NovelToon NovelToon
Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mafia
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: PESAN TERAKHIR 50 JUTA

Hujan mengguyur Kota Yucheng tanpa belas kasihan malam itu.

Air menghantam kaca jendela lantai paling atas The Crown Tower. Gedung pencakar langit itu berdiri sombong, menembus kabut kelam yang menyelimuti kota.

Di dalam ruangan kerja yang didominasi warna hitam arang dan baja tahan peluru, atmosfer jauh lebih dingin daripada udara di luar.

Hanya ada satu sumber suara. Ketukan sepatu kulit di atas lantai marmer hitam.

Pelan. Monoton. Menekan.

Shen Mo duduk tegak di kursi kebesarannya. Kursi itu terbuat dari kayu mahoni tua yang usianya mungkin lebih tua dari gedung ini sendiri.

Pria itu berusia tiga puluh dua tahun. Wajahnya tampan dengan cara yang berbahaya. Rahangnya tegas. Matanya hitam pekat seperti jurang tanpa dasar.

Jemarinya yang berbalut cincin perak mengetuk permukaan meja dengan teratur. Tok. Tok. Tok.

Tatapannya tertuju lurus pada sesosok makhluk kecil di seberang meja kerjanya.

Bocah laki-laki berusia tujuh tahun itu tampak begitu kecil di kursi kulit besar. Kakinya bahkan tidak menyentuh lantai. Baju kaosnya yang sudah pudar masih basah oleh air hujan dan bercak darah kering.

Tapi postur tubuhnya kaku. Lurus.

Tidak ada getaran rasa takut sama sekali.

Lima jam lalu, ibunya meninggal di rumah sakit kumuh pinggiran Yucheng. Rumah Sakit Harapan, kamar 302, ranjang paling pojok.

Luo Chen masih ingat jelas.

Tangan ibunya yang kurus dingin menggenggam tangannya erat. Napasnya tersengal. Di atas meja nakas yang berkarat, ada satu benda yang tidak seharusnya ada di sana.

Sebuah slip transfer bank yang masih baru. Masih hangat dari mesin ATM.

Angka di sana membuat mata Chen menyipit.

Rp 50.000.000

Pengirim: SHEN MO. Rekening Pribadi.

Pesan terakhir ibunya bukan ratapan. Bukan pelukan.

Dengan sisa tenaga terakhir, ibunya menarik kerah baju Chen, membisikkan sesuatu dengan mata melot penuh ketakutan dan keputusasaan.

"Chen... dengarkan Ibu... Jangan percaya Shen Mo... dia yang bunuh ayahmu..."

Napasnya putus-putus.

"...tapi... tapi cuma dia yang bisa lindungi kamu sekarang... cek... cek rekening..."

Setelah itu detak jantungnya berhenti. Garis lurus di monitor.

Pesan yang kontradiktif. Membingungkan. Membunuh ayah, tapi bisa melindungi anaknya?

Dan kenapa Shen Mo mengirim 50 juta ke ibu yang sekarat tepat di hari kematiannya? Uang tutup mulut? Atau uang perlindungan yang terlambat?

Itu yang membawa Chen ke sarang serigala malam ini. Bukan rasa ingin tahu bodoh. Tapi hutang nyawa yang harus dibayar.

Chen merogoh saku celana pendeknya yang kebesaran. Mengeluarkan dua benda dan meletakkannya di atas meja marmer hitam milik Shen Mo dengan suara pelan.

Benda pertama: Slip transfer 50 juta itu. Sudah kusut karena digenggam terlalu keras.

Benda kedua: Sebuah foto polaroid yang sudah menguning. Foto dua pemuda belasan tahun merangkul bahu. Yang satu tinggi, dingin, tatapannya tajam - Shen Mo 10 tahun lalu, masih tanpa bekas luka di alis. Yang satu lagi tersenyum hangat, wajahnya sangat mirip dengan Chen - ayahnya, Li Wei.

Shen Mo yang tadinya mengetuk meja, berhenti total saat melihat foto itu.

Rahang pria itu mengeras seketika. Urat di lehernya menegang.

"Kau dapat dari mana foto ini?" suara Shen Mo rendah, berbahaya.

"Dari kotak jahitan Ibu," jawab Chen. Suaranya jernih, tidak gemetar. "Ibu simpan selama 10 tahun. Di balik lapisan kedua. Ayahku... Li Wei... Ibu bilang dia mati kecelakaan kerja. Tapi di foto ini dia pakai pin yang sama dengan pin di jas Tuan malam ini."

Chen menunjuk pin perak berbentuk mahkota duri di kerah jas Shen Mo. Lambang keluarga Yucheng.

