"Kamu adalah budakku Radini Prastiwi Sukarna dan kamu tidak akan bisa lepas dari cengkramanku!"
"Aku adalah abdi setiamu wahai iblis..."
Radini Prastiwi Sumarna, seorang perempuan keturunan bangsawan yang menjadi pewaris sebuah tradisi keluarga, bukan tradisi sembarangan karena keluarga itu merupakan keturunan perempuan pemuja iblis dan Radini terpilih sebagai penerus keluarga untuk melanjutkan jejak leluhurnya.
Apakah dia akan tetap memegang teguh ritual keluarganya sebagai pemuja iblis atau justru dia akan bertaubat setelah dia bertemu Dirga Bintang Darmawan yang menjadi targetnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai mendekat
"Pagi kak Sigit" sapa Dirga yang ikut bersama Bintang ke sawah yang hari itu sudah mulai panen.
"Pagi juga Dirga, sudah mulai nyaman ke sawah?" ledek Sigit karena terakhir saat ikut Bintang, Dirga terpeleset dan jatuh ke dalam lumpur membuat bajunya kotor semua.
Dirga hanya tersenyum dia memang lebih terbiasa mengajar para santri di pondok di banding ke sawah ataupun ke kebun meskipun di tempat Adrian juga banyak sawah dan kebun, tapi memang Dirga hanya fokus ke pendidikan agama yang sudah dia cintai sejak dia dan Delisha pesantren di tempat itu bersama Ghafar dan Ghifari.
"Sudah lebih ahli sekarang kak" jawab Dirga
"Apa padi padi kita terserang hama tikus seperti padi para warga?" tanya Bintang yang menyerahkan semua urusan kebun dan sawah miliknya pada Sigit dan Herman.
"Alhamdulillah tidak Om, hasil panen di sawah Om dan Om Galuh selalu bagus dan hasilnya selalu meningkat setiap kali panen" jawab Sigit
"Tapi ya itu...."
"Ya itu apa?" tanya Bintang
"Ada yang menyebarkan gosip kalau sawah Om Bintang dan Om Galuh itu pakai pesugihan supaya tidak kena hama tikus ataupun yang lain, dan setiap ada pekerja di sini yang sakit sering di kaitkan dengan pesugihan itu" jawab Sigit
"Itu kan memang sudah terjadi sejak dulu, tapi mereka tidak pernah bisa membuktikan pesugihan apa yang aku lakukan, jika tanah ini subur, itu memang karena kita mengurusnya dengan baik dan tahu kapan harus menanam padi dan kapan harus di ganti dengan tanaman lain" jawab Bintang
"Mungkin mereka lupa pa kalau papa ini sarjana pertanian" ucap Dirga
"Iya, tapi anak anak papa tidak ada yang kuliah di jurusan pertanian" keluh Bintang
"Memangnya Bimantara tidak termasuk ya pa, dia juga kan kuliah di jurusan pertanian dan sudah lulus" ucap Dirga
"Bima mah cucu papa" jawab Bintang
"Yang penting kan ada keturunan Darmawan yang melanjutkan ritual keluarga" jawab Dirga terkekeh.
"Ritual keluarga, kamu pikir papa ini pemuja iblis yang harus melakukan ritual dan harus ada keluarga yang meneruskan nya" gerutu Bintang
"Hihihi... bicara soal ritual, Sahara mimpi ada seorang pemuja Iblis yang mengincar tanah Bagaskara" ucap Sahara yang sudah menempel di punggung Bintang.
"Kamu lihat wajahnya?" tanya Bintang
"Tidak, tapi punggungnya ada tanda telapak tangan iblis" jawab Sahara melirik Dirga.
Dirga mengernyitkan alisnya, dia juga memimpikan hal yang sama, ada seorang perempuan yang tidur di ranjangnya dan punggung perempuan itu memiliki tanda telapak tangan yang cukup besar dan berwarna hitam.
"Dirga memimpikan itu juga semalam pa, dia memanggil nama Dirga" ucap Dirga
"Nah... benar kan, di pasti pemuja iblis yang cukup kuat sampai sampai Sahara tidak bisa merasakan keberadaannya" ucap Sahara
"Jika iya, mungkin Dirga yang dia incar, hati hati nak" ucap Badaruddin yang terdengar dalam kalung yang di pakai Sigit.
