Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan
Darah merah pekat yang mengalir di atas marmer dingin itu menjadi saksi keheningan paling menyiksa di dalam rumah megah dua lantai tersebut.
Kesadaran Vivian telah runtuh sepenuhnya di dekat ambang pintu depan. Pandangannya tenggelam dalam kegelapan total, hanya menyisakan gemuruh hujan deras di luar sana yang seolah ikut meratapi nasibnya yang tragis.
Keajaiban kecil menghampiri di saat nyawanya berada di ambang batas.
Ibu Mbok Nah, seorang wanita paruh baya yang merupakan tetangga sebelah rumah yang baru saja kembali dari rumah kerabatnya, melihat gerbang depan yang sedikit terbuka di tengah gempuran angin malam.
Ketika beliau memberanikan diri mengetuk dan mengintip melalui celah kaca samping, matanya terbelalak kaget menyaksikan Vivian tergeletak tak berdaya dalam genangan darah.
Suara jeritan panik Mbok Nah memecah malam.
Tanpa membuang waktu, beliau memanggil beberapa warga dan pengemudi taksi di sekitar kompleks untuk mendobrak masuk dan melarikan Vivian ke Rumah Sakit Umum Daerah terdekat.
Selama proses evakuasi yang mencekam itu, Radhit sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya.
Pria itu tetap mengurung diri di kamar lantai dua yang terkunci rapat, menutup mata dan telinganya dari tragedi yang baru saja terjadi akibat perbuatannya sendiri.
Bau menyengat dari cairan antiseptik dan dengung halus dari mesin monitor detak jantung menjadi hal pertama yang menyambut kesadaran Vivian.
Mata Vivian terbuka secara perlahan. Cahaya neon di langit-langit kamar perawatan kelas tiga membiaskan bayangan abu-abu di sudut matanya yang sayu dan cekung.
Selang infus menancap di punggung tangan kirinya yang pucat pasi. Tubuhnya terasa begitu dingin, kebas, dan sama sekali tak memiliki daya untuk sekadar digerakkan.
Hal pertama yang dilakukan oleh jemarinya yang gemetar adalah bergerak pelan, menyusuri kain selimut tipis rumah sakit menuju ke atas perutnya.
Jantung Vivian berdegup kencang secara maraton. Air mata dingin merembes keluar dari sudut matanya sebelum dia sempat mengucapkan sepatah kata pun.
Anakku... anakku gimana...?
"Ibu Vivian..."
Suara lembut namun sarat akan keharuan terdengar dari samping ranjang. Seorang dokter wanita paruh baya yang mengenakan jas putih bersih menatapnya dengan pandangan mata yang sangat teduh sekaligus prihatin.
Di sampingnya, Mbok Nah sedang duduk mengusap matanya yang sembap menggunakan ujung jilbabnya.
"Dokter... anak saya..." bisik Vivian. Suaranya begitu parau, pecah, dan nyaris hilang di udara. "Anak saya masih ada, kan, Dok? Tolong katakan anak saya masih hidup..."
Dokter menghela napas panjang, lalu memegang lembut tangan Vivian yang dingin dan gemetar.
"Tuhan masih menjaga buah hati Ibu," ucap dokter dengan intonasi pelan dan menenangkan.
"Ibu mengalami pendarahan hebat akibat trauma benturan keras dan stres yang melampaui batas. Kami harus berjuang hampir tiga jam di ruang tindakan untuk menghentikan pendarahannya."
Vivian tertegun. Isak tangis pelan lolos dari bibirnya yang membiru. Dia menekan jemarinya rapat-rapat di atas perutnya yang masih terasa hangat.
"Tapi Ibu harus ingat," lanjut dokter dengan raut wajah yang berubah menjadi sangat serius dan tegas.
"Kondisi kandungan Ibu sekarang sangat rapuh. Rahim Ibu tidak akan mampu bertahan jika menerima satu kali lagi guncangan fisik atau stres ekstrem seperti semalam."
Dokter menatap langsung ke dalam manik mata Vivian yang basah.
"Jika Ibu tetap berada di lingkungan yang membahayakan jiwa Ibu, Ibu bukan hanya akan kehilangan janin ini... tapi nyawa Ibu sendiri yang tidak akan terselamatkan."
Kata-kata dokter itu merasuk mendalam ke dasar jiwa Vivian.
Setiap suku katanya memantul kuat, membakar habis sisa-sisa ragu yang pernah ada di dalam hatinya.
