NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Penguasa

Cinta Tulus Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Annisa sudah sadar

Dua hari berlalu dalam kecemasan yang mendalam. Chensi tidak pernah meninggalkan ruang rawat itu lebih dari beberapa menit saja—hanya untuk mandi cepat atau menerima laporan dari Li Wei. Ia tidur di kursi yang didekatkan ke tempat tidur, makan hanya secukupnya, dan setiap kali dokter atau perawat datang, ia selalu bertanya dengan tatapan penuh harap.

“Bagaimana kondisinya? Apakah janinnya tetap baik?”

"Ya, Perkembangan bayinya semakin membaik, dan detak jantungnya juga sudah kembali normal. Ibu dan bayi sudah melewati masa kritis. Kemungkinan tidak lama lagi Nyonya Annisa akan segera sadar," jelas sang dokter.

Chensi menghela nafas lega. Rasanya beban berat yang menumpuk sudah terangkat dari hatinya.

Pagi, saat cahaya matahari menyelinap masuk lewat celah tirai jendela, Annisa perlahan mengerjapkan matanya. Pandangannya kabur sejenak, sebelum perlahan menjadi jelas. Yang pertama ia lihat adalah wajah Chensi yang terlihat lelah, matanya cekung, namun tatapannya terfokus padanya dengan perhatian yang tak terbagi.

“Tuan…” panggilnya lirih, suaranya serak dan lemah.

Mendengar suara itu, Chensi seketika terbangun sepenuhnya. Ia segera mendekat, wajahnya berbinar namun tetap berhati‑hati.

“Aku di sini, Annisa. Aku ada di sampingmu,” jawabnya lembut, menggenggam tangan gadis itu dengan sangat hati‑hati. “Kau sudah sadar. Syukurlah…”

Annisa berusaha mengingat apa yang terjadi, dan saat ingatan itu kembali—penculikan, hinaan, rasa sakit, dan darah yang keluar—ia terkejut, lalu segera memegang perutnya dengan tangan gemetar.

“Anakku… bagaimana dengan anakku? Apakah dia masih ada?” tanyanya panik, air matanya segera mengalir.

Chensi segera menenangkannya, mengusap punggung tangannya dengan lembut. “Tenanglah. Janin kita masih bertahan. Dokter bilang detak jantungnya sudah mulai stabil, meski kita harus tetap berhati‑hati. Kalian berdua selamat, itu yang terpenting.”

Mendengar jawaban itu, rasa lega meluap di hati Annisa. Ia menatap Chensi lekat‑lekat, melihat perubahan yang terlihat jelas pada lelaki itu—tidak lagi terlihat sebagai majikan yang dingin, melainkan sebagai seseorang yang telah berjuang mati‑matian demi dirinya dan anaknya.

“Mereka… Ailin, Ibu tiri dan Ayah Tuan…” bisiknya ragu.

“Mereka tidak akan pernah bisa mengganggu kita lagi,” potong Chensi tegas namun lembut. “Aku sudah memutuskan semuanya. Mereka menerima hukuman yang setimpal, dan hubungan kami sebagai keluarga sudah berakhir secara hukum. Mulai hari ini, tidak ada lagi yang berhak mencampuri urusan kita atau menyakiti kalian berdua.”

Annisa terdiam, menatapnya lama. Selama ini mereka telah menjaga batas yang ketat—hidup terpisah, tidak menyentuh lebih dari yang diperlukan, menjaga jarak agar tidak melanggar keyakinan masing‑masing. Namun peristiwa ini telah membuktikan satu hal. Saat bahaya datang, batas‑batas itu tidak lagi terasa penting. Yang ada hanyalah keinginan untuk melindungi, menyelamatkan, dan tetap bersama.

“Tuan…” panggilnya lagi, suaranya lebih jelas kali ini. “Selama ini kita berusaha membuat aturan agar tidak melanggar apa yang kita yakini. Tapi setelah apa yang terjadi… saya sadar satu hal. Rasa sayang dan keinginan untuk melindungi ini lebih kuat dari sekadar perjanjian atau batasan yang kita buat.”

Ia menarik napas panjang, melanjutkan dengan jujur. “Saya tahu kita tidak bisa bersatu dalam ikatan pernikahan menurut ajaran saya. Tapi saya juga tidak bisa menyangkal bahwa hati saya sudah terikat pada Tuan. Melihat Tuan berjuang seperti ini… saya merasa aman, dan saya tidak ingin lagi hidup dalam ketidakjelasan.”