"Baik Opa" jawab Dirga
"Den Bintang"
"Iya kang Deden" jawab Bintang
"Nyai Radini kemarin bertemu dengan saya di jalan, dia bertanya apakah padi di sini akan di jual? jika iya nyai Radini ingin membeli sekitar satu ton untuk di bagikan pada para pekerja katanya dan untuk stok di rumahnya" tanya Deden
"Sampaikan maaf saya ya kang Deden, sudah sejak lama padi di sini di jual pada pak Kusoy dan sebagian juga kan saya simpan untuk persediaan di rumah dan sedekah pada para warga" jawab Bintang
"Baik den, nanti akan saya sampaikan" jawab Deden lalu kembali melanjutkan menimbang padi yang belum dia timbang.
"Siapa nyai Radini pa?" tanya Dirga
"Dia adalah putri dari nyai Radiah, katanya masih keturunan bangsawan jaman dulu dan di hormati di kampung Curug ujung, dia tinggal di sana" jawab Bintang.
"Ko Dirga tidak tahu?" tanya Dirga
"Iya lah kamu tidak tahu, dia itu sekolah di kota dan pulang saat usianya dua puluh tahun, setelah itu dia langsung jadi penerus ibunya, dia juga belum menikah, usianya tiga puluh tahun kalau tidak salah, mau papa lamarkan? Karena ibunya pernah menawarkan perjodohan pada papa, dia baik dan sopan juga orangnya" ucap Bintang
"Tidak, Dirga hanya mau yang di bawa Abah yai" jawab Dirga tegas membuat Sigit tertawa.
"Mungkin Abah yai mau menikahkan Dirga dengan cicitnya Om, kan ada tuh cicitnya yang masih bayi" ledek Sigit
"Keburu ubanan Dirga kak" keluh Dirga dan mereka tertawa.
"Papa!" panggil Khanza putri dari Sigit berlari dan memberikan rantang makan siang untuk Sigit dan yang lain.
"Bawa apa?" tanya Sahara masih di punggung Bintang.
"Bawa ayam goreng sama cah kangkung, sambal terasi dan... rendang jengkol" jawab Khanza terkekeh.
"Hueekkk.. Sahara tidak suka jengkol, Sahara mau pulang saja minta rendang daging sama Silvia" kesal Sahara menghilang dari sana.
"Hahaha... cucuku memang hebat, hanya kamu yang bisa mengusir Sahara dengan mudah" ungkap Badaruddin.
"Siapa dulu dong kakeknya" jawab Khanza
Dirga juga tersenyum karena interaksi keluarganya dengan para mahluk halus itu bisa di bilang sudah seperti keluarga mereka sendiri, mengobrol, makan bahkan kegiatan mereka juga selalu di ikuti oleh para mahluk halus yang sudah bersama mereka dari sebelum Dirga lahir.
"Kak Dirga, Khanza yang masak ayamnya loh, kalau asin itu artinya Khanza minta segera di lamar kak Dirga" ucap Khanza langsung berlari dari sana karena malu.
Bahkan Dirga sampai tertawa karena Khanza tidak menoleh lagi Karena malu dan berlari menabrak beberapa orang sampai terjatuh.
"Anak itu..." kaget Sigit begitupun Bintang.
"Sigit, sepertinya kita akan jadi besan" ledek Bintang
"Sepetinya Sigit harus kirim foto Khanza pada Abah yai Om" balas Sigit bercanda karena dia pikir tidak mungkin Dirga mau dengan Khanza yang ceplas ceplos dan sedikit genit saat bertemu Dirga.
"Kak Sigit bisa saja" ucap Dirga merasa sedikit canggung.
"Ayo kita duduk di gubuk saja, ini akan membutuhkan waktu lama jadi kita berteduh dulu sambil minta makanan Sigit" ajak Bintang
"Memangnya Om tidak bawa bekal Om?" tanya Sigit meledek.
"Bawa, tapi habis di makan Sahara" jawab Bintang.
"Sudah tidak aneh kalau hantu itu ikut, dia bahkan mampu menghabiskan satu gerobak bakso kalau tidak di ingatkan" ucap Sigit
"Dirga mau beli air minum ya pa, sepertinya air minum habis" ucap Dirga
"Iya, pesan air galon juga untuk para pekerja dan makanan ringan, kue kue biasanya ada di toko Cici" jawab Bintang
"Baik pa" jawab Dirga