingi meja itu. Obrolan mereka saling bersahutan, mengisi ruang-ruang kosong yang sempat ditinggalkan oleh waktu. Mereka saling bertukar cerita tentang pahit manisnya pendewasaan, menceritakan dosen yang menyebalkan, kerasnya dunia kerja, hingga impian-impian baru yang sedang dirajut.

​Namun, di tengah kehangatan reuni itu, ada satu eksistensi yang kehadirannya tak bisa diabaikan sedetik pun oleh Nadiva.

​Tepat di seberang mejanya, Dereen Hilton duduk bersandar di kursi berlapis beludru.

​Sejak tiba di restoran, pria itu tak banyak bicara. Setelan jas navy-nya sudah ia lepas, menyisakan kemeja hitam slim-fit yang menempel sempurna di tubuh tegapnya. Tiga kancing teratasnya terbuka. Matanya yang gelap dan tajam tak pernah sekalipun beralih dari wajah Nadiva. Ia menyimak setiap tawa gadis itu, mengamati bagaimana bibir mungil itu bergerak, bagaimana ujung pashmina nude itu jatuh menutupi bahunya.

​Tatapan Dereen begitu intens, posesif, dan sarat akan kerinduan yang membakar, membuat Nadiva harus berkali-kali menahan napas dan mengalihkan pandangan ke arah lain agar jantungnya tidak meledak.

​"Terus, lo sendiri gimana, Ren?" Andrew akhirnya melempar bola pada sang CEO muda yang sedari tadi diam seperti patung. "Gue denger dari anak-anak kantor, lo ambil alih kursi presdir dari nyokap lo lebih cepat dari jadwal. Berdarah-darah nggak tuh perang dingin di jajaran direksi?"

​Mendengar pertanyaan itu, keheningan merayap tipis. Nadiva tanpa sadar menahan napas, ujung jemarinya meremas serbet kain di pangkuannya.

​Dereen perlahan menegakkan tubuhnya. Ia meletakkan gelas whiskey kristalnya (yang sedari tadi tak disentuhnya) ke atas meja, lalu melipat kedua lengannya di atas permukaan mahoni. Matanya menatap lurus ke arah Nadiva, sengaja mengabaikan Andrew yang bertanya.

​"Gue di New York bukan cuma buat belajar bisnis," suara bariton Dereen mengalun rendah, dalam, dan menggetarkan udara di ruangan itu. Ada dominasi absolut di setiap suku katanya. "Gue di sana buat ngumpulin power. Gue kerja kayak orang gila, nyingkirin semua dewan direksi yang jadi antek nyokap gue, dan ngambil alih kendali penuh atas semua aset Hilton."

​Karin dan Andrew saling berpandangan dengan raut tegang, tak berani menyela. Sementara Mex hanya mendengarkan dengan tenang, sudah bisa menebak arah pembicaraan sahabatnya itu.

​"Gue ngelakuin itu semua buat satu alasan," lanjut Dereen, mengikis jarak dengan mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya tak lepas sedetik pun dari netra cokelat terang Nadiva. "Gue mau mastiin... pas gue balik ke sini, nggak ada satu orang pun yang bisa ngatur hidup gue lagi. Nggak ada satu orang pun yang berani nginjek harga diri perempuan yang gue cintai. Termasuk nyokap gue sendiri."

​Deg.

​Waktu seakan berhenti berdetak di telinga Nadiva. Jantungnya bergemuruh hebat, menghantam tulang rusuknya dengan brutal. Kalimat itu adalah sebuah deklarasi perang, sekaligus janji perlindungan paling absolut yang pernah diucapkan seorang pria.

​Lima tahun lalu, Dereen hanya pemuda tak berdaya yang tak bisa melawan kekuasaan ibunya. Kini, pria di hadapannya adalah raja yang telah merebut takhtanya sendiri, hanya agar ia bisa membangun kerajaan yang aman untuk sang ratu.

​Udara mendadak terasa tipis. Nadiva menelan ludah, berusaha keras membangun kembali tembok rasionalitasnya yang nyaris runtuh.

​"Menjadi penguasa bukan berarti bisa menentang takdir, Dereen," balas Nadiva akhirnya. Ia memanggil nama pria itu secara langsung, tanpa embel-embel 'Kak', menandakan bahwa kini mereka berdiri di pijakan orang dewasa yang setara. Suara Nadiva mengalun tenang, meski dadanya bergemuruh. "Ada batas-batas yang nggak bisa ditembus cuma pakai kekuasaan atau uang."

​Dereen tersenyum. Bukan seringai angkuh ala bad boy masa sekolahnya, melainkan senyum tipis seorang pria dewasa yang tahu persis apa yang ia mau dan bagaimana cara mendapatkannya.

​"Gue tahu," sahut Dereen lembut, luar biasa lembut hingga membuat bulu kuduk Karin yang mendengarnya ikut meremang. "Gue udah belajar banyak selama lima tahun ini, Nadiva. Termasuk belajar tentang batas yang lo jaga mati-matian itu. Dan gue ke sini bukan buat ngancurin batas itu."

​Pria itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap Nadiva dengan sorot pemujaan yang mendalam. "Gue ke sini buat ngelewatin batas itu... pakai cara lo."

​Mata Nadiva membulat. Napasnya tertahan.

​Sebelum Nadiva sempat memproses makna di balik kalimat berbahaya itu, Andrew dengan sigap memukul meja pelan sambil tertawa canggung, berusaha mencairkan ketegangan slow burn yang nyaris membakar ruangan VIP tersebut.

​"Woy, woy, woy! Ini kita lagi reuni sahabat atau lagi syuting drama romance kelas berat sih? Udah, udahan dulu tatap-tatapannya, itu dessert-nya keburu cair!" seru Andrew heboh, memanggil waiter untuk membawakan hidangan penutup.

​Karin buru-buru menimpali, menepuk lengan Nadiva. "Iya bener! Bahas masa depannya besok-besok aja di ruang meeting berdua, ya, Bapak CEO. Sekarang waktunya kita nostalgia kelakuan minus kita zaman SMA!"

​Suasana yang sempat menegang berangsur-angsur kembali mencair. Tawa dan candaan kembali mendominasi meja bundar itu. Mex menimpali dengan cerita konyol tentang bagaimana Andrew pernah disetrap guru Sejarah, dan Nadiva ikut menceritakan kehidupannya yang barbar menghadapi para pedagang di pasar tradisional Maroko.

​Malam itu, kerinduan mereka lunas terbayar. Obrolan mereka saling mengisi, menyembuhkan luka-luka masa lalu, dan merangkai kembali benang persahabatan yang tak pernah benar-benar putus.

​Namun, di tengah derai tawa para sahabatnya, Nadiva tak bisa membohongi dirinya sendiri. Sesekali, ujung matanya mencuri pandang ke arah pria jangkung di seberang meja. Dan setiap kali ia menoleh, ia selalu mendapati mata kelam Dereen sudah lebih dulu menatapnya, mengawasinya dengan tatapan yang seolah berkata: Aku tidak akan ke mana-mana lagi, Nadiva. Perjuangan kita yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Lyka Lyka
kereenn...
Lyka Lyka
udh baca maraton ehh .. malah abis😂 di tggu lanjut annya
Ossa Mulya
gak sabar nunggu lanjutannya Thor 💚💚💚 seru banget cerita ini💚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!