NovelToon NovelToon
Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.

​Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.

​Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH TIGA

Jam dinding menunjukkan tepat pukul empat pagi. Amara mendadak terbangun dari lelapnya. Rasa panik tiba-tiba menyeruak memenuhi benaknya saat ingatan tentang tugas kuliah melintas. Ia teringat bahwa menyalin jurnal ilmiah tugas dari suaminya masih tersisa satu jurnal lagi yang belum tuntas.

Saat Amara beringsut hendak bangun dan menarik tangannya dari dekapan, Zain yang merasa ada pergerakan ikut terbangun seketika. Mata pria itu terbuka, menatap Amara dari jarak yang amat dekat.

"Mau ke mana jam segini?" tanya Zain dengan suara serak khas bangun tidur.

"Kak Zain, tugas jurnal ilmiahku belum selesai," bisik Amara cemas, mencoba menegakkan tubuhnya. "Masih kurang satu jurnal lagi. Hari ini kan jadwal pengumpulannya sebelum kuliah dimulai."

Zain menghela napas pendek, merengkuh kembali bahu Amara agar tidak beranjak. "Tidur lagi. Masih jam empat pagi."

"Tidak bisa, Kak! Nanti Kak Zain ada alasan untuk menghukumku!" Amara memaksa bangun, namun mendadak ia meringis pelan saat rasa nyeri menusuk kembali di bagian ulu hatinya.

Tak.

Sentilan pelan mendarat tepat di kening Amara. Zain menatapnya dengan raut wajah kaku. "Harus nurut apa kata suami. Jangan membantah."

Amara mengerucutkan bibirnya, lalu menggerutu sengit di dalam hatinya. Dasar gudang es batu, pemaksa, dan galak! Orang mau mengerjakan tugas kok malah dilarang!

Zain memasang wajah datar tanpa ekspresi, lalu bersuara pelan. "Dosa memaki dan mengutuk suami di dalam hati."

Amara seketika membelalak kaget. Ia refleks menutupi mulutnya sendiri, menatap Zain dengan pandangan tak percaya.

Zain membetulkan selimut yang membungkus dada Amara hingga batas leher. "Istirahat saja. Tugas jurnalmu sudah saya selesaikan semalam. Semua sepuluh jurnal sudah tertulis rapi di dalam buku diktatmu."

Amara membeku. "S-sudah selesai? Kak Zain yang menulisnya?"

"Sudah," sahut Zain pendek, membalikkan tubuhnya membelakangi Amara untuk melanjutkan tidurnya. "Tidur lagi sekarang."

Amara akhirnya patuh dan merebahkan kembali tubuhnya di atas bantal, meski benaknya dipenuhi rasa bingung yang luar biasa. Ia menatap punggung tegap suaminya yang terbaring membisu.

Kenapa Kak Zain bisa tahu kalau aku sedang memakinya di dalam hati? tebak Amara kebingungan. Jangan-jangan... Kak Zain juga bisa mendengar suara hatiku? Sebab dia sering sekali menebak tepat apa yang sedang kupikirkan!

Amara mengingat-ingat kembali rentetan kejadian unik yang dialaminya. Ia mulai menyusun analisa dalam kepalanya. Sejak kejadian ciuman tidak sengaja di dapur hingga ciuman malam ini, durasi ia bisa mendengar gema suara batin Zain sepertinya hanya bertahan beberapa jam saja setelah adanya kontak fisik atau ciuman di antara mereka. Saat ini, kesunyian di dalam kepalanya kembali melingkup, menandakan koneksi ajaib itu telah terputus kembali.

Matahari sudah tinggi ketika Amara kembali terbangun. Jam dinding di kamar menunjukkan tepat pukul delapan pagi. Suasana kamar terasa sunyi, Zain dipastikan sudah berangkat ke kampus untuk mengajar perkuliahan pagi.

