"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
"Dendam seorang wanita yang terbuang lebih tajam dari mata pedang. Di episode ini, Bima menyadari bahwa meremehkan musuh adalah kesalahan fatal yang menghancurkan sisa-sisa kehormatannya. Saat berita skandal meledak bagai bom atom di jantung ibu kota, gema kehancurannya merambat hingga ke pelosok Sukamaju. Di satu sisi, sebuah nama besar sedang sekarat, namun di sisi lain, sebuah hati telah benar-benar menutup pintu untuk masa lalunya. Mari saksikan bagaimana lumpur yang dilemparkan Clarissa mulai menenggelamkan dinasti Erlangga."
.
.
Pagi itu, kantor Erlangga Group yang biasanya tenang mendadak berubah menjadi sarang lebah yang terusik.
Suara telepon berdenging tanpa henti, para staf humas berlarian dengan wajah pucat, dan di luar gedung, puluhan wartawan sudah mengepung pintu masuk dengan kamera siap tembak.
Bima sedang menatap layar monitor yang menampilkan grafik perbankan saat pintu ruangannya terbuka dengan hantaman keras.
**BRAK** !!!
Panji masuk tanpa mengetuk pintu. Napasnya tersengal, wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi keringat dingin. Ia memegang sebuah tablet yang menyala terang.
"Pak... Bapak harus lihat ini. Sekarang!" suara Panji bergetar hebat.
Bima mengerutkan kening, merasa terganggu dengan ketidaksopanan asistennya. "Ada apa, Panji? Aku sedang fokus pada negosiasi Bank Artha ..."
"Lupakan Bank Artha, Pak! Semuanya sudah berakhir!" Panji meletakkan tablet itu di atas meja Bima.
Mata Bima membelalak. Di layar itu, terpampang tajuk utama sebuah portal berita gosip terbesar di tanah air.
"SKANDAL GELAP CEO ERLANGGA GROUP - PERSELINGKUHAN DAN KEBOBROKAN MORAL DI BALIK DINASTI MEWAH."
Di bawahnya, terdapat video eksklusif Clarissa. Wanita itu duduk dengan air mata buaya, menceritakan bagaimana Bima memaksanya menjadi selingkuhan, bagaimana Bima menyiksa batin istri sahnya, hingga mengusirnya dalam keadaan mengandung demi kesenangan pribadi.
Clarissa memutarbalikkan fakta dengan sangat rapi, memposisikan dirinya sebagai korban manipulasi Bima. Bahkan, ia menunjukkan foto-foto Bima yang sedang mabuk di club malam sebelumnya sebagai bukti degradasi moral sang CEO.
"Sialan!" raung Bima. Ia membanting tablet itu ke lantai hingga layarnya hancur berkeping-keping. "Wanita ular itu... dia benar-benar melakukannya!"
"Bukan hanya itu, Pak," tambah Panji dengan suara lemas. "Berita ini sudah menyebar ke media sosial. Netizen mulai melakukan boikot terhadap produk retail kita. Saham kita... saham kita terjun bebas di pembukaan pagi ini. Investor asing mulai menarik modal mereka secara masif."
Bima terduduk lemas di kursinya. Jantungnya berdegup kencang, rasa mual menghantam ulu hatinya.
Ia pikir ia bisa memperbaiki perusahaan dalam seminggu, namun Clarissa baru saja membakar seluruh gedung itu beserta isinya hanya dalam hitungan jam.
Sementara itu, ratusan kilometer dari hiruk-pikuk Jakarta, suasana di ruko Anindita Pastry terasa kontras. Hana sedang membungkus beberapa kotak roti pesanan pelanggan saat televisi kecil di sudut ruangan menyiarkan berita Breaking News.
"...pencitraan publik sebagai pengusaha sukses kini runtuh seketika setelah mantan kekasih gelapnya membeberkan fakta memilukan tentang pengusiran istri sah yang tengah hamil..."
Hana tertegun. Gerakan tangannya terhenti. Ia menatap layar televisi itu. Di sana, foto wajah Bima terpampang besar, namun kini disandingkan dengan kata-kata 'Kejam' dan 'Tidak Bermoral'.
Bayangan malam kelam saat ia diusir di bawah guyuran hujan tiba-tiba terlintas kembali. Rasa perih itu sempat muncul, namun hanya sekilas.
