NovelToon NovelToon
Dokter Yang Mengatur Takdir

Dokter Yang Mengatur Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: Nvlin888

Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkas yang Sudah Ada Sebelum Namanya Kukenal

Damar muncul lagi di ruang perawat tiga hari kemudian. Kali ini bukan mengantar berkas, melainkan berdiri canggung di dekat pintu, seolah sedang berperang dengan dirinya sendiri sebelum akhirnya memutuskan untuk mendekat. Jam kerjanya seharusnya sudah selesai. Namun, ia masih mengenakan jas kerja yang sama seperti pagi tadi, dasinya sudah longgar, tanda seseorang yang menghabiskan waktu lebih lama dari biasanya menimbang sebuah keputusan.

"Suster Nireva, boleh bicara sebentar? Di tempat yang lebih sepi?" tanyanya, suaranya lebih pelan dari biasanya. Matanya sesekali melirik ke kiri dan kanan seperti memastikan tidak ada yang mendengar.

Alya mengikutinya ke tangga darurat yang jarang dipakai, tempat yang cukup jauh dari telinga siapa pun. Hanya diterangi lampu darurat berwarna kekuningan dan bau debu yang sudah lama mengendap di sudut-sudutnya. Begitu pintu tertutup, Damar menyandarkan punggungnya ke dinding, menghela napas panjang seperti orang yang baru saja memutuskan untuk melompat dari tempat yang sangat tinggi.

"Saya lihat kejadian di toko Ibu Bayu kemarin," katanya, akhirnya. "Saya yang mengoordinasikan tim yang 'kebetulan' datang memeriksa. Itu bukan pekerjaan yang saya banggakan, Suster."

"Kenapa kamu cerita ini ke aku?" Alya bertanya, jantungnya berdegup cepat.

"Karena saya capek," Damar berkata, jujur. Suaranya bergetar menahan sesuatu yang sudah lama dia pendam. "Delapan tahun saya kerja untuk orang yang saya hormati, tapi juga saya takuti. Dan sekarang saya melihat pola yang sama terulang, cuma dengan wajah baru, Suster."

"Pola apa, Damar?"

Damar diam lama, matanya menerawang seolah menimbang berapa jauh dia berani melangkah. "Ada berkas di sistem pribadi Pak Raze, Suster. Bukan berkas medis. Berkas tentang orang-orang di sekitar Suster. Keluarga, teman, dan... Bayu. Berkas itu sudah ada jauh sebelum Suster resmi bekerja di sini."

Alya merasakan lantai di bawah kakinya seolah miring. "Maksudmu?"

"Saya yang mengelola sebagian arsip pribadinya sejak lima tahun lalu," Damar melanjutkan, suaranya semakin pelan. "Nama Bayu sudah ada di dalamnya sejak awal. Riwayat kerja, riwayat keuangan, bahkan sebelum dia melamar Suster. Saya pikir waktu itu, itu cuma bagian dari due diligence standar, semacam pemeriksaan latar belakang biasa. Saya baru sadar maknanya yang sebenarnya, setelah melihat semua yang terjadi belakangan ini."

Alya mencengkeram railing tangga di belakangnya, mencoba menstabilkan dirinya sendiri. "Kamu bilang lima tahun lalu. Itu tepat pas Bayu mulai ngedeketin aku."

"Saya tahu, Suster," Damar berkata, suaranya semakin berat. "Itu yang membuat saya nggak bisa tidur nyenyak beberapa hari terakhir. Saya terus mikir, kalau memang benar Pak Raze udah memperhatikan Suster sejak sebelum itu, berarti Bayu bukan cuma kebetulan lewat dalam hidup Suster. Dia mungkin... disaring."

"Disaring gimana maksudmu?" Alya bertanya, suaranya semakin tercekat.

"Saya nggak tahu detailnya, Suster. Cuma dugaan saya sendiri," Damar berkata cepat, seolah menyesal sudah mengucapkan kata itu. "Tapi kalau ada berkas yang disiapkan sebelum seseorang bahkan mendekat, itu artinya seseorang di atas sana sudah punya standar tertentu tentang siapa yang boleh dan tidak boleh dekat dengan Suster."

"Kamu bilang, sejak sebelum Bayu ngelamar aku?" Alya bertanya, suaranya nyaris tidak keluar. Tenggorokannya tercekat oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar rasa ingin tahu.

"Iya, Suster," Damar menjawab, matanya penuh penyesalan. "Saya tidak tahu detail lebih jauh dari itu. Saya cuma menjalankan tugas administratif memperbarui data, mengecek laporan keuangan tahunan. Saya tidak pernah bertanya kenapa nama-nama itu penting bagi beliau. Sampai sekarang."

"Kenapa kamu baru cerita sekarang?"

"Karena Suster orang pertama yang membuat saya melihat bedanya antara loyalitas dan diam saja atas sesuatu yang salah," Damar berkata, jujur, matanya berkaca-kaca meski dia berusaha menahannya. "Saya sudah delapan tahun memilih diam, Suster. Saya tidak sanggup lagi memilih itu, kalau diamnya saya berarti membiarkan seseorang lain terjebak dalam pola yang sama seperti yang lain sebelumnya."

"Yang lain? Maksudmu, Sarah?"

Damar mengangguk pelan, tidak sanggup mengucapkannya keras-keras. "Saya masih baru waktu itu, Suster. Saya cuma tahu sepotong-sepotong. Tapi polanya sama.Perhatian, kedekatan, lalu semua orang di sekitar target entah kenapa mulai menghadapi masalah yang aneh, sampai akhirnya tidak ada lagi yang berdiri di antara mereka berdua."

"Apa yang harus aku lakuin sekarang, Damar?" Alya bertanya, suaranya putus asa, mencari jawaban dari satu-satunya orang yang sejauh ini berani jujur padanya.

"Saya nggak berhak kasih saran soal itu, Suster," Damar berkata, pelan. "Yang saya bisa lakuin cuma kasih Suster informasi yang selama ini nggak Suster punya. Sisanya, keputusan Suster sendiri yang harus ambil."

"Kamu nggak takut ketauan udah cerita ini ke aku?" Alya bertanya, khawatir juga akan nasib pria di depannya.

"Saya takut," Damar mengakui, jujur, tangannya mengepal di samping tubuhnya. "Tapi saya lebih takut lagi, kalau suatu hari Suster nanya ke saya, kenapa saya diam aja padahal saya tahu. Saya udah cukup lama hidup dengan penyesalan soal Sarah. Saya nggak mau nambah satu lagi nama di daftar itu."

Kalimat itu menetap dalam di dada Alya, dan dia menggenggam tangan Damar sebentar. Gestur kecil untuk berterima kasih yang tidak sanggup dia ucapkan dengan kata-kata saat itu.

"Hati-hati, Damar," Alya berbisik.

"Suster juga," dia menjawab, sebelum akhirnya berjalan pergi lebih dulu, meninggalkan Alya sendirian di tangga darurat yang dingin, dengan kepala yang dipenuhi terlalu banyak pertanyaan untuk bisa dia susun rapi.

Malam itu, Alya duduk di ruang kerja Raze, menunggu. Tangannya dingin meski udara ruangan itu hangat. Begitu dia masuk, Alya langsung berdiri, tidak lagi sanggup menyembunyikan gemetar di suaranya.

"Berapa lama kamu udah punya berkas soal Bayu?" Alya bertanya, langsung, tanpa basa-basi.

Untuk sesaat, wajah Raze menunjukkan keterkejutan yang jarang sekali muncul.Cukup lama untuk menjadi jawaban tersendiri sebelum akhirnya dia menjawab. "Siapa yang memberitahumu hal itu?"

"Nggak penting siapa," Alya berkata, suaranya bergetar. "Jawab pertanyaanku, Raze. Berapa lama?"

Dia berjalan ke jendela, punggungnya menghadap kota, jeda panjang sebelum akhirnya menjawab, suaranya lebih pelan dari biasa. "Sejak dia mulai serius mendekatimu. Aku ingin tahu siapa pria yang berani mendekati seseorang yang sudah lama kuperhatikan."

"Udah lama kuperhatikan," Alya mengulang, suaranya nyaris hilang. "Sejak kapan, Raze? Jangan bohong lagi."

Dia berbalik, matanya menatapnya lama. Disana Alya melihat sesuatu yang menyerupai ketakutan sungguhan di wajahnya. Ketakutan akan kehilangan sesuatu karena kejujuran yang akan segera dia ucapkan.

"Lebih lama daripada yang siap kamu dengar malam ini," katanya akhirnya, jujur, tapi sengaja tidak lengkap. "Aku janji akan menceritakan semuanya, Alya. Tapi tidak malam ini. Tidak dengan cara secepat dan semarah ini."

"Kamu selalu bilang gitu," Alya berkata, air matanya jatuh, suaranya penuh frustrasi yang sudah lama menumpuk. "Selalu 'belum saatnya', selalu 'cerita panjang'. Aku capek jadi orang terakhir yang tahu tentang hidupku sendiri, Raze."

"Kalau aku ceritakan semuanya sekarang, dengan kondisi kamu semarah ini," Raze berkata, suaranya tetap tenang meski matanya menunjukkan kegelisahan yang jarang dia perlihatkan, "kamu tidak akan mendengarnya sebagai kebenaran. Kamu akan mendengarnya sebagai senjata untuk membenarkan kepergianmu. Aku terlalu takut kehilangan kamu untuk mengambil risiko itu malam ini."

"Jadi kamu lebih milih aku tetep dalam gelap, daripada risiko kehilangan aku?" Alya bertanya, suaranya pahit. "Itu bukan cinta, Raze. Itu kontrol."

"Mungkin bagiku, keduanya nggak pernah benar-benar berbeda," Raze berkata, jujur, suaranya menyerah untuk pertama kalinya. "Aku nggak pernah belajar cara mencintai tanpa juga ingin mengendalikan. Itu salah satu hal yang aku benci dari diriku sendiri, tapi belum tentu bisa aku ubah secepat yang kamu inginkan."

"Kalau gitu gimana aku bisa percaya, kalau kamu bilang cinta ke aku itu beda sama cinta yang bikin kamu ngancem keluarga Bayu?" Alya bertanya, suaranya bergetar menahan tangis.

"Kamu nggak bisa," Raze menjawab, jujur, menatapnya lurus. "Belum. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun sebelum kamu bisa percaya sepenuhnya, kalau memang itu yang kamu butuhkan. Yang bisa aku janjikan cuma, aku akan terus mencoba, selama kamu masih mengizinkanku ada di dekatmu."

Raze melangkah mendekat, tapi kali ini Alya mundur, tangannya terangkat sebagai isyarat agar dia tidak lebih dekat lagi.

"Aku butuh waktu sendiri," Alya berkata, suaranya lebih tenang meski hatinya jauh dari tenang. "Bukan karena aku berhenti peduli. Tapi karena aku nggak bisa terus-terusan dibohongi sepotong-sepotong dan berharap itu cukup buat bikin aku tetap percaya."

Raze berhenti, tangannya jatuh ke samping tubuhnya, dan untuk sesaat, dia terlihat begitu kehilangan arah. Sosok yang biasanya begitu terkendali kini berdiri seperti orang yang baru saja menyadari betapa dekat dia dengan kehilangan sesuatu yang tidak sanggup dia hitung nilainya.

"Aku akan menunggu," katanya, akhirnya, suaranya pasrah untuk pertama kalinya. "Selama yang kamu butuhkan. Tapi aku tidak akan berhenti mencintaimu selama masa tunggu itu, Alya, seberapa pun kamu memintaku untuk mencoba."

Alya tidak menjawab, hanya berbalik dan berjalan keluar. Air matanya mengalir sepanjang lorong menuju lift. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, dia meninggalkan ruangan itu tanpa satu sentuhan pun di antara mereka. Di dalam lift, sendirian, dia bersandar ke dinding kaca, membiarkan air matanya mengalir bebas tanpa perlu lagi berusaha terlihat kuat di depan siapa pun. Memikirkan betapa lelahnya menjadi satu-satunya orang yang selalu terakhir tahu tentang benang-benang yang mengikat hidupnya sendiri.

Wulan masih di ruang ganti ketika Alya sampai, dan begitu melihat wajahnya yang sembap, dia langsung berdiri, tidak bertanya dulu, hanya memeluknya erat.

"Aku nggak tahu harus mulai dari mana, Lan," Alya berbisik di bahunya, suaranya serak.

"Nggak usah mulai dari mana pun kalau kamu belum siap," Wulan berkata, membiarkannya menangis beberapa menit sebelum akhirnya menariknya duduk. "Tapi kalau kamu udah siap, aku di sini siap medengar semuanya."

Alya menceritakan semuanya. Berkas yang sudah ada sejak lima tahun lalu, foto yang tidak pernah diambil ibunya, kebimbangan yang semakin menumpuk setiap harinya dan Wulan mendengarkan tanpa memotong sekali pun. Wajahnya semakin serius setiap detail baru yang keluar.

"Al," Wulan akhirnya berkata, memilih kata-katanya hati-hati. "Aku nggak akan nyuruh kamu pergi atau tetep tinggal. Tapi aku mau kamu inget satu hal. Orang yang beneran sayang kamu, nggak akan bikin kamu ngerasa harus nyusun ulang seluruh hidupmu cuma buat ngerti siapa dia sebenarnya."

Kalimat itu menempel dalam di dada Alya, sesuatu yang dia tahu benar, tapi belum sanggup dia terima sepenuhnya malam itu.

Di kosnya malam itu, Alya duduk lama menatap ponselnya, sebelum akhirnya menekan nomor yang jarang dia hubungi. Rumah orang tuanya di kampung halaman.

"Ma," katanya, begitu suara di ujung telepon menjawab, hangat dan sedikit serak karena baru bangun tidur. "Mama masih nyimpen foto-foto Alya waktu kecil, kan? Yang di halaman rumah, deket pot tanaman?"

Ibunya terdiam sejenak, suaranya bingung. "Foto yang mana, Nak? Kayaknya Mama nggak pernah foto kamu di deket pot tanaman. Kamu kan dari kecil nggak suka difoto, selalu lari kalau liat kamera. Ada apa, tiba-tiba nanya soal foto lama?"

"Nggak ada apa-apa, Ma. Cuma keinget aja," Alya menjawab, suaranya dipaksakan setenang mungkin, meski jantungnya berdegup kencang.

"Kamu baik-baik aja, kan, Nak? Kerjaan lancar? Bayu gimana kabarnya?" Ibunya bertanya, khawatir seperti biasa setiap kali putrinya menelepon di luar jadwal biasa.

"Baik, Ma. Cuma capek kerja aja," Alya berbohong, tidak sanggup membebani ibunya dengan kekacauan yang sedang dia hadapi.

"Kamu jangan kerja kecapekan, ya, Nak. Jaga kesehatan," ibunya berpesan, seperti biasa, dan mereka mengobrol beberapa menit lagi tentang hal-hal ringan di kampung halaman. Tetangga yang baru punya cucu, panen di kebun belakang rumah yang mulai berbuah, sebelum akhirnya menutup telepon dengan janji akan menelepon lagi minggu depan.

Jawaban ibunya soal foto itu menghantam Alya lebih keras daripada yang dia bayangkan, karena itu berarti foto yang dia lihat di papan gabus Raze, foto masa kecilnya sendiri yang begitu jelas dan nyata, bukan berasal dari keluarganya sama sekali.

Lalu dari mana foto itu berasal, dan bagaimana caranya seseorang bisa memilikinya, jika bahkan ibunya sendiri tidak pernah mengambilnya?

Alya duduk lama di kasurnya, memeluk lututnya sendiri, mencoba menyusun semua kepingan yang baru saja dia kumpulkan hari itu. Berkas yang sudah ada sebelum Bayu melamar, foto yang tidak pernah diambil keluarganya sendiri, dan pola yang sama yang pernah menimpa seseorang bernama Sarah, sepuluh tahun lalu. Semuanya terasa seperti potongan dari satu gambar besar yang sengaja disembunyikan dari pandangannya. Dia tidak lagi yakin, apakah dia benar-benar siap melihat gambar utuh itu begitu semua potongannya akhirnya menyatu.

Di lantai dua puluh dua malam itu, buku bersampul kulit hitam itu terbuka dengan tulisan yang lebih pendek dari biasanya, seolah tangan yang menulisnya kehabisan kata-kata untuk pertama kalinya.

Dia tahu tentang berkasnya. Damar yang memberitahunya. Aku tahu dari caranya menghindar pandanganku hari ini.

Aku hampir menceritakan semuanya malam ini. Aku menahan diri, bukan karena aku pengecut, tapi karena aku tahu persis bagaimana reaksinya begitu dia tahu seberapa jauh cerita ini sebenarnya bermula.

Dia pergi malam ini tanpa menyentuhku. Untuk pertama kalinya, aku merasakan sesuatu yang mendekati apa yang mungkin dirasakan orang biasa saat mereka takut kehilangan seseorang. Bukan takut kalah dalam permainan, melainkan takut kehilangan alasan untuk terus bermain sama sekali.

Damar akan perlu kuhadapi, cepat atau lambat. Tapi aku tidak bisa marah padanya sepenuhnya. Dia hanya melakukan apa yang seharusnya sudah lama kulakukan sendiri.

Aku menghitung kembali berapa lama lagi aku sanggup menunda kebenaran ini. Setiap hari yang kutunda, semakin banyak orang yang bisa menemukannya lebih dulu dariku. Damar, ibunya, mungkin Bayu sendiri. Aku selalu bangga bisa mengendalikan waktu. Untuk pertama kalinya, waktu terasa seperti sesuatu yang mengendalikanku.

•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈

Ada kebenaran yang ditunda karena penunggunya masih menyusun keberanian untuk menghadapi akibatnya, dan ada penantian yang perlahan berubah jadi hukuman tersendiri bagi yang menunggu. Namun, yang paling menyiksa adalah menyadari, keduanya sedang terjadi bersamaan, pada orang yang sama.

1
falea sezi
mending putus ma bayu klo lu uda gk ada rasa jangan php trs jangan Terima raze dlu soalnya kayak gk beres ini si rezek🤣
Nvlin888: tenangkan dirimu kaa 🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
alya uda kayak lacur gampangan🤣🤣🤣 sebel liat cwek gatel gini serakah
falea sezi
serakah amat ini cwek😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!