NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Pernikahan Kontrak Dengan Ceo Dingin Mantan Kaka Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Atha Diyuta

Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.

Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.

Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.

Balapan liar, berkelahi, membolos.

Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.

Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.

Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"

Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...

Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.

Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Sore jam 16.30. Rumah Pondok Indah.

Hujan baru reda. Jalanan basah. Langit mendung.

Alena sedang di ruang tengah, melipat baju Aditya yang baru disetrika Bi Ijah.Meskipun istri ceo tapi Alena tetap suka mengerjakan pekerjaan rumah apa lagi saat menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan suaminya dia selalu antusias untuk melakukannya sendiri.

Masih dengan daster rumahan bunga-bunga, rambut cepol, pipi masih merah-malau ingat pagi tadi dipeluk dari belakang di dapur depan Bi Ijah dan diteriaki Sean minta adek perempuan.

Aditya belum pulang kantor, masih rapat di Pradana Tower. Sean baru pulang try out terakhir ujian akhir kelulusan, langsung masuk kamar tidur kecapekan.

Rumah tenang, hangat, setelah pagi yang malu-malu.

Ting tong!

Bel rumah berbunyi nyaring.

Bi Ijah yang di dapur berteriak, "Nyonha Alena, ada tamu nyah!"

Alena mengira paket Shopee dress pantai putih untuk bulan madu yang ditunda 2 minggu. Ia berjalan ke gerbang dengan sandal rumah, tanpa make up, rambut cepol berantakan, masih memegang kaos oblong putih Aditya yang belum dilipat.

Gerbang dibuka.

Di luar gerbang, bukan kurir Shopee.

Berdiri seorang wanita.

Wanita tinggi semampai, rambut panjang lurus dicat blonde, kulit putih mulus, pakai dress merah marun ketat, tas Chanel, sepatu high heels 10 cm, kacamata hitam di kepala, koper besar Rimowa silver di sampingnya, dan wajah cantik tapi tatapannya tajam.

Alena tidak kenal.

Wanita itu melepas kacamata hitamnya, menatap Alena dari atas sampai bawah, dari daster rumahan bunga-bunga sampai cepol berantakan, dengan tatapan meremehkan.

"Kamu Alena?" tanya wanita itu dengan suara dingin, logat Jakarta campur Inggris.

Alena mengangguk pelan, gugup, "Iya... saya Alena... Mbak siapa ya?"

Wanita itu tersenyum sinis, lalu menjawab dengan suara keras, sengaja biar satu komplek Pondok Indah dengar.

"Saya Clarissa. Mantan kekasih Aditya. Pacar pertama Aditya bertahun-tahun yang lalu sebelum dia nikah sama kakak kamu yang sudah meninggal itu. Saya baru pulang dari London, S2 di sana 3 tahun."

Duar! Dunia Alena seperti berhenti.

Mantan kekasih Aditya. Baru pulang dari luar negeri. Clarissa.

Alena memegang gagang gerbang lebih kencang, jantungnya berdetak tidak karuan. Ia tidak pernah tahu Aditya punya mantan yang sampai S2 London. Alena tltidak pernah mendengar cerita tentang dia baik dari almarhumah Riana ataupun dari aditya sendri.Selama mereka menikah juga tidak pernah bahas mantan.

"Clarissa...?" bisik Alena.

Clarissa masuk tanpa dipersilakan, mendorong gerbang pelan, menyeret koper Rimowa silver-nya masuk ke halaman rumah itu tanpa melihat Alena.

"Aditya mana? Saya sudah 3 tahun di London tidak kontak. Tadi saya ke Pradana Tower, resepsionis bilang Aditya sudah pulang jam 4. Jadi saya langsung ke sini. Saya kangen. Saya mau ketemu Aditya," kata Clarissa dengan nada manja, tapi matanya melirik rumah megah itu dengan tatapan iri.

Alena masih berdiri kaku di gerbang, memegang kaos oblong putih Aditya.

"Mas Aditya... Mas Aditya masih di kantor Mbak... belum pulang..."

Clarissa menoleh, melihat Alena yang masih dengan daster bunga, lalu tertawa kecil, tawa meremehkan.

"Oh, kamu sudah jadi Mrs. Pradana ya sekarang? Saya dengar dari Tante wulan di Instagram, Aditya resepsi ulang di Hotel Mulia sama kamu. Selamat ya. Tapi..."

Clarissa mendekat 2 langkah ke Alena, berbisik dengan suara tajam, hanya Alena yang dengar.