Chensi menatapnya dengan mata berkaca‑kaca. Ia juga merasakan hal yang sama. Selama ini ia menahan diri, menjaga jarak, dan berusaha menerima keadaan. Namun saat ia melihat Annisa terbaring lemah dan nyawa anaknya terancam, ia sadar bahwa ia tidak bisa lagi membatasi perasaannya hanya karena takut melanggar aturan.

“Annisa, dengarkan aku,” ucapnya dengan suara tulus dan mantap. “Aku tidak akan memaksamu mengubah keyakinanmu. Aku tetap menghormati setiap ibadahmu, setiap aturan yang kau pegang. Tapi aku juga tidak bisa lagi berpura‑pura bahwa aku hanya bertanggung jawab sebagai ayah semata. Aku mencintaimu—sebagai wanita yang teguh hati, sebagai ibu dari anakku, dan sebagai orang yang mengajarkanku makna kesabaran dan rasa hormat.”

Ia mendekatkan wajahnya sedikit, namun tetap menjaga jarak yang sopan, hanya agar suaranya lebih jelas didengar.

“Jika kita tidak bisa menjadi suami istri secara agama, maka kita akan menjadi pasangan hidup yang saling melindungi, saling menghormati, dan saling mendukung seumur hidup. Aku akan menjaga kalian berdua dengan segenap jiwa dan raga. Biarkan hubungan kita berjalan seperti ini dulu."

Annisa mendengarkan setiap kata dengan hati yang tenang. Air matanya mengalir bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa damai yang akhirnya ia temukan. Ia akan mempercayakan semuanya pada Tuhan yang maha pemilik takdir.

“Baiklah, Tuan…” jawabnya lirih sambil tersenyum tipis. “Mari kita jalani dengan cara kita sendiri. Dengan saling menghormati, dan membiarkan Tuhan yang mengatur jalan kita selanjutnya.”

Chensi tersenyum lebar, senyum yang paling tulus yang pernah ia tunjukkan selama ini. Ia mencium punggung tangan Annisa dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang.

“Terima kasih telah mempercayaiku. Kita akan melewati semuanya bersama—mulai dari hari ini, dan seterusnya.”

Annisa hanya mengangguk dengan senyum lembut. Ia menatap wajah tampan lelaki yang ada di hadapannya. Masih tidak percaya dia yang dulu sangat dingin dan kaku, tetapi kini sangat lembut dan penuh perhatian.

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Jalanilah hubungan kalian berdua seperti ini dulu, sambil terus berdoa suatu saat jika Tuhan sudah berkehendak kalian untuk bersatu selamanya.
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Chensi saat ini mulai tertarik untuk mempelajarinya, siapa tahu suatu saat nanti atas ijin Yang Maha Kuasa Chensi tidak hanya mempelajari saja namun juga memperdalam ilmunya serta meyakini apa yang sudah ditegaskan di dalam setiap ayat-ayatnya.
Naufal Affiq
semoga chensi mendapat hidayah
Naufal Affiq
bagus chensi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
lanjut kak dewi
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
seiring berjalannya waktu semoga hubungan kalian.bisa menemukan jalan yang baik
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
asingkan aliin keluar pulau terpencil biar tidak bisa balik lagi 🙄
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋WIDYA ☘𝓡𝓳
chensi mana mau dengar wong calon cucu sendiri mau di lenyapkan
Naufal Affiq
bagus chensi,buat mereka jera seumur hidup
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Rukun-rukun ya kalian berdua 🥰👍
Kasih Bonda
next Thor semangat
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
hukuman yg pantas buat kalian bertiga mk nya mikir sebelum bertindak
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝐦ͬ𝐨ᷲ𝐨ᷯ𝐧ᷲ three
memang pengawal bodo hrsnya konfirmasi dl sm tuanmu , trima sj hukumnya nya skrg
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Akhirnya Aulin menerima hukuman dari Chensi, semoga saja dia benar-benar tak akan mengganggu kehidupan Annisa di kemudian hari 👍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
kasiann Annisa semoga dia tidak apa apa dan Chensi cepat datang menolong 😟😟
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
bego banget penjaganya mudah percaya ditambah iming iming uang lagi harusnya konfirmasi sendiri sama Chensi mengenai kedatangan Ailin🤧😤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
huaa senangnya mendengar pengakuan kalian sekarang jangan galau lagi Annisa nanti Chansi pasti pulang
Naufal Affiq
chensi cepat pulang,annisa di bawa ailin pergi dari rumah mu,alasan kau yang menyuruhnya.tolong annisa vhensi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!