Di atas nakas kecil sebelah ranjang, sebuah kotak makanan berwarna putih sudah tertata rapi. Di dalamnya terdapat porsi bubur ayam hangat yang terjaga suhunya karena dilengkapi wadah pemanas otomatis khusus, potongan buah segar, serta beberapa butir obat. Terselip pula sebuah lembar sticky note kecil bernuansa pastel dengan guratan tulisan tangan yang teramat rapi khas milik Zain:

[Habiskan bubur dan buah ini, lalu minum obatmu tepat waktu. Jangan melangkah turun dari ranjang sebelum infusnya dilepas.]

Amara menyunggingkan senyum tipis tanpa sadar, membawa kertas kecil itu ke dadanya. Namun tak lama kemudian, rasa bosan menyergapnya. Ia tak bisa turun dari tempat tidur karena selang infus masih terpasang rapat di punggung tangannya.

Siang harinya saat dia bosan, ponsel di atas kasur berdering nyaring. Sebuah panggilan video call dari Erin dan Adinda masuk ke layar. Amara dengan cepat menggeser tombol hijau.

"Amara! Kamu ke mana saja sih? Kenapa tidak masuk kuliah hari ini?" seru Erin heboh begitu wajahnya muncul di layar ponsel.

"Iya, Mara! Kamu sakit apa?" timpal Adinda dari samping Erin, memasang raut cemas.

Amara memosisikan ponselnya agar selang infus di tangannya tidak terlihat di kamera. "Aku cuma sedikit demam dan maagku kumat. Maaf ya tidak mengabari kalian."

"Aduh, pantas saja!" desah Erin prihatin. "Tapi kamu tahu tidak, Mara? Pagi ini di kelas Farmasetika, suasana benar-benar mengerukan! Banyak sekali mahasiswa yang dihukum tidak boleh ikut kuliah gara-gara tugas sepuluh jurnal itu ada yang kurang atau belum tuntas disalin! Prof Zain kejam banget, nggak ada toleransi sama sekali"

"Iya!" potong Adinda berbisik heboh ke arah layar. "Tapi ada gosip hangat lagi nih! Tadi pas di koridor laboratorium kedokteran, aku lihat asisten dosen baru yang cantik itu jalan bareng Profesor Zain. Mereka kelihatan dekat sekali, bicaranya manis banget lagi. Kayaknya asdos baru itu beneran menaruh hati sama Profesor Zain deh!"

Meski ada rasa cubitan cemburu yang menyengat di dalam dadanya, Amara tetap menjaga raut wajahnya agar tetap tenang dan tidak menunjukkan ekspresi apa pun di depan kedua sahabatnya. "Oh ya? Mungkin cuma membahas pekerjaan saja. Jangan bergosip."

Belum sempat Erin menanggapi, terdengar suara pintu kamar yang terdorong terbuka pelan dari luar.

"Nona Amara? Bibi masuk ya..."

Seorang wanita paruh baya berwajah ramah melangkah masuk membawa nampan berisi kain lap dan perlengkapan kebersihan. Dialah Bibi Ayu, asisten rumah tangga yang datang dua hari sekali untuk membersihkan rumah, sekaligus diutus khusus oleh Zain hari ini untuk mengantarkan makanan serta menjaga Amara.

"Erin, Dinda, sudah dulu ya. Ada bibi ART di rumahku," pangkas Amara terburu-buru.

"Oh, oke! Cepat sembuh ya, Mara!"

Panggilan video call terputus. Bibi Ayu tersenyum hangat, meletakkan nampannya di meja. "Nona Amara sudah mendingan? Tadi Pak Zain menelepon Bibi sampai tiga kali, wanti-wanti supaya Bibi segera datang dan memasakkan sup hangat untuk Nona."

Amara menatap Bibi Ayu, hatinya yang tadi sempat gundah perlahan menghangat kembali.

Sementara itu, di sebuah kafe bernuansa elegan yang tak jauh dari kompleks gedung pengadilan kota, suasana hening melingkupi meja sudut di dekat jendela kaca.

Zain duduk tegap mengenakan kemeja formal hitamnya, berhadapan dengan seorang pria berjas rapi dengan gestur tubuh yang penuh wibawa dan dominasi. Pria di hadapannya adalah Arbara Sanjaya, kakak kandung Amara. Kebetulan Arbara baru saja menyelesaikan pertemuannya bersama seorang klien penting di sekitar area tersebut.