"Tapi kamu tahu kan, Alena? Aditya itu dulu sangat cinta sama saya. 7 tahun pacaran. Saya yang putusin dia karena saya mau S2 London. Dia sampai depresi 1 tahun. Dia nikah sama kakak kamu itu karena dijodohkan, bukan karena cinta. Dan dia nikah kontrak sama kamu juga karena kasihan sama kamu dan kasihan sama Sean. Bukan karena cinta. Kamu pikir dia cinta kamu karena kemarin peluk kamu di dapur?"

Alena wajahnya langsung pucat. Tangannya gemetar memegang kaos Aditya.

"Kamu... kamu bicara apa mba? jangan asal kalau bicara!' tegas Alena namun tetap saja wajahnya terlihat pucat.

Clarissa tersenyum puas melihat Alena pucat dan gemetar. Ia mengeluarkan HP iPhone terbaru, menunjukkan foto lama 7 tahun lalu: Aditya dengan rambut masih agak gondrong, memakai jaket kampus, memeluk Clarissa di London Eye, tersenyum lebar - senyum yang tidak pernah Alena lihat dari Aditya.

"Lihat ini,dia sangat bahagia sama saya. Bukan seperti sekarang yang dingin. Saya pulang, saya mau Aditya balik sama saya. Saya sudah selesai S2. Saya lebih cantik, lebih pintar, lebih kaya dari kamu. Kamu hanya ibu rumah tangga yang bisa masak nasi goreng."

Air mata Alena langsung menggenang, tapi ia tahan. Ia tidak mau nangis di depan mantan Aditya.

Di saat itu, suara Porsche hitam terdengar dari ujung jalan.

Aditya pulang. Jam 17.00.

Porsche hitam masuk gerbang yang sudah terbuka. Aditya turun dengan jas abu-abu sudah dilepas, kemeja putih lengan digulung, dasi longgar, wajah lelah tapi bahagia karena ingat pagi tadi peluk Alena di dapur.

Ia melihat koper Rimowa silver di halaman. Ia melihat wanita dress merah marun.

Wajahnya yang tadi hangat langsung berubah. Datar. Cool. Dingin. Es batu. Lebih dingin dari saat membanting bunga 50 tangkai.

"Clarissa?" suara Aditya datar, tajam.

Clarissa langsung lari kecil dengan high heels 10 cm, mau memeluk Aditya seperti di foto London Eye 7 tahun lalu.

"Adit! Aku pulang! Aku kangen kamu! Aku baru dari London!"

Tapi sebelum Clarissa bisa memeluk, Aditya mengangkat tangan, menahan jarak 1 meter. Tidak membiarkan Clarissa menyentuh kemeja putihnya.

"Jangan sentuh saya," kata Aditya dengan suara super dingin, suara CEO mau pecat direksi.

Clarissa kaget, tangannya menggantung di udara, "Adit? Aku Clarissa,kamu menolak aku peluk?Why?

"Saya tahu kamu Clarissa. Mantan saya yang putusin saya lewat telepon karena mau S2 London dan bilang saya tidak selevel. Saya ingat betul kata-kata kamu suara kamu masih terekam jelas diotak saya." jawab Aditya dengan tatapan mematikan.

Alena yang masih berdiri di gerbang dengan kaos oblong putih Aditya, menunduk, air mata sudah jatuh satu-satu, merasa kecil dengan daster bunga-bunga dibanding dress merah marun Chanel.

Aditya melihat Alena menangis di gerbang. Hatinya panas.

Ia berjalan cepat melewati Clarissa, langsung ke Alena, mengambil kaos oblong putihnya dari tangan Alena yang gemetar, dan langsung memeluk Alena dari samping di depan Clarissa, di depan gerbang Pondok Indah yang terbuka.

Pelukan erat, pelukan melindungi, pelukan yang pagi tadi dilakukan di dapur depan Bi Ijah.

"Sayang, kenapa nangis?" bisik Aditya pelan, hanya Alena dengar, mengusap air mata Alena dengan ibu jari.

Alena berbisiik," Mas di benar-benar mantan kamu, apa kamu tidak memeluknya karna ada aku disini?' todong Alena.

Aditya menghela napas panjang, lalu menoleh ke Clarissa dengan tatapan paling dingin yang pernah ada.

"Clarissa, dengar. Saya tidak tahu siapa kasih alamat rumah saya ke kamu. Tapi saya kasih tahu satu hal. Dulu saya memang cinta kamu bertahun-tahun lalu. Tapi kamu putusin saya lewat telepon 3 menit karena kamu bilang saya tidak selevel. Setelah itu saya dijodohkan sama kakak Alena, lalu kakak Alena meninggal, lalu saya nikah kontrak sama Alena . Ya, awalnya kontrak. Tapi sekarang? Sekarang Alena adalah istri saya. Mrs. Pradana selamanya. Saya sudah janji di depan 500 orang di Hotel Mulia. Saya sudah..."

