Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.
Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.
Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.
Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.
Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.
Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Rasa yang sama
Dia mengambil kertas tersebut dan membukanya perlahan.
Tulisan tangan Yudha memenuhi permukaan kertas itu.
Kinanti mulai membacanya.
“Untuk istriku, Kinanti Khairunnisa.
Aku mungkin nggak pandai mengungkapkan perasaanku dengan kata-kata. Bahkan mungkin selama ini aku terlalu sering membuatmu merasa sendirian meskipun aku selalu berada di dekatmu.
Tapi ada satu hal yang ingin kamu tahu.
Aku mencintaimu.
Bukan karena kamu adalah istriku. Bukan karena kita sudah memiliki dua anak. Aku mencintaimu karena kamu adalah kamu.
Aku tahu mungkin sekarang kamu sulit mempercayai perkataanku. Mungkin setiap perhatian dan kelembutan yang kuberikan justru membuatmu bertanya-tanya apakah semuanya benar-benar tulus.
Tapi aku akan membuktikannya, bukan hanya mengatakannya.
Aku ingin menjadi suami yang bisa membuatmu merasa aman, dihargai, dan dicintai. Aku ingin melihat senyummu tanpa rasa takut. Aku ingin kamu bisa berbicara kepadaku tanpa harus memikirkan apakah aku akan marah.
Kalau selama ini aku pernah membuatmu menangis, aku benar-benar minta maaf.
Aku tidak bisa menghapus semua kesalahan yang pernah kulakukan. Tapi aku bisa berjanji untuk memperbaiki hari-hari kita mulai sekarang.
Jangan pergi dariku, Kinanti.
Beri aku kesempatan untuk mengenalmu kembali, mencintaimu kembali, dan membuatmu jatuh cinta kepadaku sekali lagi.
Kalung ini mungkin tidak sebanding dengan semua yang sudah kamu berikan kepadaku. Tapi aku ingin setiap kali kamu memakainya, kamu mengingat satu hal...
Ada seorang lelaki yang sedang berusaha mendapatkan kembali hati istrinya.
Dan lelaki itu adalah aku.
Aku mencintaimu, Kinanti.
Sekali lagi, dan untuk selamanya.”
Kinanti terdiam.
Tangannya perlahan turun setelah selesai membaca tulisan tersebut.
Tatapannya kosong.
Kalimat demi kalimat dalam surat itu terasa menusuk jauh ke dalam hatinya.
Dia kemudian membuka kotak beludru biru yang berada di atas bantal.
Di dalamnya terdapat sebuah kalung yang sangat cantik.
Kilauan permatanya memantulkan cahaya lampu kamar, membuat kalung tersebut terlihat begitu indah dan mewah.
Kinanti menatap kalung itu cukup lama.
Untuk pertama kalinya, Yudha memberikan sesuatu kepadanya bukan karena kewajiban.
Bukan karena ulang tahun.
Bukan karena ada acara keluarga.
Melainkan karena ingin membuat istrinya bahagia.
Namun, justru hal itu membuat hati Kinanti semakin sakit.
Entah harus bahagia karena untuk pertama kalinya Yudha memberinya perhatian seperti itu, sedih karena merasa semua perubahan tersebut terjadi akibat amnesia, atau kecewa karena di dalam hatinya masih ada luka yang belum sembuh.
Bagaimana mungkin luka selama bertahun-tahun hilang hanya karena beberapa hari Yudha bersikap lembut?
Bagaimana mungkin Kinanti kembali percaya kepada lelaki yang dahulu begitu mudah melukai hatinya?
Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.
“Kenapa, Mas?” bisiknya lirih.
Kinanti menggenggam surat tersebut erat-erat.
“Kenapa sekarang Mas Yudha berubah menjadi lelaki yang selama ini aku impikan...”
Suaranya bergetar.
“Justru ketika aku sudah memutuskan untuk meninggalkan Mas?”
Satu tetes air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Kinanti memejamkan mata.
Dahulu, dia hanya ingin diperlakukan lembut.
Dia hanya ingin didengarkan.
Dia hanya ingin suaminya menghargai dirinya sebagai seorang perempuan dan sebagai ibu dari anak-anak mereka.