Arbara menyesap kopi hitamnya perlahan, melipat kedua tangannya di atas meja, lalu menatap Zain dengan pandangan mata yang sangat tajam.

"Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan adikku, Zain?" buka Arbara tanpa basa-basi, suaranya berat dan menekan.

Zain merapikan letak kacamatanya dengan gerakan tenang. "Kami baik-baik saja. Amara menjalani hari-harinya di kampus dengan lancar."

Arbara menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan intimidasi. Pria itu adalah seorang pengacara kondang yang sangat disegani di dunia hukum, terkenal dingin dan belum pernah sekalipun menelan kekalahan dalam menangani kasus-kasus besar kliennya.

"Aku harap perkataanmu itu benar, Zain," ujar Arbara dengan nada rendah namun mematikan. "Amara itu adalah satu-satunya adik perempuan yang paling kuproteksi di dunia ini. Dia rela mengorbankan masa mudanya dalam pernikahan yang rumit ini."

Arbara memajukan tubuhnya, menatap lurus tepat ke dalam manik mata Zain.

"Dengar baik-baik, Kaellan Zain Alfatih," desis Arbara penuh ancaman. "Sekali saja aku mendengar atau melihat adikku menangis karena perlakuanmu, atau jika kamu sampai berani menyakiti hatinya sedikit saja... Aku bersumpah tidak akan ragu untuk memprosesmu secara hukum dan memasukkanmu ke dalam hotel prodeo hingga kamu membusuk di sana. Dan kamu tahu betul, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku."

Zain tidak gentar sedikit pun, namun rahangnya mengencang keras mendengar gertakan tersebut. Pria itu tetap menatap Arbara tanpa berkedip, menyembunyikan gelombang penyesalan dan rasa bersalah yang sebenarnya membakar batinnya mengingat kondisi Amara yang saat ini sedang terbaring sakit di rumah karena ulahnya sendiri.

Zain menopang dagunya dengan kedua tangannya di atas meja, "Kakak iparku yang baik, bagaimana jika adik kesayanganmu itu tahu bahwa kejadian empat tahun yang lalu adalah rencana kakak kandungnya?"

1
SENJA
bisa saling denger apa gimana?🫣
SENJA
pake nanya lu 😤
SENJA
hadeeeh makan aja kok susah ada yah orang kaya gini 😳
SENJA
lu pecat lah silvia gaje itu😤
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
wkwkwkw kalo begitu kau cium saja itu suamimu tiap hari biar bisa mendengar suara hati Zain kan lumayanlah tuh🤔🤭🤣🤣🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
lahhhh kok ternyata kakak Amara sendiri yang merencanakannya kejadian empat tahun yang lalu itu 😱🤔
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
kali ini zain menang banyak wkwkw
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
si zain main sosor aja 😭
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
owalah Zain kau itu benar benar menggemaskan sekaligus ngeselin banget cobalah sekali kali bicara yang jelas dan pikirkan perasaan Amara yang merasa dirinya tak cukup pantas berada disisimu🤔
Muft Smoker
gengsi di gedein zaiiin ,, zaiiin ,,
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
Muft Smoker: waah dtggu banget tuh kak dew ,, penasaran ma ekspresi ny si zain ,,
muka doank dingin ,, tp curahan hati ny sangat2 berbahaya 🤭🤭😂😂😂😂
total 2 replies
Muft Smoker
zain peka dikit jd suami ,, sebelum semua terlambat
Muft Smoker
ni dosen kyak ny pake jalur instan nih ,, gx da adab ny
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
apakah ini ciri ciri amara mau pisah?
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Zain tidak bisakah kau turunkan egomu itu jika Amara sudah memasuki fase lelah padamu yang ada kalian akan bubar 🤔🥹
SENJA
mantabs pak wanto 🤣
SENJA
sok tau lo 🤣
SENJA
yeeeeeey huuuu ga tau malu🤣🤣🤣
SENJA
laaaah siapa elu 🤣🤣
SENJA
lu dosen ga ada adab woeee
SENJA
jangan2 zain bisa juga 😳🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!