NovelToon NovelToon
TERNYATA AKU MENAFKAHI MADUKU

TERNYATA AKU MENAFKAHI MADUKU

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Rumah Tangga / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB EMPAT

## Bab 4: Rutinitas yang Tak Pernah Kupertanyakan

Senin pagi datang seperti biasa, membawa rutinitas yang sudah kuhafal luar kepala. Bangun jam lima, menyiapkan kopi Bayu, menyetrika kemeja kerja, lalu bersiap-siap sendiri sebelum berangkat ke kantor. Tidak ada yang berubah dari kebiasaan itu, bahkan setelah empat tahun menikah, ritme itu terasa seperti detak jantung rumah tangga kami sendiri—teratur, dapat diprediksi, dan karena itu terasa aman.

Bayu berangkat lebih dulu pagi itu, katanya ada rapat pagi dengan tim proyek. Aku melepasnya seperti biasa, dengan pelukan singkat dan pesan agar hati-hati di jalan. Setelah pintu tertutup, aku melanjutkan rutinitasku sendiri—mandi, berpakaian rapi, memastikan dokumen kerja yang perlu kubawa hari itu sudah lengkap di dalam tas.

Di kantor, hari itu cukup padat. Ada rapat evaluasi anggaran triwulan yang mengharuskanku menyiapkan presentasi mendadak untuk direksi. Aku tenggelam dalam angka-angka, grafik, dan proyeksi keuangan sepanjang pagi, hampir lupa waktu sampai Rina mengetuk pintu ruanganku.

"Bu Ayu, udah jam makan siang. Mau pesan apa? Aku sekalian titip ke yang lain," tanyanya sambil menyodorkan daftar menu dari aplikasi pesan-antar.

"Yang biasa aja, Rin. Nasi ayam geprek, pedas sedang," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.

Rina tersenyum, mencatat pesananku, lalu keluar ruangan. Aku melanjutkan pekerjaan sambil sesekali meregangkan bahu yang mulai terasa pegal karena terlalu lama duduk menghadap layar.

Di sela kesibukan itu, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Bayu.

*Yu, rapatnya molor. Kayaknya nanti langsung lanjut survei lokasi proyek. Pulang agak malam ya.*

Aku membalas singkat, *Oke, Mas. Hati-hati.* tanpa berpikir panjang. Sudah terlalu sering pesan semacam itu masuk sampai aku bahkan tidak lagi menghitung berapa kali dalam sebulan Bayu pulang lebih larut dari jam kerja normal.

---

Pekerjaan hari itu baru selesai sekitar pukul lima sore. Aku memutuskan untuk mampir sebentar ke rumah orang tuaku sebelum pulang, sekadar melepas rindu dan mengantarkan sedikit oleh-oleh buah yang kubeli di perjalanan.

"Yu, kok sendiri? Bayu ke mana?" tanya ibuku begitu membuka pintu.

"Masih di proyek, Bu. Katanya pulang malam," jawabku sambil meletakkan bungkusan buah di meja ruang tamu.

Ibuku mengangguk, lalu duduk di sofa sambil mengajakku mengobrol. "Kamu sama Bayu udah berapa lama nikah sekarang? Empat tahun ya?"

"Iya, Bu. Sebentar lagi masuk tahun kelima."

"Alhamdulillah ya, langgeng. Ibu senang lihat kalian akur terus," katanya sambil tersenyum. "Kapan-kapan kasih Ibu cucu dong, Yu. Biar rame rumah."

Aku tertawa kecil, sedikit menghindari topik itu. "Doain aja, Bu. Lagi fokus kerja dulu."

Percakapan itu berlanjut ke hal-hal ringan lainnya—kabar saudara, rencana lebaran tahun depan, sampai keluhan ibuku soal lututnya yang belakangan sering nyeri kalau cuaca dingin. Tidak ada yang istimewa dari obrolan itu, hanya percakapan biasa antara ibu dan anak yang sudah lama tidak bertatap muka langsung.

Sekitar pukul tujuh malam, aku pamit pulang. Rumah masih sepi ketika aku sampai—Bayu belum pulang. Aku menyiapkan makan malam sendiri, sekadar menghangatkan sisa sup kemarin, sambil menonton televisi di ruang keluarga, menunggu suara motor Bayu yang biasanya terdengar dari kejauhan sebelum ia benar-benar sampai di depan rumah.

---

Bayu baru pulang sekitar pukul sepuluh malam, wajahnya tampak lelah seperti biasa. Ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum akhirnya duduk di meja makan, menikmati sup yang sudah kuhangatkan.

"Gimana proyeknya, Mas? Lancar?" tanyaku sambil duduk di seberangnya.

"Lumayan. Tadi survei lokasi agak ribet, medannya susah dijangkau," jawabnya sambil menyantap sup dengan lahap. "Tapi udah kelar semua, tinggal nunggu approval dari klien."

"Bagus dong kalau gitu. Capek banget kayaknya hari ini."

"Lumayan," ia mengangguk, lalu menatapku sejenak. "Kamu sendiri gimana, Yu? Kerjaan lancar?"

"Lancar, Mas. Tadi ada rapat evaluasi anggaran, agak mendadak, tapi untungnya bisa kuselesaikan tepat waktu."

Kami mengobrol ringan sambil makan, membicarakan hal-hal kecil seputar pekerjaan masing-masing, sesekali diselingi candaan tentang rekan kerja yang menyebalkan atau atasan yang terlalu perfeksionis. Percakapan yang terasa begitu normal, begitu biasa, sampai-sampai aku tidak pernah benar-benar memperhatikan detail-detail kecil yang, kalau saja aku lebih jeli, mungkin sudah bisa membuka mataku jauh lebih awal.

Seperti malam itu, misalnya, ketika Bayu tampak sedikit lebih lelah dari biasanya meski katanya "hanya survei lokasi"—pekerjaan yang seharusnya tidak jauh lebih melelahkan dari rapat kantor biasa. Atau bagaimana tangannya sesekali terlihat gemetar kecil saat menyendok sup, seolah menahan sesuatu yang lebih dari sekadar kelelahan fisik.

Tapi aku tidak memperhatikan hal-hal semacam itu. Bagiku, malam itu hanya penutup hari kerja yang biasa, seperti ratusan malam lainnya sepanjang pernikahan kami.

---

Setelah makan malam, aku membereskan piring sementara Bayu duduk di ruang keluarga, menyalakan televisi sambil menggulir ponselnya. Aku sempat melirik sekilas dari dapur, melihatnya membalas beberapa pesan dengan ekspresi wajah yang datar—tidak ada yang mencurigakan, hanya seperti orang yang sedang menyelesaikan urusan pekerjaan sebelum benar-benar beristirahat.

Padahal, pesan-pesan itu datang dari Wulan, yang malam itu mengabarkan bahwa anak mereka sudah membaik setelah dibawa ke dokter pagi tadi, meski masih perlu kontrol lagi akhir minggu ini. Bayu membalas singkat, memberikan sedikit instruksi soal obat yang harus diminum, sebelum akhirnya mengunci ponsel dan meletakkannya di meja—kali ini tanpa ketergesaan seperti malam sebelumnya, karena ia tahu aku sedang sibuk di dapur, terlalu jauh untuk bisa melihat isi layar ponselnya.

"Yu, udah selesai belum? Ayo tidur, besok kerja lagi," katanya, berjalan ke arah dapur untuk membantu meletakkan piring terakhir ke rak.

"Iya, Mas, sebentar lagi," jawabku sambil membilas tangan.

Kami pun beranjak ke kamar, melanjutkan rutinitas malam seperti biasa—menyikat gigi bergantian, mengatur alarm untuk esok pagi, lalu berbaring berdampingan sambil sesekali mengobrol ringan sebelum akhirnya benar-benar terlelap.

"Yu," Bayu memanggil pelan di tengah kegelapan kamar, ketika lampu sudah dimatikan.

"Iya, Mas?"

"Makasih ya, udah jadi istri yang baik selama ini," katanya, suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.

Aku tersenyum dalam gelap, meski ia tidak bisa melihatnya. "Kok tumben bilang gitu? Ada apa, Mas?"

"Nggak ada apa-apa," jawabnya cepat. "Cuma kepikiran aja, kadang aku ngerasa belum jadi suami yang cukup baik buat kamu."

"Kamu udah baik kok, Mas. Jangan mikir macem-macem," jawabku sambil menggenggam tangannya sebentar, sebelum akhirnya benar-benar mengantuk dan tertidur.

Aku tidak tahu, kalimat itu keluar dari mulut Bayu bukan sekadar romantisme malam hari biasa, melainkan gumaman kecil dari rasa bersalah yang terus ia pendam, yang sesekali muncul ke permukaan tanpa pernah benar-benar ia ungkapkan secara utuh. Sebuah pengakuan setengah hati, yang cukup jujur untuk membuatnya merasa sedikit lebih ringan, tapi tidak pernah cukup jujur untuk benar-benar membuka semua yang ia sembunyikan.

Malam itu berakhir seperti malam-malam biasa lainnya—tenang, hangat, dan sama sekali tidak menyisakan kecurigaan apa pun di benakku. Aku tertidur dengan perasaan aman yang sama seperti biasanya, tidak menyadari bahwa di balik kalimat sederhana suamiku malam itu, tersembunyi sebuah dunia lain yang perlahan-lahan sedang berjalan beriringan dengan duniaku sendiri, tanpa pernah benar-benar bersinggungan—setidaknya untuk saat ini.

---

*Bersambung ke Bab 5*

1
Heny
Sampai disini baca nya blm ketahuan
Thewie
bosan
Thewie
terlalu bertele2 Thor ceritamu, jadi membosankan pembaca🙏
Thewie
oala Bayu Bayu.. masih naek motor aja binik dua. KLO naek mobil gimana lagi lah kau laki2 keparat
Thewie
lanjut thor
Thewie
no coment yu. nunggu kebohongan suamimu terbongkar aja🤭
Nuna_Pena: 🤭🤭🤭 sabar yaaa
total 1 replies
Thewie
bangkai lama2 y kecium baunya. percayalah wanita yg tersakiti akan jadi wanita paling kejam sejagat raya
Nuna_Pena: bener banget. kalau sudah capek sabar,sekali meledak lelaki menyesal
total 1 replies
Thewie
dr Pulau Natuna mampir ya thor
Nuna_Pena: MasyaAllah. makasi sudah mampir.
total 1 replies
Ma Em
Selidiki Ayu jgn cuma nanya doang sama Bayu jgn bodoh kamu jadi istri percaya banget sama laki apapa tanya Bayu mana ngaku si Bayu sama kamu .
Ma Em
Ayu ini bodoh atau gimana sih masa tdk ada kecurigaan sama sekali sama Bayu terlalu percaya sama laki , nanti setelah Ayu tau kebenaran nya tentang Bayu yg sdh punya istri lagi bahkan sdh punya anak baru mati si Ayu bodoh itu .
Thewie: bodoh mmg Bun si ayu ini
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!