Namun, ketika semua itu akhirnya diberikan, hatinya sudah terlalu lelah untuk menerimanya.
Pertanyaan itu tidak menemukan jawaban.
Malam itu, Kinanti hanya duduk diam di atas ranjang, memandangi kalung pemberian suaminya dengan perasaan yang semakin tidak menentu.
Sementara itu, di lantai bawah, Yudha masih menyimpan rahasia besar yang baru saja ditemukannya.
Dia menggenggam surat cerai Kinanti erat-erat.
Untuk pertama kalinya, lelaki yang dahulu begitu yakin bahwa Kinanti akan selalu berada di sisinya merasa takut kehilangan perempuan itu.
Dan malam itu, Yudha membuat sebuah tekad.
Dia tidak akan memaksa Kinanti untuk mencintainya.
Dia akan berusaha mendapatkannya kembali.
Meskipun harus memulai semuanya dari awal.
Yudha berjalan ke arah kamarnya setelah menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.
Sebelumnya, ia meluangkan waktu untuk menulis surat cinta bagi sang istri tercinta.
Saat memasuki kamar, Yudha melihat Kinanti sudah tertidur lelap di atas ranjang.
Wajah wanita itu tampak begitu tenang setelah seharian mengurus rumah dan kedua anak mereka.
Perlahan, Yudha menaiki ranjang dan bersiap untuk beristirahat.
Namun, pandangannya tanpa sengaja tertuju pada Kinanti yang tertidur dengan posisi tidur hingga piyamanya sedikit tersingkap.
"Ya Allah... Subhanallah... Masyaallah," gumam Yudha pelan.
Ia menatap istrinya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Setelah sekian lama bersikap dingin dan menyakiti hati Kinanti, kini ia justru merasa semakin bersalah setiap kali memandang wanita itu.
Malam itu, keduanya menghabiskan waktu bersama sebagai pasangan suami istri.
Dalam hati, Yudha menyimpan harapan besar agar rumah tangga mereka dapat kembali utuh seperti dahulu.
"Kamu harus tetap bersamaku. Aku nggak mau kehilangan kamu," bisiknya lirih.
Kinanti yang setengah terlelap merasakan kehadiran suaminya di sisinya. Meski hatinya masih dipenuhi luka dan kekecewaan akibat perlakuan Yudha di masa lalu, ia tetap berusaha menjalani perannya sebagai seorang istri.
Setelah semuanya berlalu, Yudha mengecup kening Kinanti dengan lembut.
"Makasih banyak, istriku," ucapnya tulus.
Kinanti tidak memberikan respons berarti. Tatapannya terlihat kosong dan dingin. Luka yang selama bertahun-tahun ia pendam tentu tidak mungkin sembuh hanya dalam hitungan hari.
Beberapa saat kemudian, Yudha kembali membuka percakapan.
"Besok siang kamu antarkan Mas makanan, ya?" pintanya.
Kinanti menoleh pelan.
"Bukannya Mas nggak suka aku nganter makanan? Lagian, dulu Mas bilang masakanku itu masakan kampungan. Aku juga takut kalau telat sedikit, Mas marah lagi seperti dulu," celetuk Kinanti tanpa sadar.
Begitu selesai berbicara, Kinanti langsung menutup mulutnya. Ia baru menyadari apa yang baru saja terlontar dari bibirnya.
Raut wajah Yudha berubah. Hatinya terasa sesak mendengar pengakuan itu. Betapa banyak kesalahan yang pernah ia lakukan hingga membuat Kinanti masih menyimpan ketakutan sedalam itu.
Yudha segera memeluk istrinya erat.
"Insyaallah, itu nggak akan terjadi lagi. Mas janji," ucapnya penuh penyesalan.
Ia menghela napas panjang sebelum kembali melanjutkan.
"Lagian, besok Mas ada acara kumpul bareng teman-teman kuliah. Kamu wajib ikut menemani Mas."
Kinanti tersenyum tipis, tetapi senyum itu lebih terdengar seperti sindiran.
"Mas, aku ini cuma gadis kampung. Nggak berpendidikan tinggi, cuma lulusan SMA. Apa Mas nggak malu kalau aku gabung sama teman-teman kuliah Mas?" tanyanya.