Aditya berhenti, menatap Alena yang masih dalam pelukannya.

"Saya tekankan saya hanya mencintai Alena, detik ini dan selamanya kamu camkan itu!"

Clarissa wajahnya merah padam karena malu dan marah. Rencana jahatnya gagal. Ia pikir Aditya masih cinta, masih depresi, masih bisa direbut dengan mudah.

Ia melihat Aditya memeluk Alena yang daster bunga-bunga dengan mesra, tidak peduli ada dia di depannya.

"Kamu... kamu akan menyesal Adit! Kamu pilih ibu rumah tangga daster bunga ini dibanding saya lulusan S2 terbaik dari London?"

Aditya tidak menjawab, hanya memeluk Alena lebih erat dan berkata dengan suara keras, biar Clarissa dengar dan biar tetangga Pondok Indah dengar.

"Saya pilih istri saya. Sekarang silakan pergi dari halaman rumah saya. Koper kamu bawa lagi ke London."

Clarissa dengan amarah, menyeret koper Rimowa silver-nya keluar gerbang dengan high heels 10 cm yang berisik, sambil menatap Alena dengan tatapan dendam.

Tatapan itu bukan tatapan menyerah. Tatapan itu tatapan niat jahat.

Dalam hati Clarissa berkata, "Oke Aditya, kamu tolak saya hari ini. Tapi saya baru pulang. Saya punya 2 minggu sebelum kalian bulan madu. Saya akan buat Alena pergi dari rumah ini. Saya akan buat kamu ingat lagi London Eye. Lihat saja."

Clarissa pergi dengan taksi online, koper Rimowa silver masuk bagasi.

Gerbang ditutup Bi Ijah dengan wajah tegang.

Tinggal Aditya dan Alena di halaman.

Alena masih menangis pelan dalam pelukan Aditya, memegang kemeja putih Aditya yang basah air mata.

"Mas... Mbak Clarissa cantik sekali Mas... S2 London Mas... Alena hanya bisa masak nasi goreng Mas..."

Aditya mengangkat dagu Alena pelan, menatap mata Alena yang basah.

"Len, dengar Mas. Cantik tidak menjamin setia. S2 London tidak menjamin bisa buat kopi hitam tanpa gula dengan takaran pas seperti kamu. Dan yang paling penting..."

Aditya berbisik, dengan suara hanya Alena dengar.

"Yang bisa buat saya tidak fokus rapat sampai pulang jam 12 siang dan dapat durian runtuh itu hanya kamu, bukan dia. Mengerti, sayang?"

Alena yang tadinya menangis, langsung malu dan memukul pelan dada Aditya, pipinya merah lagi, lupa ada mantan barusan.

"Mas!"

Aditya ngakak, menggendong Alena ala bridal style dari halaman menuju kamar utama, melewati Bi Ijah dan Sean yang baru bangun dan melihat dari jendela lantai 2 sambil teriak lagi!

"YEEE! AYAH GENDONG BUNDA! AKU MAU ADEK PEREMPUAN!"

Sore itu, setelah mantan pulang dari luar negeri datang dengan niat jahat, Aditya dan Alena masuk kamar, mengunci pintu, dan di dalam kamar, Aditya memeluk Alena lama untuk menenangkan, sambil berbisik janji lagi.

"Tidak ada mantan yang bisa rusak rumah tangga kita, sayang. Kita sudah lewat kontrak. Kita sudah penyatuan. Kita mau kasih Sean adek perempuan. Ingat?"

Alena mengangguk dalam pelukan Aditya, masih sesenggukan tapi bahagia.

"Iya Mas..."

Dan di luar rumah Pondok Indah, di dalam taksi online menuju hotel, Clarissa menatap foto London Eye 7 tahun lalu di HP-nya dengan tatapan dendam, mengetik chat ke seseorang.

"Rencana A gagal. Dia sudah cinta istrinya. Kita pakai Rencana B. Kirim bunga 100 tangkai lagi, tapi atas nama Alena."

Bersambung

1
Atha Diyuta
trimakasih kk😊
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
Atha Diyuta
Karya terbaruku bantu ramaikan teman-teman ☺️☺️
Atha Diyuta: oke siap ka diperbaiki trimakasih kk ☺️☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!