Dokter dan Mbok Nah kemudian melangkah keluar ruangan secara perlahan untuk memberikan waktu istirahat, meninggalkan Vivian sendirian dalam keheningan kamar perawatan.
Vivian menatap langit-langit ruangan yang putih polos.
Tidak ada air mata histeris yang menetes lagi. Genangan air mata di matanya perlahan mengering, berganti dengan pandangan mata yang tajam, dingin, dan penuh dengan kepastian yang utuh.
Dua puluh empat jam berada di antara batas hidup dan mati telah mengubah segalanya.
Cinta yang dulu begitu diagungkannya untuk Radhit—cinta yang membuatnya rela dihina, diinjak-injak, diperlakukan bagai pelayan, dan dikurung dalam penjara dingin—kini telah benar-benar tewas tak berbekas.
Pria itu bukan hanya tidak mencintainya. Pria itu secara sadar membiarkannya bersimbah darah dan hampir membiarkan darah dagingnya sendiri tewas di atas lantai rumahnya.
Cukup...
Bisikan itu bergema di dalam pikiran Vivian. Begitu tegas dan memutus.
Cukup aku mengemis kasih sayang pada pria yang tidak punya hati.
Vivian memiringkan tubuhnya dengan sangat perlahan, menahan rasa perih di bagian bawah perutnya yang masih menyengat.
Dia merogoh tas plastik kecil yang diletakkan Mbok Nah di atas meja nakas. Di dalamnya, terdapat ponsel murahnya yang retak dan buku diari kecil bersampul cokelat yang sempat dibawakan oleh tetangganya itu.
Vivian membuka buku diari itu. Di halaman paling belakang yang masih bersih, dia memegang pulpen dengan jemarinya yang kini tidak lagi bergetar.
Dia menuliskan beberapa baris kalimat terakhir yang ditujukan untuk pria yang masih berstatus sebagai suaminya:
Mas Radhit...
Pernikahan ini sudah mati sejak lama, dan semalam kamu sendiri yang membunuh sisa-sisa rasaku sampai tak tersisa.
Kamu tidak perlu khawatir lagi. Mulai detik ini, aku dan anak yang kamu sebut beban ini tidak akan pernah menampakkan diri lagi di depan matamu.
Aku kembalikan rumah mewahmu, kemewahanmu, dan seluruh kebebasan yang kamu inginkan.
Jangan pernah mencari kami. Karena bagi kami... kamu sudah tidak pernah ada.
Vivian menutup buku diari itu secara perlahan. Dia meletakkannya di atas meja nakas tepat di samping cincin pernikahan perak murah yang diloloskannya dari jari manisnya.
Cincin yang dulu menjadi simbol harapannya, kini tergeletak hampa sebagai sampah masa lalu yang tak lagi berharga.
Pagi hari mulai merayap naik di balik jendela rumah sakit. Sinar matahari pagi yang hangat menembus kaca, menerpa wajah Vivian yang pucat namun kini memancarkan aura keteguhan yang sangat kuat.
Dengan perlahan, Vivian mencabut selang infus di tangannya sendiri. Dia mengabaikan rasa perih dan tetesan darah kecil yang keluar di punggung tangannya.
Dia mengganti pakaian rumah sakitnya dengan gaun kain longgar miliknya yang sudah dibersihkan oleh Mbok Nah.
Vivian melangkah turun dari ranjang. Kedua kakinya menapak di atas lantai. Meskipun tubuhnya masih lemas dan terasa sakit, setiap pijakan kakinya kali ini terasa begitu mantap dan tidak lagi ragu.
Dia memeluk tas kain kecilnya di dada, lalu berjalan melangkah keluar dari kamar perawatan.
Vivian menelusuri koridor rumah sakit yang sepi tanpa pernah menoleh ke belakang lagi.
Dia melangkah menuju pintu keluar, menyambut hembusan angin pagi yang bebas di luar sana.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun kehidupan pernihakannya yang penuh derita, Vivian merasa dadanya bisa menghirup udara dengan lega.
Dia mengelus perutnya dengan lembut sembari berbisik tegas pada dirinya sendiri dan janin di dalamnya:
"Kita mulai kehidupan kita yang baru, Nak... Tanpa dia."
Vivian melangkah masuk ke dalam angkutan umum yang membawanya pergi jauh meninggalkan kota itu—menghilang sepenuhnya dari kehidupan Radhit Gezha Revandhana.
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian