NovelToon NovelToon
Gulungan Dewa Naga

Gulungan Dewa Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Setelah tewas dalam invasi brutal yang meluluhlantakkan kotanya, Yang Zhen tiba-tiba terbangun kembali ke masa remaja saat ia masih menjadi murid akademi yang selalu dicap sebagai pecundang.

Namun, berbekal ingatan masa depan dan pusaka kuno Gulungan Dewa Naga yang memberinya kekuatan, ia kini bersumpah untuk memutarbalikkan takdir dan menginjak-injak siapa pun yang berani meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Di tengah ruangan raksasa itu, sebuah pedang besar berwarna hitam legam tertancap kokoh di atas batu altar. Bilah pedang itu memancarkan aura kegelapan yang membuat siapa pun merinding melihatnya.

"Pedang Naga Hitam." gumam Chen Fei dengan suara bergetar karena emosi yang meluap-luap.

Tuan muda militer itu berjalan perlahan mendekati altar, seolah sedang melakukan ziarah suci. Ia mengulurkan tangannya dan menggenggam gagang pedang tersebut dengan erat.

Wush!

Gelombang energi hitam meledak dari pedang itu, mencoba menolak Chen Fei. Namun Chen Fei mengertakkan giginya dan mengalirkan seluruh Qi miliknya untuk menundukkan pusaka leluhurnya tersebut.

Srak!

Pedang naga hitam itu berhasil dicabut dari batu altar. Chen Fei mengangkatnya tinggi-tinggi dengan raut wajah penuh kebanggaan dan kemenangan.

Para prajurit elit langsung berlutut satu kaki memberikan penghormatan kepada senjata legendaris yang kembali ke tangan pewaris aslinya.

Sementara semua orang sibuk mengagumi pedang itu, Yang Zhen diam-diam berjalan ke sudut ruangan yang gelap. Matanya yang tajam telah menangkap sesuatu yang aneh pada susunan batu bata di dinding.

"Leluhurmu mungkin ahli pedang, tapi dia sangat buruk dalam menyembunyikan barang pribadinya." batin Yang Zhen sambil menyeringai.

Ia mengalirkan sedikit Qi elemen tanah ke telapak tangannya dan menyentuh batu bata tersebut. Batu itu langsung melunak dan bergeser ke dalam, menampakkan sebuah kotak kayu kecil yang sudah sangat lapuk.

Yang Zhen membuka kotak itu dan menemukan sebuah cincin perak dengan batu permata berwarna ungu di tengahnya.

'Cincin Penyimpanan Dimensi.' batin Yang Zhen dengan mata berbinar-binar penuh kepuasan. 'Barang langka yang sangat sulit ditemukan di era miskin ini.'

Ia langsung memasukkan cincin itu ke jarinya dan mengalirkan setetes darah untuk mengikat kepemilikannya. Cincin ini memiliki ruang penyimpanan sebesar rumah kecil, cukup untuk menampung seluruh perbekalan konyol milik Wang Hao.

"Zhen, apa yang kau lakukan di sebelah sana?" tegur Wang Hao yang menyadari temannya menghilang dari kerumunan.

"Hanya mencari batu kerikil untuk koleksi." jawab Yang Zhen santai sambil berjalan kembali bergabung dengan mereka.

Chen Fei menyarungkan pedang pusakanya ke punggung dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Ia berjalan menghampiri Yang Zhen dan menepuk bahu pemuda itu dengan sangat keras.

"Aku berutang banyak padamu hari ini, Yang Zhen." ucap Chen Fei dengan nada yang sangat tulus. "Mulai sekarang, kau adalah tamu kehormatan keluarga militer kami."

"Aku akan menagih janji itu saat keluargamu menggelar perjamuan makan malam nanti." balas Yang Zhen sambil tertawa pelan.

"Ayo kita keluar dari kuburan tua ini." ajak Yang Zhen memimpin jalan kembali. "Udaranya mulai membuatku tidak nyaman."

Rombongan itu bergerak keluar dari reruntuhan dengan formasi yang sama seperti saat mereka datang. Kepulangan mereka terasa jauh lebih ringan dan aman karena monster-monster di hutan tampaknya takut dengan aura pedang Naga Hitam.

Matahari baru saja terbit saat mereka akhirnya keluar dari gerbang perbatasan barat. Cahaya pagi menyinari wajah-wajah lelah namun puas dari seluruh anggota ekspedisi.

"Tuan Muda Chen, jangan lupakan kesepakatan kita." ucap Yang Zhen mengingatkan sebelum mereka berpisah di persimpangan jalan kota.

"Militer tidak pernah menarik kata-katanya." jawab Chen Fei tegas. "Pasukanku akan bersiaga di sekitar Asosiasi Alkemis dalam waktu dua jam dari sekarang."

Yang Zhen menganggukkan kepalanya puas. Ia kemudian menoleh ke arah Su Lin dan Wang Hao yang terlihat sangat kacau karena kurang tidur.

"Kalian berdua pulanglah dan istirahat." perintah Yang Zhen. "Aku masih punya satu urusan kecil yang harus diselesaikan pagi ini."

"Kau tidak beristirahat?" tanya Su Lin dengan kening berkerut. "Kau sudah begadang semalaman dan melawan tiga pembunuh mematikan."

"Aku punya energi berlebih yang harus disalurkan, Sayang." goda Yang Zhen sambil mengedipkan mata. "Lagipula, pertunjukan utama tidak akan seru jika sutradaranya tidur."

Su Lin mendengus kesal dan menarik kerah baju Wang Hao untuk segera pergi dari sana. Ia tidak ingin meladeni tingkah menyebalkan pemuda itu lebih lama lagi.

Yang Zhen menatap kepergian kedua temannya dengan senyum tipis. Setelah memastikan mereka aman, wajah santainya seketika berubah menjadi sedingin es abadi.

Ia memutar langkahnya dan berjalan dengan kecepatan tinggi menuju gedung Asosiasi Alkemis di pusat kota. Niat membunuh yang sangat pekat menguar dari tubuhnya, membuat beberapa orang di jalanan menyingkir tanpa sadar.

Di dalam ruang kerja Presiden Gu, suasana pagi itu terasa sangat tenang. Presiden Gu sedang menyesap teh panasnya sambil memeriksa laporan penjualan pil versi baru yang meledak di pasaran.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu memecah keheningan ruangan. Lu Feng masuk dengan wajah menunduk sopan sambil membawa sebuah nampan berisi mangkuk sup herbal yang masih mengepul.

"Guru, Anda sudah bekerja keras semalaman." ucap Lu Feng dengan nada yang sangat perhatian. "Saya membuatkan sup penambah energi untuk Anda."

Presiden Gu tersenyum ramah melihat bakti murid kesayangannya itu. Ia tidak menaruh curiga sedikit pun pada pemuda yang telah ia rawat sejak kecil.

"Kau memang murid yang sangat berbakti, Lu Feng." puji Presiden Gu sambil meletakkan laporan di tangannya. "Letakkan saja sup itu di meja, aku akan meminumnya."

Lu Feng meletakkan mangkuk sup itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Senyum licik dan penuh kemenangan mulai terbentuk di sudut bibirnya yang menunduk.

'Minumlah, orang tua bodoh.' batin Lu Feng penuh kebencian. 'Racun peluruh organ itu akan membunuhmu tanpa meninggalkan jejak, dan kursi kepemimpinan ini akan menjadi milikku.'

Presiden Gu mengangkat mangkuk sup itu dan meniup permukaannya pelan. Baru saja bibirnya akan menyentuh pinggiran mangkuk, sebuah suara dobrakan pintu yang sangat keras menggelegar ke seluruh ruangan.

Brak!

Daun pintu kayu tebal itu hancur berkeping-keping dan terlempar ke udara. Yang Zhen berdiri di ambang pintu dengan postur tegap dan tatapan mata yang setajam pisau algojo.

"Pagi yang indah, Pak Tua." sapa Yang Zhen dengan suara lantang. "Tapi aku sarankan kau tidak meminum sup berisi air kencing tikus itu."

Mangkuk di tangan Presiden Gu seketika terhenti di udara. Wajah Lu Feng berubah sepucat mayat hidup saat melihat sosok Yang Zhen yang seharusnya sudah mati di hutan terlarang.

Bidak catur terakhir telah dijatuhkan, dan eksekusi sang pengkhianat akan segera dimulai.

1
Sansalina
Mulai 👍👍👍
Sansalina
Gas Thorrr👍👍👍
Sansalina
Takutnya muridku mati konyol sebelum menguasai es dengan sempurna💪💪💪
alexander
bagus ceritanya
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Buktikan 👍👍👍
Sansalina
Bantai nih keluarganya👍👍👍
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Belum tahu dia👍👍👍
Sansalina
Bantaiii💪💪💪
Sansalina
Lanjuttt💪💪💪
Sansalina
Lanjuttt 👍👍👍
Sansalina
Gas Thprrr💪💪💪
Dianrp
💪💪💪💪💪
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!