Yudha terdiam sesaat. Pertanyaan itu terasa seperti tamparan keras baginya. Ia tahu betul bahwa dahulu dialah orang yang paling sering membuat Kinanti merasa rendah diri.
Dengan lembut, Yudha mengecup pipi istrinya.
"Aku nggak pernah malu sama kamu. Justru aku bangga punya istri seperti kamu. Kamu cantik, baik hati, salehah, pintar masak, dan selalu mengutamakan keluarga. Bahkan, banyak teman-temanku yang bilang ingin punya istri seperti kamu."
Kinanti hanya diam.
Dalam hatinya, ia menggerutu pelan.
"Mas ngomong begitu karena sekarang pura-pura hilang ingatan. Dulu, setiap kali aku ingin ikut acara bersama teman-temannya, Mas selalu menolak. Bahkan, Mas sering menyindir dan mempermalukanku."
Meski demikian, Kinanti tidak mengucapkan isi hatinya. Ia memilih memendam semuanya seorang diri.
Tak lama kemudian, suasana kamar kembali hening. Keduanya akhirnya berbaring dan mencoba memejamkan mata.
Yudha menatap punggung istrinya yang telah tertidur.
"Maafin aku. Sebenarnya aku nggak hilang ingatan. Tapi aku akan terus berpura-pura amnesia. Aku hanya ingin menjadi suami yang baru dan memperbaiki diriku. Aku ingin menebus semua kesalahanku padamu dan kepada kedua anak kembar kita," batin Yudha.
Yudha mengusap wajahnya yang telah dibasahi air mata.
"Selama ini Mas sudah melakukan terlalu banyak kesalahan. Mas nggak segan menyiksamu, bahkan berkali-kali menghinamu. Aku ingat semuanya, Kinan. Aku nggak akan pernah melupakan kesalahan terbesar dalam hidupku."
"Setelah melihat surat cerai yang kamu buat dan sembunyikan, ingatanku kembali. Beberapa hari ini aku hidup dalam ketakutan. Aku takut kamu benar-benar pergi dari hidupku, takut kamu sudah nggak mencintaiku lagi, dan takut kamu membenciku. Karena itulah aku memilih berpura-pura amnesia," batinnya.
Yudha kembali mengecup kening Kinanti dengan penuh kasih sayang.
"Mungkin rasa cinta ini datang terlambat. Tapi aku akan melakukan segala cara agar cintamu nggak berubah, agar kamu tetap menjadi istriku. Mungkin aku egois dan telah melakukan kesalahan besar, tetapi aku benar-benar ingin memperbaiki semuanya. Hanya saja, aku terlalu takut untuk meminta maaf secara langsung atas semua dosa yang pernah aku lakukan," bisiknya lirih.
Sementara itu, Kinanti justru memikirkan rencananya untuk esok hari. Ia ingin berbicara kepada kedua anaknya mengenai rencana perceraiannya. Beberapa hari sebelumnya, Kinanti bahkan telah mengabari kedua adik kembarnya, Kanaya dan Khalid, tentang niatnya untuk berpisah dari Yudha.
"Aku harus bicara dulu dengan Naufal dan Naura tentang perceraian kami. Mereka berhak tahu sebelum aku benar-benar mengajukan gugatan cerai kepada Mas Yudha," batin Kinanti.
Dengan pikiran yang dipenuhi berbagai pertanyaan dan keraguan, Kinanti akhirnya memejamkan mata, membiarkan malam membawa dirinya ke dalam tidur yang tidak sepenuhnya tenang.
Beberapa saat kemudian, Yudha bangkit perlahan dari ranjang. Ia diam-diam menghubungi seseorang karena ingin memberikan kejutan kepada istrinya, mengingat esok hari adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang kesembilan.
Setelah memastikan seluruh persiapan dan berbicara dengan asistennya, Omar, Yudha kembali naik ke atas ranjang.
"Insyaallah, setelah kejutan besok, kamu akan terharu dan bahagia. Aku berharap Kinanti bisa kembali mencintaiku selamanya."
Yudha pun tertidur dengan harapan besar bahwa suatu hari nanti Kinanti benar-benar bersedia memaafkan seluruh kesalahannya.