Adrian, yang baru saja masuk untuk menjemput Hana makan siang, segera menghampiri. Ia melihat wajah Hana yang pucat menatap layar TV. Adrian langsung mengambil remote dan mematikan televisi tersebut.
**KLIK**.
Keheningan seketika menyelimuti ruko.
"Hana, jangan didengarkan," ucap Adrian lembut sambil memegang pundak Hana. "Itu bukan duniamu lagi. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka di sana."
Hana menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia menatap Adrian dengan tatapan yang sangat jernih.
"Kamu benar, Mas. Aku tidak lagi peduli apakah dia hancur atau berjaya. Namanya sudah lama mati di hatiku."
Hana kembali melanjutkan pekerjaannya membungkus roti, seolah berita besar yang mengguncang satu negara itu hanyalah angin lalu.
Baginya, kebahagiaan Saka dan pernikahannya dengan Adrian yang tinggal menghitung hari jauh lebih penting daripada drama memuakkan mantan suaminya.
~~
Di rumah utama Erlangga, situasinya jauh lebih tragis. Bu Sarah terduduk di meja makannya yang megah, dikelilingi oleh tumpukan surat pemutusan kerja sama sepihak dari mitra-mitra lamanya.
"Nyonya... pihak tekstil dari Singapura baru saja menelepon. Mereka mencabut kontrak pengadaan bahan untuk tahun depan karena alasan 'Citra Perusahaan yang Tidak Sejalan'," lapor asisten rumah tangganya dengan ketakutan.
Bu Sarah memijat keningnya yang berdenyut hebat. Ia merasa seolah dunia sedang runtuh di atas kepalanya.
Nama baik yang ia bangun puluhan tahun bersama mendiang suaminya, kini hancur hanya karena nafsu sesaat putranya.
"Clarissa..." desis Bu Sarah dengan suara parau. "Wanita parasit itu benar-benar ingin mati."
Bu Sarah mencoba menghubungi beberapa relasi lamanya, namun tidak ada satu pun yang mengangkat. Mereka yang dulu berebut ingin makan malam bersamanya, kini menjauh seolah ia adalah wabah penyakit.
Penyesalan terdalam menghujam batinnya. Ia menyesal karena dulu tidak bertindak lebih tegas. Ia menyesal karena tidak mendengar menantu sebaik Hana pergi dari rumah ini.
"Kita sudah kalah," gumam Bu Sarah. Ia menatap foto mendiang suaminya di dinding. "Maafkan aku, Mas. Aku gagal menjaga warisanmu karena anak kita sendiri yang menghancurkannya."
~~
Kembali ke kantor, Bima tampak seperti orang yang kehilangan akal sehat. Alih-alih memikirkan cara menyelamatkan saham, ia justru mengambil jasnya dan kunci mobil.
"Pak! Mau ke mana? Direktur Bank Artha sebentar lagi sampai!" cegat Panji.
"Biarkan saja!" bentak Bima. "Perusahaan ini sudah hancur, Panji! Tapi aku tidak boleh kehilangan Hana. Jika aku jatuh miskin, setidaknya aku harus memiliki Hana dan anakku kembali. Pria bernama Adrian itu tidak boleh mendapatkan apa yang seharusnya milikku!"
Bima berlari menuju lift. Di kepalanya hanya ada satu tujuan - Sukamaju.
Ia tidak peduli pada pemberitaan media. Ia tidak peduli pada kemarahan ibunya. Dalam kondisi terjepit dan hancur, ego pria angkuh ini justru semakin membabi buta.
Ia merasa bahwa jika ia bisa membawa Hana pulang, maka hidupnya akan kembali lengkap, meski tanpa harta. Ia tidak menyadari bahwa Hana yang sekarang bukanlah Hana yang dulu bisa ia tindas.
Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi keluar dari Jakarta, menuju desa yang dalam hitungan hari akan merayakan pernikahan wanita yang sangat ia rindukan, namun juga sangat ia sakiti.
Apakah Bima akan sampai di Sukamaju dan melakukan kekacauan sebelum hari pernikahan?
Pantengin terus yaaa ...
...----------------...
**To Be Continue** ....
Bima semangat 🔥💪🥰