"Ayahku bukan pekerja biasa. Dia orang dalam Yucheng. Dan kau... kau yang hapus namanya dari arsip."

Shen Mo perlahan berdiri dari duduknya. Tinggi 188 cm mendominasi ruangan. Ia berjalan mengitari meja, mendekati Chen.

Setiap langkahnya membuat dua pengawal di pojok ruangan menahan napas.

Ia berhenti tepat di depan Chen. Menatap bocah itu dari atas.

"Kau datang ke sini untuk menuduhku membunuh ayahmu dan ibumu, dengan membawa slip bank 50 juta dan foto usang?" tanya Shen Mo.

"Tidak," jawab Chen, mendongak, menatap mata Shen Mo tanpa berkedip. Tatapan dinginnya adalah cerminan sempurna dari tatapan Shen Mo sendiri. "Aku datang untuk tukar."

Chen mendorong slip transfer itu maju.

"50 juta ini Ibu tidak pernah pakai. Masih utuh. Aku kembalikan. Sebagai gantinya, aku mau satu hal: akses ke arsip kematian Ibu. Aku mau tahu siapa dokter yang ganti obatnya tiga hari terakhir. Karena Ibu tidak mati karena sakitnya. Ibu mati karena obatnya diganti."

Mata Shen Mo menyipit dalam. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Bocah 7 tahun di depannya tidak menangis minta perlindungan. Bocah ini datang untuk negosiasi. Dengan bukti.

"Dan foto ini," lanjut Chen. "Aku tahu kau cari orang ini 10 tahun. Aku bisa bantu kau temukan kebenaran tentang dia. Karena wajahku mirip dengannya. Dan darahku... mungkin bisa buka sesuatu yang darahmu tidak bisa buka."

Kalimat terakhir itu membuat Shen Mo membeku.

Di atas meja, dokumen keuangan berlapis sandi militer yang tadi dibaca Chen masih terbuka. Dokumen yang seharusnya butuh 3 hari untuk dipahami akuntan terbaik.

Chen menunjuk satu baris tanpa melihat.

"Omong-omong, orang kepercayaan Tuan, Vane, menggelapkan 30% anggaran pelabuhan utara lewat perusahaan cangkang Aegis Corp. Tanda tangannya ada di halaman 4. Kalau Tuan tidak percaya, cek saja CCTV gudang pelabuhan malam ini. Dia bertemu orang Blackwood jam 2 pagi."

BRAK!

Pintu baja terbanting keras sebelum Shen Mo sempat menjawab.

Tiga pengawal menerobos masuk dengan panik.

"Tuan Shen! Kita diserang! Blackwood bobol lantai bawah! Lift lumpuh! Komunikasi dikunci dari dalam!"

Shen Mo tidak panik. Ia hanya melirik Chen.

"Kau tahu ada penyusup sebelum mereka mendobrak masuk?" tanyanya.

"Aku dengar frekuensi walkie-talkie mereka di tangga darurat lantai 42. Sandi militer tahun 90-an, mudah disadap alat 20 dolar," jawab Chen cepat, lalu berdiri. Kakinya masih tidak menyentuh lantai saat duduk, tapi saat berdiri punggungnya lurus. "Lift utama sudah dipasang peledak 40 detik lagi. Koridor barat ada penembak jitu di titik buta kamera."

Chen berjalan ke dinding kaca besar, menunjuk kabel katrol pembersih kaca di luar yang basah oleh hujan.

"Kita turun lewat sana. Beratku ringan. Kau cukup kuat bawa kita berdua ke basement dalam 30 detik."

Ia menoleh, menatap Shen Mo dengan tatapan menantang.

"Kecuali... Raja Yucheng takut ketinggian?"

Senyum tipis, sangat tipis, akhirnya terukir di bibir Shen Mo di tengah bau mesiu yang mulai menyeruak.

Bocah ini bukan beban.

Ini adalah kunci yang hilang selama 10 tahun.

"Vane," bisik Shen Mo dingin kepada pengawalnya tanpa mengalihkan pandangan dari Chen, "kunci arsip kematian ibu anak ini. Siapa pun yang sentuh, tembak mati."

Lalu ia mengulurkan tangan besarnya kepada Chen.

"Bawa fotonya. Kita lanjutkan negosiasi setelah kita bunuh semua tikus di bawah."

Chen tidak menyambut tangan itu. Ia hanya memasukkan foto ayahnya kembali ke saku, dan berjalan duluan menuju jendela.

"Aku duluan. Kau yang ikuti aku, Tuan Shen."

1
T🥀007
lanjuttt minn.. semangattt
Aisyah Suyuti
good
Aksara Handini: makasih kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!